
"Baik guru, guru juga istirahat lah.."
"Sampai jumpa.."
Setelah memberi hormat Nan Thian bersama rombongan nya pun bergerak menuju kamar yang di sediakan untuk mereka.
Nan Thian menempati kamar sendiri, karena dia adalah peserta pertandingan.
Sedangkan Sun er menempati kamar ukuran kecil bersama Siau Hei, begitu pula Siau Yen Siu Lian dan Zi Zi.
Letak kamar mereka pun agak terpisah dengan Nan Thian, yang lebih dekat ke bangunan induk, yang disediakan untuk pihak Qing Hai Pai.
Nan Thian setelah masuk kedalam kamar tersenyum kecut melihat luasnya dan fasilitas kamar yang di sediakan untuk nya.
Dia hanya seorang diri, tapi di berikan kamar yang muat 10 orang buat apa..
Seandainya dia masih Nan Thian yang beberapa bulan lalu, mungkin untuk sekedar berteduh di halaman, pasti akan di usir orang.
Beginilah realita hidup, semakin kamu diatas maka akan semakin banyak yang mendekati mu, menghargai mu.
Tapi begitu kamu di bawah maka semua akan sirna, hanya alam saja yang sikapnya tidak akan berubah, apapun kondisi mu.
Dia tetap akan memberikan apa yang di milikinya tanpa pamrih apapun.
Sambil tersenyum kecut, Nan Thian melangkah masuk kedalam kamar, menutup pintu.
Nan Thian tertarik dengan sebuah kursi santai dari kayu yang sandarannya agak miring kebawah.
Kursi itu di letakkan dekat jendela kamar.
Nan Thian menghampiri kursi itu membuka jendela, kemudian dia mencoba duduk di kursi santai yang sandarannya agak landai kebawah itu.
Sehingga orang yang duduk di sana, seperti duduk setengah berbaring.
Nan Thian terlihat sangat relax menikmati kursi santai itu.
Sambil duduk setengah berbaring menikmati hembusan angin sore, yang sepoi sepoi.
Seketika membuat Nan Thian sedikit memejamkan matanya, menikmati ketenangan sejenak.
Tapi sesaat kemudian Nan Thian yang sedang memejamkan matanya.
Tiba-tiba bayangan wajah Siau Semeinya, tatapan matanya.
Saat dia muncul di arena pertandingan.
Membuat Nan Thian membuka kembali matanya dan menghela nafas panjang.
"Guru maafkan murid yang sulit mengikuti nasehat baik dari mu.."
"Bukan murid tidak mau, tapi murid sudah terseret oleh pusaran yang begitu dalam."
"Murid sulit menarik diri dari sana.."
gumam Nan Thian sambil menatap kearah rembulan yang bersinar terang di luar sana.
"Rembulan tolong beritahu aku, mengapa untuk mencintainya, aku hanya butuh sesaat.."
"Tapi untuk melupakan nya, aku perlu perjuangan seumur hidup ku..?"
__ADS_1
Nan Thian kemudian menghela nafas panjang dan kembali memejamkan matanya.
Baru saja dia menutup matanya, pendengaran Nan Thian yang tajam, mendengar ada desir halus bergerak cepat membelah udara.
Dengan sasaran persis di sisi kepalanya, Nan Thian tersenyum tenang tidak menghindarinya.
Dia membiarkan benda itu lewat begitu saja di sisi kepalanya.
Setelah benda itu menancap di sandaran kursinya, Nan Thian baru membuka matanya.
Lalu dia mencabut pisau kecil yang di hiasi bulu bulu merah di belakang nya.
Dari wangi bulu bulu di ujung belati kecil itu, Nan Thian bisa menebak pemilik benda ini.
Kemungkinan besar adalah seorang wanita.
Nan Thian mencabut pisau kecil, yang bagian depannya ada sebuah kertas ikut tertancap di sana.
Nan Thian mengambil kertas itu, membacanya.
"Terimakasih atas jubah dan tangkapan tangannya, tapi tindakan mempermalukan ku di depan umum, suatu hari akan ku tagih kembali.."
"Aku tidak suka berhutang Budi pada musuh, sebagai balas Budi."
"Aku ingatkan pada mu, jangan makan dan minum, yang di tawarkan oleh siapapun.."
Selesai membaca, Nan Thian meremas hancur kertas tersebut menjadi serbuk.
Lalu dia sambil tersenyum kembali untuk duduk di kursi santai nya.
Beberapa saat memejamkan matanya, Nan Thian kembali mendengar suara langkah kaki halus, sedang berjalan menghampiri kamarnya.
Apa secepat itu, dia kembali datang menagih hutangnya.
batin Nan Thian dalam hati.
Sesaat kemudian terdengar bunyi suara pintu kamar Nan Thian di ketok pelan dari luar sana.
"Tok,..! Tok..! Tok,..! Tok..!"
"Ya siapa,?.. masuk lah, pintu tidak di kunci..!"
jawab Nan Thian dari dalam.
"Saya Nan Thian Sexiong,.."
ucap sebuah suara lembut yang tidak pernah bisa dia lupakan.
Dahulu suara ini adalah suara yang selalu mendatangkan kebahagian dalam hidup nya.
Tapi kini pemilik suara ini, adalah orang yang paling tidak ingin dia ingat.
Karena setiap mengingatnya, hanya ada luka dan perih yang kembali membuka luka lamanya.
Sesaat Nan Thian tertegun tidak tahu mau bilang apa.
Hingga suara lembut itu kembali terdengar, berkata dari luar sana.
"Nan Thian Sexiong, bolehkah aku masuk.?"
__ADS_1
Nan Thian menjadi serba salah, satu sisi wanita itu adalah wanita yang belum bisa dia lupakan.
Dia sangat ingin tahu keadaan nya, dan menghiburnya, setelah suaminya mengalami musibah seperti dirinya dulu.
Tapi di lain sisi, hal itu sangat tidak pantas, karena wanita itu sekarang adalah istri orang.
Menerimanya sebagai tamu di dalam kamar, akan membawa dampak tidak baik bagi Siau Semeinya.
Setelah berpikir dan menimbang, Nan Thian akhirnya bangkit berdiri, lalu berjalan menuju pintu dan berkata,
"Sebentar.."
Nan Thian kemudian membuka pintunya dari dalam.
Begitu pintu terbuka, terlihat lah sesosok wajah cantik yang tidak pernah berubah.
Wanita cantik itu, tersenyum padanya dan berkata,
"Nan Thian Sexiong, apa kabar ?"
Nan Thian mengangguk dan tersenyum pahit,
"Seperti yang Siau Semei lihat.."
"Mari kita bicara di depan sana.."
ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah kursi dan meja di depan kamarnya.
Wanita itu yang bukan lain adalah Xue Xue langsung menggelengkan kepalanya dan berkata cepat,
"Tidak usah Nan Thian Sexiong, Xue Xue cuma sebentar saja.."
"Xue Xue hanya ingin mengundang Nan Thian Sexiong, untuk makan malam bersama.."
"Kita sudah lama tidak berkumpul dan makan bersama, Nan Thian Sexiong tidak akan berkeberatan bukan..?"
"Meski kita tidak bersama, setidaknya kita masih saudara seperguruan, bukan.?"
Nan Thian teringat dengan peringatan surat tadi, apa ada hubungannya dengan Xue Xue.
Tapi Nan Thian membantahnya dalam hati,
Tidak mungkin, mana mungkin Siau Semei ku yang hatinya paling lembut dan baik, bisa berniat mencelakainya.
Sambil berpikir dan membantahnya di dalam pikiran.
Nan Thian tersenyum dan mengangguk,
"Bukan masalah,.."
"Aku sendiri pribadi tentu tidak ada masalah, aku hanya tidak ingin ada muncul gosip yang bisa menganggu ketenangan dan kebahagiaan keluarga Siau Semei."
"Asalkan Hung Ping Chi Setie hadir, aku jelas tidak masalah.."
Xue Xue tersenyum lembut dan berkata,
"Kalau itu, Nan Thian Sexiong tidak boleh bertenang hati."
"PIng Chi juga hadir kok, justru kedatangan ku adalah ide darinya.."
__ADS_1
ucap Xue Xue cepat.