
Sabrina mengangguk dan berkata,
"Ibu akan carikan hari baik untuk kalian sesegera mungkin.."
"Ayo sekarang kita makan nanti makanan keburu dingin.."
"Besan silahkan di nikmati jangan sungkan anggap aja rumah sendiri.."
ucap Sabrina sambil menawarkan berbagai macam masakan untuk di cicipi ibu Xue Lian dan ayah Xue Lian.
"Terimakasih,.."
ucap ayah ibu. Xue Lian pelan, menyambut tawaran Sabrina.
Sabrina diam diam sangat kagum dengan ibunya Xue Lian, yang terlihat begitu awet muda.
Putri nya sudah begitu besar, sebentar lagi hampir jadi nenek, tapi penampilannya masih seperti wanita usia 24 tahunan.
Selesai makan Fei Yang yang melihat Li Dan tidak banyak makan lebih banyak diam.
Begitu pula dengan Sian Sian, dia terlihat tertunduk sedih, sesekali diam diam dia menghapus air matanya yang jatuh menetes.
Fei Yang pun berkata,
"Aku sudah selesai, silahkan kalian teruskan.."
"Kakak Dan yuk kita jalan jalan sambil ngobrol, sudah lama kita gak ngobrol.."
Li Dan tersenyum pahit dan mengangguk, lalu dia mengikuti langkah Fei Yang meninggalkan tempat tersebut.
Di sebuah tempat peristirahatan lain yang di kelilingi kolam ikan, sedikit jauh dari tempat mereka berkumpul tadi.
Fei Yang menunjuk kearah tempat tersebut dan berkata,
"Yuk kakak Dan kita ngobrol ngobrol di sana.."
Li Dan mengangguk, lalu dia mengikuti Fei Yang berjalan menuju tempat peristirahatan tersebut.
Fei Yang setelah mengambil tempat duduk santai dia berkata sambil menatap Li Dan.
"Kakak Dan bagaimana kabar mu,? apa ada sesuatu yang membebani pikiran mu ? di mana Lan Yi ?"
Li Dan tersenyum pahit dan berkata,
"Seperti yang adik Yang lihat, seperti inilah keadaan ku..cukup baik cukup sehat.."
"Hanya bila ingin mencari kebahagiaan dan kebebasan aku sudah tidak punya kesempatan lagi.."
"Lan Yi dia sudah pergi.."
ucap Li Dan lesu.
"Apa maksud kakak ?"
tanya Fei Yang sambil menatap Li Dan dengan kaget.
__ADS_1
Li Dan termenung sesaat lalu berkata,
"3 bulan yang lalu, pasukan Jin melakukan serangan besar besaran."
"Mereka datang dari dua arah timur dan selatan, masing masing membawa 400.000 pasukan.."
"Arah timur di pimpin oleh Aisin penasehat kerajaan Jin, sedangkan arah selatan di pimpin oleh Wanyen Khan dari Wanyen Hong Lie."
"Aku di temani oleh ibu mu berangkat menghadapi serangan selatan..'
"Sedangkan dari gelombang dari timur yang datangnya menyusul, setelah Ku berangkat ke selatan." t
"Terpaksa Lan Yi yang sedang hamil tua berangkat ditemani perdana menteri Li Cing .menyambut mereka."
"Kami di selatan sempat kuwalahan karena kalah jumlah, untung pasukan besar Temujin dari Mongolia datang membantu."
"Akhirnya kami berhasil memukul mundur pasukan Jin, juga berhasil membunuh Wanyen Khan.."
"Sedangkan Wanyen Hong Lie dan sisa pasukan nya mundur melarikan diri kembali ke selatan.."
"Kekalahan Jin itu di manfaat kan oleh Temujin Mongolia, untuk terus mendesak Jin dan merebut seluruh wilayah selatan yang di kuasai oleh Jin.."
"Lan Yi di sebelah timur juga berhasil membunuh Aisin, pasukan Jin yang mendengar kekalahan di selatan dan kehilangan Aisin.."
"Mereka pun mundur kembali ke Liao Dong.."
"Di sebelah timur kita pun menang, tapi kemenangan di timur membuat aku harus kehilangan orang yang paling ku hormati dan ku cintai secara sekaligus.."
ucap Li Dan dengan wajah lesu dan penyesalan.
Apa yang terjadi dan Li Dan kehilangan siapa saja.
Li Dan setelah menghela nafas sedih, sambil termenung dia kembali berkata,
"Usia yang tua dan terlalu lelah, akhirnya membuat perdana menteri Li Cing wafat di Medan perang.."
"Sedangkan Lan Yi akibat terlalu memforsir tenaga, saat menghadapi Aisin, dia mengalami kontraksi danmelahirkan bayi kami sebelum waktunya.."
"Lan Yi setelah melahirkan putra kami, dia pergi meninggalkan kami untuk selama lamanya, akibat pendarahan hebat saat melahirkan.."
ucap Li Dan sambil menutupi wajahnya, dengan kedua tangannya.
Dia menangis dalam diam dengan bahu terguncang guncang
Kini Fei Yang mengerti mengapa Li Dan dan Sian Sian terlihat murung.
Rupanya mereka berdua telah kehilangan dua orang yang paling penting dalam hidup mereka.
Fei Yang memegang kedua pundak Li Dan dan berkata,
"Takdir dan jodoh sudah di atur, bila sudah habis dan harus pergi siapapun tidak dapat mencegahnya.."
"Kamu harus merelakan nya, dan harus tegar menghadapinya.."
"Demi buah hati mu, demi sesuatu yang paling berharga yang dia tinggalkan untuk mu.."
__ADS_1
"Kamu harus bangkit tidak boleh larut dalam kesedihan, kamu punya tanggung jawab merawat dan membesarkan buah hati kalian itu.."
ucap Fei Yang mencoba memberi semangat ke Li Dan.
Li Dan mengangguk dan berkata,
"Semua itu aku mengerti dan tahu, tapi saat menghadapi nya langsung, itu sungguh tidak mudah..'
"Rasanya aku ingin pergi menyusulnya, sehingga tidak perlu hidup seperti saat ini.."
"Tapi setiap kali menatap bayi kami, aku tidak tega pergi meninggalkan nya.."
"Terpaksa bertahan hidup dalam kesepian dan penderitaan ini, semua demi dia.."
ucap Li Dan dengan kepala tertunduk dan air mata bercucuran.
Fei Yang menatapnya dengan penuh prihatin, tidak tahu mau bicara apa.
Akhirnya dia hanya bisa terduduk diam di sana, ikut melamun tentang Lan Yi.
Pai Lan Yi keponakan muridnya yang cantik jelita, tapi selalu malang nasibnya.
"Kakak Dan kamu di sini rupanya, Sun er badannya agak hangat."
"Sebaiknya kakak pulang melihat nya.."
ucap Sian Sian yang baru saja datang dengan wajah agak panik.
Li Dan tersentak dan tersadar dari kesedihannya, sambil menghapus sisa airmata nya.
Dia menoleh kearah Fei Yang dan berkata,
"Adik Yang aku harus pulang melihat Sun er, maaf aku tidak bisa menemani adik ngobrol lebih lama ."
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Tidak masalah, aku juga ingin lihat ponakan ku, biar aku ikut dengan kalian.."
"Aku juga mengerti sedikit ilmu pengobatan, biar aku bantu kamu melihatnya. "
Li Dan dan Sian Sian mengangguk cepat, lalu mereka bertiga bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Langsung kembali ke kediaman Li Dan, yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari kediaman Li Yuan Ming dan Sabrina.
Saat tiba di sana, Fei Yang lihat di dalam kamar putra Li Dan di sana hadir Ibu Li Dan dan adik angkat Li Dan.
Juga ada seorang tabib yang sedang memeriksa keadaan putra Li Dan yang masih bayi.
"Tabib bagaimana keadaan putra ku ?"
tanya Li Dan gugup.
"Maafkan hamba yang mulia, pangeran kecil karena lahir terlalu cepat sebelum waktunya.
Fisiknya agak lemah dan mudah sakit, jadi memang harus mendapatkan perawatan ekstra tidak sama dengan bayi normal lainnya.
__ADS_1