PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KABUT PUTIH DI HUTAN PINUS


__ADS_3

Biksu Wu Yuen adalah biksu senior Shaolin yang sudah lama mengasingkan diri.


Dia masih terhitung kakak seperguruan biksu Wu Neng, yang pernah merekomendasikan Fei Yang dan Hong Yi untuk berobat ke tabib dewa Hua Sin.


Sekali ini dia terpaksa tampil kedepan, karena dengan kematian biksu Kong Tek, di tubuh Shaolin sendiri sudah tidak ada orang, yang layak untuk maju mengurus permasalahan ini.


Dulu di puncak Xu San pihak Shaolin telah kehilangan Kong Ti dan Khong Sim Hwesio.


Terakhir ini Shaolin kembali harus kehilangan Kong Tek Hwesio, hal inilah yang membuat biksu Wu Yuen dan kedua saudaranya yang lain harus turun gunung.


Biksu Wu Yuen adalah yang paling senior, yang kedua adalah biksu Wu Tan, yang ketiga adalah Wu E, dan terakhir baru biksu Wu Neng yang suka berkelana.


Mereka berempat adalah 4 serangkai legenda hidup master beladiri Shaolin.


Setelah Wu Yuen berpendapat, kedua adik seperguruan nya hanya mengangguk-angguk saja tidak berbicara apapun.


"Kami pihak Wu Dang juga setuju dengan hal itu.."


ucap Ji Tay Giam ketua Wu Dang yang baru menggantikan posisi Zhang Cui San.


Setelah itu berturut turut ketua Khong Thong Pai Jian Kai, ketua Kun Lun Chang Qin, ketua Er Mei Lan Ruo Se Thai mereka semua menyatakan ikut menyatakan persetujuan mereka.


Kini hanya tersisa kelompok Kai Pang yang belum menyatakan sikap.


Siaw Hong maju memberi hormat dan berkata,


"Aku Siaw Hong sebenarnya sangat setuju dengan usulan pihak Cing Lung Pang.."


"Hanya saja di pihak kami, semuanya ada 6 orang, aku dan kelima tetua ku, kami semua harus ikut maju menuntut keadilan, atas kematian ketua kami yang tidak wajar."


ucap Siau Hong tegas.


Shi Ma Cing Lung yang cerdik, dia langsung berkata,


"Untuk saudara saudara Kai Pang, aku rasa kita harus buat perkecualian.."


"Menurut ku ini bukan masalah besar.."


"Aku rasa rekan rekan yang lain tidak mungkin keberatan bukan..?"


Dengan cerdik Shi Ma Cing Hu langsung mengambil keputusan tersebut, dia ingin mencegah terjadi perpecahan di kubu mereka sendiri, sebelum berhadapan dengan lawan.


Pikiran Shi Ma Cing Hu di maklumi oleh pihak lain, sehingga mereka semua sama sekali tidak ada yang berkeberatan.


Setelah rencana dibuat kelompok yang lebih besar menunggu diluar hutan Pinus.


Kelompok yang hanya terdiri dari puluhan orang mulai bergerak memasuki hutan Pinus, yang terlihat sepi dan lenggang.


Mereka rata-rata memiliki ilmu ringan tubuh tingkat tinggi, sehingga dalam sekejab mereka pun sudah mencapai bagian tengah hutan yang di penuhi kabut putih.


Su Ma Tao Se ketua Hoa San terlihat ragu untuk masuk lebih dalam.


Karena kabut di depan sana benar benar tebal dan menghalangi pandangan.

__ADS_1


"Teman teman kabut semakin tebal, kita harus lebih berhati-hati.."


ucap Su Ma Tao Se mengingatkan.


"Saudara Su Ma tahan dulu..!"


ucap Biksu Wu Yuen menahan langkah Su Ma Tao Se.


Su Ma Tao Se otomatis menghentikan langkahnya, menoleh kearah Biksu Wu Yuen menunggu penjelasan.


Biksu Wu Yuen melangkah maju kedepan, lalu mengibaskan kedua tangannya berulang ulang.


Angin kuat Langsung berhembus menyapu kabut asap yang berada di hadapan nya.


"Wusss,..!"


"Wusss,..!"


"Wusss,..!"


"Wusss,..!"


Dalam sekejab mata area di hadapan mereka yang tertutup kabut langsung menjadi bersih.


Mereka sempat melihat puluhan bayangan berpakaian putih menghilang dari tempat tersebut.


Mereka bisa menebak itu pastilah anggota aliran Mo Ciao yang di siapkan untuk menyambut mereka.


Begitu kabut sirna, Kini Biksu Wu Yuen lah yang melangkah di depan, Su Ma Tao Se mendampinginya di samping sebagai penunjuk arah.


"Cahaya Buddha Menerangi Dunia,.."


ucap Biksu Wu Yuen sambil menghentakkan kedua tangannya, di dorong kedepan.


Cahaya terang memancar dari kedua telapak tangan biksu Wu Yuen.


Cahaya keemasan yang terang,.di sertai angin lembut yang kuat menghapus dan mengubah jalan di hadapan mereka menjadi terang dan bersih bebas kabut.


"Teman teman,.. ayo kita bergerak cepat sebelum kabut alam ini kembali lagi.."


Ucap Su Ma Tao Se sambil melesat cepat memasuki jalan yang terbuka lebar.


Yang lain juga bergerak cepat menyusul di belakangnya.


Hanya sekejab mereka sudah hampir melewati daerah kabut asap itu.


Tapi sebelum mereka bisa melewati area tersebut dengan tuntas.


Langkah mereka terhenti oleh ribuan anak panah berkekuatan tinggi.


Semua anak panah itu bergerak cepat menuju kearah rombongan itu.


Saking cepat dan kencang nya panah panah itu dilepaskan, sampai sampai anak panah itu pada mengeluarkan suara berdesingan membelah udara.

__ADS_1


Rombongan itu di hujani anak panah dari segala penjuru.


Tapi rombongan kecil itu, mereka semuanya adalah tokoh tokoh dunia persilatan, yang memiliki ilmu tinggi.


Hujan anak panah itu tidak ada artinya buat mereka, mereka bisa menangkisnya dengan mudah.


Karena tertahan oleh hujan anak panah, kabut putih kembali datang mengepung mereka.


Sekali ini kabut putih nya semakin pekat dan tebal, hingga orang di sebelah kita sekalipun tidak bisa saling melihat.


"Tranggg,.!"


"Tranggg,.!"


"Tranggg,.!"


"Tranggg,.!"


Suara benturan senjata mulai terdengar, berasal dari posisi kelompok Wu Pang Si Kai.


Biksu Wu Yuen buru buru melepaskan kibasan tangan nya, yang menimbulkan serangkum angin kuat, membersihkan kabut asap di sekitar mereka.


Terutama di sekitar Wu Pang Sin Kai, lima tetua Kai Pang.


Begitu kabut sirna, terlihat 2 dari lima tetua lenyap dari.posisinya.


Selain sisa ketiga tetua Kai Pang yang dalam posisi penuh siaga, di sana tidak terlihat ada siapapun juga.


Kabut cuma sirna sebentar lalu kembali menutup lagi.


"Tranggg,.!"


"Tranggg,.!"


"Tranggg,.!"


kembali terdengar suara benturan senjata di tempat ketiga tetua Kai Pang tersisa.


Sekali ini terdengar suara raungan naga marah.


"Rooaaarrrrrrr,...!!"


Sinar naga emas berseliweran di dalam kabut asap, angin menderu deru yang di timbulkan oleh pergerakan Naga emas membuyarkan kabut asap.


Di lokasi ketiga tetua Kai Pang tidak terlihat lagi ketiga tetua Kai Pang, hanya terlihat pohon pohon bertumbangan, dan ada beberapa tetes darah di atas tanah.


Tidak ada yang tahu itu tetesan darah lawan atau tetesan darah ketiga tetua yang hilang.


Siau Hong berdecak kesal membanting kakinya keatas tanah membuah area sekitar itu bergetar hebat.


Lalu dia melepaskan raungan yang sangat kuat.


"Rooaaarrrrrrr,...!!!"

__ADS_1


Pohon pohon pada bertumbangan, beberapa bayangan berpakaian hijau ringkas, melesat menghilang kebalik rerimbunan pohon disekitar sana.


Kabut hanya terbuka sebentar lalu kembali mengurung seluruh tempat itu.


__ADS_2