PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEINGINAN ZHU LI


__ADS_3

Fei Yang hanya bisa menahan kesal, melihat sikap yang di tunjukkan oleh nenek itu.


Apalagi setelah duduk nenek itu sesekali selalu melirik kearah nya dan seperti sedang menertawainya.


Tapi untuk menyerang nya, Fei Yang jelas tidak punya alasan, akhirnya dia hanya bisa membuang muka kearah lain, menghindar untuk tidak melihat kearah nenek bejad itu.


Yue Feng yang merasa heran melihat kegelisahan Fei Yang, dia pun berkata,


"Adik Yang kamu kenapa ? kenapa aku lihat kamu jadi gelisah setelah kemunculan nenek Mo Ciaw itu ?"


"Apa kalian ada permusuhan,..?"


Siaw Hong ikut menatap Fei Yang dengan heran..


"Tidak ada apa-apa, dia pernah menolong ku, aku tidak menyangka dia dari golongan hitam.."


ucap Fei Yang berbisik pelan.


Fei Yang terpaksa berbohong, karena rahasia memalukan seperti itu, tidak mungkin dia buka ke orang lain, itu adalah aib pribadi yang memalukan.


Setelah menunggu hingga matahari naik tinggi, tidak juga ada tanda tanda kedatangan lima besar untuk ikut hadir.


Pai Su Seng pun berkata,


"Kelihatannya kelima senior dunia persilatan tidak tertarik untuk ikut hadir."


"Tidak masalah, mungkin mereka masing masing punya kesibukan."


"Kita tidak perlu menunggunya lagi."


"Para hadirin yang terhormat, mari ikut dengan ku keruang kerja.."


Setelah berkata Pai Su Seng langsung melangkah meninggalkan ruangan penerimaan tamu.


Para tamu pun mengikutinya dari belakang dengan penuh penasaran.


Pai Su Seng membawa mereka menuju suatu tempat yang di kelilingi taman dan halaman cukup luas.


Di sana terlihat sebuah bangunan yang terbuat dari batu alam yang tebal dan kokoh.


Untuk menuju pintu ruangan ada beberapa undakan anak tangga, dua gapura kecil di kiri kanan sebagai tempat untuk menaruh lampu penerangan.


Selain itu juga ada dua arca singa besar, yang mengambil contoh bentuk Saga dan Sagi.


Pintu batu ruangan tersebut terbuka lebar tanpa tertutup.


Di depan pintu terlihat 4 orang gadis bercadar bawahan Pai Su Seng berdiri mematung tidak bisa bergerak.


Sekali lihat Pai Su Seng pun menyadari ada sesuatu yang janggal di sana.


Dia buru buru berlari kedalam ruangan batu tempat kerja sekaligus tempat dia menyimpan barang barang berharga miliknya.


Saat masuk kedalam ruangan, Pai Su Seng melihat semua barang berharganya semua masih berada pada tempatnya, tidak di sentuh.


Hanya ada dua buah kotak kayu yang tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


Kedua kotak itu satu berisi daftar yang akan dia tunjukkan ke para tamu undangan nya.


Satu lagi adalah pusaka perguruannya yang berisi kitab Siao Yao Kung (Tenaga sakti kebebasan) Siao Yao Cing Kung ( Ilmu meringankan tubuh kebebasan) dan Siao Yao Cang Fa ( Jurus tapak kebebasan)


Pai Su Seng tercenung di tempat melihat coretan coretan huruf jelek di dinding ruangan tersebut.


"Arghhhh,...!!!"


teriak Pai Su Seng penuh kemarahan, hingga seluruh ruangan bergetar hebat.


"Keparat kau,..Siaw Se I Lang,.."


umpat Pai Su Seng sambil melampiaskan kemarahannya.


Dengan memukul meja kerjanya, yang terbuat dari batu, menggunakan pukulan jarak jauh.


"Brakkkk,...!!"


Meja batu itu terbelah dua hancur berkeping-keping.


Mendengar suara ribut-ribut di dalam sana,


Para tamu undangan semua nya menyusul masuk kedalam, untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


Mereka tidak tahu benda apa yang telah hilang di curi.


Yang jelas mereka semua bisa melihat di dinding ada tulisan jelek, berwarna merah terang.


Isinya kira kira seperti ini,


"Tertanda Maling Sakti Seribu Wajah (Cien Mien Sin Touw).."


Fei Yang menghela nafas lega, ada baiknya buku itu hilang dan tidak sampai di tunjukkan ke semua yang hadir.


Bila sampai isi buku itu tersebar, tidak tahu kekacauan seperti apa yang bakal terjadi.


Batin Fei Yang di dalam hati.


Fei Yang saling memberi kode kepada kedua temannya.


Mereka bertiga saling menganggukkan kepala, lalu diam diam mengundurkan diri dari tempat tersebut.


Setelah Fei Yang dan rombongannya mundur, satu persatu semua yang hadir di sana, berpamit pada Pai Su Seng.


Pai Su Seng sendiri terlihat masih berdiri di sana, dengan wajah merah padam menahan kekesalan hatinya.


Fei Yang saat tiba di mulut lembah, orang orang yang menunggu di mulut lembah pun langsung mendatangi nya.


"Pendekar muda,.. bagaimana ? apa isi daftar itu ? siapa saja urutannya ?"


tanya orang orang dari kerumunan itu dengan penuh penasaran.


Fei Yang menoleh kearah Siaw Hong dan berkata,


"Suara kakak paling kuat, kakak saja yang beritahu mereka.."

__ADS_1


"Suara ku mahal setidaknya perlu 3 guci arak,..!"


ucap Siaw Hong sambil tertawa.


Fei Yang mengeluarkan sebotol arak Ni Er Hung membuka tutup botolnya dan berkata,


"3 botol aku tidak punya, bila kakak Siaw tidak minat maka tawaran nya beralih ke kakak Feng saja.."


"Tunggu,..!!"


teriak Siaw Hong panik, dia sudah mencium bau arak yang begitu wangi, begitu tutup botol terbuka.


Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan kesempatan mendapatkan nya.


"Aku kan belum bilang aku tidak bersedia, mengapa begitu tidak sabar..!?"


"Hei,..! Kalian semuanya,..! bubarlah,..! tidak ada daftar buku,.. buku sudah di curi maling sakti wajah seribu,..!"


Suara Siaw Hong yang mengandung tenaga Auman naga menggetarkan seribu Li.


Membuat seluruh lembah sedikit bergetar, seluruh lembah bisa mendengar dengan jelas ucapan nya.


Setelah mendengar informasi dari Siaw Hong, orang orang yang hadir di sana mulai berkasak kusuk sendiri.


Beberapa waktu kemudian tempat itu mulai sepi, karena orang orang dunia persilatan sudah mulai membubarkan diri dari sana.


Mereka hanya bisa mendumel panjang pendek, akan kesialan mereka membuang buang waktu di lembah itu tanpa membawa hasil.


Melihat lembah sudah sepi tinggal tersisa 4 gadis bercadar yang menjaga gerbang.


Fei Yang pun berkata,


"Kakak Siaw,. kakak Yue,.. kurasa sampai di sini saja perjumpaan kita, sampai bertemu.."


Siaw Hong hanya mengulapkan tangan nya saja, karena dia terlalu gembira dan bersemangat menikmati arak wangi di tangannya.


Yue Feng membalas penghormatan Fei Yang dan berkata,


"Bila ada waktu jangan lupa berkunjung,.. hati hati di jalan."


Setelah itu Yue Feng mengambil jalan sebelah kanan meninggalkan tempat tersebut.


Sedangkan Siaw Hong yang di ikuti Li Cu mengambil jalan sebelah kiri, mereka berdua melangkah sambil mengobrol dengan akrab.


Kini tersisa Fei Yang seorang diri di tempat tersebut, setelah berpikir sejenak, Fei Yang pun mengambil jalan lurus kedepan.


"Kakak tunggu,..!"


teriak Zhu Li sambil berlari menyusul Fei Yang.


"Ya Nona Zhu,.. "


ucap Fei Yang sambil menghentikan langkahnya dan menatap heran kearah Zhu Li.


Setelah berdiri di hadapan Fei Yang, Zhu Li dengan wajah sedikit merah berkata,

__ADS_1


"Bolehkah saya ikut melayani kakak Yang, seperti Li Cu mengikuti dan melayani kakak Siaw..?"


__ADS_2