PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SAMBARAN PETIR DARI LANGIT


__ADS_3

Fei Yang setelah berbaur dengan pasukan lainnya, dia mencari peluang mendekati pasukan perbekalan.


Di saat ada kesempatan, seorang pasukan penjaga perbekalan berpatroli sendirian.


Fei Yang pun melumpuhkan pasukan tersebut, melucuti seragamnya, lalu bertukar posisi menjadi pasukan penjaga perbekalan.


Dengan berseragam pasukan perbekalan, Fei Yang pun mulai melaksanakan rencananya.


Di mulai dari bagian perbekalan yang dia jaga di sebelah timur, Fei Yang mulai membakarnya, di saat pasukan perbekalan sebelah timur sedang sibuk memadamkan api.


Fei Yang berlari kearah barat, meminta bala bantuan, membantu memadamkan api.


Begitu pasukan pengawal perbekalan sebelah barat bergegas pergi memberi bantuan, kini giliran gudang perbekalan bagian barat, yang di lalap si jago merah.


Kemudian Fei Yang berpindah lagi ke gudang perbekalan Utara dan Selatan.


Akhirnya terjadilah kebakaran besar di seluruh gudang perbekalan pasukan Li Yuan Hao.


Tidak sampai di situ, ketika orang sedang sibuk, Fei Yang menggunakan racun pencahar di campurkan ke seluruh perbekalan, makanan kuda perang Li Yuan Hao.


Setelah menyelesaikan seluruh rencananya, Fei Yang pun menghilang dari pasukan Li Yuan Hao.


Dia mencari tempat yang agak jauh untuk mengamati gerak gerik pasukan Li Yuan Hao.


Setelah hampir semalaman bekerja keras memadamkan api, sehingga hampir tidak ada pasukan Li Yuan Hao, yang bisa beristirahat dengan tenang.


Paginya mereka kembali di kejutkan dengan kondisi kuda perang mereka, yang mengalami diare hebat.


Sehingga untuk berdiri pun, kuda kuda tersebut tidak kuat.


Apalagi mau di pacu untuk menyerang kota Lan Zhou


Perbekalan yang tinggal sedikit dan hanya bisa di gunakan untuk bertahan satu hari.


Di tambah dengan kondisi kuda perang mereka yang mengalami musibah diare masal.


Li Yuan Hao benar benar di buat pusing 7 keliling oleh kedua hal yang sangat vital bagi pasukan di Medan perang.


Menunda pergerakan, resikonya adalah sebelum perang terjadi, mereka sudah kehabisan perbekalan.


Berputar balik, tidak mungkin, jarak terlalu jauh, meminta pengiriman perbekalan juga tidak mungkin.


Karena saat perbekalan tiba, mereka mungkin sudah mati kelaparan.


Memaksa maju menyerang Lan Zhou, itu juga pilihan konyol, karena pasukannya tak mungkin maju berperang dengan perut kosong.

__ADS_1


Itu kalau satu hari berhasil menembus pertahanan kota Lan Zhou, bila tidak, mereka semua akan mati bukan karena perang,


melainkan mati kelaparan..


Di saat situasi sedang rumit seperti itu, Li Yuan Hao terpaksa mengambil keputusan memangkas ransum dan jatah makan pasukannya.


Dari tiga kali sehari, menjadi 1 kali sehari, itupun di berikan dalam bentuk bubur encer.


Dengan perhitungan seperti itu setidaknya pasukannya bisa bertahan 5 hari..


Dengan solusi terpaksa seperti itulah, pasukan Li Yuan Hao yang sudah kehilangan semangat tempur hampir 50%, terus bergerak maju mendekati kota Lan Zhou, setelah tertunda dua hari, karena kondisi kesehatan kuda perang mereka yang terganggu.


Sementara itu di kota Lan Zhou sendiri di bawah pimpinan ratu Sabrina dan dua Jendral baru Bu San dan Bi Son.


Pasukan yang cuma 15.000 orang, kini terlihat sangat siap dan disiplin, penuh semangat tempur.


Li Yuan Hao sendiri saat memantau dari jauh, melihat kesiapan pasukan pertahanan kota Lan Zhou, yang berada di atas tembok kota.


Dia menjadi pesimis dan ragu untuk memerintah kan pasukannya untuk bergerak menyerang.


Ditempat terpisah di gerbang Timur yang di pimpin oleh Toba Chen.


Dan di gerbang barat yang di pimpin oleh Watobi.


Mereka berdua juga tidak berani bergerak maju, saat melihat kesiapan pasukan pertahanan di dua gerbang kota tersebut.


Fei Yang sendiri yang memantau dari udara bersama Kim Tiaw, juga terlihat cemas.


Dia sedikit takut dengan akal pendek dari pamannya, yang memaksa diri maju menyerang kota Lan Zhou secarau mati matian.


Ini akan menimbulkan jatuh korban dan kematian sia sia yang sangat banyak, 50.000 nyawa tak berdosa itu bukanlah jumlah yang sedikit.


Bila kehilangan pasukan sebesar itu, kerajaan Xi Xia benar benar akan dalam bahaya, bila nanti kerajaan Liao Dong datang melakukan invasi.


Fei Yang akhirnya memutuskan, bila pamannya memaksa diri, tiada pilihan lain, dia terpaksa melanggar janji dengan neneknya.


Dia akan menebas paman dan kakak sepupunya, mengeksekusi mereka berdua dengan cara tercepat.


Tanpa melibatkan pasukannya, setelah itu baru membujuk Watobi dan Toba Chen menyerah.


Bila tidak bersedia Fei Yang kembali terpaksa akan menebas kedua orang itu.


Fei Yang yakin bila pimpinan pasukan mati, dengan kondisi pasukan yang seperti itu.


Mereka pasti akan menyerah, itu adalah pilihan terbaik buat mereka.

__ADS_1


Satu satunya ganjalan Fei Yang hanya bagaimana cara menghadapi dan memberikan penjelasan yang sangat menyakiti perasaan neneknya itu.


Selagi pikiran nya sedang kalut tiba-tiba Fei Yang teringat dengan jurus Penahluk semesta.


Jurus ke 7, bagian pertama badai pemusnah dan bagian kedua air membanjiri langit.


Teringat sampai di situ Fei Yang pun berbisik pada Kim Tiaw,


"Tiaw Siung menjauhlah dari sini, sejauh jauhnya.."


Setelah berpesan Fei Yang pun melesat keatas langit, mulai merapal jurus badai pemusnah dan air membanjiri langit.


Awan hitam bergulung gulung di sertai angin badai dan hujan lebat, mulai turun dengan deras dari langit.


Begitu Fei Yang merapalkan kedua jurus tersebut.


Pasukan Li Yuan Hao yang kondisinya sudah kelaparan, kini di tambah dengan terpaan angin badai dan hujan lebat, keadaan mereka benar benar menjadi sangat memprihatikan.


Satu persatu mulai tidak kuat bertahan duduk diatas kuda mereka.


Mereka mulai bertumbangan jatuh keatas tanah, yang becek dan penuh dengan genangan air.


Begitu pula yang terjadi dengan pasukan pimpinan Toba Chen dan Pimpinan Watobi, pasukan mereka juga mulai mengalami nasib yang sama.


Li Yuan Hao dengan sangat marah, menengadah menatap langit dan berkata,


"Thian kamu benar benar sedang bercanda dengan ku,...!!"


"Apakah sebelum melihat aku kalah hingga tersungkur mencium tanah, kamu tidak akan pernah puas...!!"


"Bangsat kamu Thian...!!"


teriak Li Yuan Hao penuh emosi.


Fei Yang yang ada di balik awan sedang merapal ilmunya, tentu tidak terlihat oleh Li Yuan Hao yang sedang ada di bawah.


Memanfaatkan makian Li Yuan Hao yang memaki langit, Fei Yang jadi menemukan akal untuk menakuti pasukan Li Yuan Hao,


dan enghancurkan seluruh mental tempur pasukan tersebut.


Dengan merapal jurus ke 5 kekuatan Halilintar langit tingkat ke 9.


Puluhan cahaya kilat berwarna keemasan melesat dari atas langit menyambar ke bawah.


Satu menyambar kearah depan kuda Li Yuan Hao, menimbulkan ledakan dahsyat yang mengagetkan kuda tunggangan Li Yuan Hao.

__ADS_1


Sehingga kudanya menjadi panik meronta, meringkuk keras tak terkendali sambil mengangkat kedua kaki depannya keatas tinggi tinggi.


__ADS_2