
Pria itu mendarat ringan di pinggir kolam, dia berdiri membelakangi kolam dengan tubuh polos tanpa Bu sana sedikitpun.
Rambutnya yang putih seperti benang perak berkibar kibar tertiup angin sebagian menutupi wajahnya yang tampan.
Meski wajahnya sangat tampan, tapi jelas terlihat guratan tekanan batin yang berat menghiasi wajahnya.
Sekilas dia melirik kearah rambutnya yang memutih, sambil tersenyum sedih dia bergumam,
"Bagus dengan seperti ini, kelihatannya aku lebih pantas untuk nya.."
"Aku harus bertanggung jawab, tidak boleh menjadi bajingan pengecut.."
"Apapun alasannya aku telah.."
"Aku pasti akan kembali kesini, setelah aku menemuinya untuk yang terakhir kalinya.."
"Xue Lian semoga kamu sudah kembali ke hutan bambu.."
"Aku sungguh sangat sangat ingin bertemu dengan mu untuk yang terakhir kalinya.."
"Aku ingin mengungkapkan semua perasaan ku padamu meski semua sudah terlambat.."
Gumam Fei Yang di dalam hati.
Benar pria itu adalah Fei Yang, setelah menghabiskan waktu 7 hari merenung di dasar kolam.
Akhirnya dia sudah mengambil keputusan bulat, dia tidak akan berlari dari tanggung jawab, kenyataan pahit, dan takdir kejam asmaranya.
Di mana jatuh di situ dia harus bangkit dan menghadapi semua kenyataan sepahit dan sesulit apapun itu.
Fei Yang mengeluarkan satu set pakaian sutra terbaik, pakaian baru hadiah kedua orang tua nya, saat dia naik tahta.
Hanya sekali dia mengenakan nya, yaitu saat pesta perayaan penobatannya saja.
Setelah itu pakaian ini selalu tersimpan rapi dalam cincinnya.
Tentu saja jubah kuning ukiran naga tidak Fei Yang bawa, karena dia sudah bukan raja lagi.
Jubah itu tidak boleh dia kenakan secara sembarangan, setelah dia mengundurkan diri dari Jabatannya.
Setelah mengenakan setelan pakaian terbaiknya, meski dari rambut dia terlihat tua.
Tapi penampilan yang lainnya membuat Fei Yang terlihat sempurna dan sangat tampan.
Dengan terbang ringan keudara, sambil bersiul nyaring.
Sesaat kemudian Kim Tiaw sudah datang menyambutnya, membawa Fei Yang terbang menuju daerah pegunungan Kun Lun, di mana Xu San berada di salah satu gunung di deretan pegunungan Kun Lun.
__ADS_1
Pegunungan Xu San yang indah sepi, di kelilingi oleh 4 puncak yang lebih rendah.
Di pagi hari masih di selimuti halimun dan hawa pegunungan yang sejuk menerpa wajah Fei Yang, membuat Fei Yang menyunggingkan sebuah senyum yang mirip orang menahan tangis.
Fei Yang jadi terkenang semua masa lalunya saat pertama kali datang ketempat ini.
Semua terlihat tidak berubah sama sekali, semua terlihat masih sama.
Yang berbeda kini diantara kelima gunung yang terlihat masih ada tanda-tanda kehidupan hanya gunung Xuan Wu, yang di tempati Yue Feng dan Ye Hong Yi.
Sisanya terlihat sepi dan lenggang sangat alami, hanya ada satwa dan flora yang tumbuh subur di ke 4 puncak gunung lainnya.
Fei Yang mendarat ringan diatas puncak gunung Xu San yang selalu di selimuti oleh awan yang berarak di bawah puncak gunung tersebut.
Fei Yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan puas, pondok kediaman gurunya dulu kini telah di bangun kembali.
Terlihat cukup terawat, begitu pula area makam leluhur, semua juga terawat tidak terlihat ada rumput liar.
"Kelihatannya Hong Yi dan Yue Feng telah merawat dengan sangat baik tempat penuh kenangan ini.."
gumam Fei Yang dalam hati.
Setelah memberikan penghormatan di makam leluhur dan makam gurunya di goa larangan.
Fei Yang berjalan santai memasuki kawasan hutan bambu.
Tempat pertama yang menjadi pilihan Fei Yang untuk di kunjungi adalah ke kolam pemandian berair jernih, yang menjadi tempat pertemuan pertama kali nya dengan Xue Lian.
Fei Yang menghampiri sebuah batu menonjol di tepi kolam.
Fei Yang duduk termenung seorang diri di sana bermandikan sinar sang Surya di pagi hari.
Satu persatu bayangan masa lalu, muncul terbayang di depan matanya, Fei Yang tersenyum bahagia.
Awan duka dan tekanan batin di wajahnya sesaat hilang sirna.
Tapi di saat dia terbayang Xue Lian yang tanpa Bu sana, dipertemuan pertama mereka.
Tiba-tiba muncul wajah Lao Lao yang sedang tersenyum sedih menatapnya.
Wajah Fei Yang pun kembali lagi ke semula, dia seolah olah tertarik kembali dari alam mimpinya.
Sambil tersenyum yang mirip meringis, Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Yang harus datang tetap harus di hadapi, percuma kamu termenung di sini.."
"Yang telah berlalu tidak mungkin datang kembali, yang sudah terlewat kamu harus merelakan nya.."
__ADS_1
Selesai berucap dan menghela nafas berat, Fei Yang bangkit dari duduknya, turun dari atas batu, melangkah ringan memasuki kawasan hutan bambu yang sejuk.
Beberapa waktu kemudian Fei Yang sudah tiba di halaman depan pondok yang pernah di buatnya.
"Tuan tampan telah pulang,..! tuan tampan telah pulang,..! Nona juga,..!"
teriak burung kakak tua putih sambil beterbangan di atas kepala Fei Yang.
Ucapan burung itu sesaat membuat Fei Yang berdiri tertegun mematung di depan pondok.
Di dalam pikiran, dia bertanya tanya "Benarkah Xue Lian telah kembali.? apa aku tidak sedang bermimpi."
Tiba-tiba pintu pondok terbuka dari dalam seorang gadis berbaju putih yang sangat cantik, berdiri mematung di sana.
Dia menatap kearah Fei Yang dengan tatapan mata tak berkedip, seolah olah bila berkedip, dia takut bayangan di hadapannya akan hilang pergi meninggalkannya.
Baskom kayu yang berisi lap dan air kotor jatuh terlepas dari pegangan tangannya, berserakan di atas lantai di depan pondok.
Mereka berdua yang berdiri mematung di sana, tidak tahu siapa yang memulai.
Tahu tahu sudah saling berpelukan erat di depan halaman pondok.
"Kakak Yang akhirnya kamu kembali juga,.. syukurlah.."
gumam gadis itu berlinang air mata.
Mendengar suara lembut gadis itu, Fei Yang perlahan-lahan melepaskan pelukannya dan berkata dengan wajah berusaha menahan kepedihan hatinya.
"Ya aku memang sengaja kembali untuk melihat mu untuk yang terakhir kalinya.."
"Sesuai janji kita dahulu.."
"Apa,..apa..maksud kakak Yang ?"
tanya Xue Lian sambil menatap Fei Yang dengan tatapan kaget.
Tiba-tiba dia baru sadar, Fei Yang rambutnya sekarang menjadi putih semua.
"Aihhh,...!"
jerit Xue Lian kaget, dia secara reflek membawa rambut Fei Yang untuk di lihat lebih dekat dan berkata,
"Ini,..ini kenapa rambut kakak ? kenapa bisa seperti ini..?"
Fei Yang kembali mengeluarkan senyum yang lebih mirip orang mau menangis, lalu berkata,
"Aku telah melakukan suatu kesalahan besar,.ini adalah bonus dari kesalahan tersebut.."
__ADS_1
"Adik Xue Lian, terus terang saja, aku sangat menyesal terlambat menyadari, ternyata aku sudah lama jatuh hati pada mu.."
"Tapi aku sungguh bodoh dan terlambat menyadari nya.."