PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TERBAWA SUASANA


__ADS_3

Fei Yang sehabis mandi, dia berjalan jalan di tepi pantai seorang diri, menikmati hembusan angin sore.


Udara sore hari yang sejuk, di tambah dengan dirinya baru habis mandi.


Pikiran di dalam otaknya yang kacau, menjadi sedikit lebih tenang.


Fei Yang berjalan ditepi pantai dengan tatapan mata kosong, wajah bingungnya belum sepenuhnya hilang.


Di dalam bingung Fei Yang mengikuti nalurinya untuk bersilat di tepi pantai.


Angin pukulan yang timbul dari kedua telapak tangannya menderu deru.


Karang karang di tepi pantai yang di lewati oleh pukulan Fei Yang pasti akan meledak hancur berkeping-keping.


Semakin berlatih semakin bersemangat, semua ilmu Fei Yang mainkan sesuai instingnya.


Tapi ketika memasuki ilmu ilmu dahsyat, yang bisa mendatangkan gelombang pasang dan bumi langit bergetar.


Fei Yang menghentikan latihannya, dia menatap kearah laut dan bergumam,


"Siapa aku sebenarnya, mengapa di tubuhku bisa memilki ilmu ilmu dahsyat seperti itu..?"


"Ahhh sungguh sungguh memusingkan.."


keluh Fei Yang sambil memukuli kepalanya dengan bingung.


Fei Yang dengan wajah muram, melayang ringan hinggap di sebuah batu karang besar yang menjorok kearah laut luas.


Dia duduk termenung seorang diri, sambil menatap langit menjelang senja yang berwarna lembayung.


"Senja sudah tiba, sebentar lagi malam tiba,.."


"Kami hanya berdua tidur di dalam satu rumah, bagaimana bila dia menginginkannya.."


"Kami adalah suami istri, tentu saja melakukan hal itu adalah wajar.."


"Tapi bagaimana bila kejadian seperti tadi siang kembali terjadi..?"


gumam Fei Yang di dalam hati tanpa jawaban.


Tiba-tiba Fei Yang merasa ada yang duduk di sisinya, Fei Yang pun menoleh ke samping.


Dia melihat Fei Hsia duduk di sampingnya, sambil menyandarkan kepala di pundaknya.


Fei Yang menghela nafas pelan, kemudian dia merangkul Fei Hsia kedalam pelukannya dan berkata,


"Maaf aku meninggalkan pondok tanpa pesan..kamu pasti bingung mencari ku.."


Fei Hsia menggeleng pelan, dia memegang telapak tangan Fei Yang dengan lembut dan berkata,


"Aku dari tadi sudah melihat mu, hanya kakak Yang saja, yang terlalu banyak pikiran.."

__ADS_1


"Sehingga tidak menyadari kehadiran ku.."


Fei Yang menoleh menciumi rambut di kepala Fei Hsia dengan lembut dan berkata,


"Kamu datang kemari dari kapan ?"


Fei Hsia sedikit memiringkan kepalanya, menatap wajah Fei Yang dari sudut bawah, lalu dia menjawab pelan.


"Sejak kakak Yang berlatih seorang diri di tepi pantai sana, aku sudah melihat semuanya.."


"Kakak Yang seperti ada beban pikiran lagi, kenapa tidak coba ceritakan pada ku..?"


"Aku adalah istri mu, bila kakak Yang ada beban pikiran, tentunya sudah jadi kewajiban ku, untuk berbagi pikiran dengan kakak.."


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Bisa ada beban pikiran apa ? sedangkan isi kepala ku saja tidak ada apa apa lagi.."


"Aku hanya bingung dengan perasaanku, bingung dengan semua masa lalu ku.."


"Selain itu aku juga selalu khawatir dengan sikap ku saat ini, tidak bisa memenuhi harapan mu.."


"Menjadi seorang suami dan pendamping yang baik dan setia hanya untuk mu. "


Fei Hsia memutar badannya, lalu dia memegangi wajah Fei Yang agar menghadap kearahnya dan berkata,


"Sayang tataplah mata ku."


Fei Yang menatap mata Fei Hsia sesuai permintaan gadis itu.


"Kakak Yang kamu dengarkan aku..


aku tahu dengan jelas dengan keadaan mu saat ini, pasti banyak kebingungan di dalam pikiran mu.."


"Tapi kakak Yang harus percaya pada ku, aku pasti akan selalu berusaha, untuk bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan mu apa adanya.."


"Kakak Yang tak perlu merasa tertekan, cukup jadi diri kakak Yang sendiri, tak perlu berpikir terlalu jauh dari terlalu banyak.."


Fei Yang menatap Fei Hsia dengan tatapan mata penuh haru, tanpa sadar sepasang bibir mereka berdua telah bertemu.


Melepaskan perasaan mereka masing masing, tanpa kata-kata.


Beberapa waktu kemudian,. terlihat Fei Yang menggendong Fei Hsia, terbang menuju tengah pulau, kembali ke pondok mereka yang terletak di atas pohon.


Tiba di dalam pondok yang hanya di terangi cahaya rembulan yang masuk dari arah jendela.


Fei Yang dengan lembut membaringkan Fei Hsia di atas tempat tidur..


Fei Yang bisa mendengar dengan jelas, suara degup jantung Fei Hsia yang berdebar keras.


Seluruh wajah Fei Hsia terlihat merah padam hingga ke telinga dan leher nya.

__ADS_1


Tapi penerangan yang agak redup dan remang remang, membuat semua itu tidak terlihat terlalu jelas.


Fei Hsia sendiri merasa wajahnya sangat panas, sedangkan sepasang tangannya sangat dingin dan sedikit berkeringat.


Sebelum dia sempat berpikir terlalu banyak, Fei Yang sudah kembali mendaratkan ciuman lembut di bibirnya yang sedikit membeku.


Perlahan-lahan mereka berdua mulai jatuh tumpang tindih di atas tempat tidur.


Fei Hsia menutup matanya rapat rapat, tidak berani membuka nya sama sekali.


Dia pasrah membiarkan Fei Yang melakukan apa yang Fei Yang ingin lakukan pada dirinya.


Saat ciuman Fei Yang berpindah kebagian lehernya, Fei Hsia mulai merintih dan menggelinjang seperti cacing kepanasan.


Sepasang tangannya yang tadinya melingkar di belakang leher Fei Yang, kini perlahan lahan berpindah mencengkram lengan atas, dekat belakang pundak Fei Yang dengan erat.


Satu persatu pakaian mereka berdua mulai terlepas berserakan di sekitar sana.


Fei Yang yang terbawa suasana juga terlihat semakin bernafsu, menciumi leher Fei Hsia.


Hingga merambat kebagian lainnya, yang membuat nafas Fei Hsia semakin memburu, suara rintihan nya mulai bergema di sekitar pondok diatas pohon mereka yang sunyi.


"Kakak Yang,..lakukan saja..aku tak kuat lagi..oughh..!"


ucap Fei Hsia dengan suara tidak jelas.


Fei Yang mengangguk pelan dan sudah bersiap dalam posisinya, tinggal menekan sedikit pinggul nya.


Maka akan terjadilah sesuatu yang tidak boleh terjadi, yang pastinya akan membuat dirinya hidup dalam penyesalan seumur hidup.


Dia seumur hidup tidak akan punya muka lagi untuk menghadapi Xue Lian istri aslinya.


Di saat genting itu, tiba tiba kilat menyambar di sertai bunyi geledek yang teramat keras.


Kilatan cahaya menyilaukan mata, membuat Fei Yang tersadar dari gelora nafsunya.


Bayangan wajah Xue Lian yang sedang tersenyum sedih menatap dengan penuh kecewa.


Tiba-tiba melintas di pikiran nya, seketika padam lah seluruh gelora nafsu Fei Yang.


Hati dan perasaannya tiba tiba terasa dingin, bagaikan habis di guyur air es.


Fei Yang terdiam sejenak diatas tubuh Fei Hsia, lalu dia berbisik pelan di telinga Fei Hsia.


"Istriku maafkan aku, aku tidak berguna, aku belum bisa.."


ucapan terhenti oleh dua jari Fei Hsia yang menutupi bibirnya.


Fei Hsia sambil mengigit bibirnya sendiri menggelengkan kepalanya dengan pelan dan berkata,


"Tidak apa-apa sayang,..aku mengerti, aku akan menunggu hingga kamu siap,.."

__ADS_1


"Hari esok masih panjang, kita akan punya kesempatan lainnya.."


__ADS_2