
Ye Hong Yi baru tiba di pos ketiga, dia sudah melihat tidak kurang dari 100 orang muridnya, sedang mengepung seorang gadis berbaju merah.
Meski murid muridnya sudah membentuk formasi pedang, berbaris rapi menyerang dengan kompak.
Tapi mereka tetap tidak bisa menyentuh gadis yang memilki langkah indah, bisa menghilang menyelinap kesana kemari.
Setiap gerakannya yang menulis huruf di udara, pasti akan membuat murid muridnya terlempar kesana kemari dalam keadaan tertotok jalan darahnya.
Hong Yi diam diam sangat kagum dengan kemampuan ilmu silat calon menantunya itu.
Sambil tersenyum lebar, Hong Yi langsung melayang ketengah arena.
Dan berteriak keras,
"Berhenti ..!"
"Mundur semua,...!"
Zi Zi otomatis menghentikan pergerakannya, begitu mendengar suara Hong Yi.
Murid murid Xu San tentu saja langsung mundur, tidak ada yang berani membantah perintah mundur dari Hong Yi.
Mereka semua mundur teratur sambil memberi hormat kearah Hong Yi dengan kepala tertunduk.
"Bibi...!"
teriak Zi Zi menatap kearah Hong Yi dengan tubuh gemetaran dan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
Sesaat kemudian dia langsung berlari menghampiri Hong Yi, lalu menjatuhkan diri berlutut, sambil memeluk dan mencium ujung kaki Hong Yi.
"Bibi maafkan Zi Zi,.. Zi Zi tidak sanggup memenuhi keinginan kakak tampan dan ayah.."
ucap Zi Zi sambil menahan isaknya.
"Zi Zi malah kemari membuat onar dan menganggu ketenangan bibi.."
ucap Zi Zi sambil menengadah menatap kearah Hong Yi dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
"Anak bodoh..ayo bangunlah.."
"Kebetulan kamu datang, bibi juga sudah sangat merindukan mu.."
"Jangan takut, ada bibi di sini..bibi yang akan menjaga dan mendukung apapun keinginan mu.."
ucap Hong Yi sambil membangunkan Zi Zi dan memeluknya dengan lembut.
Hong Yi yang hatinya tersentuh melihat keadaan Zi Zi yang sangat menyedihkan, tanpa terasa air mata nya pun ikutan meleleh.
Hong Yi dan Zi Zi saling berpelukan melepaskan perasaan kangen dan rindu mereka.
Sesaat kemudian setelah hatinya sudah lebih tenang, Hong Yi berkata,
"Ayo Zi Zi kita keatas, kita kembali kerumah.."
Zi Zi hanya bisa meresponnya dengan anggukan kecil.
Membiarkan Hong Yi menggandeng tangan nya, mengikuti langkah Hong Yi naik kepuncak Xuan Wu.
__ADS_1
Sambil melangkah, Hong Yi berkata,
"Kalian segera saling bantu bebaskan totokan jalan darah saudara kalian.."
"Setelah itu kalian semua, cepat kembali ketempat kalian masing masing.."
"Baik Semu..!"
jawab murid murid Xu San kompak.
Baru Hong Yi ingin melanjutkan langkahnya, Yue Feng seperti seekor burung besar, melayang turun dari udara.
Mendarat ringan di hadapan istrinya, sambil tersenyum lembut.
"Paman.."
Panggil Zi Zi sambil melangkah maju ingin berlutut di depan Yue Feng.
Tapi pergerakan nya tertahan oleh energi tak kasat mata yang di pancarkan oleh Yue Feng.
"Tak perlu Zi Zi, jangan banyak peradatan, kita adalah keluarga.."
"Ayo kita kembali dan ngobrol dengan santai di puncak sana ."
ucap Yue Feng cepat.
Zi Zi tidak jadi melanjutkan pergerakan nya, dua mengangguk pelan, mundur kembali menggandeng tangan Hong Yi.
Hong Yi menepuk lembut punggung tangan Zi Zi dan berkata,
Zi Zi mengangguk pelan sambil tersenyum manis.
Dengan gembira dia mengikuti Hong Yi dan Yue Feng, bergerak ringan menyusuri undakan tangga menuju puncak Xuan Wu, pusat perguruan Xu San, sekaligus merupakan tempat tinggal Hong Yi dan Yue Feng bersama murid murid mereka.
Dalam perjalanan menuju puncak Zi Zi yang sudah tidak bisa menahan sabar langsung berkata,
"Bibi benarkah kakak tampan belum juga kembali kemari..?"
Hong Yi tersenyum dan berkata,
"Kamu jangan khawatir, kamu tinggal dan tunggu dengan tenang saja di sini.."
"Bibi yakin, dia pasti akan segera kembali kemari.."
ucap Hong Yi sambil tersenyum lembut.
Zi Zi di ajak berkeliling melihat lihat Bangunan perguruan Xu San tempat tinggal para murid Xu San, yang terbagi dua asrama bagian putri dan asrama bagian putra yang di bangun di dua tempat terpisah.
Terakhir setelah melewati bangunan aula penerimaan tamu perguruan Xu San, dan ruangan berlatih.
Zi Zi di ajak menuju kediaman Hong Yi dan keluarga nya.
"Zi Zi ini dulu kamar Thian Er, Thian Er gak ada, jadi kamu saja yang menempatinya.."
ucap Hong Yi sambil membuka pintu kamar di hadapan nya.
"Kamu mau mandi dan berganti, di dalam sana ada kamar mandi.."
__ADS_1
"Nanti bibi akan suruh orang datang membantu mu, sekalian bawakan pakaian ganti untuk mu.."
"Bila sudah selesai, temui bibi di pondok peristirahatan di sebelah sana.."
"Nanti kita bisa ngobrol sambil makan..'
ucap Hong Yi sambil tersenyum lembut.
"Terimakasih banyak bibi.."
ucap Zi Zi sambil menatap Hong Yi dengan penuh haru.
Bersama ibu Nan Thian Zi Zi benar benar merasakan kehangatan dan kenyamanan, seperti saat bersama gurunya di pulau ikan.
Hong Yi sambil tersenyum berkata,
"Tidak perlu sungkan anak ku, buat dirimu senyaman mungkin, anggap saja di sini rumah mu sendiri.."
"Jangan berpikir terlalu banyak, disini adalah tempat paling cocok bila kamu ingin bertemu Thian Er."
"Ketimbang kamu berkeliaran mencarinya kesana kemari, kalian malah akan sulit bertemu.."
ucap Hong Yi sambil memegang tangan Zi Zi dengan lembut.
Zi Zi mengangguk pelan, menyetujui pendapat Hong Yi.
Hong Yi sambil tersenyum membelai kepala dan rambut Zi Zi dengan lembut dan berkata,
"Nah sekarang kamu beristirahatlah, bibi dan paman mu mau pergi bersiap siap sebentar.."
"Nanti kita bertemu lagi, di taman sana. "
ucap Hong Yi lalu dia mengajak suaminya mundur keluar dari kamar Zi Zi.
Zi Zi mengantar kedua orang tua Nan Thian sampai di depan pintu kamar.
Setelah mereka pergi, Zi Zi baru menutup pintu kamar, menguncinya, lalu dia dengan riang.
Melihat lihat dan memeriksa isi kamar Nan Thian dengan penuh penasaran.
Zi Zi menghampiri lemari memeriksa isinya, di sana dia menemukan pakaian masa kecil Nan Thian masih tersusun rapi di sana.
Di dalam lemari itu juga ada bagian yang khusus menyimpan barang barang mainan Nan Thian.
Melihat di sana ada sebuah kotak berbentuk indah, Zi Zi dengan penuh penasaran mengeluarkan kotak tersebut.
Membuka penutup kotak untuk melihat isinya.
Ternyata di dalam kotak itu, terisi ukiran kayu 12 binatang Shio..
Semuanya di ukir dengan sangat rapi dan halus, hingga hampir mirip dengan bentuk asli binatang binatang itu.
Zi Zi menatap dengan penuh kagum, melihat 12 mainan ukiran shio itu.
Zi Zi setelah melihat lihat, dia menyimpan nya kembali, kedalam kotak dengan sangat hati hati.
Lalu dia bawa ke meja belajar Nan Thian, yang terletak di dekat jendela yang menghadap kearah taman.
__ADS_1