PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEPEDIHAN NAN THIAN


__ADS_3

Nan Thian berdiri terdiam di tempat saat menyaksikan apa yang sedang terjadi di taman.


Nan Thian melihat Xue Xue tersenyum dengan sangat bahagia, bersama seorang pemuda yang sangat tampan.


Mereka sedang berlatih tarian pedang berpasangan terlihat sangat kompak dan mesra.


Dari tatapan mata mereka, yang saling menatap dengan mesra, dan senyum bahagia mereka berdua, yang tak pernah lepas dari wajah mereka.


Nan Thian sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi, dan dia sudah bisa menebak jawaban.


Mengapa selama sebulan ini, Xue Xue semakin jarang mengunjunginya.


Bahkan selama seminggu ini, dia sama sekali tidak datang menemuinya lagi.


Ternyata sia sia dia mencemaskan keadaan gadis itu.


Melihat Xue Xue baik baiknya saja, bahkan terlihat sangat bahagia.


Jauh lebih bahagia daripada bersama dirinya.


Semenjak musibah itu menimpa dirinya, Xue Xue hampir tidak pernah tersenyum bahagia seperti saat ini.


Melihat hal ini, Nan Thian sambil menghela nafas menahan perih di hatinya.


Dia melangkah mundur pelan pelan, ingin meninggalkan tempat tersebut secara diam diam.


Tapi sialnya secara tidak sengaja kakinya malah menginjak ranting kering.


"Kreekkk..!"


"Siapa di sana keluar..,!'


bentak pemuda tampan itu, sambil menghentikan latihannya.


Lalu dia melesat ketempat persembunyian Nan Thian dengan pedang terhunus kedepan.


Pemuda tampan itu yang bukan lain adalah Hung Ping Chi, dia menempelkan ujung pedangnya tepat di leher Nan Thian.


Nan Thian terlihat berdiri diam di sana, sambil tersenyum sedih, terus menatap kearah Xue Xue.


"Ping Chi tahan,..! turunkan senjata mu, dia Nan Thian Sexiong..!"


ucap Xue Xue buru buru mencegah pemuda itu.


"Baik Secie.."


jawab pemuda itu sambil menarik kembali pedangnya..


"Nan Sexiong,.. kapan kamu kemari ?"


"Kenapa kamu bisa kemari..?"


tanya Xue Xue gugup salah tingkah dan tidak enak hati.


Nan Thian berusaha tersenyum tanpa memperdulikan sikap Hung Ping Chi dia berkata,

__ADS_1


"Maaf aku tanpa sengaja telah menganggu latihan kalian.."


"Aku tadinya mengkhawatirkan keadaan mu, karena selama beberapa waktu ini, aku tidak pernah melihat mu.."


"Ternyata kamu baik baik saja, syukurlah kalau begitu, aku permisi dulu.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum sedih.


Dia mengangguk kearah Hung Ping Chi dan berkata,


"Semei ku gadis yang sangat baik, jaga dia dengan baik, permisi."


"Sexiong tunggu..!"


teriak Xue Xue langsung mengejar kearah Nan Thian, yang sedang berjalan meninggalkan tempat itu dengan hati hancur.


Dia sudah berkorban demi keselamatan Siao Semei nya, hingga menjadi cacat, tapi dia tidak menyesal.


Dia bahkan ribut dengan ibunya, dan memilih tetap tinggal di sini, menerima semua hinaan dan ejekan orang, dia juga tidak menyesal.


Setidaknya masih ada Siao Semei nya yang selalu mencintai nya dan menerima dirinya apa adanya.


Jadi terhitung tidak sia sia lah dia berkorban untuk itu.


Setidaknya dengan demikian, Siao Semei nya tidak perlu bersedih dan menyesal berpisah darinya.


Tapi kini yang dia dapatkan adalah Siao Semei nya, sudah bersama orang lain dan terlihat sudah menemukan kebahagiaan barunya.


Hatinya sangat sakit terluka dan hancur lebur, kembali ke Xu San jelas tidak punya muka, bertahan di sini apa gunanya lagi.


Saat ini satu satu hal yang bisa dia lakukan adalah memenuhi kebahagiaan mereka dan berdoa untuk kebahagiaan mereka.


Bersikap tahu diri, mundur menjauh tanpa di minta, setidaknya masih menyisakan sedikit muka dan harga diri untuk diri sendiri.


Berpikir sampai di situ Nan Thian sudah mengambil keputusan dalam hati nya.


Nan Thian sambil tersenyum pahit, dia menghentikan langkahnya dan berkata,


"Ya Siao Semei ada apa ?"


"Nan Sexiong, dia adalah Hung Ping Chi murid baru di sini.."


"Diantara kami tidak ada apa-apa, Nan Sexiong jangan salah paham.."


"Aku hanya merasa cukup nyaman ngobrol dan berlatih dengan nya, tidak lebih.."


"Aku tidak mengunjungi Nan Sexiong beberapa waktu ini, karena memang sedang sibuk berlatih.."


"Karena akhir tahun ini, akan ada pertandingan persahabatan antar murid, yang mewakili 5 partai besar dunia persilatan dewasa ini.."


"Secara kebetulan aku dan Siap Setie Hung Ping Chi, yang terpilih mewakili Qing Hai Pai mengikuti pertandingan tersebut.."


ucap Xue Xue berusaha menjelaskan panjang lebar, agar Nan Thian tidak salah paham dengan nya.


Dia benar benar merasa tidak enak hati dan serba salah dalam hal ini.

__ADS_1


Dulu dia memang pernah sangat menyukai dan mencintai Nan Thian, tapi akhir akhir ini perasaan nya mulai berubah.


Dia kini mulai tertarik dan menaruh perasaan pada Hung Ping Chi, yang tampan baik penuh perhatian humoris dan sangat enak di ajak berbicara.


Sangat berbeda jauh dengan Nan Thian, yang lebih banyak bermuram durja, dan tidak banyak bicara.


Sebagai wanita dia juga perlu perhatian, dan kasih sayang, bukan melulu dia saja, yang selalu dan terus menerus, memberikan perhatian dan kasih sayangnya, ke Nan Thian.


Terhadap Nan Thian, dia kini hanya ada perasaan hormat, berhutang, bersalah dan menyesal saja.


Tapi bagaimana mungkin, dia mengatakan semua hal itu secara berterus terang ke Nan Thian.


Itu adalah suatu hal yang sangat kejam dan sangat melukai perasaan Nan Thian, yang telah berkorban begitu banyak untuknya.


Untuk itu dia tak pernah tega dan sanggup mengatakannya secara berterang, sehingga timbul kecanggungan seperti saat ini.


Nan Thian mengangguk kecil dan berkata,


"Tidak apa-apa Siao Semei, aku mengerti.."


"Itu bukan masalah, kalian teruskan saja berlatihnya, aku sedikit lelah mau kembali ke kamar ku dulu.."


"Nan Thian Sexiong,..Xue Xue temani ya..?"


ucap Xue Xue dengan mata sedikit basah, tidak tega melihat bayangan punggung Nan Thian.


Nan Thian berusaha tersenyum aneh, dia berusaha menahan agar airmatanya jangan runtuh.


"Tak perlu Siao Semei, tak perlu khawatirkan aku, kamu teruskan saja latihan mu.."


"Waktu pertandingan itu semakin dekat, waktu terus berjalan, sebaiknya mulai kini kamu fokus dengan latihan mu.."


ucap Nan Thian, setelah itu dia mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.


Agar tidak ada yang tahu kesedihan di hatinya, sehingga bisa menjaga sedikit harga dirinya, yang tersisa.


Hung Ping Chi maju menyentuh bahu Xue Xue dengan lembut.


Xue Xue menatap Hung Ping Chi sejenak, lalu dia menubruk kedalam pelukan Hung Ping Chi dan menangis sedih di sana.


"Aku sungguh bersalah padanya.."


"Ini salah mu,. mengapa kamu terus menggoda ku, sehingga aku kini terseret dalam pusaran cinta mu.."


Sambil menangis, dia terus memukuli dada Ping Chi.


Tapi Ping Chi diam saja, dia hanya terus memeluk dan membelai kepala Xue Xue dengan lembut.


"Aku sangat jahat, aku wanita jahat yang tidak setia.."


ucap Xue Xue yang sangat merasa bersalah dan tertekan.


Ping Chi sambil menghela nafas panjang berkata, dan membelai lembut kepala Xue Xue, dia berkata,


"Xue Xue Secie, ini bukan salah mu, bukan salah siapapun, dalam hal ini tiada seorang pun yang bersalah.."

__ADS_1


"Saat cinta datang, siapa pun tidak akan ada yang mampu menahannya, begitu pula saat dia akan pergi.."


__ADS_2