PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KERAGU RAGUAN NAN THIAN


__ADS_3

"Tidak adik Zi Zi, kita masih di dunia."


"Kakak baik hati ini yang telah menolong kita dari tangan penjahat itu.."


Ucap anak laki laki itu sambil tersenyum lembut.


Anak perempuan yang di panggil Zi Zi itu menatap kearah Nan Thian,


Dengan senyum menggemaskan dia berkata,


"Kakak tampan, terimakasih ya sudah menolong kami dari si jelek baju hitam itu.."


Nan Thian tersenyum lebar, dia sudah lama tidak tersenyum.


Selama ini dia lebih banyak diam dan murung.


Ini adalah pertama kalinya, dia terlihat tersenyum dengan sangat natural.


Tidak tahu kenapa, dia merasa ada perasaan hangat akrab dengan kedua anak itu.


Melihat mereka berdua, semua beban hatinya selama ini, seolah olah terangkat dan menjadi jauh lebih ringan.


Nan Thian membelai kepala kedua anak itu dengan lembut dan berkata,


"Adik kecil nama mu Sun er kan, apa marga mu ?"


"Kamu belum jawab pertanyaan kakak tadi..?"


"Siapa orang tua mu ?"


"Kalian berdua berasal dari mana..?"


Anak laki laki itu mengangguk dan berkata,


"Benar sekali kak, nama ku Li Sun."


"Ayah ibu ku sudah tiada, aku ikut tinggal bersama paman dan bibi ku di salah satu puncak di gunung Hua San.."


"Dia adik sepupu ku Li Meng Zi.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Sun er apa kakak boleh tahu siapa nama ayah ibu mu, juga paman dan bibi mu yang tinggal di gunung Hua San."


Li Sun terdiam sejenak, seperti sedang menimbang dan berpikir.


Sesaat kemudian dia baru berkata,


"Paman sebenarnya berpesan, tidak boleh sembarang memberi tahu nama mereka ke orang asing.."


"Tapi kakak berbeda, Sun er yakin kakak' adalah orang baik, lagipula kakak juga telah menolong kami dari tangan si jahat itu.."


"Nama paman ku adalah Li Fei Yang nama bibi ku adalah Ni Xue Lian.."


"Ayah ku bernama Li Dan, ibu kandungku Pai Lan Yi, ibu tiri ku Li Sian Sian.."


"Ahh kalian berdua, putri dan keponakan kakek paman guru.."


"Berarti kalian berdua adalah Paman dan bibi guru ku, Paman Sun bibi Zi.."


"Terimalah hormat dari keponakan murid Yue Nan Thian.."

__ADS_1


ucap Nan Thian penuh hormat, sambil berlutut di hadapan kedua anak kecil itu.


"Ehh paman kenapa ? jangan seperti ini, ayo bangunlah.."


ucap Li Sun kaget.


Dia buru buru maju membantu Nan Thian untuk bangkit berdiri.


Nan Thian sambil tersenyum berkata,


"Baik paman kecil, kebetulan aku juga ingin pergi ke gunung Hua San.."


"Kita bisa lakukan perjalanan sama-sama ke sana.."


"Ayo paman kecil, bibi kecil kita beri hormat dulu ke kakek Zhu, untuk pamit permisi."


"Setelah itu, kita bisa lanjutkan perjalanan kita.."


ucap Nan Thian sambil menggandeng tangan kedua anak kecil itu.


Zi Zi tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum dan mengangguk saja.


Dia masih bingung dengan pembicaraan Nan Thian dan kakak sepupu nya itu.


Selain ikut saja, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Di tempat lain, Siau Yen setelah sadar dan mendengar penjelasan dari Kakek nya.


Sepasang matanya yang indah terus menatap kearah Nan Thian tanpa berkedip.


Apalagi saat Nan Thian tersenyum tadi, dia terlihat benar benar sangat tampan luar biasa.


Seluruh perhatian dan perasaan gadis muda itu, seolah-olah sudah terbetot oleh gerak gerik Nan Thian.


Di dalam hati kecilnya, dia sangat berharap Nan Thian bisa maju ikut sayembaranya.


Bila Nan Thian hadir, dia pasti akan dengan senang hati menerimanya sebagai pendamping.


"Kakak lihat gadis itu sangat cantik, sepertinya dia juga sudah klepek klepek seperti ikan kehabisan air, melihat mu ."


"Udah ikut aja sayembara itu.."


"Jadi kakak gak perlu murung dan memikirkan kenangan yang tak penting itu.."


ucap Kim Kim dalam pikiran Nan Thian.


"Kamu anak kecil tahu apa ? sudah pergi tidur sana..!"


bentak Nan Thian dalam pikirannya, berbicara dengan Kim Kim.


"Dasar gak tahu terima kasih, ya sudah terserah kakak deh.."


"Hati, hati kakak, yang luka juga kakak, bukan aku.."


ucap Kim Kim setengah mendumel, lalu dia kembali melanjutkan tidurnya.


Tanpa memperdulikan sikap Kim Kim, Nan Thian memberi hormat kepada kakek Chu, diikuti kedua anak kecil yang di gandeng nya.


"Senior, sekarang semua masalah sudah terang, aku harus melanjutkan perjalanan ku.."


"Aku mohon pamit permisi, senang berjumpa dan berkenalan dengan senior ."

__ADS_1


"Sampai jumpa di lain waktu, Nan Thian pamit permisi dulu.."


"Kakek kakak kami permisi.."


ucap kedua anak di samping Nan Thian ikut memberi hormat.


Kakek Zhu kaget mendengar ucapan Nan Thian.


Begitupula Siau Yen, tapi tentu saja dia malu untuk mengungkapkannya, jadi dia hanya bisa menatap kearah kakek nya dengan penuh harap.


Kakek Zhu mengerti, dia menepuk nepuk lembut punggung telapak tangan cucu nya, untuk menenangkan nya.


"Pendekar muda tunggu,..!"


Nan Thian yang sudah memutar badannya hendak meninggalkan tempat tersebut.


Terpaksa menghentikan langkahnya, lalu dia menoleh kearah kakek Zhu dengan heran dan berkata,


"Ya senior, ada petunjuk apa buat Junior..?"


"Petunjuk yang tua ini mana berani, begini pendekar muda.."


ucap Kakek Chu tersenyum canggung.


"Kami sekeluarga, sangat malu sebelumnya telah menuduh yang tidak tidak pada anda.."


"Untuk itu aku ingin mewakili seluruh keluarga Chu meminta maaf pada anda."


ucap Kakek Chu sambil memberi hormat dengan membungkukkan badannya dalam dalam, diikuti oleh Siau Yen, yang diam diam melirik dan tersenyum malu malu kearah Nan Thian.


"Ohh itu, kirain ada apa, soal itu lupakan saja, itu bukan masalah besar.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum lega.


"Pendekar muda, sebagai ucapan terimakasih dan permintaan maaf dari kami."


"Kami benar benar berharap, sudi kiranya pendekar muda menerima undangan dari kami."


"Untuk ikut hadir menjadi tamu kehormatan, di pesta perayaan yang sedang berlangsung di tempat kami."


"Harap pendekar muda tidak menolaknya.."


Nan Thian terlihat serba salah, ingin menolak dia tidak enak hati.


Tidak menolak dia tidak punya banyak waktu.


Apalagi dia kini punya tugas untuk mengantar kedua paman dan bibi gurunya kembali ke Hua San.


Agar Kakek Paman gurunya tidak khawatir, cemas dan bingung.


Di saat Nan Thian terlihat ragu, tiba tiba Zi Zi menarik ujung lengan bajunya dan berkata,


"Kakak tampan, kita kesana saja.."


"Zi Zi lapar ingin makan, di sana pasti banyak makanan.."


ucap Zi Zi sambil menatap Nan Thian dengan tatapan mata polos.


Siau Yen dengan cerdik langsung maju berjongkok di depan Zi Zi, dan berkata dengan lembut,


"Adik manis, kamu harus main ke tempat kakak, nanti kakak akan sediakan penganan penganan enak untuk mu."

__ADS_1


"selain itu di sana juga ada banyak Ping Tang Hu Lu yang macam macam bentuknya.."


"Semua sedang menunggu mu.."


__ADS_2