
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Maafkan Thian Er Semu, tapi Nan Thian sudah memutuskan nya.."
"Bila Thian Er berjodoh dengan nya, kami pun akan kembali bersama dan hidup bahagia.."
"Bila tidak berarti masalah asmara cinta fana, cukuplah sampai di sini saja.."
"Thian Er akan melepaskan semuanya, bersendiri hingga tua nanti.."
ucap Nan Thian sambil berusaha untuk tetap tersenyum setenang mungkin.
"Haiiisss...! Thian Er Ki yang malang, kenapa kamu harus selalu seperti ini menyiksa diri mu sendiri.."
ucap Lian Se Hua sambil memegangi kedua tangan Nan Thian dengan sedih.
Tanpa dia sadari airmata nya kembali jatuh meleleh kebawah.
Lian Se Hua hanya bisa menatap Nan Thian dengan pilu dan di penuhi rasa sesal.
Nan Thian dengan lembut menghapus air mata di wajah Ibu gurunya,
"Semu jangan bersedih, bila Semu bersedih Nan Thian akan semakin sedih dan sulit tenang.."
"Semu doa kan saja yang terbaik buat Nan Thian.."
"Percayalah, apapun itu hasil akhirnya Nan Thian tetap akan bisa hidup bahagia.."
"Terkadang bersendiri selamanya juga belum tentu sesuatu yang buruk.."
ucap Nan Thian sambil menjatuhkan diri berlutut mencium kali gurunya.
Setelah itu dia pun menghilang dari hadapan Lian Se Hua.
Lian Se Hua menghela nafas panjang dan berkata,
"Seharusnya Seniang bangga dan gembira punya murid sehebat kamu nak.."
"Tapi Seniang justru tidak bisa merasakan hal itu, .."
"Baiklah Thian Er, Seniang akan berdoa untuk kebahagiaan mu.."
"Apapun itu.. berbahagia lah selalu kamu nak.."
ucap Lian Se Hua sambil melangkah dengan perasaan lesu meninggalkan Taman.
Baru Lian Se Hua berjalan satu langkah, Lie Pai Xue tiba-tiba melangkah keluar dari balik pohon.
Dia buru-buru maju menghampiri Guru nya, memegangi tangan gurunya, menemani Guru nya melangkah dengan hati hati.
"Pai Xue,.. kamu ada di sini..?"
"Kamu sudah dengar semuanya..?"
"Maafkan guru nak,.. guru tidak mampu membujuknya.."
ucap Lian Se Hua sambil menatap kearah muridnya dengan di penuhi perasaan menyesal.
Pai Xue tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak apa-apa guru, jangan terlalu di pikirkan dan bersedih hati.."
__ADS_1
"Nan Thian Sexiong punya pemikiran sendiri, kita harus menghargainya.."
"Kita doakan saja, semoga dia berbahagia selalu..'
ucap Pai Xue penuh pengertian, meski hatinya di dalam sana, terasa sedih kecewa juga malu.
"Ahh Xue Er kamu benar benar putri ibu yang sangat luar biasa.."
"Thian Er tidak memilih mu adalah kebodohan nya.."
ucap Lian Se Hua berhenti melangkah, kemudian memeluk Pai Xue kedalam pelukannya dan membelai kepala nya dengan penuh kasih sayang.
"Xue Er, ibu tahu hati mu pasti sangat sedih dan kecewa, bila ingin menangis menangis lah jangan menyimpannya.."
ucapan Lian Se Hua yang lembut dan penuh kasih sayang.
Seperti membuka pintu bendungan, yang di tahan tahan oleh Pai Xue.
Akhirnya kedua wanita tua dan muda itu, saling berpelukan, sama sama menangis pilu, melepaskan kepedihan hati mereka masing-masing.
Nan Thian sendiri sudah kembali ketepi danau Qing Hai, di mana Kim Kim terlihat sedang duduk santai di depan api unggun, sambil membakar ikan.
"Masih ingat kamu kembali, ? ku pikir setelah ketemu dengan Pai Xue Semei, yang bagaikan pinang di belah dua dengan Xue Xue Semei mu itu.."
"Kamu sudah lupa daratan, lupa dengan ku yang di suruh menunggu mu di sini seperti orang bodoh."
Tegur Kim Kim melepaskan ketidakpuasan nya lewat sindiran.
Tapi Nan Thian dengan sikap tidak berdosa, langsung duduk di sampingnya.
Mengulurkan tangannya hendak mengambil ikan panggang yang terlihat sudah matang, siap di santap.
Tapi sebelum tangan nya berhasil terdengar suara keras.
Punggung tangan Nan Thian di pukul dengan kasar oleh Kim Kim.
"Aduhhhh..!"
jerit Nan Thian tertahan.sambil bersungut sungut menahan nyeri.
"Mau makan tangkap dan panggang sendiri ."
ucap Kim Kim sebal.
Nan Thian tidak mau menanggapinya, lagi pula wajar Kim Kim kesal.
Dia membiarkan Kim Kim menunggunya di sana lebih dari 3 hari, tanpa kabar berita.
Bila dia di posisi terbalik, tentunya dia juga akan kesal.
Nan Thian lebih memilih diam duduk bersandar di sebatang pohon besar.
Memejamkan matanya, tidur sambil menunggu emosi Kim Kim mereda.
Tidak lama kemudian karena angin sepoi sepoi menerpa wajahnya, Nan Thian akhirnya terbawa suasana, sejuk, hening dan tenang di tempat tersebut.
Dia tertidur pulas bersandaran di pohon Pinus raksasa, yang berada di belakangnya.
Tidak tahu berapa lama dia tertidur, akhirnya terdengar suara Kim Kim.
"Kakak kamu mau terus tidur di sini,.? atau mau pergi cari Zi Zi..!?"
__ADS_1
Nan Thian buru buru membuka matanya sambil tersenyum canggung, dia berkata,
"Ayo kita berangkat.."
Kim Kim sudah tidak kesal lagi, dia langsung berubah menjadi Wujud Naga Emas nya.
Sesaat kemudian Nan Thian dan Kim Kim sudah berada di atas awan bergerak menuju pegunungan Hua San, langsung menuju puncak Yu Ni Feng.
Saat puncak Yu Ni Feng, mulai terlihat di depan sana.
Jantung Nan Thian berdebar dengan cepat.
Dia terus menatap puncak itu dengan perasaan bercampur aduk.
Bila Li Sun adalah seorang penjahat tidak berhati seperti Hung Ping Chi.
Semuanya tentu akan lebih mudah baginya, tapi Li Sun bukan.
Li Sun juga sahabatnya, yang sudah menganggap dirinya seperti kakak sendiri.
Bagaimana dia tega datang merebut istrinya, Nan Thian yang bingung akhirnya menghela nafas panjang.
"Kakak kenapa harus berpikir banyak, bukankah kakak sendiri juga sudah putuskan.."
"Asalkan dia bahagia, kakak akan pergi menjauhi kehidupan mereka.."
"Bila tidak tentu kakak harus bertindak membawanya pergi.."
ucap Kim Kim yang tahu apa yang sedang Nan Thian pikirkan.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Kami benar Kim Kim, ayolah kita kesana sekarang.."
"Apapun nanti, aku harus berani menghadapi dan menerima kenyataan nya "
Kim Kim sambil tersenyum berkata,
"Kakak tidak perlu takut, setidaknya di sisi kakak masih ada aku.."
"Kakak perlu teman aku bisa, tapi kalau perlu istri aku berkorban sedikitlah.."
"Meski kakak' gak setampan dia, gak sebaik dia, tapi masih lebih lumayan dari Hua Lung yang plonga plongo itu.."
ucap Kim Kim sambil menahan tawa.
"Cerewet,..kamu tidak bicara, tidak ada yang bilang kamu gagu.."
"Ayo cepat.."
tegur Nan Thian malas menanggapi Kim Kim yang kalau ngomong jarang serius.
Sambil tertawa Kim Kim mempercepat pergerakannya, meluncur kedepan halaman pondok tempat tinggal Li Sun dan Zi Zi.
Nan Thian langsung melayang turun dari punggung Kim Kim, lalu berjalan menuju pintu pondok yang tertutup rapat.
"Kenapa sepi sekali ? apa mereka sedang tidak di rumah ? atau pindah ketempat paman Fei Yang..?"
tanya Nan Thian di dalam hati.
"Tok.Tok.Tok.Tok.Tok...!"
__ADS_1
"Ada orang kah di rumah..!?"
panggil Nan Thian.