
Fei Yang tentu tidak pernah mengenal dan mendengar nama ini.
Bila Khong Sim masih hidup, dan di konfirmasikan, tentu beliau akan sangat kaget.
Karena Biksu Wu Neng adalah salah seorang legenda master ilmu silat Shaolin, yang sangat luas dan dalam tak terukur kehebatannya.
Hanya saja dia memiliki tabiat seperti seekor Naga Sakti, saat terlihat kepalanya, ekornya tidak kelihatan.
Ataupun sebaliknya, saat terlihat ekor, kepalanya malah tidak terlihat.
Ini adalah kiasan, bahwa biksu ini sangat sulit di lacak keberadaannya, karena lebih suka mengembara ketimbang diam di kuil.
Fei Yang yang tidak mengenali nama biksu ini, dia hanya mengangguk kecil, lalu berkata,
"Sebenarnya Su Hu ingin kemana ? kenapa bisa sampai bentrok dengan keempat orang Hei Mo Pang ini ?"
Biksu Wu Neng menghela nafas panjang dan berkata,
"Ini karena aku terlalu suka mencampuri urusan orang lain."
"Tiga hari yang lalu secara kebetulan, aku bertemu dengan Tabib Dewa Hua Sin, dan cucunya yang sedang melarikan diri dari kejaran Hung Chi dan Hei Chi."
"Karena tidak tega dan merasa kasihan, aku pun turun tangan menolong mereka."
"Dari sinilah awal mula aku bentrok dengan pentolan kelompok Hei Mo Pang ini."
ucap Biksu Wu Neng menjelaskan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa mereka mengejar dan ingin menangkap tabib Dewa ?"
tanya Fei Yang ingin tahu.
Biksu Wu Neng diam sejenak kemudian berkata,
"Mereka hanya menjalankan tugas dari Xuan Ming dan Xuan Hei kedua atasan senior mereka.."
"Menurut Tabib Dewa Hua Sin, Xuan Ming dan Xuan Hei tersesat akibat latihan ilmu Iblis Neraka secara terburu-buru.."
"Selain tidak punya keyakinan, Tabib Dewa Hua Sin, juga tidak ingin membantu kedua manusia sadis dan tidak bermoral itu.."
"Makanya dia memilih melarikan diri, ketimbang membantu mengobati kedua orang itu.."
ucap Biksu Wu Neng memberikan penjelasan.
Fei Yang sepasang matanya bersinar sinar gembira, penuh harapan setelah mendengar cerita biksu Wu Neng soal Tabib Dewa.
Tentu saja Fei Yang berharap tabib Dewa, yang merupakan keturunan Tabib Hua To, bisa membantunya mengobati mata Hong Yi.
Biksu Wu Neng yang berpengalaman bisa menangkap keinginan Fei Yang.
Dia sambil tersenyum berkata,
__ADS_1
"Nak Fei Yang,.. kakak mu matanya sedang bermasalah, kurasa Tabib Dewa mungkin punya solusi mengobatinya.."
"Bagaimana bila kalian berdua ikut bersama ku, pergi temui tabib Dewa...?"
Fei Yang dan Hong Yi dengan kompak menjura kearah biksu Wu Neng dan berkata,
"Terimakasih banyak Su Hu Wu Neng.. Budi besar anda ini tidak tahu sampai kapan,? kami berdua baru bisa membalasnya.."
Biksu Wu Neng tersenyum ramah dan mengulapkan tangannya sambil berkata,
"Budi apa, ? ini semua adalah karena jodoh saja.."
"Bila bicara Budi, pertolongan anda yang menyelamatkan nyawa tua ku ini, itu baru Budi..besar tak terhingga..'
Fei Yang tersenyum canggung, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ayo lewat sini, aku akan mengantar kalian berdua pergi menemui Tabib Dewa Hua Sin..."
ucap Biksu Wu Neng sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
Mereka terus berjalan menuju arah selatan, di pimpin oleh Biksu Wu Neng sebagai penunjuk jalan.
Biksu Wu Neng membawa mereka menuju sebuah lembah subur, yang di penuhi tanaman bunga liar berwarna warni.
Tidak jauh dari lembah tersebut, di tepi sebuah sungai kecil, berdiri sebuah pondok sederhana di sana.
Dari cerobong di atap rumah bagian belakang terus mengepulkan asap, mereka bertiga yakin saat ini, tuan rumahnya pasti sedang sibuk memasak untuk makan siang .
"Saudara Sin anda sedang sibuk apa ?"
tegur Biksu Wu Neng begitu melihat Hua Sin terlihat sedang sibuk sendiri di dapur.
"Ehh Su Hu, kamu telah tiba, kamu datang bersama siapa ?"
tanya Hua Sin santai, sambil terus bekerja membesarkan nyala api di bawah tungku.
"Saudara Sin kamu tidak tahu, bila bukan karena bantuan kedua pemuda pemudi ini, saat ini aku mungkin tak bisa ngobrol seperti saat ini dengan mu.."
Mendengar ucapan Biksu Wu Neng, Tabib Dewa Hua Sin, sangat terkejut.
Hingga saat itu juga, dia langsung menghentikan pekerjaannya, Lalu membalikkan badan menatap Biksu Wu Neng, dengan tatapan tak percaya.
"Bagaimana bisa Su Hu,? dengan kesaktian yang kamu miliki, mustahil keempat orang itu sanggup melawan mu.."
tanya Tabib Dewa Hua Sin, yang terlihat sulit percaya.
Biksu Wu Neng tersenyum dan berkata,
"Kamu terlalu percaya dengan kemampuan ku, dalam pertempuran, tidak melulu bila punya kesaktian pasti menang."
"Terkadang siasat dan kejelian, memanfaatkan kelemahan lawan, bisa membalikkan keadaan.."
__ADS_1
Hua Sin mengangguk dan berkata,
"Su Hu kalah bukan karena tidak mengerti siasat, bukan juga tidak jeli."
"Su Hu kalah karena terlalu welas asih, tidak tega turun tangan berat pada musuh musuh mu,.. benar .?"
ucap Hua Sin, lalu kembali meneruskan memotong dan mencuci sayuran.
Biksu Wu Neng tertawa dan berkata,
"Apapun alasannya, aku tetaplah seorang jendral kalah perang, bila bukan karena mereka aku pasti sudah tewas.."
"Saudara Sin,.. nona muda ini penglihatannya terganggu, karena di celakai orang dengan racun.."
"Maukah kamu meluangkan waktu sebentar, untuk memeriksa luka di matanya ini..?'
"Boleh saja, hanya saja cucu ku dan aku sudah kelaparan, aku perlu segera masak, selesai masak dan makan, aku baru akan memeriksa nya.."
"Jadi harap sabar ya,..."
ucap Hua Sin sambil memasukkan minyak kedalam penggorengan.
"Ku lihat nona ini, mungkin sudah 6 sampai 7 tahun mengalami luka ini,"
"Jadi tidak ada salahnya untuk menunggu beberapa saat lagi.."
"Luka seperti itu perlu penanganan teliti, yang memerlukan waktu tidak sedikit.."
ucap Hua Sin sambil memasak.
Fei Yang cukup terkejut dengan kemampuan Hua Sin, hanya melihat sekilas sambil memasak, tabib itu sudah mengetahui berapa lama mata Hong Yi terluka.
Diam diam Fei Yang sangat gembira dan menyimpan harapan besar, tabib ini mampu mengobati mata Hong Yi.
Hong Yi juga terlihat tersenyum gembira, penuh harap sambil menoleh kearah Fei Yang.
"Kakak Yi kamu tenang saja, aku pasti akan membantu mu, membujuknya mengobati mu secepatnya.."
bisik Fei Yang pelan.
Lalu dia berjalan menghampiri tabib Hua Sin yang terlihat sibuk.
"Tabib Hua, bagaimana bila saya membantu mu menyiapkan makan siang, tabib hua membantu ku melihat keadaan mata kakak ku..?"
Tabib Hua tanpa menoleh berkata,
"Kamu bisa masak,? jangan sampai nanti malah mengacaukan makan siang ku.."
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Aku akan masak satu menu sederhana, nanti tabib Hua cicip saja, bila tidak sesuai selera aku akan mundur.."
__ADS_1
"Bagaimana..?"