
Suatu taktik yang sangat cerdas dan sangat licik pikir Fei Yang.
Dengan cara ini Zhao Kuang Yi yang berniat menahlukkan kerajaan Pagan dan Champa, dia tidak perlu mengirimkan pasukan kesana, dan harus meminta bantuan dari keluarga Guo di Xiang Yang dan kerajaan Tay Li .
Kalaupun kedua kekuatan itu mengirim bantuan, mereka juga tidak akan pernah mengirimkan seluruh kekuatan mereka.
Paling paling hanya mengirim alakadarnya, dan itupun tidak mungkin gratis, dia harus mengirimkan hadiah buat mereka.
Semakin besar hadiahnya,tentu akan semakin besar pula bantuan yang mereka berikan, begitu pula sebaliknya.
Belum lagi resiko berperang di wilayah musuh yang kuat, dan resiko di khianati oleh Keluarga Guo yang bisa saja berbalik mencaplok kerajaannya, di saat seluruh pasukan sedang di kirim ke selatan jauh sana untuk berperang.
Atau Tay Li akan memanfaatkan situasi di mana dia sedang lemah karena berperang, Tay Li justru memperluas wilayah kekuasaannya, dengan mengambil wilayah nya yang tak terjaga.
Dengan semua resiko itu, biarkan kerajaan Champa dan Kerajaan Pagan marah dan datang menginvasi nya.
Pasukan Champa dan Pagan bila ingin menginvasi nya tentu harus melewati Tay Li.
Di sini Tay Li pasti akan berperang habis habisan, begitu pula dengan keluarga Guo di Xiang Yang.
Mereka juga tidak akan membiarkan pasukan Champa dan Pagan melewati wilayah mereka yang menjadi palang pintu menuju ibu kota Kai Feng.
Di sini pun pasti akan ada pertempuran mati matian, syukur syukur pasukan Champa dan Pagan kalah mundur..
Saat itu dia bisa memanfaatkan situasi itu menahlukkan Champa Pagan dan keluarga Guo sekaligus.
Bila pasukan Champa dan Pagan menang, mereka yang jauh dari pusat kerajaan dan sedang kelelahan, itu adalah kesempatan Zhao Kuang Yi memutus jalan aliran perbekalan mereka.
Kemudian mendesak dari depan dan belakang menghancurkan pasukan Champa dan Pagan.
Setelah itu dia bisa dengan tenang langsung mengirimkan inti pasukannya, pergi menahlukkan kedua kerajaan yang sudah lemah tak berdaya itu dengan mudah.
Fei Yang diam diam kagum dengan pola pikir Zhao Kuang Yi yang tidak kalah lihai dan berambisi ketimbang pamannya, Li Yuan Hao.
Tapi hal ini membuat Fei Yang di samping kagum, juga semakin tawar hatinya melihat orang orang yang hidup di balik tembok kerajaan.
Dengan menunggangi Kim Tiaw, tidak sampai 5 hari Fei Yang sudah kembali ke Kai Feng.
Target pertama Fei Yang kali ini adalah Kasim Wei, Fei Yang harus memegang rahasia penyakit orang ini.
Baru dia bisa mengendalikannya, membantu dia menemukan keberadaan kedua putri itu.
Berdasarkan peta komplit dari Wei Wen dan bantuan dari Siau Cui yang Fei Yang hubungi dengan menyerahkan surat perintah dari Wei Wen.
__ADS_1
Fei Yang yang sudah di rias menjadi orang berwajah berbeda, berhasil di susupkan ke kediaman Kasim Wei, dengan berpura-pura menjadi Kasim kecil yang bekerja di kediaman kasim Wei.
Pagi itu Fei Yang sedang menyiram tanaman di kebun bunga milik Kasim Wei.
Kasim Wei seperti kebiasaannya, pagi pagi sekali, dia akan berjalan jalan di taman bunga menghirup udara segar pagi hari.
Bersantai minum teh, baru pergi menghadap Kaisar, mendampingi Kaisar mengikuti acara sidang istana pagi hari.
Di saat Kasim Wei sedang asyik menciumi wangi bunga yang berada di hadapannya.
Tiba-tiba muncul lima orang berpakaian hitam dan wajah tertutup kain hitam.
Begitu datang tanpa banyak bicara, mereka langsung menebaskan goloknya kearah Kasim Wei dengan ganas.
Kasim Wei yang kaget ketakutan langsung bergerak mundur menjauh sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Ada penyusup,..! Ada penyusup,..!Ada penyusup,..!"
Puluhan Kasim muda yang bertugas mengawal Kasim Wei, langsung maju menghadang serangan golok kelima orang berpakaian hitam itu, dengan pedang mereka.
Sesaat kemudian pecahlah pertempuran berat sebelah 5 lawan sepuluh.
Tapi kelima orang itu memiliki kemampuan tinggi, hanya dalam sekejab, mereka berhasil merobohkan hampir 3/4 pasukan pengawal Kasim muda, yang kini hanya tersisa 3 orang saja.
Di saat itu muncullah Fei Yang dengan tangan kosong menghadapi kelima penyerang itu.
Sebenarnya kelima orang itu adalah tetua partai pengemis yang menyamar.
Karena di minta oleh Fei Yang untuk melakukan aksi sandiwara tersebut.
"Anak muda siapa nama mu,? kamu berasal dari mana ? kenapa aku baru melihat mu ?"
tanya Kasim Wei cukup tertarik pada Fei Yang, yang muncul menyelamatkan diri nya dari serangan penyusup.
"Nama ku Siaw Kui Ce tuan,.."
"Hamba berasal dari kota Tai Yuan tuan.."
"Hamba baru bertugas, menggantikan Siaw Sien Ce, yang sedang pulang kampung. tuan.."
jawab Fei Yang sambil berlutut memberi hormat pada Kasim Wei.
"Bagus Siaw Kui Ce, hari ini kamu telah berjasa besar menyelamatkan ku,.."
__ADS_1
"Coba kamu katakan apa yang kamu inginkan..?"
tanya Kasim Wei sambil menatap Fei Yang dengan penuh ketertarikan..
"Hamba tidak berani tuan, hamba hanya ingin mengabdikan diri untuk melayani tuan sepenuh hati.."
"Siaw Kui Ce, kamu bangunlah, tak perlu takut, Katakan saja apa keinginan mu."
"Saya paham setiap orang yang memilih jalan hidup seperti kita ini, tentu ada keinginannya."
Dengan berlagak wajah ragu ragu Fei Yang berkata,
"Desa hamba sangat miskin, keluarga kami apalagi, kakak beradik banyak mau buat makan saja susah apalagi makan enak.."
"Dengar dengar jadi Kasim bisa melayani keluarga istana, bisa membantu mencicipi semua masakan enak, sebelum di sajikan buat keluarga istana.."
"Itulah alasan Siau Kui Ce tuan.."
Kasim Wei menatap tajam kearah Fei Yang dan berkata,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai ilmu bela diri yang bagus, bila keluarga mu begitu miskin.."
"Hamba pernah menolong seorang pendeta tua yang sedang terluka, dan membantu menyembunyikannya dari kejaran musuh musuhnya.."
"Setelah beliau sembuh, beliaulah yang mengajari ku ilmu bela diri.."
ucap Fei Yang mengarang antara ya dan tidak, sehingga sulit di ketahui kebohongannya.
"Kenapa kamu tidak menjadi seorang pendekar pembela kebenaran.?"
"Bukankah dengan kemampuan mu, kamu bisa mencari ketenaran,?"
"Sehingga mau makan enak dan uang banyak bukan lagi jadi masalah.."
ucap Kasim Wei bertanya penuh selidik.
Fei Yang diam diam mengutuk nya dalam hati, dasar rubah tua..
Tapi di wajah Fei Yang tidak menunjukkan ekspresinya.
"Guru ku saja yang begitu hebat bisa di lukai lawan hingga hampir mati.."
"Bagaimana dengan aku, yang ilmunya cuma pas pasan, tidak aku tidak mau ambil jalan itu, itu cari mati namanya.."
__ADS_1
"Tenar sesaat, makan enak sesaat, tidak aku tidak ingin hal itu.."
ucap Fei Yang berlagak ketakutan dan ngeri.