
"Guru boleh tidak murid tahu nama guru,..?'
tanya Yue Feng dengan penuh hormat.
Feng er apalah arti sebuah nama, datang tidak di bawa, pergi pun tidak."
"Tapi bila kamu ingin tahu juga, itu bukan masalah, Nama ku adalah Hui Ke.."
Yue Feng mengangguk dan berkata,
'Terimakasih guru, Yue Feng sudah mengingatnya, sekarang apa yang bisa Yue Feng pelajari.?"
Biksu tua itu mengangguk senang sambil tersenyum puas,
dia berkata,
"Feng er guru ada 3 ilmu untuk mu, pertama adalah Ilmu 9 matahari, ilmu ini keras, kuat, panas tiada Tara, menguasai ilmu ini, kamu akan mudah mempelajari ilmu apapun, terutama ilmu tangan kosong..'
Mendengarnya mata Yue Feng berbinar binar, dia tidak suka pedang atau senjata.
Dia paling suka dengan silat tangan kosong,. dengan menguasai ilmu ini, itu justru sangat cocok dengan keinginan nya.
Biksu Hui Ke tersenyum melihat sikap antusias muridnya.
Dia kembali berkata,
"Ilmu kedua adalah Ilmu penguat nadi urat dan otot, dengan ilmu ini kamu dapat mengobati luka dalam tubuh mu, memindahkan jalan darah sesuka hati, yang terpenting ilmu ini bisa memberi mu kesehatan umur panjang, bahkan bisa kekal abadi, bila kamu telah capai puncak latihan..,"
"Selain itu ilmu ini adalah ilmu pendukung seluruh kekuatan, dan kecepatan ilmu yang kamu pelajari.."
ucap Biksu tua itu memberi penjelasan, dia kemudian mengambil nafas sejenak, lalu kembali melanjutkan.
"Feng er,.. yang terakhir ini adalah ilmu yang sangat berbahaya, Aku memberinya nama,
8 tapak Naga Langit, setiap jurus adalah untuk menyerang tidak ada pertahanan."
"Setiap jurus memiliki daya perusak tinggi, dan kekuatan penghancur tak terbatas."
"Guru menciptakan jurus ini, di saat hati dan pikiran guru sedang di penuhi kemarahan, dendam, kebencian, dan kekecewaan mendalam..sehingga efeknya pun berdampak sangat buruk."
"Ilmu ini sangat bertentangan dengan Ilmu kebuddhaan yang guru anut, yang menuntut welas asih dan kasih sayang."
"Jadi Guru sarankan pada mu, pelajari dan pergunakan dengan bijak."
"Ilmu tetap ilmu, baik buruknya tergantung yang menggunakan nya, kamu pahamkan maksud guru, ?"
Yue Feng mengangguk dan berkata,
"Murid mengerti dan paham guru."
"Murid akan mengingat dan mengamalkan semua nasehat guru, bila tidak terpaksa, sebisa mungkin murid tidak akan menggunakannya.."
"Murid hanya akan pergunakan pada orang yang benar benar jahat dan tak tertolong lagi saja.."
__ADS_1
Biksu tua itu mengangguk sambil tersenyum puas.
"Feng er guru akan turun kan ketiga ilmu itu secara bertahap, selesai yang satu, baru di lanjut dengan yang lain nya."
"Sekarang dengarkan baik baik, ini adalah teori asli ilmu 9 matahari, dari Bodhi Dharma .."
Sejak hari itu Yue Feng mulai berlatih dengan rajin tehnik 9 matahari."
"Saat Yue Feng menembus level 5, Gurunya mulai menyuruhnya untuk mengkonsumsi daging ikan lele putih di luar Gua..."
Setelah menamatkan ilmu 9 matahari, Yue Feng melanjutkan dengan Ilmu memperkuat nadi urat dan otot.
Setelah menamatkan latihannya, Guru Yue Feng memintanya mengkonsumsi buah yang berwarna merah darah di depan gua.
Baru melanjutkan mempelajari jurus 8 Tapak Naga Langit.
Tanpa kesulitan berarti Yue Feng berhasil menamatkan nya.
Pagi itu terlihat Yue Feng bersujud di depan ranjang gurunya.
Biksu tua menatap Yue Feng dengan senyum bangga dan puas.
"Feng er,.. guru lihat, kamu sudah cukup menguasai seluruh ilmu yang guru ajarkan pada mu.."
"Sisanya tinggal kamu matangkan dan sempurna kan saja saat kembali ke dunia ramai."
"Kini sudah tiba saatnya, bagi kita untuk berpisah murid ku."
Feng er,.. kamu kemarilah, dan duduk di sebelah guru, guru mau menyampaikan beberapa pesan sebelum kita berpisah.."
ucap Biksu tua itu tersenyum ramah.
Yue Feng mengangguk, dia duduk di hadapan gurunya, dengan patuh.
"Feng er, di balik ranjang batu ku ini, adalah jalan untuk keluar dari tempat ini."
"Dengan kekuatan mu saat ini, guru yakin bukan hal sulit untuk membuka pintu batu tersebut."
Yue Feng mengangguk dan berkata,
"Feng er akan mencobanya, tapi guru,.. Feng er ingin membawa guru ikut dengan Feng er keluar dari tempat ini.."
"Feng er tidak mungkin meninggalkan guru seorang diri di sini, biarlah Feng er yang merawat dan menjaga guru kedepan nya nanti ."
"Seluruh keluarga Feng er sudah tiada, kini hanya tersisa guru satu satunya keluarga Feng er..'
"Jadi Feng er mohon guru, ijinkanlah Feng er, menjalankan bakti sebagai seorang murid.."
Biksu tua Tersenyum puas dan berkata,
"Kamu punya niat itu, guru pun sudah sangat puas.."
"Hidup ku sudah tidak termasuk sia sia.."
__ADS_1
"Anak baik dengarlah, ulurkan tangan mu kemari, pejamkan mata mu, apapun yang terjadi jangan membantah dan melawan.."
"Ini adalah perintah, anggaplah ini adalah salah satu bakti mu pada guru mu.."
"Kamu mengerti.."
ucap Biksu tua itu tegas.
Yue Feng meski merasa heran, tapi dia tidak membantah, dia mengangguk kecil dan mengulurkan kedua tangannya kehadapan gurunya.
Biksu tua itu mengangguk puas, lalu dia menempelkan telapak tangannya dengan lembut diatas telapak tangan Yue Feng
Energi lembut mengalir masuk dengan deras, menerobos semua nadi dan syaraf Yue Feng yang masih terkunci.
Setelah semua nadi dan syaraf terbuka.
Energi itu mulai berputar-putar di dalam tubuh Yue Feng.
"Feng er terima kekuatan itu, jangan menolaknya,.simpan semua ke Dan Tian mu.."
ucap Biksu tua itu dengan wajah berseri seri.
Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan.
Yue Feng mengangguk tanpa membantah, dia terus menerima dan menyerap semua energi tersebut.
Yue Feng tidak tahu, bahwa biksu tua itu sedang memindahkan seluruh tenaga sakti nya.
Bila dia tahu, dia pasti akan menolaknya, karena tanpa tenaga sakti itu, Biksu tua itu tidak akan bisa bertahan hingga hari ini.
Dia akan seperti lampu yang kehabisan minyak.
Perlahan-lahan sinar yang memancar dari tubuh biksu itu semakin meredup, sedangkan sinar yang memancar dari tubuh Yue Feng semakin cemerlang.
"Feng er murid ku, jodoh di antara kita telah habis, ada pertemuan tentu ada perpisahan, tidak ada yang perlu di sedihkan.."
"Jangan mudah percaya sama siapapun, pergunakan yang guru wariskan pada mu dengan baik.."
"Jaga diri,..selamat tinggal.."
ucap Biksu tua itu tersenyum puas.
Yue Feng yang sedang memejamkan matanya, merasa ada yang tidak beres dengan pesan gurunya.
Dia langsung membuka matanya, begitu matanya terbuka.
Yue Feng hanya bisa melihat tubuh gurunya perlahan-lahan sirna menjadi butiran cahaya.
Hingga akhirnya hanya tersisa sebutir mutiara Sarira berwarna putih susu tergeletak di hadapannya.
"Guru,...!!!"
teriak Yue Feng penuh kesedihan mendalam.
__ADS_1