
Dengan emosi Sian Sian menggunakan sepatu nya yang berujung lancip dan sedikit bengkok, untuk menimpuk Afei.
Afei langsung menghindarinya, sehingga sepatu itu melayang masuk kedalam rerimbunan rumput tinggi.
Sambil tertawa Afei berlindung di balik punggung Li Cing dan berkata,
"Paman Li, tolong,...! tunangan putra mahkota ngamuk.."
Mendengar ledekan Afei, dengan mata melotot Sian Sian berlompatan dengan kaki tunggal menghampiri Afei.
Dia mengangkat tangannya tinggi tinggi siap ingin memukul Afei untuk melampiaskan kekesalan nya.
"Sudah sudah cukup kalian berdua ini, seperti kucing dan anjing saja.."
tegur Li Cing sambil tertawa.
"Kakek,..!!"
teriak Sian Sian kurang puas, karena langkahnya di halangi oleh kakek nya yang melindungi Afei.
"Afei cepat minta maaf dan pergi ambilkan sepatu Sian Sian sana..!"
ucap Li Cing .
Afei mengangguk, lalu dia pun berlari kearah semak semak, menyibaknya untuk mencari cari sepatu Sian Sian.
Tak lama kemudian Afei pun membawa sebuah sepatu merah kecil, untuk di kembalikan ke Sian Sian.
Sambil tersenyum nakal, Afei melirik kearah kaki kecil Sian Sian yang putih kemerahan itu.
"Nona mau aku bantu pakaikan ? atau pakai sendiri..?"
ucap Afei sambil tersenyum nakal.
Sian Sian buru-buru menyimpan kakinya kebelakang dan berkata dengan galak,
"Mau cari mati,..!? sini kembalikan cepat..!!"
"Ya sudah kalau tidak mau di bantu,.. ini ambil pakai sendiri.."
"Gak perlu galak galak,.. nanti gak laku.."
ucap Afei sambil tertawa, dia melempar sepatu di tangannya kearah depan wajah Sian Sian.
Untungnya Sian Sian bisa menyambutnya dengan cepat, sehingga wajahnya tidak sampai mencium sepatunya sendiri.
Sian Sian dengan kesal langsung mengangkat tangannya ingin menimpuk Fei Yang dengan sepatu yang ada ditangannya.
Tapi dia tidak jadi melakukannya, karena Fei Yang sudah bersembunyi di belakang kakeknya.
Sian Sian lalu membungkukkan badannya kebawah, untuk memakai kembali sepatu merah di tangannya itu.
Sambil membungkuk, Sian Sian kebetulan melihat ada sebatang golok yang tergantung di pinggang seorang prajurit, yang berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Sian Sian menarik golok tersebut dari sarungnya.
Prajurit itu sangat terkejut, dia ingin mencegahnya, tapi sudah terlambat golok itu kini sudah berpindah ketangan Sian Sian.
Sian Sian sambil tersenyum membolang balingkan golok itu kekiri kekanan.
Lalu sambil tersenyum lebar, dia mengagkat goloknya tinggi tinggi dan berkata,
"Hei bangsat pengecut,..!! hari ini lihat bagaimana nona mu mengajari mu bersikap sopan pada wanita...!!"
Sambil berteriak Sian Sian mengagkat goloknya tinggi tinggi berlari mengejar Afei.
Afei sendiri setelah meloncat kesana kemari, seperti seekor monyet, menghindari beberapa tebasan Sian Sian yang hampir mengenainya.
Dia langsung berlari terbirit-birit di kejar oleh Sian Sian, yang berlari di belakangnya.
Melihat hal ini Li Cing Li Dan dan sisa pasukannya yang hanya tinggal belasan orang itu, terpaksa memacu kuda mereka mengintil kemana kedua orang itu pergi.
3 hari kemudian di lokasi di mana keempat biksu lhama jubah merah di habisi oleh Fei Yang.
Terlihat 3 orang biksu lhama jubah merah lainnya yang datang melakukan pemeriksaan ke lokasi tersebut.
Mereka bertiga berpencar berjongkok memeriksa lokasi pertempuran di sekitar sana, sambil memeriksa sisa mayat yang sudah berantakan bentuknya.
Karena sedang di kerubuti oleh burung burung pemakan bangkai.
Beberapa saat setelah melakukan pemeriksaan, mereka bertiga saling pandang dan berkata dalam satu suara.
"Pendekar Api dan Es..(Ping Huo Ta Sia) "
ucap Biksu bertubuh tinggi besar berkulit hitam dan bermata lebar.
Dia adalah Dote lhama orang ketiga dari kuil Nirwana.
"Kipu tulis surat dan kirimkan kabar ke Kok Su cepat,.. agar tidak kembali terjadi kesalahan."
ucap Dote lhama sambil menatap kearah adik seperguruannya,.Kipu Lhama.
Kipu Lhama mengangguk, lalu dia buru buru menulis sebuah surat kecil, lalu di masukkan kesebuah tabung kecil yang diikatkan di kaki seekor burung merpati putih.
Kipu Lhama setelah membelai belai kepala burung itu dengan lembut.
Lalu dia melepaskan burung itu terbang tinggi ke udara, burung merpati putih itu langsung terbang dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Setelah melepaskan burung merpati putih, ketiga orang itu bergerak cepat melakukan pengejaran kearah jalan, yang di ambil oleh rombongan Li Cing.
Karena rombongan Li Cing melakukan perjalanan dengan berkuda, itu mempermudah tiga biksu lhama jubah merah itu untuk melacak kemana rombongan itu pergi.
Pagi itu di gerbang kota Lan Zhou terlihat rombongan Li Cing, sedang berantri, melewati pemeriksaan pasukan penjaga kota.
Afei seperti biasa masih saja suka menggoda Sian Sian, sambil antri pun kedua orang ini tidak pernah berhenti bertengkar.
Dalam 3 hari perjalanan, hampir tidak pernah sehari pun, mereka berdua tidak terlibat keributan.
__ADS_1
Li Cing sampai pusing dan memilih tidak ikut campur lagi.
Meski awalnya adalah Afei yang mulai, tapi selanjutnya malah jadi berganti gantian, tidak ada ujung dan pangkalnya kedua orang ini.
Li Dan sendiri sejak kejadian salah bicara dan kemunculan Ping Huo Ta Sia, dia merasakan sikap Sian Sian terhadap dirinya cenderung dingin.
Sebaliknya terhadap Afei meski mereka terlihat sering bertengkar, tapi hubungan mereka berdua menjadi lebih akrab.
Seperti contohnya saat ini, Afei yang berdiri di belakang Sian Sian, tiba-tiba menyodorkan sebuah kantung air minum kehadapan Sian Sian dan berkata,
"Minumlah, cuaca sedang panas."
Sian Sian menerimanya sambil menoleh kearah belakang menatap ke Afei dan berkata,
"Tumben baik, jangan jangan mau ngerjain aku lagi ya ?"
Tanya Sian Sian dengan wajah penuh curiga.
Afei pun mengulurkan tangannya kembali, ingin mengambil kantong air di tangan Sian Sian sambil berkata,
"Ya sudah kalau gak percaya, sini kembalikan saja.."
"Biar aku minum sendiri, berbaik hati malah di curigai.."
ucap Afei sambil mendumel.
Sambil tertawa, Sian Sian malah menghindari tangan Afei, lalu dia membuka tutup kantong air itu.
Dia langsung meminumnya,.sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tapi baru satu teguk, Afei sambil tertawa menunjuk kearah Sian Sian dan berkata,
"Selamat,.. kamu telah minum air bekas kumur kumur ku..ha...ha.
ha..ha..!"
"Byurrr..!!"
Sian Sian langsung menyemburkan air didalam mulutnya.
Hoekkk,...! Hoeeekk...! Hoeekkk...!"
Sian Sian langsung muntah muntah.
Tanpa memperdulikan Sian Sian yang terlihat kasihan.
Afei kembali berkata,
"Bagaimana enak tidak rasanya,? ada manis asin asam pedas ya, ? ha...ha..ha..ha..!"
Fei Yang terus tertawa, sedangkan Sian Sian masih terus muntah muntah karena jijik dan enek perutnya saat memikirkan,.dia sudah sempat menelan air kumur kumur Fei Yang.
Li Dan yang merasa kasihan dengan Sian Sian, sudah melangkah maju ingin menegur Afei.
__ADS_1
Tapi sebelum dia sampai kesana, terlihat sebuah kaki berukuran besar sedang ditendang kan kewajah Sian Sian.