
"Wow..wow,.. tenanglah..!"
"Kami datang bukan ingin ribut,.. tapi kalau kalian memaksa."
"Apalagi bersikap memberontak terhadap penguasa resmi seperti dia.."
ucap Vipasing sambil menunjuk Bai Xue Sethai.
"Kami tentu tidak akan membiarkannya,..!"
"Tapi resikonya kalian paham sendiri, kemungkinan terburuk perguruan kalian akan di musnahkan.."
ucap Vipasing sambil tersenyum santai.
"Pangeran Mongke majulah tangkap nenek itu,.."
"Tu Lung kamu bantu Pangeran, tangkap muridnya.."
ucap Vipasing, pria berhidung bengkok itu sambil tersenyum mengejek.
Pangeran Mongke mengangguk cepat, lalu dia melesat untuk pergi mengincar Bai Xue Sethai.
Sepasang cakar Mongke mengeluarkan cahaya kebiruan sedingin es, bergerak menyerang Bai Xue Sethai.
Sedangkan Tu Lung dengan langkah seperti gempa memutar mutar pedangnya diatas kepala.
Dia berlari menerjang kearah kumpulan murid murid Xue San yang sebagian besar adalah wanita.
Kim Hong dan kedua sucinya sudah bergerak pergi menyambut Tu Lung.
"Ye Sun langsung berteriak tahan semuanya..!"
teriakkan Ye Sun yang mengandung kekuatan Chi.
Membuat suaranya mengelegar seperti suara petir di siang bolong.
Sehingga kedua belah pihak sejenak berhenti bergerak.
Tapi hal itu hanya berlangsung sekejap saja, sekejap kemudian Mongke sudah kembali bergerak menyerang Bai Xue Sethai.
Bai Xue Sethai tentu juga tidak tinggal diam, dia langsung memutar pedangnya untuk menyambut serangan cakar Mongke yang datang.
Di tempat lain di bawah sana, Tu Lung kembali melanjutkan pergerakannya mengikuti Mongke.
Melihat hal ini Ye Sun langsung menoleh kearah Ye Pu Cin, mendapat anggukan dari Ye Pu Cin.
Ye Sun langsung bergerak menerjang kearah Tu Lung.
Ye Pu Cin sendiri, menoleh kearah kedua wakilnya dan berkata,
"Ye Ying, Ye Hong kalian bantu Bai Xue Sethai sana.."
Ye Ying dan Ye Hong mengangguk patuh, mereka langsung mencabut pedang masing masing.
Kemudian menerjang kearah Mongke dengan putaran pedang mereka.
Ye Sun yang tiba duluan menghadang di depan Tu Lung, langsung mendapat sambutan tebasan pedang raksasa Tu Lung.
Pedang Raksasa Tu Lung yang mengeluarkan angin menderu deru tanpa ampun langsung membacok kepala Ye Sun.
Tapi Ye Sun yang di juluki telapak kapas kaki geledek, tentu tidak mudah di robohkan oleh Tu Lung.
__ADS_1
Dia bisa menjadi wasit, Tentunya dia memilki ilmu yang tidak lemah.
Ye Sun menggunakan kedua telapak tangannya, menjepit Pedang raksasa' itu.
Sambil mengikuti ayunan pedang nya, Ye Sun membelokkan Pedang Raksasa' itu, membacok kearah lantai.
Crakkkk.."
Pedang Raksasa menghujam keras ke lantai.
Hingga pedang besarnya separuh menghujam masuk kedalam tanah.
Sebelum Tu Lung sempat menariknya keluar pedangnya, sebuah tendangan keras sudah datang menyapu kearah wajahnya.
"Dessss...!"
Tendangan itu tertahan oleh lengan Tu Lung yang diangkat keatas untuk melindungi wajahnya.
Sehingga kaki Ye Sun terpental kembali.
Tapi bukan Ye Sun namanya bila semudah itu di patahkan serangannya.
Kaki Ye Sun yang lain datang menyusul menghantam titik di bawah dagu tepat di tenggorokan Tu Lung.
Tu Lung merendahkan dagunya kebawah, untuk menahan serangan Ye Sun.
"Dessss..!"
"Tapppp,..!"
Tendangan itu di terima oleh Tu Lung yang memiliki leher sekeras baja.
Sebaliknya kaki Ye Sun malah tertangkap oleh Tu Lung.
Ye Sun menggunakan kedua tangannya menahan lantai, saat tubuhnya terbanting.
Lalu dia melenting dari naik keatas, bangkit berdiri bersiap menghadapi serangan lanjutan dari Tu Lung.
Baru saja Ye Sun berdiri tegak, Tu Lung sambil berteriak keras, sudah kembali datang dengan tebasan pedangnya, yang di arahkan ke pinggang Ye Sun.
Ye Sun menundukkan badannya kebawah, sehingga pedang lewat diatasnya.
Sambil menunduk Ye Sun menggunakan kakinya menyapu kaki Tu Lung.
Begitu tubuh Tu Lung terjengkang, Ye Sun menggunakan kedua tangannya menahan lantai sepasang kaki nya dengan keras menendang perut Tu Lung yang sedang dalam posisi melayang di udara.
"Bukkk..!"
Tanpa bisa di hindari, sekali ini Tu Lung terpental menghempas lantai yang keras.
Tapi Tu Lung memiliki tubuh kebal, dia seperti tidak merasakan apa-apa.
Begitu terbanting, dia menggulingkan badannya satu kali.
Lalu langsung bangkit berdiri,
"Hyaaaaaat...!"
Sambil berteriak keras mengayun ayunkan pedangnya di udara, Tu Lung kembali menerjang kearah Ye Sun.
Ye Sun menunggu sampai tebasan pedang raksasa Tu Lung mendekat.
__ADS_1
Dia baru bergerak menyamping sehingga tebasan pedang Tu Lung yang datang dari atas kebawah membacok tempat kosong.
"Crakkkk..!"
Lagi lagi lantai yang di hancurkan oleh pedang raksasa Tu Lung.
Ye Sun menggunakan kakinya menginjak kedua tangan Tu Lung, yang sedang memegang gagang pedang yang sedang menghadap ke bawah.
Kemudian Ye Sun menyarangkan tangan nya yang membentuk paruh burung bangau, menyengat lubang telinga Tu Lung.
Sekaligus kedua jarinya yang lain menusuk kearah mata Tu Lung.
"Arggggghhh...!"
Tu Lung menjerit kesakitan,. melepaskan pegangan tangannya dari pedang yang di genggamnya.
Dengan satu tangan menutupi telinganya yang terasa berdenging dan sangat sakit, hingga kepalanya terasa pusing dan berkunang-kunang.
Tangan yang lainnya, di gunakan oleh Tu Lung untuk menutupi kedua matanya yang terasa perih luar biasa.
Meski tidak sampai mengalami kebutaan karena tertolong oleh pelupuk matanya.
Tapi rasa perih itu membuat mata Tu Lung bercucuran air mata, menghalangi pandangannya.
Hingga kedua matanya, sulit untuk di buka
Ye Sun tidak menyia nyia kan situasi ini, dia langsung melesat maju mengejar kedepan.
Sepasang telapak tangannya menghantam kuat kearah tulang rusuk Tu Lung secara bergantian.
Sedangkan kedua kakinya secara bergantian menendang kearah kedua sisi tempurung lutut Tu Lung.
"Kreekkk,..! "Kreekkk,..!"
"Dessss,..! Dessss,..!"
Terdengar bunyi tulang patah di sekitar rusuk Tu Lung, dan dua tendangan yang dengan tempat mengenai sasaran nya.
Kini lengkaplah penderitaan Tu Lung, dia berteriak keras kesakitan.
"Arggggghhh..!"
Kedua kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya, dua jatuh bertekuk lutut, karena mengalami nyeri luar biasa, di sambungan lututnya.
Selain itu dia juga meringkuk seperti udang kering di atas tanah, karena tulang rusuknya yang patah, juga mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa, hingga sulit bernafas.
Seluruh tubuhnya yang terlindungi otot sekeras baja, tentu sulit di lukai.
Tapi Ye Sun yang berpengalaman, mengincar gendang telinga, mata, tulang rusuk dan sisi lutut.
Tentu bagian ini tidak kebal, sehingga Tu Lung langsung keok dan harus akui keunggulan Ye Sun.
Qi Lian Lao Koai melihat pihaknya, di kalahkan oleh pihak tuan rumah.
Dia langsung membentak marah,
'Di beri muka tidak mau, cari mampus..!"
Tubuh Qi Lian Lao Koai menghilang dari posisinya, langsung muncul di depan Ye Sun.
Dengan cakarnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan, dia ingin mencengkram dan mematahkan tulang leher Ye Sun.
__ADS_1
Pergerakan itu terlalu cepat bagi Ye Sun, Ye Sun hanya bisa terbelalak melihat cakar yang tahu tahu sudah datang mendekat.