PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BERITA DARI FEI YANG


__ADS_3

Fei Yang tidak memperdulikannya, dia kembali berkata,


"Bagaimana dengan teratai salju, mana yang lebih dulu ada, teratai salju atau perguruan mu ?"


Mendengar ucapan Fei Yang si muka merah sudah mencium gelagat tidak beres.


Tadi dia terlalu terburu nafsu, kini di dalam hati dia sedikit menyesal.


Si muka merah kini hanya bisa menatap Fei Yang dengan tatapan mata emosi.


Tapi dia tidak bisa menjawabnya.


Fei Yang sambil tertawa melanjutkan,


"Gunung bukan ciptaan mu,.teratai salju juga bukan hasil karya mu, bagaimana kamu bisa mengatakan semua itu adalah milik mu..?"


"Ini namanya aturan yang di buat seenak sendiri..jadi yang tidak masuk akal bukan saya.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum tenang.


Salah satu dari ke 7 orang yang bermuka sabar dan terlihat paling senior berkata,


"Gunung ini memang sudah ada sebelum kami.hadir di sini,. termasuk teratai salju juga sama.."


"Tapi anda harus tahu, gunung ini sejak ratusan tahun yang lalu, sudah ditemukan oleh pendiri perguruan kami, dan tempat ini sudah menjadi hak perguruan kami, sejak ratusan tahun yang lalu."


"Begitu pula dengan teratai salju.."


"Jadi meski bukan kami yang menciptakannya, tapi karena kami yang selama ini, paling pertama menemukan dan menjaganya.."


"Maka tempat ini beserta isinya, tentu sudah menjadi hak kami untuk menjaganya."


"Kami tidak bisa membiarkan orang luar datang dan pergi sesuka hati, apalagi bertujuan mengambil sesuatu dari tempat kami.."


"Anak muda ini adalah aturan tak tertulis, yang sudah ada dari ribuan tahun lalu.."


"Sebuah kerajaan terbentuk menguasai tanah dan rakyatnya, apa rakyat dan tanah dia yang ciptakan..?"


"Apa orang luar boleh sembarangan mengambil sesuatu dari kerajaan itu,.dan bebas keluar masuk di sana.."


"Anak muda silahkan tinggalkan tempat ini, kami tidak antar.."


ucap orang tua itu tenang.


Fei Yang mengangguk dan tersenyum, dalam hati dia harus akui kecerdikan dan ketenangan pimpinan ke 7 orang itu.


"Seperti yang kamu bilang tadi, bukan kamu penciptanya, tapi kamu yang pertama menemui dan menempatinya serta menjaganya."


"Sehingga tempat ini menjadi hak mu."


"Benar,..!?"

__ADS_1


ucap Fei Yang sambil tersenyum.


Pimpinan ke 7 pendeta itu menganggukkan kepalanya.


Fei Yang setelah mendapatkan anggukan kepala dari pendeta itu, dia kembali melanjutkan berkata,


"Itu berarti selama kalian bisa menjaga nya, maka gunung dan teratai salju adalah milik kalian.."


"Tapi bila kalian tidak lagi mampu menjaganya, maka puncak sana dan teratai salju siapapun boleh memilikinya."


"Bukan begitu ?'


"Kalau begitu aku akan mencoba merebut.nya dari kalian.."


ucap Fei Yang tenang.


Fei Yang mulai mengerahkan kekuatan tenaga saktinya, hingga level 5 bayangan energi pedang mulai berputar putar di sekitarnya.


Melihat Fei Yang sudah bersiap-siap ke 7 pendeta Tao juga tidak mau kalah.


Mereka sambil tetap duduk bersila, tubuh mereka berpindah tempat menempati formasi pedang bintang 7.


Di depan tubuh mereka masing-masing, muncul sebatang pedang, yang mengambang didepan dada..dengan ujung pedang yang runcing menghadap kearah Fei Yang.


Dengan memutar dua jari telunjuk di depan dada, lalu di dorongkan kedepan.


Pedang ke 7 orang itu serempak bergerak menyerang Fei Yang.


Ke 7 pendeta itu dari jarak jauh dengan kedua ujung jari, mereka terus memberikan tekanan.


Menambah kekuatan tambahan secara terus menerus, untuk mendesak pedang mereka menembus pertahanan Fei Yang.


Fei Yang sendiri sambil tersenyum tenang, kini mendorongkan ribuan bayangan energi pedang di sekitarnya, melesat kedepan menghantam ke tujuh pedang itu hingga terpental.


Lalu terus bergerak menyambar ke arah ke 7 orang itu.


Ke 7 orang itu menggabungkan kekuatan mereka, membuat perisai pelindung berwarna putih, untuk menahan serangan Fei Yang.


Tapi energi pedang yang datang begitu deras, akhirnya perisai mereka pecah tidak kuat menahan serangan Fei Yang.


Ke 7 orang itu langsung melompat ke 7 arah berbeda, menghindari serangan energi pedang yang berhasil menembus pertahanan mereka.


Terjadi ledakan keras di posisi tempat mereka bertujuh duduk tadi, hingga terlihat tujuh lobang cukup dalam, saat debu dan batu berterbangan hilang tertiup angin.


Ke 7 orang itu bergerak berputar-putar di sekitar Fei Yang sambil terus melancarkan serangan pedang terbang mereka mengepung dan mengelilingi Fei Yang.


Fei Yang bergerak menghindar kesana kemari, dengan ilmu ringan tubuhnya, sambil memperhatikan pola gerak ke 7 pedang itu.


Setelah menemukan titik lemahnya, Fei Yang membentangkan kedua tangannya kesamping kiri dan kanan.


Membiarkan ke 7 pedang itu mendekat, setelah dekat Fei Yang baru menggencet nya dari kiri dan kanan.

__ADS_1


Dengan memutar mutar kedua telapak tangan nya seperti orang sedang buat ronde besar.


Tahu tahu ke 7 pedang yang tertahan berubah menjadi bola besi, di mana seluruh batang pedang salin menjalin seperti bola takraw.


Dengan satu hentakan seluruh badan pedang pecah berantakan, berterbangan kesegala arah menyerang ke 7 orang pendeta itu.


Ke 7 orang itu terpaksa membuang diri mereka masing-masing, menjauhi arena pertempuran.


Fei Yang tidak melakukan pengejaran, dia hanya menjura memberi hormat kearah ke 7 orang itu dan berkata,


"Terimakasih senior ber 7 telah sudi mengalah kepada saya.."


"Kau keparat,..! aku akan adu nyawa dengan mu..!"


teriak si muka merah marah.


Lalu dia melesat kearah Fei Yang dengan sepasang tapak terbuka, yang mengeluarkan bayangan Pat Kwa di depan telapak tangannya.


Fei Yang sambil tersenyum mengejek sudah bersiap menyambut serangan manusia berangasan itu.


Tapi sebelum serangannya sampai, tubuhnya tertahan di udara.


Lalu tersentak kembali ketempat asalnya,.hingga tubuhnya terhuyung huyung kebelakang hampir jatuh terduduk.


Adalah kakek berambut alis dan jenggot putih, yang menggerakkan tangannya menahan dan menarik tubuh si muka merah mundur kebelakang.


Kakek itu dengan sepasang mata masih terpejam berkata,


"Yang Xing kendalikan kemarahan mu, kalau saja kamu memiliki setengah kesabaran kakak mu Yang Su.."


"Aku tentu akan jauh lebih tenang,"


"Yang Su murid ku, sebenarnya kemana kamu selama ini.."


"Guru sungguh merindukanmu.."


gumam orang tua berambut putih itu sedih.


Ketika dia membuka matanya, Fei Yang sedikit kaget dengan sinar mata biru kakek itu, yang Terlihat begitu teduh bagaikan lautan yang sangat tenang.


Fei Yang memberi hormat kearah kakek itu dan berkata,


"Maaf senior, junior 11 tahun yang lalu pernah berjumpa sekali dengan paman Yang di Puncak Xu San."


Kakek berambut putih itu menatap Fei Yang dengan heran dan berkata,


"Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan nya..?"


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Dia telah gugur dalam rangka membela Xu San, lebih tepatnya, dia gugur ditangan Xu Da wakil ketua Hei Mo San."

__ADS_1


__ADS_2