PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KOTA ANEH YING THIAN


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa, ?"


tanya Fei Yang cemas sambil merangkul bahu istrinya.


"Sakit,.."


ucap Xue Lian dengan wajah penuh keringat.


Kedua tangannya dia gunakan untuk menahan perutnya yang terasa mules.


"Kakak Yang aku gak tahan lagi,"


"Proottt,..! preettt..! Piuuuttt...!"


"Aduh lega.."


ucap Xue Lian sambil menghapus keringat yang memenuhi keningnya..


Fei Yang langsung reflek menutup hidungnya, yang sedikit kembang kempis mencium wangi aneh.


Fei Yang sambil menahan senyum menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Itu lihat belakang mu sudah kuning semua warnanya."


"Ahh masa,..mana..?"


ucap Xue Lian kaget.


Dia buru-buru memutar badan dan lehernya melihat kearah belakang sampai tubuhnya berputar putar.


Mirip kucing yang ingin lihat pan tatnya sediri.


Melihat aksi Xue Lian, Fei Yang yang menjahilinya, sudah tidak bisa menahan diri untuk tertawa terpingkal-pingkal.


Melihat Fei Yang tertawa sadarlah, Xue Lian dia sedang di kerjai.


Dia langsung menghentikan pergerakannya, dengan wajah cemberut dia berteriak,


"Kakak Yang,..berani ya mengerjai ku, lihat bagaimana aku membalasnya..!"


Tangannya yang kecil putih langsung mencubit pinggang suaminya.


"Aduhhhh,..!duh..duh..duh..!"


jerit Fei Yang berpura-pura kesakitan.


Agar Xue Lian puas dan senang.


Benar saja Xue Lian pun tertawa puas dan berkata,


"Tuh..rasain..!"


Fei Yang hanya menanggapinya dengan nyengir.


Tempat di mana Fei Yang dan istrinya bercanda kini terlihat sepi dan lenggang.


Hanya ada satu orang yang terlihat bersembunyi tidak jauh dari sana.


"Siapa di sana keluar..!"


Bentak Xue Lian yang merasa malu ada yang menyaksikan tingkahnya tadi.


Dengan takut takut seorang pria paruh baya, yang memakai topi kain di kepalanya, dan membawa sebuah sempoa hitam ditangan.


Dia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata,


"Tuan dan nyonya, maaf."

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud menganggu, aku hanya ingin meminta ganti rugi atas kerusakan restoran ku.."


ucap si pemilik restoran dengan wajah memelas, seperti mau menangis.


Fei Yang yang tahu istrinya sedang sensitif, sebelum terjadi hal tidak perlu,


Dia langsung melemparkan sekantung emas kecil kearah pemilik restoran.


"Kurasa itu cukup untuk semuanya.. permisi.."


Lalu Fei Yang memeluk pinggang istrinya, membawanya terbang melayang ke angkasa.


Tepat mereka melayang tinggi keatas, Fei Yang bisa melihat Aisin sedang memimpin pasukan besar, menuju lokasi pertempuran.


Dia sepertinya ingin melakukan pengepungan dan penyergapan, terhadap Fei Yang dan Xue Lian.


"Si botak tidak tahu diri.."


ucap Xue Lian keki.


Dia juga bisa melihat Aisin sedang memimpin pasukan besar ingin menyergapnya.


Berbeda dengan Fei Yang, Xue Lian langsung menunjukkan jari telunjuknya yang runcing kearah Aisin yang sedang duduk di punggung kuda tunggangan nya.


"Tidak terlihat ada cahaya ataupun angin serangan tahu tahu terdengar suara,


"Boooom.."


Setelah debu mengepul keatas menutupi pandangan hilang.


Di sana hanya terlihat Aisin, yang tergeletak diatas tanah bersebelahan dengan kuda tunggangan nya.


Kuda Aisin terlihat tidak bergerak lagi, Aisin sendiri setelah memuntahkan darah berulang kali.


Dia akhirnya berhasil bangkit untuk duduk bersila dengan wajah pucat.


wajah nya sempat pias saat melihat Xue Lian ingin kembali menunjuk kearahnya.


Untungnya jari Xue Lian yang runcing di tahan oleh Fei Yang.


"Cukup sayang, ayo kita pergi.."


"Jangan membuang energinya membunuh tikus hina.."


Sambil bergerak pergi, Fei Yang mengirim pesan suara ke Aisin.


"Botak, jadikan ini sebagai pelajaran.."


"Perbanyak lah berbuat baik, jaga prilaku mu, jangan sampai menyesal, tapi sudah terlambat.."


Saat suara Fei Yang hilang, bayangan Fei Yang pun sudah tidak terlihat lagi.


Fei Yang sudah membawa Xue Lian duduk kembali di punggung Kim Tiaw bergerak meninggalkan kota Shou.


Saat memasuki kota Ying Tian, melihat hari mulai gelap, matahari mulai terbenam.


Fei Yang pun berkata,


"Sayang kita mampir dulu di kota Ying Tian, untuk beristirahat.."


"Besok pagi baru lanjutkan perjalanan gimana ?"


Xue Lian menoleh kearah Fei Yang, dan berkata,


"Boleh, aku juga merasa gerah dan lengket ingin mandi dan berendam air hangat.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,

__ADS_1


"Kalau begitu kita turun sekarang.."


Setelah berkata Fei Yang langsung merangkul pinggang istrinya yang ramping, membawanya terbang meninggalkan punggung Kim Tiaw.


Saat kedua orang itu bergandengan tangan memasuki kota Ying Tian.


Mereka melihat keanehan penduduk Ying Tian.


Di mana semua orang terlihat mengenakan baju berkabung, mengenakan ikat kepala putih.


Masing-masing membawa sebuah perahu kertas putih, yang di bagian tengahnya di pasang sebatang lilin putih kecil.


Perahu perahu kertas itu di lepaskan mulai dari selokan, hingga ke sungai kecil yang melintasi kota Ying Tian.


Fei Yang yang merasa heran dengan ulah penduduk kota itu, melihat seorang pria paruh baya yang baru saja selesai melepas perahu, dan kebetulan berjalan melintas di hadapan Fei Yang.


Fei Yang pun menahan lengannya dan berkata,


"Paman maaf apa yang sedang terjadi,? mengapa semua penduduk kota melepas perahu kertas ke aliran sungai..?"


"Anak muda kamu pasti bukan penduduk setempat, aku sarankan sebelum hari benar benar gelap, lebih baik kalian berdua segeralah tinggalkan kota ini."


"Kota ini sedang tidak aman.."


Mendengar penjelasan pria di hadapannya Fei Yang menjadi penasaran.


Sambil menatap pria itu dengan penuh rasa heran, Fei Yang pun bertanya,


"Paman tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi ?"


"Anak muda, bila aku jelaskan, hari akan keburu malam, kalian berdua pasti akan dalam masalah besar.."


"Nanti kalian pasti akan menyesal, lebih baik ikuti saran ku, segeralah tinggalkan kota ini.."


Ucapan pria ini bukan nya berhasil membuat Fei Yang dan Xue Lian segera pergi.


Sebaliknya mereka berdua malah semakin penasaran dan ingin mencari tahu


Melihat Fei Yang dan Xue Lian tidak juga bergeming, pria itu pun berkata,


"Ya sudah bila kalian benar benar ingin tahu, mari kita ngobrol sambil berjalan saja.."


"Kalian juga pasti ingin mencari penginapan kan?"


"Kebetulan rumah ku terletak tidak jauh dari penginapan terbesar kota ini.."


"Mari saya antar sekalian.."


ucap pria itu ramah.


"Terimakasih.."


ucap Fei Yang dan Xue Lian, sambil mengikuti gerak langkah pria itu.


"Begini sebulan yang lalu, kota ini sempat mengalami gempa yang cukup hebat.."


"Meski gempa tidak membawa korban jiwa maupun materi.."


"Tapi di sebelah Utara kota ini, kira kira 5 Li dari kota ini muncul sebuah makam kuno dari dalam tanah.."


"Saat muncul makam itu sebenarnya tidak masalah dan tidak menimbulkan masalah."


"Masalah timbul setelah ada beberapa orang di kota ini, yang merasa penasaran."


"Mereka ingin beradu nasib mencari harta Karun di dalam makam."


"Mereka memang sempat berhasil mendapatkan Sebutir mutiara malam besar, dan sebuah jimat bertulis, berbahan dasar emas.."

__ADS_1


"Tapi setelah kedua benda itu mereka ambil, masalah pun mulai muncul.."


__ADS_2