PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KESEDIHAN XUE XUE


__ADS_3

Pemuda berwajah cantik itu tersenyum penuh kemenangan dan berkata,


"Ajak lah guru mu guru ketiga gadis cantik itu, juga ketiga gadis itu, kalian boleh tinggalkan Hua San."


"Di sini bukan urusan mu lagi."


"Maka urusan dosa mu, yang melukai peserta pertandingan tadi, akan di anggap selesai.."


"Setuju saudara Tang Lung..!?"


tanya pemuda cantik itu sambil menoleh kearah Tang Lung.


Tang Lung hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan tanda jempol, tanda dia setuju.


Pemuda cantik itu sambil tersenyum, kini dia kembali melihat kearah Nan Thian dan berkata,


"Bagaimana ?"


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Kamu pikir dunia ini milik bapak mu, apa yang kamu ucapkan langsung di hitung..?'


"Aku katakan pada mu, aku tidak mau kamu bisa apa ?"


ucap Nan Thian santai.


Nan Thian berpikir berbicara aturan dengan orang pintar bicara ini..


Dia hanya akan buang waktu, dan tidak mungkin menang, hitam bisa jadi putih putih bisa jadi hitam.


Jadi paling mudah adalah cara bar bar, siapa kuat dia benar, siapa lemah dia salah.


Pemuda itu tidak terlihat kaget, dia seperti sudah bisa menebak jalan pikiran Nan Thian.


Pemuda itu menoleh kearah wasit Ye Sun dan berkata,


"Bagaimana menurut wasit pertandingan..?"


"Orang ini sudah curang, tidak bertanggung jawab pula.."


"Harap wasit bisa memberikan keadilan.."


ucap pemuda itu.


Tiba-tiba dari arah kelompok tamu bebas, beberapa orang bertepuk tangan memberi dukungan kepada pemuda cantik itu.


Pelan pelan yang lain pun ikut, akhirnya hampir seluruh penoton dari tamu bebas bertepuk tangan memberi dukungan kepada pemuda cantik itu.


Melihat hal ini, Ye Sun yang tadinya lebih berpihak pada Nan Thian.


Akhirnya memilih tidak ikut campur, dia lalu mengangkat kedua tangannya keatas.


Menenangkan suasana.


Setelah suasana mulai tenang dan kondusif,


Dia baru berkata,


"Kedua belah pihak berpegang teguh pada pendapat masing masing.."


"Maka tidak ada pilihan lain, aku sebagai wasit hanya bisa meminta kalian selesaikan saja sendiri.."


"Yang menang boleh bertahan dan terus berpartisipasi, yang kalah boleh segera tinggalkan tempat ini.."


ucap Ye Sun melangkah mundur.

__ADS_1


Pemuda cantik itu menatap kearah Nan Thian dan berkata,


"Kamu murid Qing Hai Pai kan, kenapa aku lihat kamu tidak menggunakan ilmu Qing Hai Pai..?"


"Apa ilmunya terlalu jelek memalukan, sehingga kamu malu dan ragu menggunakan nya..?"


"Kenapa kamu takut..?"


tanya Nan Thian tenang.


"Ha..ha..ha...Aku bertanya karena heran dan penasaran, tidak ada kamusnya aku Ye Bu Hua takut dengan mu.."


"Keluarkan saja ilmu cacing emas mu, siapa takut..?"


ucap Ye Bu Hua sambil tertawa mengejek.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Nama dan orang sama unik, laki tidak perempuan juga bukan.."


"Aku akan menghadapi mu dengan ilmu Qing Hai Pai agar kamu kalah dengan mulut dan hati puas..."


ucap Nan Thian sambil mengeluarkan Pedang Naga Emas di tangan nya.


"Kau..!"


Bentak pria cantik itu kesal sambil membanting kakinya.


Lalu dia langsung melesat kearah Nan Thian dengan putaran pedang cahaya biru menerjang kearah Nan Thian.


"Trangggg..!'


"Trangggg..!'


"Trangggg..!'


Nan Thian dengan langkah santai memutar Pedang Naga Emas nya, untuk menangkis dan membalas serangan Ye Bu Hua.


Menggunakan tarian pedang Qing Hai Pai.


Sekejab saja mereka berdua sudah lenyap dalam gulungan sinar kuning biru saling berbelit.


Sebentar menyatu, sesaat kemudian berpisah lalu menyatu kembali.


Pertandingan masih berjalan imbang dan cukup seru.


Di tempat lain Pai Wang mengangguk angguk puas, melihat permainan Ilmu pedang Qing Hai Pai, yang di mainkan oleh Nan Thian murid utamanya.


Reaksi berbeda terlihat pada Hung Ping Chi yang duduk di sudut tenda, sedikit menjauh dari Pai Wang.


Dia terlihat sangat kaget bercampur emosi.


Saat melihat pedang emas yang berada di tangan Nan Thian.


Jarinya yang tergeletak di atas pahanya sendiri, tidak berhenti menunjuk kearah Nan Thian hingga gemetaran dan berkata dengan suara pelan,


"Dia,..dia..dia pelakunya, manusia munafik itu.."


Xue Xue yang dengan setia duduk menjaga suaminya, tentu saja sangat kaget.


Saat melihat perubahan sikap yang di tunjukkan oleh suaminya.


Sejak Hung Ping Chi kecelakaan, dia tidak pernah melihat suaminya seemosi ini.


Suaminya selalu menatap hambar apapun yang terjadi di sekitarnya, dia selalu terlihat putus asa dan tidak bersemangat.

__ADS_1


Xue Xue buru buru membungkuk, mendejatkan telinganya di dekat bibir suaminya dan berkata,


"Suamiku kamu kenapa ? kenapa tiba-tiba begitu emosi, ? apa ada yang salah..?"


Hung Ping Chi terlihat berusaha untuk bangkit, dengan seluruh tubuh gemetaran dan sepasang mata melotot penuh kebencian, dia berkata,


"Ini semua adalah,..hasil perbuatan baik dari...kakak seperguruan mu,.. yang munafik itu.."


Xue Xue langsung pucat wajahnya mendengar ucapan suaminya.


Dia langsung menoleh menatap suaminya lekat lekat dan berkata,


"Suami ku apa maksud mu..?"


Hung Ping Chi tersenyum kecut, tubuhnya yang tadinya bereaksi emosi gemetaran, kini terjatuh kembali kedalam sandaran kursinya.


Dengan suara lemah dia berkata,


"Apa kamu tidak percaya dengan ku..?"


Xue Xue dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata dengan serius,


"Kamu suami ku, bagaimana mungkin aku bisa tidak percaya padamu..?"


"Aku sangat mencintaimu, juga sangat menyayangi mu, bahkan kini sedang mengandung anak mu, dan kamu tahu itu..'


Hung Ping Chi mengangguk dan berkata,


"Baik, buktikan lah, bunuh dia untuk ku.."


Xue Xue sepasang matanya membelalak bulat menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


Dia menggeleng kuat, airmata mulai jatuh bercucuran membasahi wajahnya.


Xue Xue mengigit bibirnya sendiri erat erat, sambil terus menggeleng kepalanya, akhirnya dia berkata pelan,


"Tidak,..tidak mungkin, Nan Thian Sexiong ."


"Nan Thian Sexiong bukan orang seperti itu, Itu tidak mungkin."


"Dia sudah berkorban banyak untuk kebahagiaan ku.."


"Tidak mungkin dia akan merusaknya.."


"Aku sulit percaya.."


"Buat apa dia berbuat seperti itu..?"


"Ini pasti ada yang salah.."


ucap Xue Xue sambil menatap kearah suaminya dengan tatapan mata serius.


Hung Ping Chi tersenyum sedih dan berkata,


"Baiklah lupakan saja, tinggalkan aku, kamu boleh kembali ke sisinya.."


Lalu dia memejamkan sepasang matanya, dua butir air bening terlihat bergulir jatuh dari sudut matanya yang terpejam rapat.


Xue Xue buru buru memegang wajah suami nya dengan lembut, lalu dia menghapus dua butir air bening itu, dengan jari jempol gemetaran.


"Tidak,.. aku mencintaimu, aku sangat menyayangi mu, kamu tidak boleh bilang begitu.."


"Lihat,.. aku bahkan sedang mengandung putra mu, kamu mana boleh berkata hal yang menyakiti perasaan ku itu.."


ucap Xue Xue sambil menatap suaminya dengan perasaan sedih dan terpukul.

__ADS_1


__ADS_2