PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MEMULAI KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Fei Yang tersenyum lembut dan berkata,


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir.."


"Hanya hawa Im yang kambuh, bukan masalah."


"Istirahat satu dua hari, nanti akan normal kembali.."


ucap Fei Yang pelan.


Fei Yang masih terlihat agak lemah dan pucat.


Tabib Hua sambil makan berkata,


"Dia sudah tidak apa apa, tenang saja.."


"Lebih baik kalian berdua makan segara, asal sementara waktu ini bisa menahan diri.."


"Di jamin tidak akan terulang.."


"Ayo makan.."


ucap Tabib Hua santai.


Fei Yang tersenyum menoleh kearah tabib Hua dan berkata,


"Terimakasih banyak tabib Hua, Budi besar mu Fei Yang benar benar tidak tahu bagaimana membalas nya.."


"Ho..Ho..ho..!"


"Itu tidak perlu, selama aku dapat makan puas sehari 3 kali itu sudah lebih dari cukup..'


"Asal mulut dan lambung ku terpuaskan itu sudah lebih dari cukup.."


"Lagipula bila bukan karena tamak makan, kamu pikir si kakek tua ini, kurang kerjaan, mau menolong orang yang tiap hari saling pukul saling bunuh..?"


"Ho,..Ho..Ho.. Ho..!'


ucap kakek Hua sambil tertawa, tapi sumpit nya tidak berhenti beterbangan seperti lalat.


Xue Lian sambil tersenyum lembut berjalan menghampiri meja di hadapan kakek Hua.


Xue Lian mengambil semangkuk nasi dan beberapa lauk diatasnya.


Lalu dia berkata,


"Asalkan tabib suka, Xue Lian dan kakak Yang, pasti akan bikin yang enak enak terus tiap harinya."


"Ho..Ho..Ho..!"


"Itu baru betul,..bagus bagus bagus.."


"Bisa makan enak terus tiap hari, biar umurku dikurangi juga tidak apa apa.."


"Sayangnya, kalian juga tidak boleh lama lama di sini, terutama suami mu itu.."


"Hawa Yin di tempat ini tidak baik bagi kesehatannya.."


"Dia harus cari tempat yang memilki hawa Yang kuat, itu akan bagus untuk kestabilan kesehatannya.."


ucap Tabib Hua sambil makan.


Ucapan tabib Hua membuat Xue Lian dan Fei Yang saling pandang, ucapan ini sama persis dengan pesan guru Fei Yang, Wu Ming Lau Jen di dalam mimpinya.


Fei Yang langsung berkata,


"Bagaimana bila puncak Yu Ni Feng, gunung Hua San, Thian Huo Dong ( Gua Api Surgawi )."


Ucapan Fei Yang membuat tabib Hua menoleh kaget kearah Fei Yang dan berkata,


"Anak muda itu adalah tempat yang mirip legenda, yang tercantum di dalam kitab pengobatan kuno.."


"Bagaimana anda bisa tahu ? siapa yang memberitahu mu..?"


ucap Tabib Hua, hingga berhenti makan dan meletakkan sumpitnya begitu saja di atas meja.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Aku di beritahu oleh dewa di dalam mimpiku.."


"Tabib Hua sepertinya tahu sesuatu, coba jelaskan.."


Tabib Hua menatap Fei Yang dan Xue Lian secara bergantian kemudian berkata,


"Menurut legenda mitos kuno, Gua api surgawi, adalah tempat dewa api Zhu Rong bertapa hingga menjadi beliau berhasil menjadi Dewa Api.."


"Di tempat itu Dewa Api Zhu Rong ada meninggalkan inti sari api surgawi miliknya."


"Sebelum beliau naik keatas langit sepenuhnya menjadi dewa."


"Tapi semua itu hanya mitos, tidak ada yang tahu kebenaran maupun tempatnya.."


"Itu adalah yang aku tahu tentang Gua Api Surgawi, sedangkan lokasinya di mana, aku juga baru dengar dari mu tadi.."


ucap Tabib Hua menutup ceritanya.


Fei Yang menatap kearah tabib dengan tatapan mata bersemangat dan berkata,


"Apa pengaruhnya bagi ku tabib, bila berhasil menemukan tempat itu ?"


Tabib Hua terdiam beberapa saat dan berkata,


"Bila kamu mampu menyerap hawa di sana, kemungkinan besar kamu akan bisa pulih seperti semula.."


"Bila beruntung mendapatkan intisari api surgawi Zhu Rong, kekuatan api mu akan sulit di lukiskan.."


"Hanya saja untuk itu, kamu harus menemukan juga Gua Es Surgawi, yang merupakan tempat kediaman Dewa Air Gong Gong.."


"Baru kamu bisa mengendalikan keseimbangannya.."


"Itulah yang aku tahu dari mitologi kuno.."

__ADS_1


"Apa tabib tahu lokasi Gua Es Surgawi..?"


tanya Fei Yang tertarik.


Tabib Hua menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kalau itu aku tidak tahu persisinya, hanya saja dalam mitologi kuno di sebutkan Gua Api Surgawi ada di daerah pegunungan.."


"Sedangkan Gua Es Surgawi katanya ada di dasar samudra, itulah yang aku tahu.."


"Persisnya di mana aku juga tidak tahu.."


"Mungkin guru mu itu tahu.."


"Kamu bisa coba tanya ke beliau.."


ucap Tabib Hua kembali melanjutkan makannya.


Secara bersamaan Lung Er juga sudah datang bersama Zi Zi dan Sun Er.


Obrolan pun terpaksa berhenti sampai di sana.


Xue Lian dan Fei Yang pun sudah makan bersama, Xue Lian menyuapi Fei Yang duluan baru menyusul buat dirinya sendiri.


Mereka makan semangkuk berdua saling tatap dan saling tersenyum bahagia.


Sun er dan Lung Er tersenyum senyum sendiri melihat hal itu.


Sebaliknya Zi Zi bersikap biasa saja.


Baginya itu sudah biasa, kedua orang tuanya memang sering melakukan hal itu.


Bahkan sebelum ada kakak Sun, mereka sering makan semangkuk bertiga.


Di mana ibunya menyuapi dia ayahnya dan dirinya sendiri secara bergantian.


Sedangkan ayahnya, bertugas menyiapkan makanan buat mereka.


Sambil makan Zi Zi tiba tiba berkata,


"Ibu masakan ibu sekarang sangat lezat, tidak kalah dari ayah.."


Xue Lian sambil tersenyum gembira berkata,


"Kalau suka makanlah yang banyak, biar cepat besar.."


Zi Zi mengangguk dan melanjutkan makan nya dengan penuh semangat..


Setelah semua orang selesai makan, Xue Lian di bantu oleh Lung Er Sun er dan Zi Zi membereskan semuanya.


"Zi Zi Sun er di mana sayang..?"


tanya Fei Yang saat melihat istrinya hanya seorang diri masuk kedalam kamar."


"Aku sudah menidurkan mereka di kamar sebelah.."


jawab Xue Lian sambil tersenyum ikut berbaring dalam pelukan Fei Yang.


tanya Xue Lian sambil mengelus elus dada Fei Yang yang bidang.


Fei Yang diam sejenak kemudian berkata,


"Tidak sayang, seminggu lagi.. setelah kondisi mu sepenuhnya stabil kita baru berangkat.."


Xue Lian bangun duduk dan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya,


"Mengapa ? bukannya semakin cepat semakin baik..?"


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak sayang, di luar sana sangat tidak aman bagi kalian.."


"Dengan keadaan ku yang seperti ini, sedangkan kamu juga belum pulih benar.."


"Bila bertemu musuh yang di utus oleh pangeran Mongolia itu, kita bisa celaka.."


"Dengan kemampuan mu pulih sebagian aku akan jauh lebih tenang."


ucap Fei Yang menjelaskan dengan sabar.


Xue Lian mengangguk setuju, tujuh hari kemudian setelah mereka semua meninggalkan hutan bambu sesat.


Kim Tiaw membawa rombongan Fei Yang pergi meninggalkan Xu San menuju Hua San.


Sedangkan Sen Tiaw yang anaknya masih kecil kecil belum bisa di tinggal lama.


Dia hanya kebagian tugas mengantar tabib Hua dan cucu nya Lung Er, kembali ke puncak Xuan Wu.


Setelah itu dia langsung terbang kembali kepuncak Hua San, masuk kembali kedalam hutan bambu sesat, bergerak kembali ke sarang nya di lembah rahasia, di balik hutan bambu sesat.


Dengan petunjuk dari Xue Lian yang pernah menjadi salah satu penghuni di Hua San.


Tanpa kesulitan berarti rombongan kecil yang duduk di punggung Kim Tiaw berhasil mendarat di puncak Yu Ni Feng dengan selamat.


Karena menunggangi Kim Tiaw mereka tidak harus repot melewati hutan Cang Lung Lin yang misterius dan penuh bahaya.


Seperti yang pernah di tempuh oleh Nan Thian dan rombongannya dulu.


Di puncak itu sejauh mata memandang ada hamparan rumput luas dengan air terjun yang berasal dari sebuah tebing tinggi menjulang menembus awan.


Di mana bagian bawahnya terdapat sebuah kolam, yang menampung air yang jatuh dari ketinggian tebing.


Di sekitar kolam tumbuh pohon pohon bambu, dengan beberapa batang pohon persik, yang kelihatannya sudah berumur cukup tua.


Hal itu terlihat dari ukuran pohonnya cukup besar, tapi buah yang di hasilkan nya, tidak banyak.


Tapi buah yang tumbuh di pohon itu meski sedikit tapi ukurannya besar besar sangat menarik.


Fei Yang memperhatikan kondisi dan keadaan sekeliling beberapa saat kemudian dia baru berkata,


"Sayang kamu dan anak anak bersantailah dulu di bawah pohon yang teduh itu.."

__ADS_1


Fei Yang menunjuk ke arah bawah deretan pohon bambu yang tumbuh subur di sana.


Karena sinar matahari terlindung oleh dinding tebing, dan pohon pohon bambu, yang tumbuh subur di sana, di tambah uap air, yang terbawa angin.


Hal ini membuat tempat tersebut terasa adem dan nyaman.


Uap air itu berasal dari benturan air terjun, dengan air kolam yang letak nya tidak terlalu jauh dari deretan pepohonan bambu, dan pohon buah persik.


Xue Lian memegang tangan Fei Yang dengan lembut dan berkata,


"Tapi keadaan mu baru sedikit lebih baik belum pulih benar.."


"Aku takut kalau kalau terjadi sesuatu, bagaimana bila aku dan anak anak ikut saja.."


"Kami bisa bantu bantu.."


"Masalah nya bila terjadi sesuatu dengan mu, di sini kita tidak ada tabib Hua.."


ucap Xue Lian terlihat ragu melepas Fei Yang pergi mencari bahan untuk bangun pondok.


Fei Yang tersenyum membelai kepala istrinya dan berkata,


"Tidak apa-apa aku bisa jaga diri, tidak akan terlalu memforsir diri.."


"Bila kalian semua ikut, beban Kim Tiaw akan semakin berat, nanti dia akan bermasalah mengangkut bahan bahan bikin pondok kemari."


ucap Fei Yang mengemukakan alasannya.


Xue Lian mengangguk pelan, sambil menatap suaminya dengan serius dia berkata,


"Baiklah, tapi kamu janji tidak boleh terlalu capek dan berlebihan bekerja nya.."


"Pondok bisa kita bikin pelan pelan, tak perlu buru buru.."


Fei Yang mengangguk, tapi tentu saja dia tahu persis.


Di puncak yang begitu tinggi hawa begitu dingin, apalagi di malam hari, di saat kabut mulai turun.


Adalah mustahil bagi dirinya dan keluarganya, untuk melewatkan malam di tempat terbuka.


Cuma berlindung di bawah pohon bambu, apalagi bila sampai hujan.


Mau tidak mau dia harus secepatnya menyelesaikan membangun sebuah pondok untuk tempat tinggal mereka.


Minimal sebuah gubuk Ting atap rumbia, dia bangun dulu untuk tempat tinggal sementara mereka.


Baru melanjutkan membuat pondok tempat tinggal.


Ting adalah sebuah bangunan tempat peristirahatan tanpa dinding penutup.


Nama lainnya adalah paviliun peristirahatan atau saung atau gazebo.


Untuk menenangkan kekhawatiran Xue Lian Fei Yang hanya bisa mengangguk.


Setelah memberikan ciuman lembut di kening istrinya, juga di pipi anak anaknya.


Fei Yang pun pergi dengan Kim Tiaw kearah Cang Lung Lin untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.


Di hutan Cang Lung Lin di bantu oleh Kim Tiaw, tanpa kesulitan Fei Yang berhasil mengumpulkan tonggak tonggak kayu sebagai tiang penyangga.


Untuk membuat sebuah Ting yang berbentuk segi 8, di perlukan 8 tiang untuk tonggak penyangga bangunan.


Untuk mengangkut tiang tiang balok kayu, Fei Yang mengingatnya dengan tali akar rotan, yang banyak tumbuh di hutan tersebut.


Setiap ikatan terdiri dari 4 balok kayu, selesai menyiapkan balok penyangga bangunan.


Fei Yang kini sibuk menyiapkan batang batang pohon bambu tua, yang berukuran lebih kecil dari tiang balok penyangga tadi, sebagai tiang penyangga atap.


Setelah itu Fei Yang menggunakan daun daun bambu kering yang di jalin jadi satu sebagai bahan untuk membuat atap bangunan.


Karena kondisi tubuhnya yang seperti orang biasa, Fei Yang harus berulang kali beristirahat.


Untuk mengatur nafas dan memulihkan stamina baru bisa melanjutkan pekerjaannya yang cukup berat.


Karena semua dia kerjakan sendiri dengan tenaga kasar.


Untungnya fisik Fei Yang terlatih dari kecil, sangat kuat, meski hanya mengandalkan tenaga luar, tanpa menggunakan tenaga dalam sedikitpun.


Tapi dia mampu mengerjakan nya dengan cukup baik.


Fei Yang bekerja selang seling, setiap dia beristirahat, dia akan menggunakan belatinya membentuk kayu kayu sebesar jari kelingking untuk di tajam kan kedua sisinya.


Benda benda kecil itu nantinya akan Fei Yang gunakan, sebagai pengganti paku, untuk menyambung dan mengeratkan kayu, dan batang bambu penyangga atap bangunan.


Selain itu dia juga menjalin menjadi satu, daun daun bambu kering, yang dia dapatkan di hutan bambu dekat Cang Lung Lin.


Nantinya daun daun bambu kering yang sudah terjalin rapi ini, akan Fei Yang gunakan sebagai atap bangunan nya


Menjelang malam, semua bahan bahan perlengkapan yang sudah siap itu, satu persatu baru di angkat oleh Kim Tiaw menuju puncak Yu Ni Feng.


Karena hingga malam tiba Fei Yang baru berhasil mengangkut semua bahan untuk pembuatan Ting.


Malam itu di bawah penerangan lampu obor miliknya, dia seorang diri terus bekerja hingga pagi.


Sedangkan Xue Lian terlihat tidur sambil duduk, memangku dan menghangatkan tubuh Zi Zi putri mereka.


Sun er sebaliknya memilih duduk sendiri bersila mengatur pernafasan, sesuai ajaran Xue Lian.


Di dalam tubuhnya ada sebagian hawa sakti Fei Yang yang tidur.


Begitu di latih hawa sakti yang tidur itupun bangkit.


Bekerja untuk menghangatkan tubuh Sun Er yang kedinginan.


Merasa nyaman Sun er terus menerus melakukan latihan ilmu pernafasan itu, yang memberi efek nyaman segar dan rileks bagi tubuh nya.


Saat matahari terbit akhirnya selesai lah pondok bangunan untuk peristirahatan itu.


Fei Yang berdiri berkacak pinggang, memperhatikan bangunan hasil karya tangannya sendiri sambil tersenyum puas.


Beberapa saat kemudian, Fei Yang dengan hati hati memindahkan anak anak satu persatu kedalam Ting .

__ADS_1


Terakhir baru dia memindahkan istrinya untuk tidur di dalam bangunan baru itu.


__ADS_2