
"Ahh yang benar kamu Cuan, bini Lai Fu kan usianya hampir 50, mana cerewet galak pelit, tiap hari ngomel dan ngeluh dari pagi hingga malam, tak berhenti berhenti."
"Aku yang jadi tetangganya aja gak kuat apalagi yang serumah."
"Tapi dua hari ini, memang gak dengar celotehnya.."
ucap si pria muka tirus sambil menatap Acuan dengan penasaran.
"Itu kan pendapat mu Asoy, pendapat Lai Fu tentu beda, biar istrinya gitu, dia tetap istrinya.."
"Orang Lai Fu sangat bahagia kok hidup sama istrinya, dia bahkan tak pernah ngeluh sedikitpun tentang kelakuan istrinya."
"Ini aku semalam baru dari rumahnya, Lai Fu sendiri yang cerita, jadi mana mungkin salah."
ucap Acuan serius.
"Wah ini kelewatan Jai Hwa Sian, istri Lai Fu aja dia mau,.. parah tuh orang seleranya.."
"Ya sudah kalian terusin aja, aku mau pulang lihat ayam betina ku, yang sedang mengeram telur."
"Jangan sampai ayam pun dia culik juga,.."
ucap Asoy sambil tertawa meninggalkan teman temannya.
Saat berpapasan dengan Fei Yang dan Xue Lian, sepasang mata asoy hampir keluar dari sarangnya.
Dia tidak berhenti mengagumi kecantikan Xue Lian.
Hingga ada tukang sampah yang sedang memungut sampah di hadapannya Asoy tidak menyadarinya.
Tukang sampah itu dia tabrak begitu saja, akibatnya Asoy kehilangan keseimbangan.
Asoy langsung jatuh jungkir balik masuk ke dalam bak sampah.
Kepala Asoy masuk duluan, sepasang kakinya menggantung di udara.
Xue Lian tidak sanggup menahan tawa melihat kejadian itu, dia sampai menggunakan telapak tangannya menutupi mulutnya sendiri.
Sedangkan Fei Yang hanya tersenyum lebar, dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu, sambil bergandengan tangan dengan istrinya.
Kota ini Fei Yang juga pernah datang, jadi tanpa kesulitan.
Dia langsung mengajak Xue Lian menghampiri sebuah Restoran yang terletak di tepi danau.
Restoran besar itu, memiliki deretan kamar yang di sewakan, dengan pemandangan menghadap kearah danau dan latar belakang, gunung Tian Long dan Gunung Mang San, yang di puncaknya di bangun sebuah patung Buddha raksasa.
Restoran besar itu terdiri dari dua lantai, terlihat sepi pengunjung, padahal dulu seingat Fei Yang restoran ini selalu penuh setiap harinya.
Fei Yang setelah memesan kamar, dia dan Xue Lian memilih duduk di lantai dua restoran.
Dari balkon lantai dua, Fei Yang dan Xue Lian bisa menikmati udara tepi danau yang sejuk.
"Kakak Yang tempat ini sangat indah, udaranya juga sangat segar dan nyaman.."
ucap Xue Lian sambil menikmati ikan Li saos Angsio di hadapannya.
Sambil tersenyum Fei Yang berkata,
__ADS_1
"Bila kamu suka, kita boleh tinggal beberapa hari di sini, baru kita berangkat ke hutan bambu kuning.'
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Ya, sudah seharusnya kita bantu penduduk kota ini, mengatasi masalah teror, yang di sebarkan oleh penjahat cabul itu."
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Musuh di gelap kita di terang, hal ini tidaklah mudah.."
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Seberapa sulit pun kita harus bantu, lihat kota ini jadi kota mati begini, aku jadi tidak tega.."
"Lihat saja restoran ini, restoran begini besar, letaknya begitu strategis di tepi danau berpemandangan indah.."
"Tapi sedari kita duduk hingga sekarang, tidak terlihat satupun manusia yang datang makan.."
"Cepat lambat tempat ini pasti akan tutup..sungguh patut disayangkan."
ucap Xue Lian sambil mengedarkan pandangan matanya kearah sekeliling.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, ayo kita nikmati saja.."
"Sepi juga ada bagusnya, kita jadi tidak terganggu dengan suara berisik.."
"Bisa makan minum dengan santai dan tenang, itu juga suatu berkat."
ucap Fei Yang sambil menggerakkan sumpitnya mengambil sepotong daging sapi asam manis.
Xue Lian mengangguk, lalu dia mengikuti gerakan Fei Yang.
Xue Lian menyumpit sebatang sayur pakcoy ca bawang putih untuk di masukkan kedalam mulutnya .
Setelah mengunyah dan menelannya, dia baru berkata,
"Kakak Yang, bila aku kelak jadi nenek nenek seperti istri si Lai Fu, akankah kakak masih menyayangi dan mencintai ku seperti saat ini..?"
Fei Yang menatap mesra sepasang mata istrinya dengan serius dan berkata,
"Akan,.. bila kita beruntung bisa bersama hingga ke hari itu, aku pasti akan.."
Xue Lian tersenyum manis dan menyentuh tangan Fei Yang dengan lembut dan berkata,
"Makasih ya suami ku.."
Fei Yang balas menggenggam tangan Xue Lian dan berkata,
"Jangan berpikir yang tidak tidak dan terlalu jauh, ayo makan.."
"Hari mulai gelap, sebentar lagi kita akan meronda menanti kemunculannya."
Xue Lian mengangguk dia buru buru menghabiskan sisa makanan nya.
"Kakak Yang aku gerah mau mandi dulu..boleh..?"
__ADS_1
tanya Xue Lian sambil menatap suaminya.
"Boleh tapi kita mandi sama sama ya, aku gak mau istri ku di culik saat mandi.."
ucap Fei Yang beralasan sambil tertawa nakal.
Xue Lian sambil menahan senyum berkata,
"Kakak serius, tapi aku lagi halangan, jadi kakak hanya bisa melihat gak bisa lebih.."
Mendengar hal itu, senyum gembira Fei Yang jadi hilang.
Dengan wajah pasrah dan agak sedikit kecewa.
"Ya sudah, mau gimana lagi, ? cepat gak datang lambat gak datang, malah datang di saat saat begini.."
ngomel Fei Yang pelan.
Xue Lian yang mendengar Omelan suaminya, sambil menahan senyum.
Dia melangkah menghampiri suaminya berbisik di telinga Fei Yang.
Setelah itu dia langsung berjalan pergi, meninggalkan Fei Yang.
Sepasang mata Fei Yang langsung berbinar saat mendengar bisikan istrinya.
Dia buru buru bangkit dari tempat duduknya, lalu berlari mengejar kearah istri nya dan berteriak,
"Sayang tunggu aku..!"
Setelah berhasil menyusul Xue Lian, Fei Yang merangkul bahu istrinya dan berkata,
"Sayang kamu serius mau lakukan itu.."
"Bukan kah kamu pernah bilang jijik..?"
ucap Fei Yang setengah berbisik.
Xue Lian melirik kearah suaminya sambil menahan senyum berkata,
"Jadi kamu mau tidak ? kalau gak mau ya sudah.."
Xue Lian berlagak jual mahal mempermainkan Fei Yang yang terlihat antusias.
"Mau,.. mau..tentu aku sangat mau.."
"Ayo segera lakukan.."
ucap Fei Yang penuh semangat.
"Sampai kamar mandi aja belum, kamu panik apa ? sabar sedikit kenapa ?"
"Mandi dulu bersih bersih, baru di bicarakan..."
ucap Xue Lian pura pura mengomel menutupi perasaan deg deg an di jantungnya.
Karena ini adalah kali pertama, dia mau praktekkan jurus yang mereka berdua lihat dari buku, yang di temukan Fei Yang di perpustakaan istana Xi Xia, secara tidak sengaja.
__ADS_1
Buku itu Fei Yang simpan di cincinnya, baru setelah menikahi Xue Lian, dia iseng iseng mengajak Xue Lian menelitinya.
Hasilnya ternyata sangat menakjubkan dan selalu bikin mereka berdua penasaran.