
Hung Ping Chi menatap Xue Xue dengan wajah dingin, berkata,
"Awalnya tidak, aku benar benar mencintai mu."
Tapi setelah tahu dia adalah putra si bangsat Yue Feng..."
"Sedangkan pikiran dan perasaan mu masih selalu ke dia, dalam mimpi pun kamu selalu menyebut namanya..!"
"Aku benar benar sangat membencinya, hari ini di antara kami, hanya boleh ada satu yang keluar hidup hidup dari sini.."
Ucap Hung Ping Chi geram.
"Ping Chi mengapa kau jadi seperti ini, kamu tahu itu tidak benar.."
"Aku hanya mencintai mu, dia hanyalah masa lalu, kamu dan anak mu inilah masa depan ku.."
ucap Xue Xue berlinang air mata.
"Cukup,..! simpan airmata mu yang menjijikkan itu, jangan sebut sebut soal anak lagi didepan ku.."
"Itu anak ku atau anaknya pun belum jelas...!"
Bentak Hung Ping Chi geram.
"Astaga Ping Chi, ! mengapa kau tega bicara begitu..? apa yang sedang merasuki mu..?"
ucap Xue Xue yang wajahnya terlihat pucat.
Tubuhnya sampai limbung, bila tangannya tidak menahan meja, mungkin dia sudah roboh.
Xue Xue menatap suaminya dengan tatapan mata di penuhi kekecewaan juga kesedihan yang sangat mendalam.
Dia kini baru sadar, dia telah salah memilih orang, dia telah tertipu oleh bujuk rayu manis Ping Chi.
Ping Chi tidak pernah benar benar mencintai nya, Xue Xue merasa hati dan perasaan telah hancur berkeping-keping, oleh sikap yang di tunjukkan Ping Chi saat ini.
Ping Chi sebaliknya menjengek dingin dan berkata,
"Tak perlu sandiwara, siapa yang tega? siapa yang kerasukan,? kamu lebih tahu dari siapapun.."
Xue Xue akhirnya tidak bisa menahan emosi nya, mendengar tuduhan suaminya yang jelas sangat tidak masuk akal.
"Singggg,..!"
Xue Xue langsung mencabut pedangnya, lalu bergerak menerjang kearah Hung Ping Chi.
Tapi baru setengah jalan Xue Xue merintih menahan nyeri di bagian bawah perutnya.
Karena terlalu terbawa emosi, dan terlalu banyak bergerak.
Sedangkan ini adalah kandungan pertama nya.
Keseimbangan hawa janin di dalam tubuh Xue Xue jadi terganggu.
"Ahhh,..! aduh sakit..!"
desis Xue Xue sambil memegang perut bawahnya, pedang ditangannya terlepas dari pegangan tangannya.
Dari sela sela kakinya terlihat darah segar mengalir membasahi celana putih nya.
Ping Chi yang melihat hal itu hanya terlihat dingin dingin tanpa respon apapun.
Sebaliknya Nan Thian yang dengan panik maju memegang bahu Xue Xue, dan berkata,
"Siau Semei kamu kenapa ?'
"Apa yang kamu rasakan, ?"
ucap Nan Thian bingung.
Sementara Xue Xue yang terlihat pucat pasi dengan keringat dingin membasahi wajah, sambil mengigit bibir menahan nyeri.
Dia menggeleng pelan dan berkata,
"Nan Thian Sexiong,. maafkan aku.."
Selesai berbicara, Xue Xue langsung pingsan dalam pelukan Nan Thian.
"Pasangan anjing menjijikkan.."
ucap Ping Chi geram, sepasang matanya terlihat berapi api.
Nan Thian yang sebelumnya berusaha sabar, tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Siau Semeinya.
Apapun yang terjadi, dia sebagai pihak luar, tidak boleh ikut campur.
Tapi setelah kejadian berjalan hingga tahap ini, Nan Thian sudah tidak bisa berpangku tangan melihat nya.
"Tutup mulut mu manusia rendah..!"
"Kalau tujuan mu aku, kemarilah jangan bawa bawa nama ayah ku dan menyakiti yang lainnya..!"
Bentak Nan Thian memotong ucapan Hung Ping Chi.
"Dasar bukan manusia..!"
Umpat Nan Thian sambil menggendong tubuh Xue Xue yang sudah lunglai.
"Tak perlu banyak bicara dengan mereka habisi saja.."
ucap Qi Lian Lao Koai dingin.
Hung Ping Chi mengangguk, Lalu melesat menyerang kearah Nan Thian dengan sepasang cakar yang mengeluarkan cahaya kehijauan.
Nan Thian kehilangan kemampuan menghimpun hawa sakti, juga kehilangan dukungan dari Kim Kim.
Kini di tambah sepasang tangannya di gunakan untuk memondong tubuh Xue Xue, yang terus mengalami pendarahan hebat.
Nan Thian terpaksa hanya busa menghadapi serangan Hung Ping Chi, menggunakan langkah ajaib warisan ibunya.
Tubuh Nan Thian bergerak ringan menghindar kesana kemari, untungnya tenaga sakti Hung Ping Chi belum sempurna.
Sehingga daya tekannya belum begitu kuat, meski sulit Nan Thian masih mampu menghadapinya.
__ADS_1
Keributan di tempat itu, akhirnya terdengar oleh Pai Wang, yang mendapatkan laporan dari muridnya.
Pai Wang langsung bergegas datang ke lokasi, begitu tiba di sana.
Melihat Nan Thian sedang di serang oleh Ping Chi tanpa bisa melawan, karena kedua tangannya menggendong tubuh Xue Xue.
Selain itu Pai Wang yang melihat kehadiran Qi Lian Lao Koai di lokasi.
Ping Chi yang tadinya cacat kini baik baik saja, bahkan Ping Chi memainkan ilmu cakar yang mirip dengan Ilmu Qi Lian Lao Koai.
Pai Wang yang cerdik sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di sana.
Dia langsung tahu siapa yang harus di bela nya.
"Singggg,..!"
Pai Wang mencabut pedangnya, lalu menerjang kearah Ping Chi dan berkata,
"Ping Chi hentikan,.. ! kamu harus jelaskan semuanya..!"
"Trangggg..!"
Serangan Pai Wang tertangkis oleh Qi Lian Lao Koai yang muncul menghadang nya
Pai Wang terpental mundur, tangannya yang memegang pedang terasa kesemutan dan perih telapak tangannya.
Qi Lian Lao Koai tersenyum dan berkata,
"Jangan ganggu mereka, tua lawan tua.."
"Kalau ingin main main biar sama aku saja."
Pai Wang sambil mendengus dingin, dia langsung melesat kearah Qi Lian Lao Koai, dengan Qing Hai Cien Fa.
Nan Thian Xue Hua Piao Piao ( Bunga Salju Terbang Memenuhi Langit )
Terlihat titik titik putih, yang tercipta dari energi pedang, sekilas mirip bunga salju yang berterbangan memenuhi langit.
Semuanya terbang kearah Qi Lian Lao Koai.
Di tempat lain, Nan Thian yang melihat murid murid Qing Hai Pai bersama gurunya tiba.
Memanfaatkan situasi itu, saat cakar hijau Ping Chi menerjang kearah dadanya.
Nan Thian yang dari tadi hanya menghindar, kini dia menyambutnya.
Satu tangan merangkul pinggang Xue Xue, tangan lain Nan Thian lepaskan untuk menyambut Ping Chi, dengan sisa energinya.
"Blaarrr,..!"
Tubuh Nan Thian terpental mundur bagaikan layang layang putus, menerjang kearah murid Qing Hai Pai.
Di saat melewati murid murid Qing Hai Pai inilah, Nan Thian melempar tubuh Xue Xue ke mereka dan berkata,
"Cepat cari tabib,..! Siau Semei pendarahan.."
Selesai berpesan, tubuh Nan Thian sudah menghilang dari sana.
Hung Ping Chi yang tertahan mundur beberapa langkah kebelakang oleh kekuatan benturan.
Langsung melompat melakukan pengejaran kearah Nan Thian menghilang.
Semua ini sudah dalam perhitungan Nan Thian, hanya dengan cara ini, dia ada kesempatan lolos.
Tidak akan membahayakan yang lainnya, karena target Wi Lian Lao Koai dan Ping Chi adalah dirinya.
Bila dia pergi, gurunya, dan saudara seperguruannya yang lain akan aman.
Xue Xue akan tertolong, dan bisa mendapatkan perawatan segera.
Hal terpenting lainnya paman dan bibi kecilnya juga Siu Lian dan Siau Yen akan terhindar dari bahaya.
Benar saja sesuai dugaan Nan Thian begitu dia menghilang.
Terdengar Qi Lian Lao Koai mendumel kesal,
"Bocah busuk mau ke mana kamu..!"
Qi Lian Lao Koai, mengibaskan kedua lengan bajunya yang menimbulkan dua berkas cahaya hijau berbentuk bulan sabit raksasa.
Melesat menyambut serangan dari Pai Wang.
"Blaarrrr,..!"
Blaarrrr,..!"
Ledakan beruntun terjadi, saat dua kekuatan berbenturan di udara.
Pai Wang terdorong mundur dengan langkah kaki kacau.
Sedangkan Qi Lian Lao Koai sendiri, sudah menghilang dari tempat itu menyusul kearah Nan Thian pergi.
Melihat lawannya sudah pergi, Pai Wang buru buru menyusul kearah kediaman nya.
Untuk melihat kondisi putrinya yang terlihat sangat mengkhawatirkan.
Saat tiba di kamar, Pai Wang melihat seorang tabib dari pihak Hua San Pai, yang di undang oleh muridnya.
Terlihat sedang melakukan pemeriksaan dengan teliti, dia juga melakukan tusuk jarum dan memberikan beberapa Pil hitam, di bantu minumkan ke Xue Xue.
Xue Xue sendiri terlihat masih tertidur lemah, tadi dia sudah di bantu dengan tusuk jarum, menyadarkan nya dari pingsan.
Setelah di bantu minum obat, dia kini tertidur lemah di atas kasur.
Setelah Tabib itu selesai melakukan tugas nya, Pai Wang langsung memberi hormat dan mengajak tabib tua itu, untuk duduk sedikit menjauh dari Xue Xue.
Mereka berdua duduk di batasi meja, dalam posisi saling berhadapan, dengan penuh rasa khawatir.
Pai Wang bertanya,
"Tabib Sie terimakasih banyak atas pertolongannya, bagaimana keadaan putri ku saat ini.."
Tabib Xie menghela nafas panjang dan berkata,
__ADS_1
"Nyonya Xue Xue meski keadaan nya lemah, tapi dia cukup baik.."
"Terhitung telah berhasil di selamatkan tepat waktu.."
"Hanya perlu perawatan beberapa hari mungkin dia akan pulih kembali.."
"Secara fisik mungkin dia akan naik baik saja, hanya secara batin itu yang mungkin akan butuh waktu lama penyembuhan nya."
ucap Tabib Sie menjelaskan dengan sabar.
"Bagaimana dengan kandungan nya..?"
tanya Pai Wang harap harap cemas.
Tabib Sie menghela nafas panjang dan berkata pelan,
"Dalam hal ini aku harus meminta maaf, aku sudah berusaha tapi itu di luar kemampuan ku.."
"Janin di dalam kandungan nyonya Xue Xue sudah tiada, sebelum aku menanganinya tadi."
"Selain itu akibat kontraksi berlebihan sebelumnya, rahim nyonya Xue Xue mengalami kerusakan.."
"Kedepannya meski Nyonya Xue Xue pulih dia akan sulit untuk hamil lagi..."
ucap Tabib Sie menjelaskan dengan hati hati.
Pai Wang langsung terduduk lesu, dua butir air mata langsung jatuh dari sepasang matanya yang basah.
"Ya Tuhan kami ayah dan anak memang berdosa, tapi cobaan ini apa tidak terlalu berat buat kami..?"
ucap Pai Wang sedih.
Pai Wang terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini.
Dia sangat kesal dan marah dengan Hung Ping Chi, tapi saat ini yang membuat Pai Wang pusing tujuh keliling.
Adalah bagaimana cara dia menyampaikan kepada Xue Xue tentang keadaannya dan keadaan janin yang di kandungnya telah tiada.
Kedua hal berat ini, membuat Pai Wang lupa akan segalanya, hanya duduk termenung bodoh.
Bahkan saat Tabib Sie berbicara dan meninggalkan resep di atas meja, tidak ada satupun yang masuk kedalam pikiran dan ingatan nya.
Hingga tabib Sie meninggalkan tempat itu pun, dia masih duduk diam termenung di sana.
Hal lainnya semua di urus oleh murid-murid nya.
Sementara Pai Wang dan putrinya sedang dalam masalah mereka sendiri.
Di tempat lain, Nan Thian yang sedang berlari cepat beterbangan meninggalkan Hua San Pai.
Dia terus berlari tanpa arah tujuan, dia hanya sebisa mungkin menjauhi pengejaran dari Hung Ping Chi.
Terutama Qi Lian Lao Koai, otak si balik semua kejadian ini.
Tanpa Nan Thian sadari karena malam gelap gulita, hanya di terangi sinar rembulan.
Nan Thian justru sedang berlari mendaki menuju puncak Lian Hua Feng, yang merupakan jalan buntu.
Di mana tempat itu hanya sebuah dataran tidak begitu luas, yang di kelilingi oleh jurang jurang yang sangat dalam.
Nan Thian saat tiba di tempat itu baru menyadarinya, tapi otaknya langsung berputar.
Sambil tersenyum Nan Thian berdiri menunggu di tepi jurang.
Susul menyusul Hung Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai mendarat di hadapan Nan Thian.
Setelah mereka berdua mendarat di sana, sambil tersenyum tenang Nan Thian membentangkan kedua tangannya.
Lalu membiarkan tubuhnya melayang turun kedalam jurang.
Baik Ping Chi maupun guru nya sangat kaget melihat hal itu, mereka seakan-akan tidak percaya.
Semudah itu kah Nan Thian mengakhiri hidupnya.
Selagi mereka berdua sedang bingung dan heran, tiba tiba dari dalam jurang Terdengar suara raungan dahsyat, yang menggertarkan seluruh puncak Lian Hua Feng.
"Rooaaarrrrrrr..!"
Naga Kadal Terbang melesat keluar dari dalam jurang, sambil membawa Nan Thian yang sedang duduk tersenyum di punggung tunggangannya.
Bergerak menjauhi puncak Lian Hua Feng.
Tapi Nan Thian terlalu meremehkan kemampuan Qi Lian Lao Koai.
Melihat Nan Thian selamat dengan bantuan Naga Kadal Terbang.
Qi Lian Lao Koai menggerakkan cakar nya di arahkan ke sebatang Pohon tua tandus, tak berdaun yang tumbuh di sana.
"Krekkk,..! Krekkk,..! Krekkk,..!"
Pohon tua itu berderak hebat, tercabut dari dalam tanah terbang kearah cakar Qi Lian Lao Koai.
Qi Lian Lao Koai melontarkan pohon besar itu mengejar kearah Nan Thian.
Di tengah jalan pohon itu meledak hancur berkeping keping di udara.
Qi Lian Lao Koai melesat mengejar kearah Nan Thian dengan kecepatan tinggi, sambil meniti pecahan kayu yang beterbangan di udara.
Saat berhasil menyusul Naga Kadal Terbang, Qi Lian Lao Koai melepaskan serangan cakarnya diarahkan ke sayap Naga Kadal Terbang, yang membentang lebar.
Dua berkas sinar hijau berbentuk bulan sabit, meluncur deras, menebas kedua sayap Naga Kadal Terbang yang sedang terbentang lebar.
"Crakkkk,..!"
"Crokkk..!"
Terlihat dua sayap lebar terpental di udara, tubuh Naga Kadal Terbang yang kehilangan keseimbangan, langsung jatuh berputaran, terjun bebas kedalam jurang tak berdasar.
"Roaarrr..!"
Naga Kadal Terbang meraung keras kesakitan, dan ketakutan karena dirinya dan Nan Thian, kini sedang meluncur deras masuk kedalam jurang.
Ini adalah kali kedua nya mereka meluncur deras masuk kedasar jurang.
__ADS_1
Dulu masih bisa selamat karena sepasang sayap Naga Kadal Terbang utuh, tapi kini benar benar parah dan tidak ada harapan lagi.
Qi Lian Lao Koai sendiri setelah melepaskan serangan, dia langsung terbang kembali dengan berlarian meniti diatas pecahan kayu pohon yang beterbangan di udara.