
Pria itu membuka pintu kamar lebar lebar, melempar dompet dan potongan pakaian Xue Lian di dekat sana.
Tapi dia memondong Xue Lian melesat pergi meninggalkan kamar penginapan melalui jendela.
Jai Hwa Sian memang cerdik dan licin, dia sadar Fei Yang dan Xue Lian bukan orang biasa.
Sebaliknya ilmu mereka sangat tinggi, tidak boleh di buat main main.
Makanya dia harus menggunakan sedikit kecerdasannya, untuk mengelabui mereka.
Dia harus menjalankan misi ini dengan hati hati, Xue Lian adalah tangkapan besar yang sangat menggoda.
Akan sangat di sayangkan bila di lewatkan begitu saja.
Jadi apapun resikonya, dia tetap harus mencobanya, bila tidak dia pasti akan menyesal nantinya.
Jai Hwa Sian melesat dengan kecepatan tinggi menyeberangi danau dengan kaki menotol pelan diatas air.
Danau yang berair tenang, hanya beriak kecil terkena sentuhan lembut ujung sepatu Jai Hwa Sian.
Air yang sedikit beriak seperti habis kejatuhan sehelai daun yang sangat ringan.
Setiap ujung sepatunya menotol diatas air, tubuhnya akan melayang puluhan meter kedepan.
Dalam sekejap mata Jai Hwa Sian sudah menyeberangi danau, bergerak menuju gunung Mang San, yang puncaknya ada ukiran patung raksasa Budha.
Jai Hwa Sian mampu bergerak begitu ringan dan cepat, dalam sekejap mata sudah menghilang.
Ini hanya menunjukkan Jai Hwa Sian selain cerdas juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Jai Hwa Sian membawa Xue Lian memasuki sebuah gua yang terletak di pusar nya patung Buddha raksasa.
Gua itu bagian luarnya gelap, tapi bagian dalamnya terang benderang.
Di dalam gua hanya terdapat sebuah ranjang batu yang di tutupi kain sprei sutra halus, sebuah selimut bantal yang tersusun rapi.
Sebuah meja batu lengkap dengan dua kursi batu
Di seluruh sudut gua terlihat penuh dengan tulang belulang dan tengkorak manusia.
Di dekat tumpukan tulang, terlihat beberapa wanita tua muda bahkan ada seorang anak kecil.
Mereka semua duduk meringkuk disana dengan tangan kaki dan mulut terikat erat.
Tanpa memperdulikan tatapan mata ketakutan mereka, Pria itu dengan ekspresi wajah tanpa dosa, sambil tersenyum cabul.
Dia membaringkan Xue Lian diatas ranjang, lalu dia memeriksa totokan nya di tubuh Xue Lian.
Sambil menambahkan ulang beberapa totokkan, dan melepaskan totokan yang mengunci syaraf bicara Xue Lian tadi setelah itu dia baru berkata,
"Kamu nakal dan hebat, mampu melepaskan hampir setengah dari totokan maut ku dalam waktu singkat."
Xue Lian menghela nafas kecewa, semua usahanya tadi mejadi sia sia.
__ADS_1
Tapi merasa syaraf bicaranya sudah dibuka, Xue Lian sambil menatap tajam Jai Hwa Sian, dia berkata,
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya..?"
Xue Lian mencoba bersikap tenang berpikiran jernih, meski sebenarnya dia sangat marah kecewa menyesal sedih dan takut.
Tapi dia menekan dan menyimpan semua itu rapat rapat.
Kini satu satunya yang bisa Xue Lian lakukan adalah, berusaha mengulur waktu selama mungkin.
Sambil menunggu kedatangan Fei Yang, dia sendiri juga diam diam berusaha melepaskan totokan
Jai Hwa Sian.
Meski tipis harapannya, tapi dia tetap harus mencobanya.
",Ha...ha..ha.. pertanyaan lucu, perlukah aku menjawabnya,..?"
"Tapi biar kamu tidak penasaran aku akan bantu jawab.."
sambil berbicara Jai Hwa Sian mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.
Xue Lian sangat terkejut, dia sadar apa yang akan di lakukan oleh bajingan itu.
Sebenarnya Xue Lian sangat takut, tapi dia berusaha tetap tampil tenang.
"Siapa kamu sebenarnya, ? apa motif mu menahan mereka, ? jangan bilang kamu mau mereka menjadi penonton..?"
tanya Xue Lian berusaha tenang.
Dia menatap Xue Lian, lalu berkata,
"Kamu ingin tahu siapa aku, baiklah aku akan bercerita sedikit.."
"Anggap saja ini bonus, agar kamu tidak penasaran.."
"Nama ku Hai Hai,.. aku membutuhkan energi Yin mereka untuk memperpanjang umur ku.."
"Darah perawan bisa membantu ku awet muda, darah kotor wanita bisa meningkatkan kekuatan ku.."
"Khusus kamu, aku mencium kamu memilki hawa dewa Dewi murni yang spesial, bila bisa mendapatkan mu.."
"Aku bukan hanya akan panjang umur dan awet muda, tapi kekuatan ku akan meningkat pesat."
"Semua yang kamu bisa, akupun akan bisa, yang terpenting adalah nantinya aku akan bisa menggantikan mu menjadi istri pemuda tampan dan gagah itu.."
"Ha..ha..ha..hi..hi..hi..!"
hebat kan..
"Sekarang kamu paham mengapa kalian semua ada di sini.."
ucap Jai Hwa Sian sambil tersenyum sadis.
__ADS_1
Penjelasan Jai Hwa Sian jelas membuat Xue Lian kaget serta marah, tapi dia tetap tampil setenang mungkin.
Jai Hwa Sian terlihat kembali mulai melepaskan pakaiannya dan bergerak mendekati Xue Lian.
"Tunggu,..! tahan dulu,..! aku berjanji akan memberikan semua yang kamu inginkan secara sukarela.."
"Tapi setidaknya katakan pada ku, apa latar belakang mu, hingga bisa jadi seperti ini.."
"Aku ingin mengenal mu lebih dalam, agar bisa rileks saat kita melakukannya.."
ucap Xue Lian sambil tersenyum penuh arti.
Dia terpaksa lakukan itu, apapun caranya asalkan bisa memperpanjang waktu dia akan lakukan.
Jai Hwa Sian duduk di tepi ranjang, di mana Xue Lian terbaring dengan pakaian tersingkap kemana mana.
Jai Hwa Sian menatap Xue Lian, lalu berkata,
"Kamu ingin tahu, berarti kamu perduli dengan ku, baiklah aku akan bercerita sedikit."
Sambil termenung, Jai Hwa Sian mulai bercerita.
Sementara Jai Hwa Sian asyik bercerita, di tempat lain Fei Yang setelah selesai menguras isi perutnya.
Dia buru-buru kembali ke kamar, karena dia merasa hatinya sangat tidak tenang meninggalkan Xue Lian sendirian.
Begitu mendekati kamar dari jauh dia melihat pintu kamar sedang terbuka lebar.
Firasat Fei Yang pun menjadi semakin nyata, dengan panik dia bergegas masuk kedalam kamar.
Melihat kondisi ranjang berantakan, Xue Lian tidak terlihat dalam kamar.
Fei Yang pun menjadi cemas dan panik, emosinya meledak ledak, rasanya dia ingin menghancurkan seluruh tempat itu
Dengan terburu-buru Fei Yang melesat kearah pintu yang terbuka lebar.
Fei Yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling sana.
Dia menemukan potongan pakaian dan dompet Xue Lian yang tercecer di sana.
Fei Yang berdiri termenung, dia mencoba bersikap tenang, sambil membawa kedua benda itu Fei Yang kembali kedalam kamar.
Fei Yang memeriksa ranjang dengan teliti, kemudian dia menoleh kearah jendela.
Sesaat kemudian sambil tersenyum dingin Fei Yang berkata,
"Bangsat kamu sekali ini tidak akan lolos dari tangan ku.."
"Berani kamu menyentuhnya, kamu pasti akan menyesal.."
ucap Fei Yang geram.
Fei Yang melesat keluar dari arah jendela, sambil melayang di udara.
__ADS_1
Fei Yang mengendus ngendus seperti seekor anjing dengan sepasang mata terpejam.
Di dalam pikirannya muncul bayangan punggung Jai Hwa Sian, sedang beterbangan di atas danau.