
Nan Thian saat tiba didepan pintu pondok kediaman Fei Yang, dia menurunkan Fei Yung dan Fei Lung dari gendongannya.
Nan Thian berkata pelan ke Fei Yung dan Fei Lung.
"Kalian berdua, tolong bantu beritahukan pada ayah kalian, Li Sun kakak kalian telah kembali.."
Kedua anak itu mengangguk cepat, lalu mereka berdua sambil berlarian, tertawa tawa heboh, mereka langsung masuk kedalam pondok.
Nan Thian sendiri mencoba menoleh kebelakang, untuk mengobati rasa penasaran nya.
Melihat Li Sun sedang asyik bercerita dengan penuh semangat.
Sedangkan Zi Zi terlihat mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sesekali mereka terlihat tertawa dan tersenyum gembira, mereka terlihat cukup menikmati dan berbahagia dengan momen pertempuran tersebut.
Nan Thian tersenyum pahit dan bergumam di dalam hati,
"Semoga dia adalah pilihan yang tepat, untuk mendampingi dan memberikan warna bahagia pada hidup mu.."
"Aku akan berikan doa terdalam ku, semoga kalian berdua hidup berbahagia selama nya.."
Nan Thian kemudian berpaling dari sana, agar tidak terus melihat kearah mereka berdua.
Saat Nan Thian mengalihkan pandangan nya, tidak tahu itu ikatan batin atau perasaan.
Zi Zi yang sedang asyik mengobrol dan mendengarkan cerita Li Sun.
Diam Diam dia juga ikut menoleh kearah Nan Thian, tapi momennya kurang pas, sedikit terlambat.
Sehingga yang berhasil dia lihat hanya bayangan punggung Nan Thian, yang berdiri membelakangi mereka.
Melihat sekilas bayangan punggung Nan Thian, Zi Zi tersenyum sedih.
"Kakak tampan, aku akan berusaha memenuhi permintaan terakhir mu,.."
"Aku akan menerima keputusan ayah.."
"Hanya itu hal terakhir, yang bisa aku lakukan untuk mu.."
"Semoga bahagia, selamat tinggal kakak tampan."
gumam Zi Zi.. didalam hati.
Tanpa di sadari matanya kembali berkaca kaca.
"Ehh adik Zi Zi kamu kenapa tiba tiba menangis..?"
tanya Li Sun yang tidak tahu apa yang terjadi.
Zi Zi buru buru mengucek matanya dan berkata cepat,
"Tidak tahu nih, tiba tiba ada debu yang masuk ke mata.."
"Mata ku jadi kurang nyaman.."
__ADS_1
ucap Zi Zi beralasan.
"Coba saya bantu lihat.."
ucap Li Sun sedikit lebih mendekat dengan khawatir.
"Tidak usah kak, sebentar juga keluar sendiri bersama airmata ku.."
"Ini sudah mendingan,.."
"Ayo teruskan lagi ceritanya,.."
ucap Zi Zi cepat.
Bila yang di hadapannya adalah Nan Thian, tentu dengan senang hati, dia akan membiarkan nya, membantu meniup matanya, yang katanya kelilipan itu.
Bila di hadapannya adalah Li Sun yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Tentu dia juga tidak akan berkeberatan untuk itu.
Tapi kini situasi berbeda, setelah keputusan ayahnya, pria di hadapannya ini kini berubah menjadi calon suaminya.
Dia masih belum bisa menerima nya sepenuh hati, jadi mana mungkin dia membiarkan hal itu terjadi.
Li Sun yang tidak menyadari apa yang ada di pikiran Zi Zi.
Dia percaya penuh dengan ucapan Zi Zi.
Dia kembali melanjutkan ceritanya hidupnya selama ini dengan penuh semangat.
Mereka bertiga berjalan keluar dari dalam pondok, di iringi kedua kembar bersaudara.
"Thian Er mana Sun Er..?"
tanya Fei Yang sambil tersenyum lembut.
"Di sana kakek paman guru, sedang mengobrol dengan Zi Zi.."
"Tugasku sudah selesai disini, aku sekalian mohon pamit."
ucap Nan Thian mencoba bersikap setegar mungkin.
Fei Yang mengangguk pelan, dan berkata,
"Maafkan kami Thian Er, terimakasih atas semua nya.."
"Jaga dirimu baik-baik, semoga Thian yang akan melindungi dan menggantikan semua nya dengan kebahagiaan lain.."
Nan Thian tersenyum, dia memberi hormat kearah Fei Yang Xue Lian dan Fei Hsia secara bergantian.
Lalu dia berjongkok memeluk dan mencium kedua kembar.
Setelah itu, dia baru bergerak menghampiri Zi Zi dan Sun Er yang sedang mengobrol.
"Paman bibi..Nan Thian mau mohon pamit melanjutkan perjalanan.."
__ADS_1
ucap Nan Thian berusaha terlihat setenang mungkin.
Zi Zi yang tahu hal ini adalah cepat lambat, tapi saat mendengar langsung dari mulut Nan Thian, dia tetap saja kaget dan sulit menerima kenyataan tersebut.
Dia menatap kearah Nan Thian dengan kaget, lalu perlahan lahan berubah menjadi tatapan mata sedih.
Nan Thian tidak berani beradu tatap dengan Zi Zi, dia takut dirinya akan berubah pikiran bila bertatap mata dengan Zi Zi.
Nan Thian mengalihkan pandangan matanya kearah Li Sun, menepuk bahunya dengan lembut dan berkata,
"Paman aku pergi dulu, jaga diri sampai jumpa."
Li Sun dengan cepat menahan tangan Nan Thian dan berkata,
"Mengapa begitu buru buru, kita baru berkumpul.."
"Setidaknya tinggallah beberapa waktu bersama, setelah itu bukankah kita bertiga bisa turun gunung bersama, bertualang bersama seperti dulu lagi..?'
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf paman sekali ini, aku terpaksa menolaknya, aku sudah ada janji dengan kedua orang tua ku, kakak ku, juga Kim Kim sedang menungguku di atas sana.."
"Lagipula kamu sendiri, juga pasti akan ada yang banyak hal, yang perlu di bicarakan dengan kakek paman guru dan nenek bibi guru.."
"Bila berjodoh ribuan mil pun akan bertemu kembali, bila tak berjodoh didepan mata juga tetap akan berpisah.."
"Sudah jaga diri kalian, Thian Er permisi dulu."
ucap Nan Thian menepuk lembut bahu Li Sun juga Zi Zi.
Setelah nya tanpa menunggu respon jawaban mereka, Nan Thian sudah menghilang dari hadapan mereka berdua.
Zi Zi hanya bisa melepas kepergian Nan Thian dengan tatapan mata pilu.
Seolah-olah separuh nyawanya telah ikut terbawa pergi.
Suasana inilah yang ingin Nan Thian hindari, makanya sebelum nya, dia memutuskan tidak datang pamit ke tempat kediaman Fei Yang.
Tapi permainan nasib berkehendak lain, yang kuasa belum puas menyiksanya dengan kenyataan dan takdir yang kejam.
Sehingga di saat harusnya dia pergi, malah datang Li Sun.
Dengan kedatangan Li Sun, tidak ada alasan baginya untuk tidak pergi mengunjungi tempat kediaman Fei Yang.
Karena bagaimanapun mengantar Li Sun hingga berkumpul kembali bersama keluarga nya, itu termasuk tugas dan tanggung jawabnya.
Karena baik Zi Zi maupun Li Sun, keduanya dari awal memang tanggung jawab dia, untuk mengembalikan mereka ke sisi Fei Yang.
Nan Thian saat keluar dari portal cahaya dimensi, wajahnya tiba tiba terlihat berubah menjadi sangat menyedihkan.
Kerut kerut halus garis penderitaan hidup, semakin bertambah banyak, menghias di kedua sudut matanya.
Nan Thian yang seharusnya naik ke puncak Yu Ni Feng melanjutkan perjalanan bersama Kim Kim.
Tidak tahu kenapa dia malah.memutuskan berbelok kearah Gua Api Surgawi.
__ADS_1
Di mana gua tersebut, kini sudah berubah menjadi sebuah gua panjang, yang berkelok kelok.