
Kini di lokasi pertempuran tinggal Li Dan yang terbaring di atas tanah melepas lelah, sambil menghela nafas lega.
Di samping merasa lega, Li Dan juga merasa heran.
Bagaimana mungkin bisa muncul hewan buas, raja dari segala macam burung, datang hanya khusus untuk memberikan pertolongan padanya.
Mereka tidak punya hubungan apapun, mengapa rajawali sakti itu datang menolongnya.
Siapa sebenarnya pemilik rajawali itu, ? melihat ukurannya yang begitu besar.
Rajawali berbulu emas itu, pasti termasuk salah satu mahluk Legenda yang langka.
Semakin pikir Li Dan semakin pusing, akhirnya dia memutuskan untuk tidak memikirkan nya lagi.
Li Dan segera bangun, lalu berjalan terburu-buru menghampiri sisa pasukannya, yang hanya tinggal belasan orang saja.
Mereka terlihat berdiri bengong dengan wajah stress, dimana sekeliling mereka kini terlihat penuh dengan mayat mayat teman dan saudara mereka yang bergelimpangan, kehilangan nyawa.
Li Dan setelah berada di dekat mereka, dia juga menatap kearah mereka dengan prihatin dan berkata,
"Sejak kita bergabung dengan militer, kita juga tahu bakal ada hari seperti ini.."
"Mari bersemangat lah, mari kita kawal perdana menteri Li Cing, hingga tiba di kampung halamannya."
"Mari kita selesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab kita sebagai petugas militer.."
Belasan orang yang tersisa itu menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Siap jendral,.."
"Ayo kita susul rombongan kereta kuda..., "
ucap Li Dan.
Lalu dia melompat keatas punggung tunggangan nya, bergerak mengejar kearah depan, menyusul kearah kereta kuda Fei Yang yang telah tidak terlihat lagi di sana.
Sedangkan belasan prajurit itu, mereka menggunakan sisa kuda yang ada, mereka berboncengan satu kuda 3 orang, dan bergerak mengejar kearah yang di ambil oleh Li Dan.
Sementara itu Fei Yang terpaksa menghentikan kereta kuda, yang di kendarai nya, di luar hutan.
Menunggu kedatangan Li Dan dan sisa pasukannya.
Fei Yang tidak tahan terus di maki dan di kata katai sebagai pengecut, yang hanya bisa melarikan diri saat bertemu bahaya.
Tidak setia kawan dan lain sebagainya, rasanya tidak ada tersisa kata kata kotor, yang tidak di lontarkan oleh Li Sian Sian kepadanya sepanjang jalan.
Ada satu kata yang sangat menyakiti perasaan Fei Yang,. sehingga akhirnya dia pun menghentikan kereta kudanya, tanpa menghiraukan permintaan paman Li Cing.
Li Cing meminta Fei Yang jangan dengarkan ocehan cucunya, tetap fokus melarikan diri, agar pengorbanan Li Dan dan pasukannya tidak menjadi sia sia.
__ADS_1
Tapi karena Li Sian Sian terus melontarkan kata-kata, yang mempertanyakan dirinya masih termasuk lelaki kah.
Begitu pengecut dan hanya tahu melarikan diri.
Fei Yang akhirnya dengan kesal menghentikan kereta kudanya di luar hutan, menunggu kedatangan Li Dan.
Sebenarnya dari awal Fei Yang sudah secara diam diam mengirim pesan suara ribuan Li ke sahabatnya Rajawali Emas, agar pergi membantu Li Dan.
Jadi Fei Yang yakin Li Dan pasti tidak akan terjadi apa-apa, kini demi memuaskan keinginan Li Sian Sian.
Fei Yang pun menghentikan kereta kudanya, lalu mencari tempat duduk santai di bawah sebatang pohon besar.
Bersandaran di sana sambil memejamkan matanya, tidak memperdulikan cucu dan kakek yang sedang bertengkar hebat, saling beradu argumen.
Tidak terlihat ada tanda-tanda diantara mereka berdua yang bersedia mengalah.
Hingga saat terdengar derap langkah kaki kuda, yang datang mendekati tempat mereka berada.
Fei Yang baru membuka matanya kembali, untuk melihat siapa yang datang.
Melihat yang datang adalah rombongan Li Dan, yang terlihat compang camping pakaiannya.
Tidak bersemangat seperti pasukan kalah perang, tanpa bertanya sekalipun Fei Yang sudah tahu, apa hasil dari pertempuran berat sebelah itu.
Li Sian Sian sendiri langsung menghentikan pertengkaran dengan kakeknya, begitu dia melihat kedatangan Li Dan dan rombongan pasukannya, yang tersisa belasan orang saja.
Li Dan sendiri juga sangat kaget dan tidak menyangka melihat rombongan paman Li dan Sian Sian menantinya di luar hutan.
Dengan wajah merah padam, dia langsung memacu kudanya menghampiri tempat di mana Fei Yang sedang berbaring santai.
Tanpa memperdulikan Sian Sian yang memanggil dan sedang mengejar kearahnya.
Li Dan dengan sangat marah langsung menghampiri Fei Yang dan membentaknya.
"Hei Afei,..! apa yang sedang kamu lakukan di sini !?"
"Bukankah aku sudah menugaskan mu, membawa dan melindungi mereka melarikan diri sejauh mungkin..!?"
Fei Yang pura-pura terkejut dan bangkit berdiri dengan terburu-buru dan berkata,
"Maaf jendral, aku juga tidak mau begini, tapi kekasih mu itu."
"Dia terlalu mengkhawatirkan mu, Dia seperti istri yang takut kehilangan suami.."
"Dia terus memaki dan memaksa ku untuk berhenti menunggu mu.."
"Karena aku takut dia nanti, akan nekad melompat dari atas kereta bila tidak ku turuti.."
"Terpaksa deh, kita menunggu mu di sini.., daripada bila terjadi sesuatu dengan kekasih mu itu, nasib ku malah tambah runyam..'
__ADS_1
ucap Fei Yang berlagak bodoh sengaja menambahkan kalimat kekasih pacar dan istri.
Untuk membalas menyindir kedua orang itu.
Mendengar ucapan Fei Yang, wajah Li Dan menjadi merah padam.
Dia merasa tersindir dan di telanjangi oleh Fei Yang habis habisan.
Harus di akui, di dalam hati, dia juga sangat menyukai Sian Sian, dan ingin menjadi pendamping bagi Sian Sian.
Tapi dia juga tahu dengan jelas Sian Sian adalah tunangan teman baiknya, sekaligus saudara sepupunya.
Bila dia lakukan hal itu di saat saudara dan teman baiknya tidak ada, bukankah dia sedang melempar dirinya kedalam kubangan kehinaan.
Dia akan menjadi seorang pria yang tidak punya hati nurani dan tidak tahu Budi.
Selama ini memang hal inilah yang menjadi penghalang utama hubungan nya dan Sian Sian.
Sehingga dia selalu maju mundur, dalam posisi dilema yang serba salah.
"Jaga ucapan mu Afei, jangan bicara sembarangan dan kurang ajar..!"
"Atau aku benar-benar akan menghajar mu..!"
teriak Li Dan marah untuk menutupi rasa malu dan gugupnya.
Fei Yang pura-pura bingung dan berkata,
"Maaf jendral, Afei orang bodoh tidak pandai bicara, bila ada kata kata yang menyinggung, harap Jendral jangan tersinggung dan di ambil hati..."
"Sebaiknya jendral jelaskan pada Afei, di bagian mana ucapan Afei yang salah ?"
"Sehingga kelak Afeii tidak akan kembali mengulangi ucapan yang sama, dan kembali membuat jendral marah.."
ucap Afei pura-pura bloon.
Dengan mata melotot tanpa memperdulikan Sian Sian, yang sudah berdiri di belakangnya, dan sudah mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.
Li Dan pun berkata,
"Afei dengar baik baik,.. Sian Sian itu adalah tunangan saudara ku Li Fei Yang, putra mahkota raja Xi Xia sebelumnya yang hilang..!"
"Ucapan mu tadi, bukan hanya menghina aku, tapi kamu telah menghina saudara ku dan Sian Sian..!"
"Bila bukan mengingat kamu tidak tahu masalah, aku dari tadi sudah menghancurkan kepala mu itu..!"
"Mengerti kamu,..!?"
bentak Li Dan melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1
.