
Perdana menteri Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Paman doa kan semoga kalian berdua bahagia.."
"Tapi paman tetap harus ingatkan kamu satu hal bahagia boleh, tapi waspada tidak boleh hilang.."
"Hubungan negara kita dan negara Song meski tidak meruncing seperti dengan negara Liao.."
"Tapi bagaimana pun kerajaan kita tetaplah adalah batu sandungan bagi negara Song, bila ingin berkuasa penuh atas seluruh daratan China.."
"Paman tidak tahu persis karakter putri Wei Wen, kamu lah yang tentunya lebih tahu.."
"Tapi kamu tidak boleh lupa Zhao Kuang Yi adalah orang seperti apa ?"
"Dia bahkan tega terhadap kakak kandungnya sendiri demi kekuasaan.."
"Demi melapangkan jalannya Jendral Yang Jendral Yue Jendral Guo semua bernasib seperti apa ? kamu tentu juga sudah tahu, tak perlu lagi paman menjelaskannya.."
"Semoga saja firasat orang tua ini keliru.."
ucap perdana menteri Li serius mengingatkan Fei Yang.
"Terimakasih banyak paman Li atas nasehatnya, Fei Yang akan mengingatnya."
"Paman Li maaf, Fei Yang masih ada satu hal yang masih bingung, mohon petunjuk dari paman Li.."
"Apa itu ? katakan saja tak perlu sungkan.."
"Paman mengapa Li Yung dia bisa ?'
tanya Fei Yang menatap Li Cing dengan penuh penasaran.
Perdana menteri Li termenung dan berkata,
"Ini semua adalah campur tangan nenek mu ibu suri Halima.."
"Dia yang meminta ku dan ayah mu mendukung keputusan nya itu.."
"Ayah ku mendukungnya karena bakti itu wajar, tapi paman mendukungnya kenapa ?"
tanya Fei Yang penasaran.
Perdana menteri Li tersenyum pahit, sambil termenung dia berkata,
"Ini semua karena hutang janji ku padanya, semua ini adalah kesalahan di masa muda.."
Fei Yang menatap dengan penuh penasaran tapi dia tidak berani banyak bertanya.
Perdana menteri Li mengerti sambil tersenyum sabar, dia berkata,
"Aku juga sudah tua tidak perlu takut di tertawai mu,.."
"Aku dan nenek mu Halima adalah sepasang kekasih yang tumbuh besar bersama.."
"Hingga suatu hari takdir memisahkan kami, karena Raja saat itu yaitu kakek mu tertarik padanya.."
"Aku sebagai pria yang punya tanggung jawab atas keselamatan seluruh keluarga ku juga keluarganya.."
__ADS_1
"Akhirnya harus melepaskannya pergi tanpa berdaya, untuk menolongnya dan menjaganya seperti sumpah ku padanya.."
"Untuk itu di hari perpisahan terakhir kami, aku yang merasa sangat bersalah padanya.."
"Aku mengucapkan janji yang mengikat ku seumur hidup.."
ucap perdana menteri Li sambil termenung mengenang masa lalu.
Setelah menghela nafas panjang dia kembali melanjutkan berkata,
"Aku berjanji padanya akan memenuhi 3 permintaannya kelak, apapun itu selama aku mampu aku pasti akan berusaha untuk memenuhinya."
"Dan sejauh ini aku sudah memenuhi dua dari 3 permintaannya, yang ini adalah yang ketiga.."
ucap perdana menteri Li tak berdaya.
"Paman Li apa permintaan pertama dan kedua dari nenek ku, apa aku boleh tahu.."
"Fei Yang masalah istana sangat rumit, tidak semua raja bisa sebijak dan setia seperti ayah mu."
"Nenek mu bisa ada di posisi saat ini, hidupnya dulu juga tidak mudah.."
"Aku akan katakan pada mu, tapi kamu jangan pernah menyalahkannya.."
"Keadaan lah yang membuat dia harus berbuat begitu..'
"Nenek mu semasa mudanya sebenarnya adalah seorang gadis yang sangat cerdas baik dan lemah lembut.."
"Istana dan situasi lah yang telah merubah segalanya.."
Fei Yang menganggukkan kepalanya.
Perdana menteri Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Permintaan pertama nya adalah agar aku ikut masuk ke istana dan berusaha meraih posisi perdana menteri.."
"Dan berkat bantuan nya dan kemampuan ku, aku akhirnya berhasil mencapai posisi itu.."
"Permintaan kedua nya adalah agar aku membantunya menyingkirkan semua saingannya, dan menghabisi semua keturunan dan saingannya.."
"Paman Li menurutinya ?'
tanya Fei Yang kaget dan sulit percaya.
Sambil tersenyum pahit, tanpa berani menatap kearah Fei Yang.
Perdana menteri Li mengangguk kecil.
Fei Yang terduduk lemas, membayangkan kesadisan angkatan lamanya demi kekuasaan menghalalkan segala cara.
Fei Yang justru semakin muak dan tawar hati nya terhadap kehidupan di istana.
"Nak Fei Yang kamu harus tahu satu hal, sejak kami melangkahkan kaki kami memasuki istana.."
"Semua takdir dan tujuan hidup kami telah berubah, bila kami tidak turun tangan, orang lain yang akan turun tangan pada kami.."
"Sama seperti orang dalam dunia persilatan terkadang ada hal yang tidak bisa kita hindari dan terpaksa harus kita lakukan meski kita tidak ingin..'
__ADS_1
ucap perdana menteri Li sambil tersenyum dan menepuk pundak Fei Yang menyemangatinya..
"Nak hari sudah malam, kamu sebaiknya pulang beristirahat, paman sudah tua bila tidak ada hal lainnya paman juga akan pergi istirahat.."
"Agar besok sidang pagi tidak telat menghadiri sidang istana.."
ucap Paman Li mengusir secara halus.
Fei Yang tentu mengerti, dia segera memberi hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak paman Li atas nasehat dan penjelasannya.."
"Selamat beristirahat, Fei Yang pamit permisi dulu.."
Perdana menteri Li mengangguk dan berkata,
"Silahkan nak Fei Yang, maaf paman tidak antar.."
Fei Yang mengangguk, memberi hormat sekali lagi, lalu mengundurkan diri dari sana.
Baru saja Fei Yang tiba di halaman depan hendak keluar dari kediaman perdana menteri Li.
Dari arah belakangnya terdengar suara lembut yang di kenalinya sebagai suara Sian Sian.
"Kakak tunggu,..!"
Fei Yang menghentikan langkahnya, dia menghampiri Sian Sian dan berkata,
"Adik Sian hari sudah malam, di luar sini sangat dingin mengapa kamu ada disini..?"
Fei Yang melepaskan jubah luarnya menyelimuti tubuh Sian Sian .
"Terimakasih kakak Yang.."
"Sian Sian tidak lama, Sian Sian cuma mau bilang hati hati di jalan..'
"Bila dia suatu hari tidak lagi menginginkan mu, kakak jangan.pernah bersedih.."
"Kembali lah, Sian Sian akan selalu menantikan kakak.."
ucap Sian Sian cepat, lalu tanpa menunggu jawaban Fei Yang.
Dia sudah berlari masuk kedalam meninggalkan Fei Yang, yang berdiri termenung seorang diri disana.
"Sian Sian mengapa kamu begitu bodoh dan keras kepala, buat apa seperti itu.."
ucap Fei Yang seorang diri, dia merasa sangat bersalah pada Sian Sian.
Sambil menghela nafas sedih, Fei Yang berjalan meninggalkan kediaman perdana menteri Li.
Sementara Sian Sian sendiri terus berlari masuk kedalam kamar nya, mengunci pintu.
Dia langsung menjatuhkan dirinya menelungkup di atas kasur menangis hingga tubuhnya gemetaran, sambil memeluk dan menciumi jubah yang di pinjamkan Fei Yang padanya barusan.
Sian Sian menangis semalaman seorang diri, hingga menjelang pagi karena kelelahan akhirnya dia tertidur sambil memeluk jubah Fei Yang.
Pagi itu di kamar neneknya terlihat Fei Yang datang mengunjungi neneknya secara pribadi.
__ADS_1