
Ucap Ma Cin Dao sambil memutar tongkat hijaunya diatas kepala nya.
Sebelum dia bergerak maju menyerang Fei Yang dengan ilmu tongkat pemukul anjingnya yang unik dan banyak perubahan.
Tongkat terlihat memukul kearah wajah tahu tahu yang di pukul adalah pinggang dan bokong.
Gerakan nya sangat cepat dan unik, tapi Fei Yang yang memiliki kemampuan membaca tehnik dasar ilmu silat.
Tidak semudah itu terkecoh, berapapun banyaknya bayangan Tongkat intinya tongkat itu hanya satu.
Kemanapun tongkat Ma Cin Dao bergerak selalu berhasil di tebak oleh Fei Yang yang menangkisnya dengan menggunakan sebatang ranting pohon.
Jurus demi jurus di keluarkan oleh Ma Cin Dao yang seluruh tubuhnya terbungkus oleh bayangan tongkat hijaunya.
Tapi dia tetap tidak berhasil menyentuh Fei Yang akhirnya dia melompat terbang di atas udara, melancarkan jurus pamungkas nya.
Dunia tanpa anjing, begitu jurus itu di kerahkan ledakan terjadi di mana mana, tongkat hijau terus melepaskan cahaya hijau yang turun dari atas kebawah bagaikan hujan yang jatuh dari langit.
Setiap tetesan nya menimbulkan ledakan dahsyat di atas tanah, saat tidak mengenai sasaran.
Fei Yang sendiri terkurung dalam cahaya hijau tersebut yang turun bagaikan hujan lebat.
Saat cahaya hijau membentur perisai pelindung biru merah, langsung terjadi ledakan di perisai pelindung berulang kali tanpa henti.
Fei Yang melepaskan ranting ditangan nya terbang ke atas berubah menjadi sebuah cahaya biru, yang menghantam pergelangan tangan Ma Cin Dao yang memegang tongkat.
Sehingga tongkat hijau itu pun terlepas dari tangannya, jatuh kebawah ditangkap oleh Fei Yang.
Seluruh serangannya pun terhenti seketika, Ma Cin Dao sendiri langsung melakukan salto dua kali diudara.
Sebelum turun keatas tanah dengan kedua kakinya, sambil melangkah mundur memegangi pergelangan tangannya yang membeku sampai telapak tangan .
Ma Cin Dao menggunakan tangan nya yang lain, membantu mengerahkan tenaga sakti, untuk menormalkan kembali pergelangan tangannya yang membeku.
"Paman serahkan pada ku,..!"
terdengar suara dari arah belakang , Ma Cin Dao.
Kemudian pemuda tinggi besar yang selalu bersikap santai, dengan sepasang mata bersinar tajam.
Terlihat bergerak melewati Ma Cin Dao, di awali dengan suara raungan Naga.
Tahu tahu sepasang telapak tangan nya, yang mengeluarkan cahaya keemasan telah mendekat kearah wajah Fei Yang.
Fei Yang secara reflek mengangkat kedua tangannya untuk menyambutnya.
Tapi pemuda itu merubah tapak menjadi cakar yang mengancam pergelangan tangan Fei Yang.
__ADS_1
Adu benturan terjadi diudara beberapa kali.
"Blaarrr,..Blaarrr,..Blaarrr,...!!"
Dengan kesudahan tubuh Pemuda itu terdorong mundur lima langkah, tapi tongkat hijau telah kembali kedalam tangan nya.
Sedangkan Fei Yang sendiri selain kehilangan tongkat , dia juga terseret mundur 1/2 meter .
Ranting di dalam genggaman tangannya juga telah patah patah, tinggal potongan pendek di dalam genggaman tangannya.
"Terimakasih saudara Fei Yang sudah mengalah, dan mengembalikan tongkat giok hijau, yang merupakan pusaka partai kami.."
ucap pemuda itu memberi hormat.
Lalu dia kembali ke hadapan Ma Cin Dao dan berkata,
"Paman terimalah kembali tongkat mu."
Pemuda itu berlutut di hadapan Ma Cin Dao sambil mengangkat tongkat hijau diatas kepala, dengan kedua tangannya.
Ma Cin Dao menerima kembali tongkatnya sambil tersenyum berkata,
"Terimakasih ponakan ku Siaw Hong."
"Kamu telah berjasa menyelamatkan pusaka partai dan wajah partai kita, ayo berdirilah tak perlu banyak peradatan.."
Pemuda itu mengangguk hormat, setelah itu dia baru berjalan kembali ke hadapan Fei Yang dan berkata,
Fei Yang mengangguk,. dia mulai menghimpun kekuatan alam semesta tanpa batas.
Bersiap menghadapi serangan dari Siaw Hong yang keras dan kuat.
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya kedepan, lalu ditarik kembali setengah lingkaran.
Saat di dorongkan kembali kedepan, Dua ekor naga emas melesat sambil meraung keras menerjang kearah Fei Yang.
Fei Yang juga melepaskan dua energi tanpa wujud, melesat kedepan menyambut serangan yang di lepaskan oleh Siaw Hong.
"Blarrr,.. Blarrr,..!"
Siaw Hong sekali ini tidak mampu menahan desakan kekuatan alam semesta tanpa batas.
Tubuhnya terseret mundur 3 meter ke belakang.
Sambil terbang ke udara Siaw Hong, Siaw Hong melancarkan serangan Tapaknya dari atas ke bawah.
Seekor Naga Emas raksasa sambil meraung keras di udara, berputar putar, kemudian terjun kebawah menerjang kearah Fei Yang.
__ADS_1
Fei Yang sendiri setelah menangkis serangan pertama Siaw Hong, hingga Siaw Hong berikut kedua naga emas nya terpental.
Dia kembali harus menangkis serangan balik kedua Naga Emas yang memiliki kekuatan beberapa kali lipat dari serangan sebelumnya.
Belum juga selesai seekor Naga emas kembali meluncur datang dari atas.
Fei Yang menggunakan tangan kiri mengibaskan cahaya biru, menyambut serangan balik kedua Naga emas.
Sedangkan tangan kirinya di gunakan menunjuk kearah langit, seberkas cahaya putih melesat turun dari langit yang terbuka menghantam Naga emas yang sedang menerjang kearah Fei Yang dari sisi atas.
"Baammm,..!!"
"Duaarrr,...!!"
Semua bayangan Naga Emas sirna tak berbekas.
Siaw Hong berjumplitan turun keatas tanah menatap kearah Fei Yang dengan penuh takjub dan kagum.
Dia segera mengangkat kedua tangannya kedepan dan berkata,
"Adik Yang, kemampuan mu sangat tinggi, aku Siaw Hong mengaku kalah.."
"Bila adik Yang tidak berkeberatan, biarlah aku mentraktir adik Yang minum minum di atas sana.."
"Aku ingin menjalin tali pertemanan dengan adik Yang.."
Fei Yang yang dari awal memang tidak ingin menanam permusuhan dengan kelompok ini.
Dia buru buru memberi hormat kearah Siaw Hong dan berkata,
"Kakak Siaw terlalu sungkan, dalam hal ini Fei Yang juga ada salah.."
"Bila kakak Siaw, ketua Ma dan lima tetua tidak berkeberatan, mari kita makan minum di atas sana sepuasnya.."
"Untuk saudara saudara yang lainnya nanti pelayan akan kirim makan minum kemari, karena ruangan di dalam yang terbatas."
Fei Yang yang khawatir pemuda kecil itu akan kembali berbuat onar,
Saat dia melihat pemuda itu seperti akan bergerak keluar dari dalam restoran.
Fei Yang menyentil kan jarinya melepaskan totokan jarak jauh, membuat pemuda itu mematung di tempat, tidak bisa bergerak juga bersuara.
Ketua Ma, Siaw Hong dan kelima tetua menyambut baik tawaran Fei Yang, mereka semua memberi hormat dan mengucapkan terimakasih kepada Fei Yang.
Mereka berjalan masuk kedalam restoran mengikuti Fei Yang menuju lantai dua restoran.
Para pelayan restoran dengan sigap mengatur meja yang besar menyiapkan makan minuman sesuai pesanan Fei Yang.
__ADS_1
Mereka juga mengirimkan makanan dan minuman kepada para pengemis, yang sedang berkumpul di depan restoran, sesuai pesan dari Fei Yang.
Fei Yang Tidak khawatir, karena dia mendapatkan Yin Piaw, yang cukup banyak saat menolong Hua er dan Kakek nya.