PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TERTAHAN DI LUAR


__ADS_3

Nan Thian terus menyinarinya, posisi Nan Thian sendiri juga ikut melayang udara.


Dengan kepala di bawah menghadap kearah telapak kaki Xue Lian, yang menghadap ke atas.


Telunjuk tangan Nan Thian terus menunjuk kearah telapak kaki Xue Lian.


Cahaya hitam dan putih secara bergantian terus menyinari titik Shen Mai.


Tabib Hua memperhatikan dengan seksama kondisi Xue Lian, melihat keadaan Xue Lian mulai tenang.


Tabib Hua pun berteriak cepat,


"Sekarang titik Jin Men, hati hati kurangi kekuatan mu 10%."


ucap Tabib Hua memberi petunjuk, sekaligus mengingatkan.


Nan Thian mengangguk kecil, jari tangannya terlihat sedikit bergetar saat berpindah ketitik Jin Men, satu Cun dari titik Shen Mai.


"Ahhhh..!"


Xue Lian yang tubuhnya terlihat kembali kejang, tapi dia sadari kini dia mampu bersuara.


Meski itu hanya suara jerit kesakitan, tapi setidaknya dia mulai bisa bersuara dan merasakan sakit.


Tabib Hua sedikit tersenyum puas melihat hasil tersebut.


Tapi Xue Lian sendiri terlihat sangat tersiksa, sepasang alisnya yang indah terlihat berkerut hingga menyatu.


Sepasang matanya yang terpejam terlihat bergetar getar, dari sudut matanya terlihat titik bening mengalir keluar.


Nan Thian yang melayang di atas posisi telapak kaki Xue Lian, dia tidak menyaksikan hal itu.


Dia juga tidak ada waktu untuk memperhatikannya, dia hanya fokus menyinari dan mengendalikan kekuatan Api dan Es surgawi nya.


Sesuai dengan arahan dari tabib Hua.


Butiran keringat juga terlihat menetes dari ujung hidung Nan Thian.


Sesekali Nan Thian harus mengerjapkan matanya, agar keringat dari wajahnya tidak menghalangi pandangan matanya.


Perlahan lahan Xue Lian mulai bisa menyesuaikan diri, dia terlihat mulai sedikit lebih tenang.


Tabib Hua yang melihat hal itu,dia pun kembali berteriak,


"Titik Jing Gu.. tingkatkan kembali energi mu naik 10%."


Nan Thian mengikuti petunjuk tabib Hua, dia mengalihkan sinar dari jari telunjuknya ke titik Jing Gu yang terletak 2 Cun dari titik Jin Men.


"Ahhhhhhh...!"


"Aduhhhh panasss...!"


teriak Xue Lian yang tiba tiba kini bisa berbicara kembali.


"Ahhhhhhh...!"


"Dinginnnn,...!"


Jerit Xue Lian tertahan, saat merasakan perubahan energi yang di salurkan oleh Nan Thian ke titik Jing Gu nya.

__ADS_1


Hawa panas dan dingin bergantian menyerang titik tersebut, kemudian menyebar ke seluruh tubuh nya.


Hingga dia terkadang terlihat gelisah kepanasan, wajahnya berubah menjadi merah padam.


Sesaat kemudian berganti menjadi kedinginan, hingga wajahnya terlihat pucat membiru.


Tabib Hua masih terus memperhatikan dengan serius perubahan keadaan Xue Lian.


Dia menunggu hingga Xue Lian mampu menyesuaikan diri, menerima energi Nan Thian, yang masuk membantu memperbaiki nadi syaraf aliran darah dan meridian nya yang rusak dan tersumbat.


Bila Xue Lian sudah mulai nyaman dan bisa menerima kekuatan tersebut mengalir di tubuhnya.


Dia harus cepat meminta Nan Thian merubah posisi aliran hawa saktinya, agar jangan sampai berlebihan.


Nanti bukannya memperbaiki malah merusak.


Kondisi Xue Lian yang kini seperti orang biasa, itu memerlukan penanganan lebih hati hati.


Karena dia kini sudah tidak bisa menggerakkan hawa murninya yang terkunci di Dan Tian, untuk melindungi dirinya, bila ada hawa berbahaya yang memaksa masuk dengan tujuan merusak.


Nan Thian mengikuti petunjuk dari Tabib Hua, terus bergerak menyinari titik Jing Gu, kemudian berpindah ke titik Shu Gu, Tong Gu, dan Zhi Yin.


Semua ini adalah titik yang ada di telapak kaki Xue Lian.


Berfungsi untuk mengembalikan kesadaran, motorik daya gerak, indera perasa, juga mengembalikan kemampuan bersuara dan kemampuan berbicara secara normal.


Tapi semua ini belum cukup sempurna, masih ada penyinaran lanjutan di titik titik, yang sangat beresiko, jauh lebih berbahaya dari pengobatan sebelumnya.


Rasa sakitnya pun akan beberapa kali lipat.


Xue Lian sendiri setelah titik Zhi Yin disinari oleh kekuatan Api dan Es surgawi di bawah kontrol Nan Thian.


Sepuluh jari kaki dan jari tangannya mulai bisa di gerak gerakan sedikit sedikit.


Tabib Hua kembali berteriak,


"Thian Er putar balik posisinya."


"Sekarang mulai dengan titik Feng Fu.."


"Hati hati cukup gunakan 3% kekuatan mu, kita lihat reaksinya, baru perlahan lahan di tingkatkan.."


ucap Tabib Hua mengingatkan dengan suara khawatir.


Nan Thian memang baru memutar posisi Xue Lian yang melayang di udara .


Agar bagian kepalanya, kini menghadap kearah nya.


Dia belum mengarahkan kekuatannya sebelum mendengar petunjuk dari tabib Hua.


Setelah mendengar dengan jelas arahan tabib Hua, Nan Thian baru mulai menyalurkan kekuatannya terarah ke titik Feng Fu.


Titik Feng Fu terletak di tengkuk, bagian paling bawah dari otak belakang.


Saat terkena cahaya hitam yang keluar dari jari Nan Thian.


Xue Lian seketika menjerit.


"Ahhhhhh...panas...Ahhh kakak' Yang tolong aku...panas..panas kakak Yang...!"

__ADS_1


"Arggghhh...!"


Setelah mengeluarkan pekik keras hingga terdengar sampai keluar pondok.


Xue Lian kepalanya langsung terkulai kebawah, dia telah kehilangan kesadarannya.


Saking tidak kuat, menahan rasa nyeri yang datang mendera nya.


Nan Thian bahaya terlalu kuat energi mu gunakan 0,5 % dulu..


ucap tabib Hua.


Tabib Hua tidak menyangka kekuatan Nan Thian ternyata begitu besar dan bagian Feng Fu Xue Lian ternyata begitu lemah.


Nan Thian cepat mengurangi kekuatan nya.


"Bantu aku keatas,..!"


ucap tabib Hua panik.


Nan Thian segera menggerakkan tangannya yang lain, Tabib Hua pun berhasil melayang keatas.


Sejajar dengan posisi Xue Lian, dia dengan gerakan cepat menancapkan tiga batang jarum sekaligus di tengah tengah dahi, dan kanan kiri kening Xue Lian.


Sehingga perlahan lahan Xue Lian bisa kembali membuka sepasang matanya.


Fei Yang di luar sana, begitu mendengar suara jeritan istrinya, dia langsung meninggalkan tempat di mana mereka berlima sedang makan bersama.


Pergerakan Fei Yang langsung di susul oleh Fei Hsia, Zi Zi yang paling terakhir bergerak.


Dia menyusul sambil menggendong Fei Yung dan Fei Lung di tangan kanan dan kirinya.


Saat Fei Yang tiba di depan kamar, dia langsung ditahan oleh Hua Lung.


"Kakak Yang tahan, istri kakak sedang dalam penanganan, situasi sangat kritis."


"Guru berpesan, siapapun di larang masuk kedalam, tanpa di panggil."


"Bila mereka terganggu saat pengobatan ini, akibat di belakang nya nanti, akan sulit di bayangkan."


"Harap kakak Yang bersabarlah sedikit."


ucap Hua Lung serius.


Selesai berkata tanpa menunggu reaksi dan sikap Fei Yang.


Dia sudah kembali masuk kedalam.


Pintu kamar pun tertutup kembali dengan rapat.


Fei Yang berdiri mematung di sana dengan wajah pucat, matanya kembali terlihat basah.


Wajahnya kembali berubah muram, di liputi awan duka nestapa.


Fei Hsia menyentuh bahu Fei Yang dengan lembut.


Fei Yang menoleh kearah Fei Hsia, Fei Hsia menggelengkan kepalanya dan berkata lembut.


"Kakak Yang bersabarlah, kamu harus percaya dengan mereka.."

__ADS_1


"Mereka pasti akan lakukan yang terbaik, untuk kakak Lian.."


__ADS_2