PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PENJELASAN TABIB HUA MENGENAI THIAN TU


__ADS_3

"Siapa pun yang mencoba mencari penawar racun itu, tidak mungkin bisa kembali dalam keadaan selamat.."


"Jadi aku sarankan lebih baik, lupakan saja soal penawar racun itu.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Ce Chi saja mampu mengumpulkan racun itu untuk di racik, kenapa kita tidak berani pergi mencoba mencari penawarnya..?"


Hong Yi memegang lengan Fei Yang dengan lembut dan berkata,


"Adik Yang turuti saja apa kata tabib Hua, buat apa jauh jauh pergi mencari obat yang penuh resiko itu.?"


"Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa mu, apalagi karena mencari obat yang penuh resiko itu.."


"Asal bisa melihat, walau buram aku juga sudah cukup puas.."


ucap Hong Yi sambil tersenyum lembut kearah Fei Yang.


Tabib Hua ikut menimpali ucapan Hong Yi, dan berkata.


"Anak muda, sebaiknya kamu dengarkan saja permintaan nona ini."


"Mengenai bagaimana cara Ce Chi tetua ungu Hei Mo Pang, bisa memperoleh bahan racun itu,..aku yakin yang mendapatkan bahan baku itu tentu bukan dia.."


"Bahkan Ming Wang sendiri tidak mungkin mampu memperolehnya."


"Ce Chi aku yakin dia pasti memperoleh racun itu dari si Dewa Racun Thian Tu.."


"Selain Thian Tu,. tidak akan ada orang yang sanggup memperoleh racun langka seperti itu.."


ucap Tabib Hua Sin mengemukakan dugaannya.


Fei Yang akhirnya mengangguk dan berkata,


"Baiklah, kakak Yi, tabib Hua, kita lihat saja dulu hasil pengobatannya nanti, sejauh mana tingkat kesembuhannya.."


Fei Yang lalu menoleh kearah tabib Hua dan bertanya,


"Siapa Thian Tu itu,?


Tabib Hua Sin termenung, dia sedikit melamun seperti sedang mengenang sesuatu kemudian berkata,


"Thian Tu adalah adik seperguruan ku, dia adalah seorang jenius ilmu pengobatan.."


"Tapi akibat kehidupannya yang tragis, dia merubah jalan hidupnya dari seorang tabib, menjadi seorang ahli racun yang sangat sadis dan sangat di takuti di dunia persilatan."


ucap tabib Hua Sin menjawab keingintahuan Fei Yang.


"Kejadian tragis apa yang menimpa dirinya, sehingga dia sampai berubah dan memilih jalan itu..?"


tanya Hong Yi yang merasa prihatin.

__ADS_1


Karena dia jadi teringat pengalaman dirinya dulu.


Saat perguruannya di musnahkan oleh Hei Mo Pang.


Tabib Hua dengan pelan mulai bercerita,


"Adik seperguruan ku, Thian Tu bukan orang Han seperti kita, tapi dia berasal dari India."


"Suatu hari Ayah ku membawanya pulang ke rumah, karena merasa kasihan dengan nya, yang kelaparan dan sebatang kara."


"Kedua orang tuanya di bunuh oleh perampok, saat sedang membawa barang dagangan dari India ke China."


"Thian Tu sangat jenius dan rajin, sehingga baik kakek maupun ayah ku sangat menyayanginya."


"Dia mewarisi hampir semua kemampuan ilmu pengobatan keluarga Hua."


"Setelah dewasa Thian Tu memohon pamit ingin berkelana menolong orang."


"Meski merasa berat, tapi kakek dan ayah ku tetap memberinya ijin."


"Setelah berkelana hingga kembali ke negerinya sendiri, menikah dan punya anak."


"Thian Tu pun menjadi tabib terkenal di negerinya sendiri, hingga suatu hari nasib naas menimpa dirinya dan keluarganya."


"Semua berawal dari putra raja kreepa yang terkena wabah penyakit kusta."


"Raja kreepa lalu mengundang Thian Tu, untuk menolong putra tunggalnya dari penyakit yang di deritanya."


"Semua orang Thian Tu di obati dan sembuh, hanya khusus putra raja kreepa itulah satu satunya yang tidak Sudi di obati oleh Thian Tu, hingga akhirnya putra raja itu meninggal dunia."


"Mengapa Thian Tu bisa begitu tidak menyukai putra raja itu,? hingga memilih berselisih dengan penguasa, daripada mengobati putra penguasa tersebut..?"


tanya Fei Yang heran.


Tabib Hua menghela nafas panjang dan berkata,


"Karena pangeran jahat itu, sewaktu masih sehat.


Dia melakukan perbuatan tak terpuji pada adik ipar Thian Tu.."


"Hingga menyebabkan adik iparnya memilih bunuh diri, untuk menebus aib yang menimpa dirinya.."


ucap Tabib Hua pelan.


"Keparat itu layak mampus, Thian Tu sudah melakukan hal yang tepat aku setuju dengan prinsipnya."


"Orang seperti itu tidak layak di tolong.."


ucap Hong Yi emosi.


Karena dia jadi teringat dengan nasib tragis, beberapa saudari seperguruannya, yang jatuh ketangan orang orang Hei Mo Pang.

__ADS_1


"Ya,.. tapi harus di ingat raja kreepa adalah penguasa di sana, sikap keras kepala Thian Tu ini, justru mencelakai dirinya sendiri.."


ucap tabib Hua sedih.


"Apa selanjutnya yang terjadi ?"


tanya Fei Yang ingin tahu.


"3 hari setelah kematian pangeran itu, di suatu malam tiba-tiba kediaman Thian Tu dan keluarganya di kepung api dari segala penjuru.."


"Akibat kebakaran tersebut seluruh keluarga Thian Tu, tidak ada yang selamat."


"Ayah dan ibu mertuanya, kakak iparnya, serta istri yang sedang hamil besar dan ketiga anaknya, dimana putra pertama baru berusia 7 tahun, putra kedua berusia 5 tahun, putra ketiganya berusia 2 tahun, semua tewas terbakar dalam insiden kebakaran besar tersebut."


"Hanya Thian Tu seorang diri lah yang mampu menyelamatkan diri, dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.."


"Salah seorang sahabat baik Thian Tu, menyelamatkan nyawanya dari insiden kebakaran tersebut secara diam-diam.


"Atas permintaan Thian Tu, sahabatnya itu akhirnya membawa Thian Tu datang mencari ku di lembah selaksa obat."


"Aku membantu mengobatinya hingga sembuh, setelah sembuh Thian Tu pun memutuskan meninggalkan lembah, pergi balas dendam.."


"Sejak saat itu lah nama Thian Tu mulai terkenal, setelah dia berhasil melakukan peristiwa besar dengan meracuni seluruh penghuni istana dan keluarga Raja kreepa, berikut raja kreepa sendiri, hingga tewas tak bersisa."


"Sejak saat itu lah Thian Tu merubah jalan hidupnya, menjadi seorang ahli racun, hingga di juluki sebagai dewa racun.."


ucap Tabib Hua menyelesaikan ceritanya.


"Apa tabib Hua tidak berusaha menemui dan menasehatinya, agar kembali hidup tenang di lembah.?"


tanya Fei Yang.


Tabib Hua tersenyum pahit dan berkata,


"Tentu saja ada, karena peristiwa itu lah yang akhirnya menyebabkan kami hampir ribut sendiri.."


"Di sana jugalah aku bertemu dengan teman ku ini.."


ucap tabib Hua Sin sambil menunjuk biksu Wu Neng, yang dari awal hingga akhir memilih menjadi pendengar setia, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun..


Setelah menyelesaikan ceritanya dan berbasa-basi sejenak, Tabib Hua Sin dan cucunya pun pamit, pergi menyiapkan bahan bahan obat untuk mengobati mata Ye Hong Yi.


Sedangkan biksu Wu Neng sendiri yang tidak suka terikat di satu tempat.


Hari itu juga dia kembali melanjutkan perjalanan nya, berkeliling kemanapun kakinya ingin melangkah.


Selanjutnya Fei Yang dan Hong Yi pun menumpang tinggal di tempat tabib Hua Sin.


Hong Yi mendapatkan perawatan pengobatan matanya.


Sedangkan Fei Yang bekerja sebagai juru masak, untuk menyenangkan Tabib Hua dan cucunya, yang sangat doyan dengan masakan Fei Yang.

__ADS_1


__ADS_2