
Melihat pimpinan kelima partai besar sudah tewas semua, para ketua aliran kecil, memilih menyerah dengan melepaskan senjata di tangan mereka, lalu bergerak memimpin bawahan mereka meninggalkan Xu San.
Sementara itu pertarungan Yang Sen dan Yang Ming yang berusaha menahan Ming Wang juga mencapai titik puncak.
Kedua orang itu mengerahkan segenap kemampuan mereka, membentuk sebuah bayangan Pat Kwa di kedua telapak tangan mereka.
Untuk menahan serangan bola matahari besar, yang di lepaskan oleh Ming Wang.
Saat benturan terjadi, gambar Pat Kwa di kedua tangan mereka mengalami retakan.
Perlahan lahan hancur, seluruh pakaian dan rambut mereka juga hancur.
Sehebat-hebatnya Yang Sen dan Yang Ming, mereka tetap bukan lawan Ming Wang.
Bila di hadapkan pada Xu Da, tentu mereka masih bisa mengalahkannya, tapi kini yang di hadapi adalah Ming Wang, tentu saja sangat jauh berbeda.
Yang Ming dan Yang Sen saling pandang, mereka berdua tersenyum dan mengangguk.
Lalu tubuh mereka berdua bergetar hebat, Yang Sen di selimuti cahaya merah sedangkan Yang Ming di selimuti cahaya biru.
Seluruh pakaian di tubuh mereka menggembung seperti balon yang di tiup.
Angin berpusat dengan kencang mengelilingi tubuh mereka berdua, membuat rambut mereka berkibar-kibar, sebagian menutupi wajah mereka.
Tapi mereka tidak menghiraukan nya, mereka terus mengempos seluruh semangat dan semua tenaga, hasil latihan mereka selama ini.
Mereka berdua masing-masing memainkan satu jurus rahasia dari kitab tanpa tanding yang mereka kuasai.
Mereka hanya berhasil menguasai satu jurus dari kitab tanpa tanding, itu pun mereka menguasainya seorang setengah.
Yang Sen menguasai bagian tenaga Yang sedangkan Yang Ming menguasai bagian tenaga Im.
Sebenarnya jurus ini akan sangat efektif bila berhasil menggabungkan dua energi itu, dan di lepaskan bersamaan.
Tapi berhubung baik Yang Sen maupun Yang Ming tidak ada yang sanggup menggabungkan kedua kekuatan itu.
Karena saat di gabungkan, mereka selalu merasa jantung mereka seperti mau meledak.
Jadi latihan pun mereka hentikan dan masing-masing melatih setengahnya saja.
Bila mereka berdua maju bekerja sama, setidaknya mereka bisa meniru 80% kekuatan jurus tersebut.
Ming Wang merasakan tenaga tekanannya, kini sedikit demi sedikit tertolak balik.
__ADS_1
Dia sangat terkejut dan buru-buru menaikkan level pengerahan tenaga sakti Iblis Neraka hingga level 7, di mana di belakang tubuhnya kini muncul sesosok menyeramkan yang di kenal sebagai Dewa api neraka.
Dengan teriakan keras menggetarkan area sekitar, Ming Wang memperkuat tenaga dorongan kearah bola matahari raksasa, yang dia kerahkan untuk menyerang Yang Sen dan Yang Ming.
Yang Ming dan Yang Sen kuda kuda mereka tergempur, kedua kaki mereka yang menopang di atas tanah terseret mundur beberapa meter ke belakang.
Wajah kedua orang itu mulai pucat tubuh mereka bergetar keras.
"Guru maaf,.. kami telah berusaha,..kami pergi duluan.."
"Sampai bertemu di kehidupan mendatang.."
ucap Yang Sen dan di balas anggukan setuju dari Yang Ming.
Lalu sambil berteriak nyaring, untuk menambah semangat juang, kedua orang itu sekuat tenaga mentalkan tekanan cahaya bola matahari Ming Wang, dengan bola cahaya biru dan merah.
Bola api Ming Wang berubah menjadi pusaran api , yang di tengahnya menyimpan sebuah pedang api.
Pedang api tersebut begitu muncul langsung bergerak cepat menembus kedua bola cahaya merah dan biru.
Setelah menembus bola cahaya merah biru, pedang api tersebut langsung menembus jantung Yang Sen dan Yang Ming.
Kedua orang itu tewas dalam posisi berdiri gagah, hanya kepala mereka yang terlihat terkulai kebawah.
Ming Wang langsung terbang mengejar kearah Fei Yang, yang telah menghilang sambil menggendong Yi Han Tao Se di punggungnya.
Ming Wang sebenarnya dari tadi ingin mengejar mereka, tapi langkahnya tertahan dengan kemunculan Yang Sen dan Yang Ming, yang menghadang langkahnya.
Maka nya dia langsung mengerahkan jurus jurus pamungkasnya, agar pertarungannya dengan Yang Sen dan Yang Ming bisa cepat selesai.
Lalu dia bisa mengejar Fei Yang dan Yi Han Tao Sebelum kehilangan jejak.
Sementara itu, Fei Yang yang terus berlari cepat menuju puncak Xu San, akhirnya tiba di depan gua larangan.
"Fei Yang di sebelah kanan pintu gua ada ukiran kepala naga, tekan kedua matanya,.. uhuk..uhuk..uhuk..!"
ucap Yi Han Tao Se, sambil terbatuk-batuk, dia berusaha menahan rasa nyeri di dada dan perut nya.
Fei Yang segera menuruti perkataan gurunya, sesaat kemudian pintu gua yang tertutup batu tebal mulai berderak hebat,
'Fei Yang di sebelah kiri ada ukiran kepala Burung Hong, sama seperti tadi tekan sepasang matanya kedalam.."
Fei Yang tanpa banyak pikir menuruti permintaan gurunya.
__ADS_1
Sekali ini setelah berderak hebat, pintu gua yang berat dan tebal akhirnya terbuka lebar,.Fei Yang langsung berlari masuk kedalam gua.
Pintu gua pun berderak hebat dan kembali menutup kembali begitu Fei Yang yang masih menggendong gurunya di punggung masuk kedalam gua.
"Fei Yang jangan sembarang melangkah, kamu lihat tonggak tonggak batu di depan sana, ikuti perintah guru dalam melangkah."
"Salah sedikit tonggak tonggak batu di sini semuanya akan runtuh kebawah, kita berdua akan ikut jatuh kedalam jurang tak berdasar.."
Fei Yang mengangguk cepat, kemudian dia mulai melangkah mengikuti petunjuk Yi Han Tao Se.
Saat mereka hampir tiba di seberang jurang, kira kira tinggal 50 tombak lagi jaraknya dari tepi jurang di sebelah depan.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dahsyat seperti gempa, dari arah dinding batu penutup gua.
"Jangan perdulikan hal itu Fei Yang, terus saja melangkah kedepan.."
"Pintu gua itu sangat tebal dan berat, bila di paksakan dengan cara kasar, roda penggerak akan rusak."
"Yang luar tidak akan pernah bisa masuk, yang dalam pun tidak akan pernah bisa keluar.."
"Lalu bagaimana kita bisa keluar dari sini guru..?"
tanya Fei Yang khawatir.
Yi Han Tao Se menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Bila roda penggerak rusak, kita juga tidak bisa keluar, kecuali kamu berhasil menguasai kitab tanpa tanding."
"Tentu pintu itu bukan halangan lagi bagi mu."
ucap Yi Han Tao Se pelan.
Sambil terus melangkah mengikuti petunjuk dari Yi Han Tao Se, akhirnya Fei Yang dan gurunya berhasil tiba di seberang sana.
Pintu gua masih terus bergetar hebat, terdengar bunyi
"boom..boomm.boomm..!"
Fei Yang sesekali menoleh kearah belakang, untuk memastikan pintu itu masih kokoh bertahan.
Yi Han Tao Se tersenyum maklum dengan kekhawatiran murid nya.
"Fei Yang, ikuti petunjuk dari guru, untuk membongkar formasi diagram kuno ditembok depan sana.."
__ADS_1
Setelah berucap Yi Han Tao Se mulai memberi petunjuk ke Fei Yang