
Tu Lung tidak mau membuang waktu dan kesempatan di depan mata, sambil berteriak keras,
"Hiaaatt..!"
Tu Lung melesat cepat kearah Ti Hu, dia melompat keudara, lalu menebaskan pedang raksasa'nya, dari atas kebawah.
"Wussss..!"
Angin keras menekan Ti HU yang tangannya sedang kesemutan, membuatnya sesaat terkesiap.
Tapi begitu tersadar dengan gerakan cepat dia memainkan jurus ke 6.
"Pendekar Budiman memutar kipas.."
Pedang Ti Hu di buat menempel dari samping tidak melakukan tangkisan langsung.
Dia memanfaatkan tenaga ayunan kebawah, kemudian dia belokkan kesamping.
Terus dia bawa putar putar pedang besar itu, lalu dia hempaskan kesamping.
Dia menyusulnya dengan tusukan pedang lurus kedepan tepat kearah leher Si tinggi besar.
Ini adalah jurus ke 7,
"Pendekar Budiman menusuk ikan.."
Ti Hu meluncur kedepan dengan tubuh melayang di udara, gerakan tusukan nya cepat ringan dan tepat.
Ini merupakan keunggulan dari permainan pedang Hua San Pai.
"Trangggg,..!"
Pedang Ti Hu berhasil menusuk leher Tu Lung dengan tepat, tapi pedang Ti Hu seperti membentur dinding besi.
Pedang Ti Hu tertahan di sana, Ti Hu sangat kaget, sebelum dia sempat menarik mundur pedangnya.
Pedang raksasa Tu Lung telah berkelebat lewat dengan cepat melewati lengan Ti Hu yang belum sempat dia tarik kembali.
"Crakkkk..!"
"Arggghh...!"
Ti Hu terlihat menjerit ngeri, sambil melangkah mundur, dengan tubuh terhuyung-huyung kebelakang.
Lalu terjungkal bergulingan di atas tanah meraung raung kesakitan.
Tangannya yang lain, dia gunakan untuk memegang siku tangannya yang berlumuran darah.
Sedangkan potongan lengan Ti Hu yang memegang pedang terlihat terpental ke udara.
Lalu jatuh tergeletak di atas tanah, jari tangan nya yang memegang pedang, terlihat sedikit bergetar kemudian diam tak bergerak lagi.
Ye Sun dengan cepat melayang maju menghadang di depan Tu Lung dari berkata.
"Saudara Tu Lung apa tidak terlalu berlebihan tindakan anda.?"
Tu Lung tidak pandai bicara, dia hanya diam ditempat dengan wajah dingin pura pura tidak dengar.
"Wasit anda sungguh lucu, ini pertandingan bersenjata, terluka ataupun mati..itu sudah wajar.."
"Buat apa anda meributkan nya,? apa karena dia itu pihak mu, jadi kamu tidak terima..?"
Ye Sun menoleh kearah pemuda itu dan berkata,
"Harap jaga bicaramu, ini adalah pertandingan adu ilmu, bukan ajang saling bunuh.."
__ADS_1
"Aku sebagai wasit tentu saja, tidak akan membela siapa siapa."
"Aku hanya memegang tata tertib dan aturan pertandingan, yang hanya sebatas menempel di titik sasaran.
Pemuda itu menjengek dingin dan berkata,
"Kamu pasti nya juga tidak mungkin tidak melihat orang mu itu tadi, telah menusuk leher dia dengan sekuat tenaga."
"Bila bukan dia ini kebal, saat ini yang berdarah darah dan langsung tewas tentu dialah orang nya."
"Bila itu terjadi, kamu mau bilang apa ? maaf atau pura pura tidak tahu..?"
ucap Si pemuda berwajah cantik itu tajam.
Ye Sun terdiam sesaat karena ucapan pemuda itu ada benarnya, dalam hal tadi, Ti Hu lah yang memulainya.
Sudah untung lawan cuma menebas lengannya, bukan lehernya, sama seperti yang Ti Hu lakukan sebelumnya.
Ye Sun akhirnya mendengus kesal dan berkata,
"Baiklah bila itu yang kamu inginkan, asalkan yang lain dan yang hadir tidak keberatan.."
"Aku akan mengganti aturan menjadi pertandingan bebas.."
ucap Ye Sun sambil menunggu respon dari yang hadir.
Terlihat dari kelompok tamu bebas bertepuk tangan dengan gembira.
Sedangkan lima aliran besar para ketuanya terlihat kurang senang, tapi mereka tidak berkata apa-apa.
Mereka serba salah, di biarkan ada kemungkinan mereka akan kehilangan generasi penerus yang berharga.
Melarang takut akan di cap pengecut dan penakut.
Pemuda cantik Tu Lung dan si muka pucat mengangkat tangan tanda setuju.
Melihat hal Itu Kim Hong di ikuti kedua saudaranya juga angkat tangan tanda setuju.
Thian Ming yang ingin membalas atas kejadian yang menimpa saudara seperguruannya.
Dia juga ikut angkat tangan keatas..
melihat hal ini Song Ceng Su, Yang Song dan Yang Sing juga tidak punya alasan menolaknya.
Mereka pun ikut angkat tangan, melihat hal ini para ketua partai besar hanya bisa memilih diam.
"Baiklah, bila semuanya tidak keberatan,. "
"Pertandingan bisa kita lanjutkan kembali.."
ucap Ye Sun sambil bersiap melakukan undian baru.
Sementara itu di tempat lain Ti Hu sudah di tandu pergi meninggalkan arena pertandingan.
Sedangkan Tu Lung, dia sudah kembali ke bangku yang di sediakan buat peserta pertandingan.
Dia duduk diam di samping pemuda muka cantik dan Si muka pucat.
Beberapa saat setelah Ye Sun mengguncang wadah tabung bambu di tangannya.
Sebatang bambu bertulis pun meluncur keluar dari wadahnya,
jatuh tergeletak di atas lantai.
Ye Sun memungut dan membacanya,
__ADS_1
"Nomer 5..!"
"Nomer 5, majulah kedepan perkenalkan diri mu, Nama, Nama perguruan mu dan letaknya."
ucap Ye Sun sambil menyapukan pandangannya kearah para peserta.
Si muka pucat berdiri dari tempat duduknya, melayang ringan ketengah lapangan dengan kedua tangan di gendong di balik punggung.
Dia berkata dengan suaranya yang seperti tikus kejepit.
"Aku Tang Lung, Ku Mu Pai ( Partai kuburan kuno ), Cung Nan San ( Gunung Tengah Selatan ).
"Kamu dari aliran hitam ?"
tanya Ye Sun dengan alis berkerut.
"Putih dan Hitam tergantung perbuatan, tidak ada yang menjamin aliran putih tidak ada yang tidak berbuat kejahatan.."
"Hanya saja lebih di samarkan dengan kemunafikan, tidak berterang seperti aliran hitam.."
"Aku bukan hitam juga bukan putih, bertindak sesuka hati ku.. bagaimana..?"
tanya balik Tang Lung.
"Berarti kamu aliran netral..?"
tanya Ye Sun kembali.
"Juga bukan.."
jawab Tang Lung singkat dan tegas.
"Lalu..?"
tanya Ye Sun dengan alis berkerut.
"Aku sudah katakan bisa putih bisa hitam bisa netral, sesuai kata hati ku.."
ucap Tang Lung santai
Ye Sun menoleh kearah Ye Pu Cin meminta pendapat.
Ye Pu Cin mengangguk kecil, sebagai jawaban.
Ye Sun pun kembali fokus ke arah Tang Lung dan berkata,
"Baiklah silahkan tunggu sebentar.."
Ye Sun kembali mengguncang wadah tabung bambu di tangannya, hingga sebatang bambu lompat keluar dari wadah.
Ye Sun mengambil dan membacanya,
"Nomer 11,..! siapa nomer 11,..!?"
Dari arah bangku peserta pertandingan terlihat kini Kim Hong yang melangkah maju ketengah arena, sambil membawa pedang bersarung putih di tangan.
"Perkenalkan nama mu dan asal perguruan mu nona.."
ucap Ye Sun pelan.
"Su Kim Hong, dari Xue San Pai..."
ucap Kim Hong sambil memberi hormat kearah Ye Sun dan Tang Lung secara bergantian.
Ye Sun membalas penghormatan Kim Hong, sedangkan Tang Ling hanya mendengus saja.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu erat dengan kita mulai sekarang.."
ucap Ye Sun sambil bergerak mundur ke pinggir lapangan.