
"Li Fei Yang,..! Hua San Lao Lao,..! "
"Cing Lung Pang tidak akan mengampuni kalian..!"
"Kalian tunggu saja,..! pembalasan dari ku..!"
teriak Shi Ma Cing Hu penuh emosi sambil memeluk erat jasad kakaknya.
Di tempat lain, Fei Yang yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi di tempat pertarungannya melawan Shi Ma Cing Lung tadi.
Dia sedang duduk santai di bawah sebuah pohon rindang, sambil menikmati ransum bekal roti kering yang di bawanya.
Di saat Fei Yang sedang asyik makan minum, tiba tiba ada yang berkata,
"San Cai,..! San Cai,..!"
"Apa kabar Ping Huo Ta Xia ? sungguh tidak di sangka, kami berdua bisa berjodoh bertemu dengan anda di tempat sunyi ini.."
"Ehh Khong Tek Fang Cang dan Zhang Tao Se, kalian juga berada di sini.."
"Maaf Fei Yang bersikap tidak sopan,.. silahkan duduk mari kita makan bersama.."
"Maaf cuma ada roti kering dan air tawar saja.."
ucap Fei Yang pura pura kaget dan berbasa basi.
Padahal dengan pendengaran nya yang tajam, dari awal dia juga sudah tahu, kedua kakek ini sedang menghampiri tempat dia beristirahat.
Dia sengaja berpura-pura tidak tahu, siapa tahu kedua kakek ini tidak mengenalinya dan berlalu begitu saja.
Dengan demikian dia bisa mengurangi permasalahan yang tidak perlu.
Bila dalam posisi biasa, tentu dengan senang hati Fei Yang akan menyambut mereka.
Tapi kini dengan adanya kemunculan kitab Pai Su Seng, yang menimbulkan prahara di dunia persilatan.
Semakin sedikit di kenali oleh orang orang di dunia persilatan, itu tentu justru adalah sebuah hal baik.
Kedua kakek itu sambil tersenyum ramah berkata,
"Kami berdua baru saja makan, jadi belum merasa lapar, nak Fei Yang silahkan saja ."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Baiklah kalau begitu Fei Yang juga tidak akan sungkan.."
Fei Yang kembali meneruskan makan minumnya dengan santai.
Setelah selesai Fei Yang menyimpan kembali perbekalannya kedalam cincin penyimpanan.
Fei Yang kemudian menatap kearah kedua orang kakek, yang duduk di hadapannya dan berkata,
"Khong Tek Fang Cang dan Zhang Tao Se, maaf aku telah membuat anda berdua menunggu.."
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, apa yang Senior berdua inginkan dari Fei Yang.."
Kedua orang itu sambil tersenyum Canggung, sejenak mereka saling pandang.
Lalu Zhang Tao Se akhirnya membuka suara dan berkata,
"Maaf nak Fei Yang, kami berdua tidak ada maksud lain.."
"Kami hanya ingin memohon sedikit petunjuk, untuk membuka mata kami."
"Sebenarnya sampai sejauh mana perkembangan pendalaman kami, terhadap ilmu perguruan kami.."
"Selain itu kami juga ingin menyaksikan pedang api dan es, yang kabarnya adalah senjata ajaib nomor 8 dunia persilatan.."
Fei Yang sebenarnya sudah menduga hal ini dari awal, inilah manusia pikir Fei Yang.
Biar setiap hari baca doa, biar setiap hari mengenakan jubah suci, tapi bila sudah di hadapan cobaan nafsu.
Tetap saja mereka sulit mengendalikan keinginan, dan rasa penasaran dan ego pribadi mereka.
Terkadang mereka akan menggunakan 1001 alasan untuk pembenaran diri.
"Maaf senior berdua bukannya Fei Yang menolak, tapi permintaan senior berdua terlalu beresiko."
"Senior berdua juga tahu, senjata, kaki tangan tidak punya mata, apalagi saat dalam pertarungan.."
"Salah sedikit saja nyawa akan jadi taruhannya, jadi maaf saya tidak bisa memenuhi permintaan senior berdua.."
"Biarlah Fei Yang di sini mengaku kalah, Fei Yang pamit permisi.."
Wajah mereka menjadi merah padam menahan malu, ucapan Fei Yang tadi sangat tepat dan beralasan.
Mereka berdua tentu tidak berani memaksa, bila mereka terus memaksakan keinginan mereka.
Hal ini bila tersiar keluar, itu akan mencoreng nama baik partai suci mereka.
Mereka sebagai ketua partai tentu punya kewajiban menjaga dan melindungi nama baik partai di atas ego pribadi mereka.
Mereka berdua terpaksa menelan kembali nafsu keinginan mereka.
Fei Yang tidak mau kedua orang itu merasa lebih malu, jadi dia langsung memberi hormat dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
"Sahabat ku, kita harusnya malu..pemuda itu benar, apalah arti sebuah nama dan pamor nomor satu di dunia persilatan.."
"Semua itu hanya lah nafsu kosong saja,.. Omitofo,.."
ucap Biksu Khong Tek menyadari kekeliruannya.
Zhang Tao Se juga mengangguk kecil dan berkata,
"Kamu benar sekali teman,..ayo kita pulang ke perguruan kita masing masing.. sekarang,.."
Kedua orang itu saling mengangguk, lalu berjalan beriringan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Baru saja mereka berdua hendak meninggalkan tempat tersebut, terdengar suara dari arah belakang mereka.
"Kalian berdua mau kemana ?"
"Bukankah kalian berdua ingin mengetahui pendalaman ilmu kalian..?"
"Biar aku yang temani kalian main main,.."
ucap seorang manusia yang berjubah hitam dan mengenakan topeng setan, berjalan keluar dari balik hutan.
"Kamu siapa,..!?"
tegur Zhang Tao Se kaget, karena dia tidak bisa mendeteksi keberadaan orang itu.
Hal ini wajar saja, karena mereka tidak tahu, orang itu sudah bersembunyi di sana dari sebelum Fei Yang tiba.
Bahkan Fei Yang pun tidak menyadari kehadirannya, apalagi kedua ketua partai aliran putih itu.
Menyadari orang bertopeng ini, tidak punya niat baik.
Kong Tek Fang Chang langsung bersiaga dengan tongkat Vajra emasnya.
Sedangkan Zhang Tao Se langsung mencabut pedang nya, memasang kuda-kuda Thai Chi Cien.
Pria Topeng setan itu tersenyum dingin di balik topengnya, melihat kuda kuda kedua lawannya.
Dengan gerakan cepat dan tak terduga, si topeng setan menyerang kearah Kong Tek Fang Cang dengan telapak tangannya yang mengeluarkan kabut putih.
Sambil memberikan beberapa tendangan yang menimbulkan angin pusaran menghantam Zhang Tao Se.
Zhang Tao Se dengan sigap memainkan pedangnya menggulung angin serangan tersebut.
Mengontrolnya kemudian mengembalikan nya lagi ke lawan nya.
Sambil dia dengan gerakan luwes memberikan beberapa serangan pedang balasan kearah si topeng setan.
Di tempat lain Kong Tek memutar tongkat Vajra nya yang berat, berubah menjadi gulungan sinar kuning, untuk menghalau serangan tapak kabut putih si topeng setan.
"Prang,..! Prang,..! Prang,..!"
Terdengar bunyi tapak dan tongkat Vajra beradu di udara.
"Sing, .! Sing, .! Sing, .!"
pedang Zhang Tao Se berdesing cepat menyerang si topeng setan.
Si topeng setan berkelebat lincah diantara tarian pedang Zhang Cui San.
Keroyokan kedua ketua partai aliran putih sama sekali tidak membuatnya terdesak.
Di sela sela pergerakan nya, diam diam kedua telapak tangan si topeng setan membentuk dua bola cahaya kristal transparan.
Tiba-tiba dia melepaskannya saat melihat kesempatan yang di tunggu-tunggu nya tiba.
__ADS_1
Satu menghantam kearah dada Kong Tek Fang Cang, satu lagi mendarat di bagian Dan Tian Zhang Cui San.