PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BAYANGAN HITAM


__ADS_3

Nan Thian bisa masuk dengan mudah tanpa harus melewati pemeriksaan yang rumit dan ketat.


Karena dia masih memegang tanda pas masuk kota, yang bisa di gunakan selama 3 hari.


Setelah itu, dia akan kembali mengikuti prosedur antrian biasa.


Memasuki kota Lan Zhou yang ramai, Nan Thian berjalan tanpa arah tujuan pasti.


Dia sedang melihat lihat penginapan yang cocok untuk beristirahat barang satu malam di kota tersebut.


Baru keesokan paginya, dia akan melanjutkan perjalanan nya menuju kota besar berikutnya Chang An.


Selagi sedang mencari dan melihat lihat penginapan yang cocok, Nan Thian melihat banyak sekali orang orang yang membawa senjata di tangan.


Tandanya, mereka semua adalah orang dunia persilatan.


Mereka terlihat berduyun duyun pergi ke satu arah tertentu.


Awalnya Nan Thian sedikit tertarik, ingin pergi melihat lihat keramaian.


Tapi saat mendengar pembicaraan rombongan rombongan kecil, yang sedang bergerak melewatinya.


Nan Thian jadi ragu, karena acara itu sendiri adalah acara perayaan ulang tahun, sekaligus perayaan bertanding mencari pasangan.


Bila itu perayaan ulang tahun dan ada pertandingan persahabatan untuk meramaikan acara.


Nan Thian tentu tertarik, ingin pergi melihat lihat keramaian.


Tapi ini adalah pertandingan mencari jodoh.


Nan Thian jadi malas, dia segera membelokkan langkahnya menuju sebuah penginapan, yang lumayan besar dan memilki restoran di lantai dasar.


Restoran merangkap penginapan itu, terlihat cukup ramai pengunjungnya.


Kelihatannya juga cukup bersih dan menarik.


Nan Thian segera membelokkan langkahnya memasuki penginapan tersebut.


Nan Thian melihat semua pelayan terlihat sangat sibuk, tidak ada yang bisa menyambutnya.


Jadi dia langsung melangkah menuju kasir restoran merangkap penginapan.


Penjaga kasir adalah seorang pria berusia 40 an tahun, begitu melihat Nan Thian dengan suara ramah dia langsung menyapa,


"Ya anak muda ? ada yang bisa saya bantu..?"


Nan Thian mengangguk dan tersenyum sopan dan berkata,


"Paman apa masih ada kamar kosong tersedia, ? aku butuh satu kamar untuk malam ini.."


"Ohh ada,..ada.."


"Harap tunggu sebentar, biar aku aturkan untuk mu,"


ucap kasir itu penuh semangat


Dia segera melambaikan tangannya sambil memanggil anak buahnya.


"Plokkk,..! Plokkk,..! Plokkk,..!"


"Acui..! kemari...!"


Pelayan terdekat yang sedang membersihkan meja.


Buru buru membereskan meja, lalu berlari menghampiri kasir sekaligus adalah pemilik tempat tersebut.

__ADS_1


"Ya tuan,.."


jawab pelayan itu begitu tiba di hadapan bos nya.


"Acui ini kuncinya, kamu tolong antarkan tuan muda ini ke kamarnya.."


ucap pemilik penginapan itu berpesan ke anak buahnya.


"Baik tuan.."


"Silahkan ikut dengan saya tuan muda..mari lewat sini.."


ucap pelayan itu sopan.


Sambil mempersilahkan Nan Thian mengikutinya.


Pelayan itu membawa Nan Thian menuju sebuah kamar yang terletak di lantai dua.


Kamar itu tidak terlalu besar tapi sangat rapi bersih dan terawat.


Juga ada jendela yang menghadap kearah jalan, ventilasi dan pencahayaan yang masuk sangat baik.


Nan Thian terlihat cukup puas dengan kamar tersebut.


Dia langsung melangkah masuk kedalam ruangan, duduk santai di kursi yang tersedia di dalam kamar.


"Tuan ada pesan..?"


tanya Acui dengan hormat.


"Belum.."


jawab Nan Thian singkat.


"Baik tuan, kalau begitu, saya permisi dulu.."


Sebelum pergi, dia menutup kembali pintu kamar Nan Thian dengan suara pelan.


Segera setelah pelayan itu pergi, Nan Thian langsung duduk bersemedi menghimpun hawa langit bumi.


Memenuhi seluruh tubuhnya, untuk di rubah menjadi Chi, lalu di simpan ke dalam Dan Tian nya.


Nan Thian melakukan dengan tekun, berulang ulang, hingga jelang sore kamarnya ada yang mengetuknya.


"Tok,..! Tok,..! Tok,..!"


"Ya masuk ..!"


jawab Nan Thian dari dalam sambil menyudahi latihannya.


Pintu kamar Nan Thian terbuka, Acui sambil tersenyum dan mengangguk sopan berkata,


"Tuan muda hari sudah sore, apa mau di siapkan air hangat buat mandi, atau mau pesan makan malam sekalian..?"


"Boleh,.."


jawab Nan Thian santai.


"Untuk menu makan malamnya tuan mau pesan apa..?"


tanya Acui sopan.


"Bebas kamu datangkan saja beberapa menu andalan restoran ini, terutama yang berbahan dasar daging.."


ucap Nan Thian berpesan, karena dia ingat naga kecilnya hobi masakan daging.

__ADS_1


"Baik tuan, bila tidak ada yang lain, saya permisi dulu.."


ucap Acui kemudian mengundurkan diri dari sana.


"Hi..hi..hi.. makasih kak, kakak tahu aja selera ku ."


ucap Kim Kim sambil tertawa gembira.


Nan Thian tidak terlalu menanggapi ucapan Kim Kim.


Dia menunggu hingga Acui pelayan penginapan itu pergi, pintu kamar sudah menutup kembali.


Nan Thian kembali memejamkan matanya melanjutkan meditasi nya.


Tidak lama kemudian Acui sudah kembali untuk menyiapkan air mandi buat Nan Thian.


Saat Nan Thian mandi, Acui pun pergi, tak lama kemudian dia sudah kembali, untuk menyiapkan masakan pesanan Nan Thian, yang dia tata dengan rapi di atas meja.


Nan Thian saat selesai mandi, melihat masakan yang sudah tertata rapi.


Dia pun tersenyum puas, lalu mulai menikmati masakan di hadapannya.


Nan Thian makan dengan penuh semangat, sebagian besar demi menyenangkan Kim Kim, yang memilki nafsu makan besar terhadap masakan daging.


Selesai makan Nan Thian kembali melanjutkan dengan latihan nya.


Menjelang tengah malam pendengaran Nan Thian yang tajam, menangkap suara desir halus di atas genteng.


Dengan gerakan ringan, Nan Thian melesat meninggalkan kamarnya lewat jendela kamar yang terbuka.


Nan Thian memang sengaja tidak menutupnya, karena dia memerlukan hawa segar, untuk mendukung latihannya.


Nan Thian berlompatan ringan di atas genteng, mengikuti sebuah bayangan hitam, yang berkelebatan gesit di atas genteng, tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Ini hanya membuktikan orang di depan sana memilki ilmu ringan tubuh yang sangat hebat.


Nan Thian membuntutinya, sambil berlindung dalam kegelapan.


Bayangan itu sempat berhenti sejenak mengedarkan pandangannya.


Lalu sambil tersenyum, dia melayang ringan menghilang di balik sebuah bangunan besar bertingkat tiga.


Melihat bayangan itu menghilang di balik bangunan tersebut, Nan Thian buru buru bergerak menyusul nya.


Tapi saat tiba di salah satu atap bangunan besar itu, Nan Thian sedikit bingung.


Dia berusaha mengedarkan pandangan matanya dan pendengarannya.


Untuk mendeteksi keberadaan bayangan hitam itu.


Selagi Nan Thian masih sedang mencari-cari, kemana menghilang nya bayangan hitam itu.


Tiba-tiba ada suara desir yang jauh lebih halus mendarat tepat di belakangnya dan berkata,


"Anak muda,.. apa yang sedang kamu cari di tempat ku..?"


Nan Thian buru buru membalikkan badannya, melihat siapa orang yang menegurnya.


Di belakang Nan Thian berdiri seorang kakek berwajah ramah, dengan jenggot dan alis putih panjang.


Terlihat melambai lambai tertiup angin malam.


"Salam hormat senior, nama saya Yue Nan Thian.."


"Tadi saya sedang mengejar sebuah bayangan hitam yang menghilang di sini.."

__ADS_1


"Maaf, bila keberadaan saya jadi menganggu senior.."


ucap Nan Thian sambil memberi hormat dengan sopan.


__ADS_2