
Ye Bu Hua yang tidak puas dia segera berlari cepat mengelilingi Nan Thian.
Tubuhnya berubah menjadi puluhan bayangan bergerak berputaran, dengan sangat cepat
Ye Bu Hua berlari mengikuti arah jarum jam mengelilingi Nan Thian dengan cepat.
Nan Thian tetap berdiri tenang di tengah, hanya matanya saja yang terus mengikuti arah lari Ye Bu Hua.
Tiba tiba satu persatu dari bayangan tubuh Ye Bu Hua, mulai meluncur menyerang Nan Thian secara bergantian.
"Tranggg..!"
"Tranggg..!"
"Tranggg..!"
"Tranggg..!"
Setiap serangan datang Nan Thian selalu berhasil menangkis dan membuatnya terpental kembali.
Karena pedangnya terisi tenaga sakti Ih Jin Jing.
"Singgg...!"
Nan Thian langsung terbang keatas, karena Ye Bu Hua yang sedang mengacaukan perhatian Nan Thian dengan serangan pedang bayangan nya.
Tiba tiba tubuh aslinya muncul dari dalam tanah, langsung menyerang Nan Thian dengan ganas.
Ye Bu Hua terus meluncur keatas melakukan pengejaran.
Sedangkan Nan Thian dengan sepasang tangan terpentang lebar, dia terus terbang keatas.
Nan Thian terbang hingga Ye Bu Hua sudah kehilangan daya luncur nya keatas.
Saat Ye Bu Hua mulai kembali meluncur turun karena tidak mampu mengejarnya.
Saat itulah Nan Thian bergerak membalik meluncur turun dengan ilmu pedang Qing Hai Pai andalannya.
"Qing Hai Ci Cien..."
( Tujuh Pedang Qing Hai )
Tubuh sinar emas meluncur turun, membentuk tujuh energi pedang.
Melesat kesana kemari melewati tubuh Ye Bu Hua.
"Singgg,.!"
"Sraaat,..!"
"Singggg,..!"
"Sreeettt..!"
"Singgg,.!"
"Sraaat,..!"
"Singggg,..!"
"Sreeettt..!"
Ye Bu Hua memutar pedangnya menjadi gulungan sinar, berusaha melindungi seluruh tubuhnya, dari serangan energi pedang, yang di lepaskan oleh Nan Thian.
Tapi pergerakan pedang cahaya emas, sangat cepat, selalu berhasil lolos dari tangkisan pedang Ye Bu Hua.
__ADS_1
Enegi pedang itu tidak sepenuhnya diarahkan untuk membunuhnya.
Hanya merobek pakaian hingga sepatu yang di kenakan oleh Ye Bu Hua.
"Aihhhh..!"
jerit Ye Bu Hua kaget saat merasa sebagian pakaiannya robek robek.
Sebelum tubuhnya sampai di atas tanah, sebuah totokan menyentuh tengkuknya saat dia sedang panik.
Seketika Ye Bu Hua melayang turun kebawah, dengan tubuh kaku, tidak mampu di gerakkan lagi.
Tapi sebelum Ye Bu Hua mendarat di atas tanah, tubuhnya terlilit oleh sebuah jubah.
Tergulung erat didalam jubah tersebut.
Lalu sebuah tangan kuat muncul menerimanya, kemudian dia di lemparkan kearah kursi di mana tempat duduknya semula.
"Wutttt.."
"Sreeettt..!"
Kursi yang menerima tubuh Ye Bu Hua terseret mundur kebelakang, hingga hampir terjungkal.
Otomatis Ye Bu Hua kembali menjerit kecil.
"Hahhhh,..!"
Dia agak kaget, tapi sesaat kemudian kembali bisa bernafas lega.
Karena kursi yang terangkat keatas kedua kak depan nya, kini turun kembali ke posisi nya.
Tidak jadi membawa tubuhnya yang tidak bisa di gerakkan terjungkal kebelakang.
"Krakkk,..! Krakkk,..! Krakkk,..!"
"Gubrakkkk..!"
"Aduhhhh,..!"
jerit Ye Bu Hua tertahan, tubuh dan kepalanya terbanting diatas lantai yang keras, seiring dengan kursi patah 4 kaki kursinya.
Sambil bersungut sungut menahan rasa malu yang mendera tubuh dan kepalanya.
Ye Bu Hua tanpa sadar sudah bisa bergerak lagi, dia sudah bangkit berdiri.
Satu tangan di gunakan untuk menahan jubah yang melilit tubuhnya agar tidak melorot.
Satu tangan lagi di gunakan untuk mengelus elus bokong Pinggang dan kepalanya yang terasa nyeri.
"Kau,...!"
teriak Ye Bu Hua marah, sambil menunjuk kearah Nan Thian dengan ujung jari nya yang gemetaran.
Saking emosinya, dipermalukan habis habisan, tapi juga tidak bisa membalasnya.
Karena kemampuannya masih di bawah orang, Ye Bu Hua hanya bisa menahan jengkel dan emosinya hingga jari yang menunjuk kearah Nan Thian gemetaran.
Nan Thian menangkupkan tangan nya yang terkepal memberi hormat dan berkata,
"Maaf tubuh mu terlalu berat, sehingga kursi itu tidak kuat.."
"Itu di luar prediksi.."
ucap Nan Thian memberi hormat sambil menahan senyum.
__ADS_1
Kini hatinya puas, bisa membalas pemuda berwajah cantik, yang ternyata adalah gadis menyamar jadi pria, yang sangat menyebalkan itu.
Emosi Ye Bu Hua semakin meledak, mendengar ucapan Nan Thian yang menyebut tubuhnya berat.
Gadis mana yang akan terima, setelah di permalukan masih di sebut gendut.
Ye Bu Hua juga tidak terkecuali, sambil berteriak marah, dia hampir melupakan keadaan nya yang hanya terbungkus jubah.
Ye Bu Hua ingin terbang pergi menyerang Nan Thian dengan pedangnya, bersiap mengadu nyawa.
Tapi tiba tiba terdengar suara bisikan di samping telinga Ye Bu Hua.
"Hua er,.. mundurlah,..!"
"Kamu bukan lawannya,..!"
Sebelum Ye Bu Hua sempat membantahnya, tubuhnya sudah ditarik mundur oleh sebuah kekuatan dahsyat, tak terlihat.
Sebagai gantinya di sana sudah muncul 4 orang tua aneh dan seorang pemuda tampan berpakaian mewah.
Wajahnya dan Pangeran ke 8 sedikit mirip, Nan Thian menebak pemuda itu kemungkinan adalah putranya Tolui.
Sedangkan ke empat orang tua itu, Nan Thian sudah pernah bertemu dengan mereka berempat, di Pagoda Angsa Liar, di kota Chang An.
Nan Thian mengetahui mereka adalah anak buah pangeran ke 8 Mongol Tolui.
Empat orang tua itu adalah Vipasing yang berpakaian putih bersorban putih menutup kepalanya.
Qi Lian Lao Koai yang berpakaian hitam dan kepalanya tertutup jubah hitam, yang di kenakan nya, hingga menutupi .
Sehingga wajahnya tidak terlihat jelas, hanya sepasang matanya saja yang terus menyorot tajam kearah Nan Thian.
Dua yang lainnya adalah kakek berambut hijau dan kakek berambut putih.
Kakek berambut hijau adalah Lei Mo ( Iblis petir ) sedangkan kakek berambut putih adalah Ping Mo ( Iblis Es ).
Nan Thian memasang penglihatan tajam dan pendengaran tajam.
Mendeteksi 4 orang misterius, sisa nya, yang pernah dia temui di pagoda angsa liar.
Tapi dia tidak berhasil menemukan kehadiran mereka.
Nan Thian menatap keempat orang itu dan berkata,
"Rupanya kalian berempat, mana yang 4 orang lainnya, mengapa tidak diajak kemari sekalian..?"
Nan Thian pura pura bersikap sombong, untuk menutupi niatnya mencari tahu tentang keempat orang berbahaya menurut Kim Kim itu.
"Ha,..ha..ha..! bocah sombong..!"
"Ketahuilah hari ini kami hanya ditugaskan oleh yang mulia menjemput putrinya.."
"Bukan di tugaskan meratakan tempat ini.."
"Jadi kamu boleh tenang.."
"Mengenai 4 rekan senior kami, bukan kapasitas mu dan semua yang hadir di sini, pantas bertemu dengan mereka.."
Bai Xue Sethai yang pernah mendapatkan cerita dari Siau Yen dan Siu Lian, sial kejadian di pagoda angsa liar.
Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk kearah kelima orang itu dan berteriak,
"Waspada semuanya, mereka berlima dan nona itu kemungkinan besar adalah mata mata penjajah..!"
Mendengar ucapan Bai Xue Sethai, semua yang hadir di sana, langsung berdiri dan mengambil sikap waspada.
__ADS_1