PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
XIAO TIE


__ADS_3

Nan Thian yang terlalu larut dengan pikiran nya sendiri, sedangkan Kim Kim yang terlalu nikmat berguling guling diatas pembaringan.


Tanpa di sadarinya, dia telah tertidur pulas, diatas pembaringan.


Saat pelayan pelayan masuk menata menu makanan, dan puluhan guci arak besar kecil, di meja sebelah dalam.


Baik Nan Thian maupun Kim Kim tidak ada yang menyadari juga tidak menghiraukan nya.


Hingga seorang gadis cantik berusia kisaran 20 tahunan, dengan langkah gemulai, melangkah masuk kedalam ruangan.


Gadis yang terlihat sangat cantik itu, melangkah dengan anggun, pinggang nya yang kecil langsing, dengan bagian pinggulnya, yang bulat sempurna.


Saat melangkah, pinggulnya yang bulat sempurna itu terlihat melenggang lenggok sangat menggoda mata yang melihatnya.


Dalam balutan pakaian sutra halus yang sedikit tipis, dengan bagian dalaman yang sedikit membayang, kulit putih halus di lengan, paha dan betis yang putih jenjang.


Bila ada pria yang melihatnya, sudah bisa di pastikan akan langsung mimisan.


Atau minimal terlihat seperti orang bodoh dengan pikiran melayang ke mana mana.


Gadis cantik itu datang sambil membawa sebuah Gu Zheng ( kecapi kuno ) di tangan.


Sedangkan kedua pendampingnya yang juga masih muda dan cukup cantik.


Mereka masing masing membawa alat musik Erhu ( sejenis alat musik gesek dengan dua senar, dan sebuah alat penggesek )


dan Di Zi, ( Suling bambu cina kuno )


Mereka bertiga mengambil posisi di atas mimbar, tanpa hiraukan, Nan Thian yang sedang melamun, Kim Kim yang sedang tidur.


Begitu siap, mereka bertiga dengan kompak langsung memainkan irama lagu sendu mendayu dayu.


Begitu irama lagu mulai di lantunkan, Nan Thian baru tertarik kembali dari alam lamunannya.


Perlahan lahan dia membalikkan badannya, untuk melihat siapa orang, yang sedang memainkan alat musik dengan begitu kompak dan enak di dengar.


Siau Tie saat masuk kedalam ruangan, melihat ada seorang pria setengah tua berdiri memunggunginya.


Dia tidak merasa heran, karena pengunjung yang berani membayar mahal dan punya uang banyak.


Biasanya memang kebanyakan pria paruh baya keatas, sedangkan dari kalangan muda agak jarang ada.


Kalaupun ada, itu adalah putra para bangsawan atau hartawan terkemuka, yang jumlahnya tidak lah begitu banyak, seperti pelanggan pria tua.


Tapi saat Nan Thian membalikkan badannya dan menatap kearah Siau Tie dan kedua temannya yang sedang bermain musik.

__ADS_1


Musik yang sedang mereka mainkan seketika berhenti di tengah jalan.


Mereka benar-benar tidak pernah menyangka, pria di hadapan mereka yang mereka pikir adalah seorang kakek tua ubanan.


Ternyata adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah, terlihat masih sangat muda.


Sepasang matanya yang tajam tapi lembut, juga menyiratkan penderitaan hidup yang mendalam.


Membuat yang melihatnya, langsung merasa nyaman, kagum, di saat bersamaan juga merasa bersimpati dan kasihan dengan nya.


Selain itu juga mengundang rasa penasaran, penderitaan seperti apa, yang sanggup membuat seorang pemuda tampan muda kaya raya, rambutnya bisa berubah menjadi ubanan seperti seorang kakek tua.


Wajahnya yang putih halus, ditunjang dengan hidungnya yang mancung, bibir yang berkesan hangat lembut tapi penuh kejantanan.


Membuat ketiga gadis yang sudah biasa bertemu dengan berbagai macam jenis pria, yang jumlahnya tak terhitung.


Kini mereka bertiga seperti terhipnotis oleh penampilan pria di hadapan mereka ini.


Nan Thian yang melihat sikap ketiga gadis itu, dia tersenyum tipis dan berkata,


"Maaf bila kehadiran ku, jadi menganggu konsentrasi permainan musik kalian yang sangat indah..'


"Silahkan di teruskan, jangan perdulikan kehadiran ku, aku hanya butuh itu.."


ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah guci arak di atas meja.


Nan Thian setelah berkata, tanpa menghiraukan respon ketiga gadis tersebut.


Dia kembali memutar balik badan nya memunggungi ketiga gadis itu.


Kembali melihat kearah taman sambil menikmati arak yang di pegang di tangannya.


Setelah Nan Thian berbicara dengan suara nya yang halus dan sopan, lalu melakukan atraksi seperti seorang tukang sulap di hadapan mereka.


Kekaguman ketiga gadis itu malah semakin besar, dan semakin penasaran terhadap Nan Thian.


Saat kembali memunggungi mereka, seolah olah tidak ambil perduli dengan kehadiran mereka.


Mereka baru kembali sadar, Siau Tie begitu sadar, dengan wajah merah padam menahan malu.


Dia berkata dengan suara yang halus lembut dan sangat nyaman di dengar.


"Kakak tampan, nama ku Siau Tie, aku dan kedua rekan ku Siau Lan dan Siau Cui.."


"Di sini kami meminta maaf pada kakak tampan, atas sikap kami yang kurang profesional tadi.."

__ADS_1


ucap Siau Tie sambil memberi hormat kearah Nan Thian, di ikuti oleh kedua rekannya.


Nan Thian menghentikan minumnya sejenak, tersenyum tipis dan berkata,


"Tak perlu minta maaf, lanjutkan saja permainan kalian jangan hiraukan aku.."


Siau Tie yang paling penasaran, Nan Thian bukan hanya tampan, penampilan rambutnya juga mengundang rasa penasaran


Tapi yang paling menggelitik hatinya adalah sikap cuek, yang di tunjukkan oleh Nan Thian ke dirinya.


Selama ini belum pernah ada pria yang setelah bertatap muka dengan nya, sanggup berpaling darinya begitu saja.


Nan Thian ini adalah pria yang pertama bersikap seperti itu, makanya dia sangat penasaran di buatnya.


Sebagai seorang gadis cantik dewasa, sangatlah normal bila dia sangat senang dan bangga.


Bila semua pria yang bertemu dengan nya, menatapnya dengan penuh kagum atau bernafsu.


Terlepas dirinya akan membalas dan meladeni mereka atau tidak, itu adalah dua hal berbeda.


Tentu saja dia juga memiliki harga diri tinggi, memilih milih siapa yang pantas dia balas ataupun tidak.


Karena meski dirinya bekerja di tempat hiburan, tapi di sini dia menjual keahliannya bermain musik.


Bukan jual yang lainnya, jadi dia berhak menolak keinginan langganan, yang menginginkan hal lebih dari musik, yang dia pertunjukan.


Dengan sikap halus dan sopan, Siau Tie yang pantang menyerah berkata,


"Kakak tampan,.. bolehkah saya tahu nama panggilan tuan yang mulia..?"


Nan Thian tersenyum pahit, dia sadar apa yang di pikirkan oleh gadis itu.


Dia bukan memandang rendah gadis itu, sama sekali tidak.


Dia tidak ingin meladeninya, karena di hatinya sudah tidak bisa muat gadis lainnya.


"Apalah artinya sebuah nama, panggil saja aku Che Jen Manusia idiot ).."


ucap Nan Thian, sambil menarik seguci arak lagi kearahnya dengan tangannya yang lain.


Setelah itu dia menghilang dari balkon, duduk di atas Wuwungan genteng.


Menikmati hembusan angin lembut sambil menikmati arak yang di bawanya.


Mendengar jawaban Nan Thian, Siau Tie sadar Nan Thian telah menolaknya secara halus.

__ADS_1


Dia harus tahu diri, mana mungkin seorang pria hebat dan tampan seperti Nan Thian akan tertarik dengan seorang gadis yang latar belakangnya seperti dirinya.


__ADS_2