
Kemanapun serangan hawa pedang Du Gu Chiu Pai yang bergerak tanpa putus, tanpa jurus, mengikuti perubahan situasi, terus bergerak dan mengalir bagaikan air.
Tetap saja sulit mengenai tubuh Hoa San Lao Lao yang seperti bayangan dirinya sendiri.
Bergerak berputar kesana kemari melayang layang tanpa menyentuh tanah sedikitpun.
"Cukup sekarang giliran ku,.."
"Semoga permohonan mu, berhasil ku kabulkan.."
ucap Hoa San Lao Lao, lalu dia mulai balas menyerang.
Sinar putih transparan yang keluar dari ujung jarinya, tidak menimbulkan suara, bentuk dan warna.
Tapi sangat tajam, kini terus mengurung dan menekan Du Gu Chiu Pai.
Du Gu Chiu Pai tidak berusaha menghindar atau pun menangkis.
Dia tetap berkonsentrasi menyerang dengan gerakan se cepat mungkin memaksa Hoa San Lao Lao untuk membatalkan serangannya.
Tapi berhubung gerakan Hoa San Lao Lao jauh lebih cepat, seluruh pakaian Du Gu Chiu Pai menjadi compang camping.
Darah mengucur deras dari luka baret di seluruh tubuhnya.
"Terimakasih pengajarannya, aku menyerah..!"
teriak Du Gu Chiu Pai sambil melayang mundur menjauh.
Lalu dia bergerak menghilang dari tempat tersebut.
Setelah Du Gu Chiu Pai pergi, Chen Yu penguasa wilayah selatan yang melayang ringan muncul di hadapan Hoa San Lao Lao.
"Nomor urut 9 mohon pengajarannya Lao Lao,.."
ucap Chen Yu lalu mulai bergerak seperti orang menari, tapi ujung jarinya terus menembakkan sinar merah mengejar Hoa San Lao Lao.
Semua benda yang di lewati oleh sinar merah seperti laser itu, akan langsung terbelah dua, seperti habis di potong pisau tajam.
Bangunan istana Mo Ciao akhirnya roboh, tidak kuat menerima hantaman serangan bertubi tubi dari Chen Yu dan Du Gu Chiu Pai tadi.
Hoa San Lao Lao sendiri masih tetap bergerak ringan melayang layang bagaikan bayangan.
Tapi sekali pertandingan berjalan lebih seru, kecepatan kedua belah pihak hampir imbang, Hoa San Lao Lao hanya lebih cepat seusap saja ketimbang Chen Yu.
Tapi langkah aneh Chen Yu, membuat keunggulan itu hampir tidak berarti.
Setelah ratusan jurus berlalu, mereka masih terlihat imbang dan masih berusaha saling menekan.
Pada suatu ketika akhirnya serangan sinar putih transparan bertemu di udara dengan sinar merah.
Kedua belah pihak mulai saling dorong berusaha mengalahkan lawan.
__ADS_1
Di saat Hoa San Lao Lao sedang fokus menghadapi tekanan dari Chen Yu.
Tiba-tiba dari dalam tanah di belakangnya, muncul sebuah bola putih transparan menghantam bagian punggung Hoa San Lao Lao.
"Bresss,..!"
Bola itu tepat meledak di bagian punggung Hoa San Lao Lao.
Hoa San Lao Lao langsung mengeluh tertahan dari mulutnya menyemburkan darah segar.
Sirkulasi aliran tenaga dalam nya, kacau balau, hal itu membuat sinar putih transparan yang sedang saling dorong dengan sinar merah Chen Yu.
Terdorong mundur oleh sinar merah Chen Yu, kekuatan sinar putih yang membalik, ditambah dengan dorongan dari sinar merah.
Membuat tubuh Hua San Lao Lao terpental melayang kebelakang bagaikan layangan putus.
Dari mulut Hoa San Lao Lao kembali menyemburkan darah segar.
Saat merasa tubuhnya di tahan oleh sebuah telapak tangan lembut dengan lengan dan bahu yang kekar.
Hoa San Lao Lao yang sudah tak berdaya, hanya bisa melirik siapa orang yang telah menyambut dan merangkul tubuhnya.
Saat dia melihat pria itulah yang menyambut dirinya, sambil tersenyum bahagia, sepasang mata Hoa San Lao Lao pun sudah terpejam rapat.
Dari sudut matanya yang tertutup rapat, mengalir setitik air bening.
Hoa San Lao Lao sempat mendengar suara panggilan
Setelah itu, dia sudah tidak mendengar apapun lagi, mau menjawabnya pun lidah terasa kelu, tidak bisa mengeluarkan suara.
Hoa San Lao Lao sudah tidak sadarkan diri di dalam pelukan Fei Yang.
Fei Yang sebenarnya dari awal mengikuti semua, dia bersikap tenang dan tidak turun tangan membantu.
Karena dia sudah membaca, Hoa San Lao Lao kemampuannya masih diatas lawan lawannya.
Tapi munculnya serangan gelap yang mendadak dan begitu cepat, itu sangat di luar dugaan.
Sehingga dia tidak sempat mencegah ataupun sempat menolong Hoa San Lao Lao.
Semua terjadi begitu cepat dan di luar prediksi nya.
Fei Yang dengan cepat memasukkan 3 butir pil berwarna putih kedalam mulut Hoa San Lao Lao.
Lalu dia menoleh kearah bawahan Hoa San Lao Lao, yang berada di belakangnya.
"Tolong bantu bawa ketua kalian kedalam, urusan di sini serahkan kepada ku saja.."
10 gadis muda kini hanya tersisa 4 mereka segera maju menyambut tubuh ketua mereka yang terkulai lemas.
Ke 4 gadis itu kemudian menggotong tubuh ketua mereka masuk kedalam istana Mo Ciao yang sudah porak poranda.
__ADS_1
Mereka menghilang di balik puing puing istana Mo Ciao.
Di belakang mereka terlihat menyusul puluhan gadis muda, yang merupakan murid junior Hoa San Lao Lao.
Setelah memastikan mereka semua sudah pergi, Fei Yang baru menoleh kembali kearah lawan lawan, yang masih hadir di tempat itu.
"Apa yang kalian inginkan,?"
ucap Fei Yang dingin sambil menyapukan pandangannya.
Bertepatan dengan kemunculan Fei Yang, rombongan Siaw Hong juga tiba di tempat itu.
Begitu melihat Fei Yang emosi Shi Ma Chung Hu pun meledak.
"Kau tanya apa mau kami,..aku menginginkan nyawa di tukar nyawa..!"
"Bangsat kau telah membunuh kakak ku secara licik, main keroyokan bersama pasangan an Jing mu, hari ini aku tidak akan mengampuni mu..!"
teriak Shi Ma Cing Hu marah sambil memasang kuda-kuda siap menyerang.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Kapan kamu melihat aku membunuh kakak mu ?"
"Jangan menuduh tanpa bukti yang jelas,.."
"Bukti apa, ? orang mati mana bisa di suruh bersaksi, yang jelas hari itu kakak ku meninggalkan sepucuk surat mengatakan dia ingin pergi duel dengan mu.."
"Saat kami menemukannya kembali dia sudah,..di celakai oleh mu.."
"Di sana juga ada benda ini, benda ini milik Hoa San Lao Lao,.."
ucap Shi Ma Cing Lung sambil melempar sebuah Piaw berbentuk bunga emas menancap di depan kaki Fei Yang.
"Kalian pasangan ji na tidak tahu malu lah, yang mengeroyok kakak ku hingga tewas..!"
teriak Shi Ma Cing Hu penuh emosi.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu coba pikir dengan tenang, menurut logika bila Lao Lao terlibat buat apa dia meninggalkan senjatanya di sana.."
"Mengenai kakak mu, kami memang terlibat duel, tapi kakak mu masih hidup saat saya pergi.."
"Apa kamu sudah periksa bekas luka yang menyebabkan kematiannya, apa dia tewas karena pukulan ku.."
"Kamu harusnya cek itu,.."
Shi Ma Cing Hu sesaat di buat ragu, dia terlalu terburu-buru saat itu.
Sehingga tidak sempat memeriksa dengan detil luka luka ditubuh kakaknya.
__ADS_1
"Omitofo,..!"