PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEJADIAN DI LUAR DUGAAN


__ADS_3

"Groowaaarrrrrrr..!"


Harimau api yang di panggil Siau Huo kembali menggereng keras.


Hingga Fei Yang yang berdiri di hadapannya rambutnya berkibar, tertiup angin gerengan Siau Huo.


Fei Yang memiringkan sedikit wajahnya dengan mata sedikit memicing.


Fei Yang berpikir di dalam hati, wajar Siau Huo tidak mengenalinya.


Dahulu dia hanya seorang bocah sebesar Sun er, kini dia adalah seorang pria dewasa dengan rambut putih pula.


Tentu saja sulit bagi Siau Huo untuk percaya begitu saja.


Tapi Siau Huo yang masih berkeliaran menunggui makam kedua gurunya di sini.


Itu membuktikan Siau Huo belum lah melupakan dirinya dan kenangan mereka dulu.


Untuk itu dia harus bersabar meyakinkan Siau Huo, pikir Fei Yang dalam hati.


Fei Yang kembali maju setindak, tangannya tetap terulur kedepan mendekati moncong Siau Huo.


"Siau Huo, ini aku teman mu.."


"Apa kamu lupa, kamu pernah terjepit pohon besar, aku yang menolong mu.."


ucap Fei Yang sabar sambil terus mengulurkan tangannya ingin menjangkau kearah kepala Siau Huo.


"Grrrrrr..!"


Siau Huo menggereng pelan, tiba tiba dia membuka rahangnya, mengigit tangan Fei Yang.


Fei Yang bisa saja menarik tangannya kembali, ataupun mengerahkan tenaga sakti nya, melindungi tangan nya.


Tapi dia memilih tidak melakukan apa apa, membiarkan Siau Huo menggigitnya sesuka hati.


"Yang ke ke awas..!"


"Ayah...! Paman..!"


teriak Xue Lian, Zi Zi, dan Sun Er hampir bersamaan, mereka semua terlihat kaget.


Tapi Fei Yang sebaliknya bersikap tenang, tidak melakukan gerakan apapun.


Saat sepasang taring Siau Huo, yang pancang runcing dan sangat tajam menyentuh tangannya, hingga sedikit berdarah.


Siau Huo menghentikan pergerakan rahangnya, dia tidak jadi mengigit tangan Fei Yang.


Siau Huo malah menggunakan lidahnya menjilat luka gores di tangan Fei Yang.


Sehingga luka berdarah ditelapak tangan Fei Yang, jadi tidak berdarah lagi.


Api berkobar-kobar yang menyelimuti tubuh Siau Huo menghilang.


Siau Huo dengan gerakan seperti kucing jinak, menggunakan kepala dan lehernya, di gosok gosokan ketangan Fei Yang.


Dia terus mengendus dan menciumi bau kulit tangan Fei Yang.


Melihat reaksi Siau Huo, Fei Yang pun berkata dengan lembut dan penuh haru.


"Siau Huo sahabat ku,..kamu masih ingat dengan ku.."


"Syukurlah,.."


"Kemarilah Siau Huo,.. kemarilah teman ku.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum lembut.


Siau Huo langsung maju kedepan, dia berdiri dengan kedua kaki belakangnya, sedangkan kedua kaki depan nya.


Dia letakkan di kedua bahu Fei Yang, Siao Huo dengan gembira mencium dan menjilat wajah dan leher Fei Yang.


Fei Yang juga balas membelai dan memijat mijat lembut bagian leher samping dan bagian bawah dagu Siau Huo.


Bagian tersebut adalah bagian yang paling di gemari oleh Siau Huo, bila di sentuh di saat mereka sedang bermain main.


"Zi Zi Sun er kemarilah tak perlu takut.."


ucap Fei Yang, sambil memberi kode agar kedua anak itu mendekat.


Kedua anak itu maju dengan ragu ragu dan agak takut takut.


Bahkan Zi Zi berlindung di belakang Sun er, mendorong dorong dari belakang agar kakaknya maju duluan.


Sun Er melangkah setindak demi setindak maju, lalu dia mengulurkan tangannya untuk membelai bagian punggung Siau Huo.


Begitu tersentuh oleh tangan Sun er, Siau Huo sedikit bereaksi mengeluarkan suara pelan.


Sun Er yang kaget segera menarik tangan nya kembali.


Fei Yang yang melihat hal itu sambil tersenyum lebar berkata,


"Jangan takut takut Sun er, sentuh lah dia, tidak apa apa.."


Sun Er memberanikan diri menyentuhnya lagi, sekali ini Siau Huo diam saja.


Membiarkan Sun Er membelai bulu halus di punggungnya.


Melihat Siau Huo diam saja, Sun Er pun semakin berani.


Dia dengan lembut terus membelai Siau Huo, sedikit demi sedikit, Sun er maju dan mulai membelai bagian yang lain.


Hingga dia akhirnya ikut dengan Fei Yang membelai belai bagian bawah dagu Siau Huo.


Melihat Sun er baik baik saja, Zi Zi pun mulai ikutan membelai belai tubuh harimau besar itu.


Beberapa waktu kemudian terlihat Siau Huo sudah bergulingan diatas tanah, dengan 4 kaki menghadap langit.


Membiarkan Sun Er dan Zi Zi dengan leluasa membelainya.


Mereka bertiga kini terlihat sangat akrab.


Fei Yang sendiri kini sudah berlutut di depan makam kedua gurunya Bersama Xue Lian istrinya.

__ADS_1


Mereka memberi hormat dan menyembahyangi kedua makam yang sudah Fei Yang bersihkan dan rapikan rumput rumput liar yang tumbuh subur menutupi kedua makam tak terurus itu.


Selesai sembahyang, semua lauk persembahan itu, Fei Yang berikan ke Siau Huo.


Siau Huo menyantap semuanya dengan gembira.


Dia terlihat sangat bersemangat menikmati masakan tersebut.


Selesai bersantap, Siau Huo kembali bercanda berkejar kejaran dengan Zi Zi dan Sun Er.


Dia bahkan membiarkan kedua bocah itu menunggangi punggungnya, membawa mereka berlari berputar-putar di sekitar tempat itu.


Lalu masuk kedalam hutan rimba yang menyeramkan, tapi dengan hadirnya Siau Huo menemani mereka.


Tidak ada satupun binatang buas di dalam hutan sana yang berani menunjukkan diri.


Sehingga Zi Zi dan Sun Er sangat aman melihat lihat pemandangan d dalam hutan sana.


Bahkan Siau Huo mengajak mereka bermain ke pinggir sungai , yang airnya memiliki khasiat menyembuhkan luka.


Di mana Fei Yang dulu pernah berenang dan berendam di sana


"Sun ke ke air di sini manis,..segar sekali.."


ucap Zi Zi penuh semangat.


Sun Er juga ikut meminumnya, Sun er mencobanya berulang ulang.


Dia bahkan mengeluarkan kantung air minumnya, membuang isinya.


Kemudian dia isi dengan air sungai itu hingga penuh.


Selama mereka berdua bermain dengan Siau Huo, Kim Tiaw dengan setia mengawasi mereka.


Dia tidak pernah jauh dari kedua putra putri tuan nya.


Fei Yang sendiri dan Xue Lian duduk santai menikmati udara sejuk di tempat itu.


Xue Lian duduk bersandar di dalam pelukan Fei Yang dia terlihat sangat nyaman menikmati acara piknik bersama itu.


"Sayang aku hari ini merasa sangat bahagia..apa kamu juga merasakannya ?"


tanya Xue Lian pelan.


"Sama sayang, aku juga merasa sangat berbahagia.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum dan menciumi kepala istrinya dengan lembut.


"Sayang akhir akhir ini entah kenapa hati ku sulit tenang.."


"Aku selalu bermimpi, kita berpisah, hari hati berbahagia dan kebersamaan kita akan segera berakhir.."


ucap Xue Lian pelan, terdengar jelas suaranya yang sedikit terisak, tidak rela, sedih dan agak ketakutan.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Itu mungkin hanya faktor kandungan saja, emosi mu sedang labil.."


"Kita tidak akan pernah berpisah.."


"Percaya lah, tanpa kamu aku juga tidak mungkin bisa hidup sendiri.."


ucap Fei Yang lembut.


Xue Lian mengangguk, lalu menghapus dua butir airmata nya yang runtuh.


Sambil berusaha tersenyum, dia menatap kearah Fei Yang dan berkata,


"Terimakasih Yang Ke ke, bersama mu adalah hal terindah dan terbahagia dalam hidup ku.."


Fei Yang tersenyum lalu mencium kening istrinya dengan lembut dan berkata,


"Sama, bisa bertemu dan bersama mu, itu juga adalah keberuntungan dan kebahagiaan terbesar ku.."


"Kamu adalah matahari ku.."


"Aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana hidup ku, bila kamu tidak hadir dalam hidup ku.."


ucap Fei Yang serius dan penuh haru.


Satu persatu kenangan masa lalunya muncul di hadapan Fei Yang mulai dari awal saat mereka bertemu hingga saat ini.


Fei Yang terlihat tersenyum senyum sendiri, mengingat masa masa kebersamaan mereka.


"Kali di pikir pikir mungkin ini yang namanya jodoh, kamu ingat tidak saat pertama kali bertemu.."


"Aku langsung melihat semuanya dan kamu begitu marah hingga ingin membunuh ku.."


"Tapi kini kita malah bersama dan kamu kini malah menjadi ibu dari anak anak ku.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum bahagia.


Xue Lian tertunduk malu, wajahnya sedikit merah.


Tentu saja dia ingat dan tidak mungkin pernah bisa lupa, bagaimana memalukan nya pertemuan pertama mereka itu.


Meski saat itu, dia juga belum tumbuh sempurna, masih seorang gadis tanggung berumur 13 tahunan.


Tapi tentu saja hal begitu tetap sangat memalukan, karena itu adalah pertama kalinya bertemu pria.


Pertama kalinya harus bertemu dalam suasana canggung seperti itu


Melihat reaksi istrinya, Fei Yang tersenyum gemas.


Menariknya kedalam pelukannya dan berkata,


"Tak perlu malu, kini aku sudah bertanggung jawab penuh, dan sepenuh nya hanya milik mu seorang.."


Xue Lian menoleh menatap wajah suaminya, untuk memastikan.


Dia melihat keseriusan tatapan mata suaminya.


Dia pun tersenyum manis dan merasa sangat bahagia, menyandarkan kembali kepalanya di bawah dagu Fei Yang.

__ADS_1


Saat menjelang matahari terbenam, Fei Yang pun mengirim pesan suara, ke Zi Zi Sun Er, Kim Tiaw dan Siau Huo agar kembali.


Tidak lama kemudian Siau Huo yang menjadi tunggangan Zi Zi dan Sun Er sudah membawa kedua teman barunya kembali kesisi Fei Yang.


Fei Yang maju membelai kepala dan leher sahabat nya, lalu berkata pelan,


"Siau Huo teman ku, mau tidak kamu ikut dengan kami, kembali ketempat tinggal kami..?"


"Kamu ikut tinggal bersama kami di sana..?"


Siau Huo menatap ragu kearah hutan di pinggir Padang rumput sana.


Dia seperti segan dan berat meninggalkan tempat tinggal lamanya itu.


Sesaat kemudian dia menatap kearah dua makam guru Fei Yang sejenak.


Lalu menatap kearah Fei Yang dan Xue Lian secara bergantian, lalu dia menatap kearah Zi Zi dan Sun Er yang menatapnya dengan penuh harap.


Siau Huo terdiam agak lama, akhirnya dia melangkah menghampiri kedua anak itu.


Siau Huo kemudian duduk mendekam di depan mereka.


Melihat hal itu, sadarlah Fei Yang Siau Huo sudah bersedia ikut dengan mereka.


Zi Zi dan Sun Er dengan gembira langsung memeluk dan menciumi Siau Huo dengan penuh semangat.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang sekarang,.."


"Sayang kamu dan anak anak naik Tiaw Siung.."


"Aku dan Siau Huo menyusul, muatan terlalu banyak kasian Tiau Siung.."


ucap Fei Yang.


Xue Lian mengangguk mengerti, dia segera membimbing anak anak ikut dengan nya naik ke punggung Tiaw Siung.


Tak lama kemudian mereka pun berangkat bersama Kim Tiaw.


Sedangkan Fei Yang terbang menyusul sambil menggendong Tubuh besar Siau Huo yang nemplok di punggungnya.


Akhirnya rombongan itu tiba kembali di puncak Yu Ni Feng.


Saat mereka tiba di puncak Yu Ni Feng hari sudah larut malam, tapi bagi Kim Tiaw dan Fei Yang hal itu bukanlah masalah.


Mereka bisa mendarat dengan mulus, Setelah menurunkan Siau Huo.


Fei Yang berkata,


"Siau Huo di sinilah tempat tinggal mu mulai hari ini.."


"Kamu boleh memilih mana saja untuk tempat tinggal mu, tidak masalah.."


"Di sini bebas "


ucap Fei Yang sambil membelai kepala Siau Huo dengan lembut.


Siau Huo mengeluarkan bunyi gerengan pelan, menanggapi ucapan Fei Yang.


"Sekarang beristirahat lah sampai jumpa besok.."


ucap Fei Yang sambil membelai kepala temannya.


Setelah itu, Fei Yang pergi membantu istrinya kembali kedalam pondok mereka.


Sedangkan Zi Zi, Sun er lah yang menggendongnya kembali kedalam kamar Zi Zi yang bersebelahan dengan kamar Sun Er.


Siau Huo memilih mengikuti kedua anak itu, akhirnya dia ikut tidur di kamar Sun er.


Malam itupun berlalu dengan tenang, semua tidur dengan nyenyak.


Pagi pagi melihat semuanya sedang tidur, Siau Huo yang merasa lapar.


Diam diam dia keluar dari dalam kamar Sun Er.


Siau Huo keluar dari pintu belakang yang dekat dengan kamar Sun Er dan Zi Zi.


Begitu keluar dari halaman belakang, mendengar suara ayam dan mencium bau unggas di sana.


Sepasang telinga Siau Huo langsung berdiri, bulu bulu di sekitar tengkuknya juga ikut berdiri.


Api berkobar kobar mulai menyelimuti seluruh tubuhnya


Siau Huo dengan langkah berindap indap dia bergerak menuju kandang ayam peliharaan keluarga Fei Yang.


Dengan satu lompatan ringan Siau Huo sudah masuk kedalam area kandang tersebut.


Ayam ayam berteriak teriak berisik ketakutan, tapi hanya sekejab saja.


Hanya dengan beberapa kali sabetan cakarnya ayam ayam itu, langsung tak bersuara lagi.


Kandang kandang ayam pun terlihat rusak berantakan darah berceceran mengalir di mana mana.


Dengan sadis Siau Huo memangsa semua ayam di dalam kandang tersebut, tanpa pilih pilih besar kecil di hajarnya semua.


Selagi dia lagi asik memangsa ayam, paman Lai dan bibi Fu yang tidak tahu situasi.


Mereka baru datang di antar oleh Kim Tiaw.


Mereka berdua terlihat kaget ketakutan berdiri mematung di sana dengan tubuh gemetar melihat aksi sadis Siau Huo di dalam kandang ayam peliharaan paman Lai.


Melihat kehadiran orang asing tak di kenal di sana, Siau Huo langsung memamerkan sepasang taringnya yang panjang dan tajam berlepotan darah kearah Paman Lai dan bibi Fu.


Paman Kai berdiri ketakutan dengan wajah pucat, sedangkan bibi Fu saking takutnya.


Dia langsung pingsan dalam pelukan paman Lai.


Siau Huo yang merasa terganggu dengan kehadiran orang asing, dia langsung melompat ringan keluar dari dalam kandang.


Sambil menggereng pelan, dia melangkah menghampiri paman Lai yang berdiri ketakutan.


Saat paman Lai sudah berada dalam jangkauan terkaman nya, Siau Huo langsung melompat kedepan menerkam kearah Paman Lai dengan sepasang cakarnya, yang berkuku panjang runcing dan tajam.


Mulutnya juga terpentang lebar, siap memberikan gigitan mematikan pada targetnya.

__ADS_1


__ADS_2