PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BERPISAH DENGAN KELUARGA


__ADS_3

Sambil menyalurkan energinya, tanpa menoleh, dia mana dia terlihat fokus dengan sepasang kaki Xue Lian.


Nan Thian berkata pelan,


"Senior Fei Hsia, Zi Zi ada di puncak Yu Ni Feng, harap senior bisa pergi melihat dan membantu menghiburnya.."


Selesai berkata, Nan Thian pun memejamkan sepasang matanya fokus dengan penyaluran energi kesepasang telapak kaki Xue Lian.


Fei Hsia sangat terkejut mendengar ucapan Nan Thian, dia menatap kearah Fei Yang dengan penuh teguran.


Fei Yang hanya bisa tersenyum pahit dan berkata,


"Adik Hsia, kamu pergilah lihat Zi Zi sebentar ."


Fei Hsia setelah menghela nafas, tanpa berkata-kata, dia pun langsung meninggalkan pondok kediaman Fei Yang.


Setelah Fei Hsia pergi, Fei Yang pun berkata pelan sambil menatap Nan Thian dengan tatapan mata kasihan dan merasa sangat tidak enak hati.


"Thian Er maafkan keputusan Paman ini.."


"Paman sungguh.."


ucapan Fei Yang terpotong oleh Nan Thian yang berkata,


"Thian Er mengerti kesulitan paman, paman tak perlu minta maaf.."


"Thian Er menghargai apapun keputusan Paman.."


"Thian Er akan ikuti keputusan Paman, paman tak perlu khawatir, Thian Er baik baik saja."


"Setelah bibi Xue Lian bisa berjalan kembali.."


"Thian Er akan segera pergi dari sini.."


ucap Nan Thian dengan sikap yang sama masih tetap menghormati Fei Yang.


Fei Yang tersenyum sedih menatap Nan Thian dengan tatapan mata semakin merasa bersalah dan menyesal.


Sesaat suasana tempat itu berubah hening.


Hingga Nan Thian menyudahi penyaluran energi nya, baru terdengar Nan Thian berkata,


"Aku merasakan sepasang kaki bibi sudah banyak perubahan dan jauh membaik.."


"Mungkin sebulan lagi, bibi sudah bisa berjalan sendiri dengan normal tanpa perlu bantuan lagi."


ucap Nan Thian sambil berusaha tersenyum meski hati dan perasaannya sedang hancur.


Dia berusaha bersikap senormal mungkin agar paman dan bibi nya ini tidak terlalu merasa bersalah atas keputusan mereka.


"Paman bibi Thian Er permisi dulu.."


ucap Nan Thian memberi hormat, lalu bergerak meninggalkan kamar tersebut.


"Thian Er..tunggu.."


panggil Xue Lian dengan suara pelan.


Nan Thian langsung menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya dengan kepala tertunduk dia berkata,

__ADS_1


"Ya bibi,..ada pesan apa ? Thian Er siap mendengarkan nya.."


"Thian Er terimalah dua salinan kitab ini, kitab pertama adalah cara membuat portal alam dimensi.."


"Kitab kedua ini merupakan bagian dari kitab tanpa tanding, kitab ini berisi cara meningkatkan ilmu meringankan tubuh yang terdiri dari 7 tahapan.."


"Kamu pelajarilah dengan baik, semoga kelak bermanfaat bagi mu.."


"Maaf bibi Thian Er tidak bisa menerimanya, ilmu ini adalah ilmu rahasia keluarga bibi.."


"Bibi terikat sumpah, Thian Er tidak boleh membuat bibi melanggar sumpah hingga mendatangkan petaka.."


"Sekali lagi maaf kan Thian Er bibi.. terimakasih atas niat baiknya, biar Thian Er terima dalam hati saja.."


ucap Thian Er sambil memberi hormat, lalu dia berjalan cepat meninggalkan kediaman pamannya.


Xue Lian menoleh kearah suaminya dengan tatapan mata sedih dan tak berdaya.


"Suami ku, Thian Er benar benar adalah anak yang sangat baik dan jarang ada.."


"Sebenarnya aku sangat berharap dia bisa menjaga Zi Zi untuk kita, sayang seribu sayang kita terpaksa harus melukai perasaan mereka, karena amanat itu..'


"Alangkah baiknya bila Li Sun bisa mengerti dan membatalkan sendiri perjodohan ini.."


ucap Xue Lian yang terlihat sedih.


Fei Yang menghela nafas panjang tanpa bisa berkata-kata.


Nan Thian sendiri setelah keluar dari kediaman Fei Yang,.dia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut.


Nan Thian kembali ke puncak Yu Ni Feng, untuk melihat keadaan Zi Zi.


Tapi saat Nan Thian tiba di tempat tinggalnya, di sana hanya ada ayah ibu dan kakaknya yang menyambut kedatangannya.


"Dia sudah di bawa pulang oleh gurunya.."


ucap Hong Yi pelan.


Nan Thian memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata,


"Begitu lebih baik.."


"Bertemu hanya mendatangkan emosi lebih baik tidak.."


setelah berkata, Nan Thian pun langsung masuk kedalam pondoknya.


Nan Thian mengurung dirinya di dalam kamar untuk menenangkan pikiran dan perasaan nya.


Di pagi hari ketiga, terlihat Kim Kim hadir di Yu Ni Feng, bersiap mengantar orang tua dan kakak Nan Thian kembali ke Xu San.


Sebelum berpisah di sana terlihat Nan Thian Ibunya ayahnya dan kakaknya.


Mereka berempat terlihat berkumpul di sana.


"Thian Er ingat kunjungi ayah ibu ya di Xu San.."


ucap Hong Yi dengan mata basah.


Nan Thian tersenyum dan mengangguk,

__ADS_1


"Pasti ibu.. setelah tugas ku di sini selesai, aku pasti akan mengunjungi Xu San."


"Adik aku tidak ada di Xu San, bila ingin menemui ku, aku ada di Ciang Nan, barak militer Zhu Yuan Zhang.."


"Ada waktu main kesana.."


"Wanita Ciang Nan cantik cantik jangan takut gak ada istri.."


ucap Yue Lin sengaja bercanda, untuk mengurangi sikap murung adik nya.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Pasti kak, setelah mengunjungi Xu San, aku pasti akan kunjungi tempat kakak.."


Yue Lin menepuk pundak adiknya yang kekar, lalu maju memeluknya dengan hangat dan berkata,


"Jaga diri, kakak menanti kedatangan mu.."


Nan Thian balas memeluk kakaknya dengan tidak kalah hangat, sambil menganggukkan kepalanya.


Sesaat kemudian mereka baru saling melepaskan pelukan hangat mereka.


Kini Yue Feng yang maju menatap putranya dengan lembut dan sabar.


"Thian Er jaga diri mu baik baik, ayah selalu mendukung dan menyayangi mu selalu.."


ucap Yue Feng, lalu memeluk Nan Thian erat erat.


Nan Thian pun balas memeluk ayahnya penuh haru.


Sesaat kemudian mereka berempat pun berangkulan bersama sebelum berpisah.


Saat keluarga Nan Thian naik keatas punggung Kim Kim bersiap berangkat.


Zi Zi tiba tiba muncul, dia langsung berlari menghampiri keluarga Nan Thian.


"Bibi Paman kakak Lin, maaf Zi Zi terlambat.."


"Jaga diri hati hati di jalan, kalau ada waktu Zi Zi pasti akan mengunjungi kalian.."


ucap Zi Zi dengan sepasang mata basah, terlihat berkaca kaca.


Hong Yi kembali turun dari punggung Kim Kim, dia langsung memeluk Zi Zi dengan erat.


Airmata terlihat bercucuran dari matanya, dia terus menciumi kepala kening dan pipi Zi Zi yang kini mulai ikut basah.


"Anak baik,..anak baik,.. bibi akan selalu merindukan mu.."


"Kamu juga harus jaga diri, jangan terlalu bersedih, percayalah Tuhan tidak akan menutup jalan mu, bila kamu percaya padanya.."


ucap Hong Yi sedih.


"Terimakasih bibi, Zi Zi akan selalu mengingatnya.."


ucap Zi Zi menahan Isak.


"Waktunya telah tiba, bibi jalan dulu,.. jangan lupa main ke Xu San.."


ucap Hong Yi sambil sekali lagi menciumi pipi Zi Zi dengan lembut.

__ADS_1


Sebelum kemudian sambil menutupi mulutnya menahan Isak tertahan, Hong Yi kembali duduk diatas punggung Kim Kim.


Begitu Kim Kim bergerak keudara, mereka hanya saling melepas perpisahan mengharukan itu dengan saling melambaikan tangan.


__ADS_2