
"Hyaaaaaat..!!!"
Nan Thian berteriak keras sambil melepaskan tiga tebasan kearah 3 pusaran angin tornado yang ada di hadapannya.
Tiga berkas sinar pancawarna yang di selimuti oleh petir, melesat membelah tiga pusaran angin tornado di hadapan Nan Thian.
Tiga pusaran angin tornado terbelah menjadi dua, tapi pusaran itu tidak buyar.
Malah kin Berubah menjadi 6 pusaran angin tornado yang menghadang jalan di hadapan Nan Thian.
Sementara Nan Thian sedang sibuk menghadapi pusaran angin tornado yang menghadang langkahnya.
Ditempat lain pusaran angin tornado yang membawa Zi Zi mulai bergerak menjauh dari tempat itu.
Bergerak berlawanan arah dengan angin tornado yang membawa Li Sun ditempat lainnya.
Sedangkan Kim Kim yang terus berusaha masuk kedalam pusaran, tapi selalu di buat terpental.
Kini Kim Kim sendiri terus di hadang, dan di kejar kejar oleh tiga angin tornado lain nya, yang berusaha menghisap dan ingin menelannya kedalam arus pusaran.
Kim Kim terpaksa bergerak menjauhi pusaran angin tornado yang ingin menelannya.
"Kakak..aku tidak bisa mendekati Zi Zi,..Zi Zi semakin menjauh kak..!"
ucap Kim Kim mengingatkan Nan Thian, lewat telepati.
Nan Thian mengangguk kecil, lalu dia melesat menerjang kearah angin tornado yang menghadang jalan nya.
Nan Thian melepaskan pukulan hawa inti es kearah angin tornado terdekat.
"Wussss...!!!"
Pusaran angin itupun membeku di udara, seperti tonggak gunung es.
Dia tidak bergerak lagi, diam di tempat.
Secara bergantian Nan Thian melesat kesana kemari dengan pukulan Inti es surgawi nya.
"Wussss..! Wussss..! Wussss..!"
"Wussss..! Wussss..!"
Dalam sekejap terlihat 6 buah pusaran angin tornado, membeku diudara.
Pusaran angin tornado kini berubah menjadi tonggak es, yang menjulang tinggi keudara.
Satu pukulan kuat Nan Thian berikutnya, yang menggunakan energi pancawarna.
Langsung meluluh lantakkan tonggak gunung es hingga seluruh nya rontok kebawah.
"Wussss...! Wussss..! Wussss..!"
"Wussss...! Wussss..! Wussss..!"
"Brakkkk...! Brakkkk...! Brakkkk...!"
"Brakkkk...! Brakkkk...! Brakkkk...!"
"Brurrr..!" Brurrr..!" Brurrr..!"
"Brurrr..!" Brurrr..!" Brurrr..!"
__ADS_1
Tanpa memperhatikan lagi kehancuran tonggak gunung es yang runtuh ke laut.
Nan Thian sudah melesat mengejar kearah angin tornado, yang sedang membawa Zi Zi bergerak menjauh.
Nan Thian setelah beberapa kali muncul menghilang di udara, akhirnya berhasil menyusul pusaran angin bercampur air yang membawa Zi Zi.
Nan Thian tidak bisa menggunakan pukulan inti es surgawi nya.
Karena bila tornado itu di bekukan, Zi Zi tentu akan ikut membeku.
Kemudian saat Nan Thian menghancurkannya, Zi Zi.pun akan ikut hancur.
Jadi dengan cara seperti sebelumnya, hal itu jelas tidak mungkin bisa di lakukan.
Nan Thian dengan pedang panca warna di tangan, melesat keangkasa.
Lalu dari ketinggian sana, dia meluncur turun kebawah membentuk pusaran yang berlawanan arah dengan pusaran angin tornado di bawah sana.
Nan Thian meluncur masuk ketengah tengah pusat pusaran Tornado.
Didalam sana Nan Thian terus bergerak cepat, membentuk pusaran yang berlawanan arah
Dia berusaha membuyarkan arus pusaran, yang menghadang pergerakan nya dengan tebasan pedang panca warna.
Akhirnya angin tornado itu berhasil Nan Thian hancurkan tanpa sisa.
Tapi setelah semuanya hilang, laut kembali sedikit lebih tenang, meski gelombang masih tinggi dan angin masih berhembus kencang.
Tapi semua sudah jauh lebih baik, awan hitam dan petir sambar menyambar di angkasa sudah tidak terlihat.
Tapi Nan Thian justru tidak menemukan keberadaan Zi Zi.
Zi Zi hilang tanpa jejak, meski angin tornado yang membawanya tadi sudah Nan Thian jinakkan.
"Zi Zi....!!!"
Zi Zi....!!!"
Zi Zi....!!!"
Zi Zi....!!!"
"Kamu di mana...!??"
"Kamu di mana...!??"
"Kamu di mana...!??"
Teriakkan Nan Thian membahana, tapi hanya ada suara gaung nya sendiri yang menjawabnya balik.
Di sana tidak ada siapa siapa selain dirinya dan Kim Kim yang sedang ada di ketinggian sana.
Menghindari kejaran angin tornado yang ingin menggulung nya tadi.
Kim Kim yang mengerti Nan Thian pasti sedang membutuhkan bantuannya.
Dia segera melesat turun kebawah, membawa Nan Thian bergerak menyusuri kedalam lautan di bawah sana.
Nan Thian membuat gelembung udara dengan energi panca warna nya.
Sehingga dia bebas bergerak di dalam air mengikuti Kim Kim yang sedang bergerak menuju dasar lautan.
__ADS_1
Melakukan pencarian keberadaan Zi Zi yang mungkin saja tenggelam ke dasar lautan.
Berhari hari Nan Thian dan Kim Kim melakukan pencarian ditengah lautan luas.
Tapi mereka tetap saja tidak berhasil menemukan keberadaan Zi Zi.
Semua usaha mereka berdua sia sia, bukan hanya Zi Zi yang tidak berhasil ditemukan.
Bahkan Li Sun pun tidak berhasil di temukan keberadaannya.
Kedua orang itu seolah olah menghilang di telan bumi.
Kim Kim sudah mencoba menggunakan indera penciuman nya mencoba mendeteksi keberadaan Zi Zi.
Tapi semuanya sia sia, Kim Kim sekali ini tidak berhasil mendeteksi keberadaan Zi Zi.
Dengan wajah putus asa dan sedih, Nan Thian yang melayang ringan di atas air, berkata pelan
"Mungkin ini adalah takdir ku, aku lah yang terlalu memaksakan nya.."
"Seharusnya aku menerima takdir itu, hidup bersendiri selamanya sampai tua dan mati.."
"Tentunya tragedi ini tidak perlu terjadi.."
"Aku lah pengacau yang telah membuat mereka berdua celaka."
"Ini semua salah ku, aku lah biang dari malapetaka dan bencana itu sendiri..."
ucap Nan Thian penuh penyesalan.
Kim Kim bisa merasakan kesedihan dan penyesalan Nan Thian yang mendalam.
Dia tidak berkata apa-apa, selain dengan setia menemani di sisi Nan Thian.
"Kim Kim bantulah aku cari sekali lagi, bila masih tidak ketemu juga."
"Kita kembali lagi saja ke Xuan Wu Feng, untuk mempertanggung jawabkan semuanya."
ucap Nan Thian terlihat sedih dan putus asa.
Kim Kim mengangguk tanpa membantah, lalu dia kembali membawa Nan Thian menyelam kedasar lautan.
Mereka kembali melakukan pencarian ulang, setelah beberapa hari kembali berlalu.
Tetap saja tidak membuahkan hasil, akhirnya Nan Thian pun memutuskan untuk kembali Xu San.
Untuk memberikan laporan, sekaligus memberikan pertanggungjawaban atas semua yang terjadi.
Sementara Nan Thian sedang bergerak menuju Xu San.
Di suatu tempat lain yang wilayah lautan nya di selimuti oleh es tebal.
Terlihat ada seekor ikan paus raksasa sedang terjebak, di kepung oleh sekelompok perahu perahu kecil.
Mereka yang berada diatas perahu kecil, terus mengepung dan menombak tubuh dan kepala ikan paus Raksasa itu.
Tombak yang di gunakan oleh para penombak itu, di olesi cairan bius.
Sehingga paus raksasa yang kuat itu kini terlihat lemah tak berdaya melakukan perlawanan.
Para nelayan yang kelihatannya sangat ahli di bidang mereka, dengan sigap, mereka sudah mengikat erat erat tubuh paus Raksasa itu.
__ADS_1
Lalu mereka beramai ramai menariknya ke daratan, yang juga di selimuti oleh es tebal.