PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTARUNGAN DI PUNCAK YU NI FENG


__ADS_3

Beberapa saat sebelum kehadiran rombongan penunggang kelelawar tiba di Yu Ni Feng.


Di dalam kamar Fei Yang dan istrinya.


Di sana terlihat Fei Yang sedang sarapan bersama Xue Lian, tiba tiba menghentikan gerakan sumpitnya di tengah jalan.


Menggantung di udara dan berkata,


"Istri ku perasaan ku tiba tiba tidak enak, apa terjadi sesuatu dengan anak anak..?"


"Mereka sudah pergi cukup lama, kenapa belum juga kembali dari menjemput bibi Fu dan paman Lai..?"


ucap Fei Yang pelan.


Xue Lian sambil tersenyum membantu menyumpitkan lauk yang ingin di ambil oleh Fei Yang.


Lalu dia taruh di mangkuk Fei Yang dan berkata,


"Tak perlu berpikir terlalu banyak, selesaikan sarapan mu, setelah itu kamu bisa pergi mengeceknya.."


"Di sini tinggalkan saja, nanti aku yang bereskan, aku hari ini merasa jauh lebih segar dan bersemangat.."


ucap Xue Lian santai.


Feu Yang menatap istrinya dan berkata,


"Tapi keadaan mu sekarang, aku benar benar tidak tenang pergi pergi, tanpa ada yang menjaga mu.."


Xue Lian tersenyum dan berkata,


"Udah kamu tenang saja, tidak akan ada apa apa, kamu kan cuma pergi sebentar saja."


Fei Yang mengangguk ragu, lalu dia buru buru menghabiskan makanan yang ada di dalam mangkuknya.


Setelah itu dia menatap Xue Lian dan berkata,


"Aku mau pergi melihat keadaan anak anak, tapi kamu sendirian di sini aku tidak tenang.."


"Lebih baik, kamu pindah ke pondok peristirahatan rahasia kita, di sana lebih aman ada Siau Huo.."


"Aku juga bisa lebih tenang.."


ucap Fei Yang sambil menatap kearah istrinya dengan lembut.


Xue Lian tersenyum dan mengangguk,


"Baiklah terserah kamu, aku ikut saja.."


Fei Yang terlihat menghitung dengan jarinya, lalu dia memegang pergelangan tangan istrinya, memeriksa detak nadinya sebentar.


Feu Yang meski bukan ahli hebat seperti Tabib Hua, tapi sedikit banyak dia pernah belajar ilmu pengobatan sewaktu di Xu San di bawah bimbingan Malini kakak seperguruannya.


Dia juga pernah dapat bimbingan dari tabib Hua mengenai ilmu akupuntur, jalan darah, syaraf, Meridian di tubuh manusia.


Jadi sedikit banyak ilmu pengobatan Fei Yang bahkan sudah lebih dari pengetahuan tabib tabib pada umumnya.


Setelah memeriksanya sejenak, dia berkata,


"Semua aman dan normal, masih 2 Minggu lagi baru jadwalnya."


Xue Lian tersenyum bahagia, menatap perhatian yang di tunjukkan oleh suaminya.


Diam diam dia sangat bersyukur bisa menjadi istri nya, suami seperti Fei Yang.


Bicara latar belakang sudah tidak usah di bahas, dia adalah pangeran bahkan pernah menjadi raja Xi Xia, meski kerajaan kecil.


Tapi itu tetaplah sebuah kerajaan.


Bicara ketampanan, Fei Yang adalah pria yang sangat sangat luar biasa tampan dan gagahnya.


Sedikit rambut yang memutih tetap saja tidak bisa menutupi ketampanan Fei Yang.


Gadis manapun yang berjumpa dengan nya, tidak akan ada, yang sanggup menahan diri untuk tidak tertarik dan mengaguminya.


Hal ini pulalah yang sempat memberi banyak masalah buat hubungan asmaranya dulu, dengan sederet gadis cantik pilihan.


Bicara kekayaan itu juga tak perlu di bahas, dengan harta Karun peninggalan Kaisar Qin Shi Huang, di dalam cincinnya.


Kekayaan Fei Yang bahkan melebihi kekayaan Kaisar kerajaan Song, ataupun kerajaan Yuan.


Bicara kesaktian saat ini mungkin hampir sulit ada yang mampu menandingi Fei Yang.


Tapi semua ini bukan lah yang utama bagi Xue Lian, yang utama adalah perhatian, kasih sayang, perasaan cinta yang besar tulus, kesabaran dan pengertiannya.


Ini semua yang utama membuatnya merasa sebagai wanita paling berbahagia sedunia, bisa hidup bersama suaminya ini.


Xue Lian sambil tersenyum bahagia, melingkarkan tangannya di belakang leher suaminya.


Membiarkan Fei Yang menggendongnya terbang menuju tempat peristirahatan rahasianya.


Saat tiba di pinggir hutan belantara di alam dimensi ciptaannya, Siau Huo terlihat berlompatan riang datang menyambut kedatangan sahabatnya.


Fei Yang tidak bisa menanggapinya langsung, karena sepasang tangannya sedang menggendong Xue Lian.


Baru saat dia tiba di depan pondok peristirahatan nya, menurunkan Xue Lian.


Fei Yang langsung berjongkok memeluk sahabatnya, membelainya dengan penuh kasih sayang.


"Siau Huo, aku ada urusan mau pergi dulu, kamu temani dan jaga baik istri ku ya..?"


ucap Fei Yang sambil ******* ***** lembut bulu halus di sekitar leher Siau Huo.

__ADS_1


Siau Huo menggereng kecil, menganggukkan kepalanya.


Saat Fei Yang melangkah pergi, Siau Huo terlihat berbaring santai di halaman depan pondok peristirahatan Fei Yang.


Sedangkan Xue Lian terlihat melambaikan tangannya kearah kepergian suaminya dan berteriak,


"Jaga diri Yang Ke ke..! cepat pergi, cepat kembali..!"


"Kami menunggu mu..!"


Fei yang membalas melambaikan tangan nya, sesaat kemudian Fei Yang sudah menghilang dari sana.


Setelah Fei Yang pergi, Xue Lian mengeluarkan makanan sisa sarapan nya tadi, yang sengaja dia bungkukkan buat Siau Huo.


"Siau Huo, kemarilah,..!"


"Ada makanan untuk mu..*


ucap Xue Lian sambil melambaikan tangannya kearah Siau Huo, memanggilnya mendekat.


Siau Huo dengan gembira, langsung berlari menghampiri Xue Lian lalu duduk setengah berbaring makan dengan lahap, ikan ikan yang menjadi kesukaannya.


Xue Lian lama hidup bersama peliharaannya Saga Sagi, jadi dia sudah paham betul, kurang lebih kegemaran peliharaan kucing raksasa ini.


Melihat Siau Huo makan dengan lahap, Xue Lian sambil tersenyum melangkah meninggalkan Siau Huo tidak mengganggunya.


Xue Lian langsung masuk kedalam pondoknya.


Sementara itu Fei Yang saat terbang keluar dari alam dimensi, dia justru mendengar suara tantangan dari Zee yang memenuhi seluruh wilayah Yu Ni Feng yang selalu tenang dan damai.


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Kelihatannya kehidupan tenang ku, kembali akan di uji.."


Setelah bergumam kecil Fei Yang langsung menghilang dari posisinya.


Saat muncul lagi, Fei Yang muncul dari arah timur, dia sengaja mengambil jalan memutar.


Agar lawan tidak mencium keberadaan tempat rahasianya.


"Tak perlu berteriak teriak pagi hari mengangetkan mahluk hidup di gunung ini .!"


"Aku ada di sini..!"


ucap Fei Yang sambil melayang turun dari langit.


Lalu mendarat ringan di hadapan ke 8 orang lawannya itu..


Melihat kedatangan Fei Yang, Thian Tu menyodorkan delapan butir pil berwarna jingga di dalam telapak tangannya dan berkata pelan.


"Telan ini seorang satu, ini akan meningkatkan kekuatan kita 5 kali lipat, tahan selama 5 jam.."


Ke 7 orang rekannya dengan gembira, buru buru mengkonsumsi nya, Thian Tu juga ikut konsumsi paling akhir.


Sesaat kemudian manfaatnya mulai terasa, bagian titik Guan Yuan terasa ada hawa panas yang besar, mengalir deras melewati titik Shi Men, lalu masuk berkumpul di titik Qi Hai.


Berputaran kuat di sana, mereka merasa kekuatan mereka mulai naik beberapa kali lipat.


Selanjutnya dari titik Thian Tu di bawah tenggorokan, di mana hawa dari luar mengalir masuk lewat tempat ini.


Semua mengalir dengan lancar menuju Ju Xue, berputaran di sana sana terkumpul menjadi Chi yang kuat baru di kirim ke bagian Sheng Xue.


Di sana di olah menjadi hawa Yang yang besar dan kuat baru mengalir berkumpul menuju Qi Hai.


Saat berkumpul energi dari atas dan bawah meledak lah kekuatan ke 8 orang itu.


Di setiap titik Meridian, yang ada di dalam tubuh mereka, kini di aliri Chi yang sangat kuat dari Qi Hai secara terus menerus tanpa henti.


Hal ini terlihat jelas dari tubuh ke 8 orang itu memancarkan aura cahaya keemasan mengelilingi seluruh tubuh mereka.


Terutama keempat orang pertama nya Tolui, sepasang mata mereka yang sudah mencorong tajam, kini terlihat semakin tajam


Fei Yang yang melihat perubahan yang terjadi pada lawan lawannya, diam diam dia sedikit mengeluh.


Xue Lian sedang tidak ada di sisinya dalam situasi seperti saat ini, dia malah tidak bisa memainkan ilmu berpasangan mereka.


Dua macam ilmu tertinggi miliknya, semua adalah ilmu berpasangan, baik dari kitab tanding, maupun ilmu ciptaan terakhir mereka Ilmu pedang berpasangan Lima elemen.


Semuanya memerlukan kerjasama berdua, tidak bisa di mainkan seorang diri.


Ini adalah sebuah kerugian besar padanya, tapi apa mau di kata, saat ini dia memang tidak ada pilihan lain.


Fei Yang sekali ini harus berjuang mati matian seorang diri.


Fei Yang pun tidak mau membuang waktu, seluruh tubuh nya juga mulai menyerap kekuatan alam semesta tanpa batas.


Bersiap melepaskan ilmu pedang tanpa nama, warisan Wu Ming Lau Jen padanya.


Telapak tangan Fei Yang muncul sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya panca warna.


Itu adalah pedang Mestika Panca warna yang diwarisinya dari Wu Ming Lau Jen.


Melihat kekuatan alami yang terpancar dari pedang tersebut.


Ke 8 lawan Fei Yang agak sedikit keder, meski kekuatan mereka saat ini sedang meningkat pesat.


Tanpa membuang waktu Lei Mo Ping Mo, Vipasing, Qi Lian Lao Koai.


Mereka berempat langsung terbang dari empat arah menyerang Fei Yang tanpa malu malu lagi.


Sedangkan rombongan kedua Kam Hong, Musashi, Zee dan Thian Tu mereka juga bergerak sebagai gelombang kedua datang dari 4 arah melakukan serangan susulan.

__ADS_1


Lei Mo dengan pukulan petir Iblis Asura datang dari sisi kanan.


Sepasang tangannya mengeluarkan dua bola sinar putih berkilauan, yang diselimuti Sambaran listrik di sekitarnya.


Dia datang dari arah depan, dengan cepat sudah berada di hadapan Fei Yang.


Di saat bersamaan Ping Mo juga datang dari arah belakang dengan pukulan Tapak Es Iblis Asura.


Di mana dia muncul dengan dua bola salju mendahului sepasang telapak tangan Ping Mo, menerjang kearah punggung Fei Yang.


Dari sisi kanan terlihat Qi Lian Lao Koai menyerang dengan ratusan bayangan cakar hijau menyerang seluruh titik penting di bagian tubuh Fei Yang sebelah kanan.


Sedangkan dari bagian kiri terlihat Vipasing datang dengan pusaran hitam yang berasal dari tongkat kepala ularnya.


Mendapat kepungan dari empat arah yang terbagi dalam dua gelombang serangan.


Fei Yang yang bisa merasakan kekuatan daya tekan musuhnya yang jauh berbeda ketimbang sebelumnya.


Dia langsung bergerak berputaran seperti gasing terbang ke angkasa.


Sehingga keempat serangan itu tidak menemui sasaran nya.


Dari atas dia baru melepaskan tebasan pedang alam semesta tanpa Wujud.


Di mana Fei Yang melepaskan 4 tebasan keempat arah datang nya Lei Mo Ping Mo Vipasing dan Qi Lian Lao Koai.


Keempat lawan Fei Yang yang menemukan Fei Yang menghindari serangan mereka dengan melesat keatas


Mereka segera membelokkan serangan mereka melesat keatas menyusul Fei Yang dari 4 arah.


Tapi saat mereka sedang meluncur keatas, tiba tiba mereka merasakan ada tebasan energi yang sangat tajam tanpa terlihat oleh mereka.


Sedang menerjang deras kearah mereka.


Hawa tajam itu seperti angin datangnya, bisa di rasa tapi tidak bisa di lihat dengan sepasang mata terbuka.


Mereka buru buru merubah serangan menjadi pertahanan.


Tapi hal ini percuma, meski kemampuan mereka sudah meningkat pesat, berhadapan dengan Ping Huo Ta Sia mereka tetap bukan apa apa.


Kekuatan Fei Yang masih terlalu jauh buat ukuran mereka sebagai pengawal bayaran lapis kedua Tolui.


Untuk merajai dunia persilatan secara umum, mereka bisa saja mengalahkan berbagai ketua partai.


Tapi untuk berhadapan dengan pendekar pendekar kelas dewa dan legenda seperti Ping Huo Ta Sia mereka masih bukan apa-apa.


"Singggg,..!" Singggg,..!"


"Singggg,..!" Singggg,..!"


"Crashhh..! Crashhh..!"


"Crashhh..! Crashhh..!"


"Arggghh...! Arggghh...!"


"Arggghh...! Arggghh...!"


Keempat orang itu menjerit kesakitan, sebelum tubuh mereka terpental keempat arah.


Hampir saja menabrak kearah serangan gelombang kedua yang datang dari Zee, Kam Hong Musashi, dan Thian Tu.


"Dasar tak berguna..!"


Umpat Zee sebelum membelokkan tubuh Ping Mo menabrak kearah lain.


"Booommm...!"


Tubuh Ping Mo menabrak tanah di bawa sana hingga amblas kebawah.


Tanah debu pasir berhamburan, Ping Mo di dalam lubang yang melesak kedalam, terlihat sedang bersusah payah berusaha bangun untuk duduk.


Setelah mencobanya berulang kali, akhirnya dia mampu untuk duduk bersila.


Tapi beberapa saat bersila, Ping Mo terlihat memuntahkan darah segar cukup banyak dari mulutnya.


Seluruh wajah Ping Mo terlihat pucat pasi, dia tidak mungkin sanggup melanjutkan pertandingan.


Selain itu juga ada sebuah luka memanjang dari perut hingga kedada, yang terbuka dan terus mengucurkan darah.


Fei Yang memang tidak mau berlaku tanggung tanggung karena dia tidak punya banyak waktu.


Musuh yang harus dia hadapi juga sangat banyak, jadi dia tidak mau bermain main dengan mereka.


Begitu serangan di lepaskan dia langsung menggunakan ilmu andalan nya.


Di sisi lainnya, Lei Mo juga mengalami nasib yang sama, tubuhnya yang terpental kearah Musashi, di sambut oleh cengkraman tangan Musashi yang besar lalu dia lontarkan kearah lain.


"Brakkkk..!"


Tanah debu pasir berhamburan, tubuh Lei Mo berguling guling diatas tanah, setelah berbenturan keras.


Lei Mo terkapar pingsan diatas tanah, sebuah luka memanjang dari perut hingga dada juga menghiasi tubuhnya.


Dari wajah Lei Mo yang pucat pasi, dari panca Indra Lei Mo terlihat mengalir darah segar.


Lei Mo mengalami luka luar dalam yang cukup parah.


Melihat kondisinya dia juga tidak akan bisa membantu banyak dalam menghadapi Fei Yang.


Di sisi lainnya Vipasing juga terpental kearah Kam Hong, oleh Kam Hong tubuh Vipasing ditepis dengan tenaga lembut nya di belokan kearah lain.

__ADS_1


Vipasing bisa mendarat dengan cukup baik, tidak seperti kedua rekannya yang lain.


__ADS_2