
Xue Lian masuk kedalam rumah nya dengan sangat terburu-buru, dia juga menutup pintu dengan keras,
"Brakkk...!"
Fei Yang yang masih terbengong di tempat sampai kaget, mendengar suara bantingan pintu yang begitu keras.
Yang Fei Yang takutkan adalah nanti pondok reot itu roboh dan menimpa Xue Lian.
Fei Yang menggeleng gelengkan kepalanya, sambil terus menatap kearah pondok tempat tinggal Xue Lian.
"Dasar aneh di puji cantik marah, orang minta maaf juga marah..apa dia setiap hari makan obat peledak, sehingga emosinya begitu labil ?"
Gumam Fei Yang sambil berjalan pergi.
Xue Lian yang berpendengaran tajam dan sedang bersandar di balik pintu, tentu saja dia mendengar apa yang Fei Yang gerutu kan tadi.
Xue Lian langsung membanting sebelah kakinya, dengan kesal dan berkata,
"Awas kamu Fei Yang,.. berani mengatai ku di belakang, besar dengan makan obat peledak.."
"Lihat nanti bila ada kesempatan aku pasti akan membalas mu.."
ucap Xue Lian dengan wajah merah padam dan tangan terkepal.
Diam diam, lewat pintu belakang, dia berkelebat pergi menyusul Fei Yang.
Dia menguntit dan memperhatikan apa yang sedang Fei Yang lakukan dari jarak jauh.
Xue Lian yang cerdik, sejak kegagalan nya mengganggu Fei Yang tidur, dia sudah curiga Fei Yang menyimpan kemampuannya.
Apalagi saat melihat bekas tempat latihan Fei Yang, Xue Lian memperkirakan tenaga sakti Fei Yang bahkan masih lebih tinggi darinya.
Sehingga untuk kali ini selain mengambil jarak cukup jauh, dia juga mengerahkan ilmu ringan tubuh yang lebih baik lagi.
Sehingga setiap pergerakannya jadi seperti sehelai kapas, yang sedang melayang.
Kini meski Fei Yang memilik pendengaran sebagus apapun,.dia akan sulit mendeteksi keberadaan Xue Lian.
Wajah Xue Lian menjadi merah, dia buru buru membuang muka, saat melihat apa yang sedang Fei Yang lakukan.
Sementara itu Fei Yang yang sedang mengumpulkan pohon bambu dan kayu pohon besi, yang banyak tumbuh di sekitar hutan dekat tempat tinggal Xue Lian.
Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Xue Lian di sana sedang mengawasinya dari jauh.
Berhubung gerah, Fei Yang menanggalkan bajunya, sambil bert*lanjang dada, Fei Yang menebang pohon dan bambu dengan tebasan tangan nya, yang disaluri tenaga sakti.
__ADS_1
Dengan sangat mudah tanpa kesulitan Fei Yang menebang pohon membelah kayu sesuai keinginannya.
Xue Lian yang tidak tahu bahwa di dalam kedua lengan Fei Yang ada dua pedang sakti.
Tentu saja cara menebang pohon, yang Fei Yang tunjukkan membuat Xue Lian terbelalak kaget.
Selain itu saat melihat otot ditubuh Fei Yang yang begitu sempurna, dengan kulit badannya yang putih mulus, hingga butiran keringat kecil kecil yang menempel di tubuhnya terlihat jelas.
Bagaikan butiran mutiara kecil yang tertimpa cahaya matahari, membuat Xue Lian sedikit terpesona.
perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sejak kecil hingga dewasa ini, seketika membuat nya merasa malu sehingga tanpa disadari wajahnya langsung berubah merah.
Fei Yang mengumpulkan pohon kayu besi dan bambu, untuk membuat sebuah pondok tempat tinggal yang lebih layak buat Xue Lian.
Karena saat dia melihat pondok tempat tinggal Xue Lian yang sudah begitu jelek dan hampir roboh.
Fei Yang merasa kasihan, oleh karena itu sebagai balas Budi atas kebaikan gadis itu yang menampung nya di sini,.serta telah bersusah payah mengkhawatirkan dirinya dan mencarinya di hutan bambu hingga 6 hari.
Fei Yang berencana mengumpulkan kayu untuk membuat sebuah pondok baru yang nyaman buat Xue Lian.
Sementara Xue Lian pindah ke pondok baru, Fei Yang baru akan merenovasi rumah lama Xue Lian menjadi lebih layak buat di tinggali..
Fei Yang bekerja dengan sangat cepat tanpa kenal lelah dan beristirahat.
Setelah selesai Fei Yang langsung membawanya menggunakan sebuah gerobak kayu sederhana yang di buat nya sendiri.
Gerobak itu Fei Yang buat untuk memudahkan nya dalam memindahkan bahan bangunan yang cukup banyak itu kelokasi pendirian pondok baru.
Awalnya Xue Lian memperhatikan dengan heran apa yang sedang di kerjakan oleh Fei Yang.
Tapi setelah melihat Fei Yang membawa semua barang yang dia kumpulkan, menuju lokasi tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Mengertilah Xue Lian apa yang sedang Fei Yang sedang lakukan.
"Apa dia ingin bangun tempat tinggal dan menetap di sini bersama ku,..?"
batin Xue Lian dengan wajah merah.
"Bila sampai ibu pulang melihat aku menampung lelaki tinggal bersama dengan ku di sini..ini bisa celaka.."
"Tidak aku harus mencegahnya, harusnya dia mencari gua di sekitar buat tinggal, bukannya malah bikin pondok di samping pondok ku.."
"Ini sungguh kelewatan, ini sama saja, di beri hati dia malah minta jantung ."
"Ibu selalu mengatakan pria bukan sesuatu yang baik untuk di kenal, benar saja terbukti sekarang.."
__ADS_1
"Dasar menyebalkan.."
"Ini tidak boleh di diamkan begitu saja.."
batin Xue Lian kesal.
Dia segera menghampiri Fei Yang yang sedang basah seluruh tubuhnya penuh keringat, karena bekerja di tengah panas terik matahari.
Fei Yang sedang membuat pondasi untuk menegakkan pondok, yang ingin dia bangun di sana.
Melihat kedatangan Xue Lian, Fei Yang pun menghentikan kegiatannya, meluruskan pinggang sambil menanti Xue Lian mendekati nya.
"Fei Yang apa yang sedang kamu perbuat di sini..?"
tanya Xue Lian sambil menatap tajam kearah Fei Yang.
Fei Yang tidak mengerti jalan pikiran Xue Lian yang kuper, dia menjawab dengan polos apa adanya..
"Aku sedang ingin membuat sebuah pondok baru untuk mu, nanti bila sudah selesai kamu boleh tinggal di sini.."
"Bila kamu sudah pindah kemari, aku baru berencana memperbaiki pondok lama mu yang hampir roboh itu.."
ucap Fei Yang apa adanya.
"Bila pondok lama mu sudah di renovasi, kamu boleh pindah kembali ke pondok lama.."
"Terus pondok baru ini..?"
tanya Xue Lian masih sedikit bercuriga, pada akhirnya Fei Yang hanya ingin tinggal berdekatan dengannya.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kamu tidak perlu khawatir, aku masih ingat pantangan mu,"
"Pondok ini boleh jadi pondok kedua orang tua mu, bila mereka sudah pulang nanti.."
"Aku sendiri untuk sementara waktu tinggal di gua dekat air terjun sana..."
"Bila Ming Wang dan kelompoknya telah pergi, aku pun akan meninggalkan tempat ini, tidak akan merepotkan mu.."
ucap Fei Yang apa adanya.
Mendengar penjelasan Fei Yang, Xue Lian sesaat menjadi tertegun dan agak malu, dia jadi tidak tahu mau mengambil sikap seperti apa.
Dia sangat malu dan diam diam memaki pikirannya sendiri, yang telah berpikir bukan bukan dan buruk terhadap niat baik Fei Yang.
__ADS_1