
Melihat kesedihan Li Dan, Lan Yi memegang kedua tangan kekasihnya dan berkata,
"Jangan terlalu bersedih dan
di pikirkan.'
"Setidaknya kamu masih ada ibu, itu masih jauh lebih baik dari aku, yang hanya punya kamu seorang.."
Li Dan menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu benar sayang, yang berlalu biarlah berlalu, ...terimakasih, ya sayang.."
Lan Yi tersenyum lembut, dan berkata,
"Ayo kita temui ibu mu.."
Li Dan mengangguk, lalu dia menggandeng tangan Lan Yi melanjutkan langkah mereka yang tertunda.
Saat tiba di hadapan Ibu Li Dan, Lan Yi langsung mengikuti Li Dan berlutut di hadapan Ibu Li Dan dengan kepala tertunduk.
Jantung Lan Yi berdebar keras, saat di hadapkan dengan calon ibu mertuanya itu.
Lan Yi sangat takut Ibu Li Dan akan menolak dirinya masuk ke keluarga ini, bila mengetahui masa lalunya yang kelam.
"Ananda datang memberi hormat pada ibu, semoga ibu sehat selalu.."
ucap Li Dan penuh hormat.
"Berdirilah Anak ku, tak perlu banyak peradatan, di sini tidak ada orang luar.."
"Nona muda, kamu juga berdirilah.."
"Siapa nona muda disebelah mu ini anak ku..?"
tanya ibu Li Dan sambil memperhatikan Lan Yi dengan seksama.
Li Dan dan Lan Yi pun bangkit berdiri.
Lan Yi tidak berani bersuara, dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dalam di hadapan ibunya Li Dan.
Li Dan menatap kearah ibunya dan berkata,
"Ibu dia adalah pilihan hati ku, kami saling mencintai, mohon doa dan restu dari ibu."
Ibu Li Dan sedikit kaget dengan keputusan putra tunggalnya yang mendadak ini.
Tapi sebagai ibu yang melahirkan Li Dan, dia tahu dengan jelas sifat anaknya.
Sekali dia sudah memutuskan, tidak akan ada orang yang bisa merubah keputusannya.
Tidak orang tuanya, bahkan kaisar atau Thian Wang Lau Ce pun, tidak akan sanggup memaksa dia, untuk merubah keputusanya ini.
"Nona siapa nama mu,? angkatlah kepala mu, biar ibu melihat nya."
Lan Yi dengan ragu ragu mengagkat kepalanya menatap kearah ibu Li Dan, dan berkata dengan suara pelan.
"Nama hamba Pai Lan Yi, nyonya Li.."
__ADS_1
"Cantik sungguh sungguh cantik, nama dan penampilan sama sama sempurna, pantas putra ku yang keras kepala ini, bisa menyukai mu.."
"Nak Lan Yi, harus mulai merubah panggilan mu, panggillah aku Ibu sama seperti Dan er.."
"Ohh ya kamu tinggal di mana,? siapa orang tua mu?"
Lan Yi terlihat ragu dan agak takut ingin menjawab, tapi pegangan tangan Li Dan yang hangat dan tatapan matanya yang lembut.
Berhasil menenangkan perasaan Lan Yi yang gugup.
Lan Yi mencoba memberanikan diri menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku sejak kecil sudah sebatang kara,.. ibu."
"Guru ku Malini lah yang membesarkan ku, aku dulu tinggal di Xu San bersama guru ku.."
"Setelah Xu San di hancurkan Hei Mo San dan guru ku meninggal dalam peristiwa berdarah tersebut, aku pun,.."
"Lan Yi adalah keponakan murid dari Putra Mahkota Li Fei Yang, Lan Yi kemari mengikuti Li Fei Yang ibu.."
ucap Li Dan memotong ucapan kekasihnya.
Dia tidak ingin ibunya tahu masa lalu Lan Yi, cukup dia dan Fei Yang saja yang tahu, itu sudah lebih dari cukup.
Li Dan sukses mengalihkan perhatian ibunya dari Lan Yi, begitu dia menyebutkan nama Fei Yang sebagai tameng.
Lan Yi sendiri menatap wajah kekasihnya dengan penuh terimakasih.
"Fei Yang masih hidup ? di mana dia sekarang ? ba,..ba.. bagaimana dengan keadaan ayah mu ? apa Fei Yang ada bilang sesuatu tidak ?"
tanya Ibu Li Dan panik.
"Ibu tenang lah dulu, jaga kesehatan ibu, Fei Yang memang masih hidup..."
"Dia baik baik saja, bahkan dia kini sangat sakti dan hebat..berkat bantuan dan kerjasama dengan nya lah, kami berhasil merebut kembali istana dari tangan Li Yuan Hao dan kaki tangannya.."
"Kini Li Yuan Hao dan putranya Li Yung sudah tertangkap, dan di tahan oleh paman Li Yuan Ming.
"Sore ini rombongan Paman Li Yuan Ming, akan tiba di kota raja Yin Chuan.."
ucap Li Dan menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan kabar ayah mu ?"
ucap ibu Li Dan dengan suara bergetar.
Li Dan langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara sedih,
"Maaf ibu,..ananda membawa kabar duka, Ayah telah gugur 12 tahun yang lalu, bersama seluruh pengawal nya."
"Yang selamat hanya adik Fei Yang seorang.."
Ibu Li Dan langsung terhuyung-huyung kebelakang, untung di belakangnya ada Melani adik tiri Li Dan yang dari tadi hanya diam.
Tapi sepasang matanya tidak berhenti menatap kearah Lan Yi dengan di penuhi rasa iri.
Melihat ibunya terhuyung-huyung kebelakang, Melani cepat menyambutnya.
__ADS_1
Begitu di sambut oleh Melani, ibu Li Dan langsung terkulai lemas tidak sadarkan diri.
Lan Yi bergerak cepat memeriksa keadaan calon ibu mertuanya itu, sebagai murid kesayangan Malini, dia juga mewarisi kemampuan ilmu pengobatan seperti gurunya Malini.
Lan Yi dengan sigap memberi tusuk jarum, untuk melindungi jantung, kemudian dia mencoba menyadarkan Ibu Li Dan dengan tusuk jarum di wajah dan dahi.
Tidak butuh waktu lama, Ibu Li Dan pun sadar.
Dia tersenyum sedih menatap Lan Yi dan berkata,
"Terimakasih mantu ku yang baik, maaf ibu telah merepotkan mu.."
"Jangan berkata seperti itu ibu, itu sudah kewajiban ku bu.."
ucap Lan Yi sambil memeriksa nadi ibu Li Dan untuk memastikan kondisi kesehatan nya.
"Bagaimana sayang,..?"
tanya Li Dan dari samping dengan cemas.
Lan Yi menoleh kearah Li Dan dan berkata,
"Ibu tidak apa-apa, jangan khawatir.."
"Ibu hanya terlalu banyak beban pikiran, kelelahan dan ada sedikit penyakit paru dan sesak nafas yang sudah lama dan menahun.."
"Aku akan pergi beli beberapa macam obat dan memasaknya buat ibu, bila di minum secara teratur, ibu pasti akan pulih kembali seperti sedia kala.."
"Sayang urusan menyambut Raja ratu dan ibu suri, sebaiknya aku tidak ikut, kamu saja yang pergi kesana.."
"Biar aku di sini menjaga dan merawat ibu.."
ucap Lan Yi sambil menatap Li Dan penuh permohonan.
Li Dan mengangguk dan berkata,
"Begitu juga baik, tapi obat ibu kamu tak perlu repot pergi beli sendiri."
"Kamu cukup tulis resepnya, kasih saja ke bibi Ciu, nanti bibi Ciu bisa mengurusnya.."
Lan Yi mengangguk dan berkata,
"Kalau begitu saya akan tulis resepnya sekarang, agar bibi Ciu bisa segera pergi beli obatnya.."
"Pelayan...!!"
teriak Li Dan.
Seorang gadis muda buru buru datang dan berkata,
"Ya tuan,.. ada pesan apa tuan ?"
"Cepat kamu siapkan alat tulis bawa kemari, sekalian panggil bibi Ciu kemari.."
ucap Li Dan tegas.
"Baik tuan.."
__ADS_1
jawab pelayan itu cepat, kemudian buru-buru tinggalkan tempat tersebut.