PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PING TANG HU LU


__ADS_3

Untuk menuju Hua San, Nan Thian mau tidak mau harus melewati kota di kaki gunung Qing Hai.


Tapi karena kejadian tempo hari, Nan Thian malas melewati daerah tersebut, dia mengambil jalan memutari kota itu.


Kemudian melanjutkan perjalanan mengambil arah timur menuju kota Chang An.


Nan Thian belum pernah pergi ke kota itu, dia hanya mendengar dari cerita orang.


Bila ingin ke gunung Hua San, dia harus melewati kota Chang An.


Untuk menuju ke Chang An, Nan Thian perlu melewati puluhan kota, kota terdekat dari posisinya kini adalah menuju kota Lan Zhou.


Nan Thian berjalan santai memasuki kota Lan Zhou yang kini sudah berada di bawah dinasti Yuan Mongolia.


Seluruh wilayah yang tadinya di kuasai oleh Song utara, yang kemudian di ambil oleh Jin atau Kim, kini sudah beralih ke tangan bangsa Mongolia.


Di bawah kaisar Kubilai Khan yang agung.


Sehingga di setiap sudut tembok kota terlihat berkibar bendera kerajaan Yuan.


Di pintu gerbang masuk kota juga di jaga ketat oleh pasukan kerajaan Yuan.


Semua orang yang hendak memasuki kota tersebut di periksa dengan ketat oleh pasukan penjaga gerbang kota.


Terutama yang berasal dari golongan pendekar dunia persilatan, mereka semua di tahan dan di interogasi di pos jaga.


Untuk kalangan pendekar dunia persilatan, mereka harus antri di barisan berbeda dengan barisan antrian rakyat biasa.


Golongan pendekar dunia persilatan terlihat berbeda karena mereka rata-rata membawa senjata tajam atau senjata berat di tangan.


Senjata tajam adalah pedang golok belati, sedangkan senjata berat adalah Toya, tombak, garuh, dan berbagai senjata panjang lainnya.


Pakaian mereka juga berbeda, terlihat lebih ringkas dan indah.


Nan Thian yang kebetulan tidak memilki senjata, dia baru berencana setelah memasuki kota Lan Zhou.


Nanti dia baru mau pergi mencari tukang besi, untuk menempa sebatang pedang, untuk melindungi diri.


Kini dia jadi berpikir dua kali, untuk itu.


Karena membawa senjata memasuki kota, ternyata mengalami pemeriksaan yang begitu ketat dan ribet.


"Sudah aku bilang kak, buat apa beli senjata..?"


"Kakak lihat sendiri kan, yang bawa senjata jadi ribet, tidak tahu mau antri sampai kapan, baru boleh masuk kota.."


"Untung kakak tidak punya senjata.."


ucap Kim Kim sambil tersenyum.


Nan Thian menjawab dalam hati,


"Ya kamu benar Kim Semei, tapi aku biasa menggunakan pedang.."


"Bila bertemu lawan berat, tanpa pedang, aku juga repot.."


ucap Nan Thian serba salah.

__ADS_1


Kim Kim sambil tertawa santai berkata,


"Bila kakak ingin pedang, itu sangat mudah.."


"Kakak tinggal pikirkan saja, ingin pedang berbentuk apa.."


"Nanti saya yang berubah menjadi pedang sesuai keinginan kakak, kan beres.."


"Ehh kamu bisa itu ?"


tanya Nan Thian kaget.


"Ya bisalah,.. bagi kami ras naga apa sih yang gak bisa..?"


"Kakak mau lihat bukti sekarang..?"


tanya Kim Kim menantang


"Ehh jangan sekarang, nanti kita bisa pindah antrian."


"Nanti saja, bila sudah di dalam kota, ok..?"


ucap Nan Thian sedikit bersemangat.


"Beres..bukan masalah.."


jawab Kim Kim lucu.


Nan Thian terus bergerak mengikuti antrian rakyat biasa yang lebih cepat.


Sehingga tidak butuh waktu lama, Nan Thian sudah bisa masuk kedalam kota Lan Zhou.


Semua ini mempermudah Nan Tarang melewati pos pemeriksaan penjaga gerbang.


Nan Thian yang baru pertama kali, melihat suasana kota besar yang begitu ramai.


Dia benar-benar kagum di buatnya, sepanjang jalan dia tidak berhenti melihat dan mengagumi keindahan kota tersebut.


Kim Kim juga ikut gembira, dia bisa ikut melihat melalui penglihatan Nan Thian, tanpa perlu dia sendiri harus keluar dari tubuh Nan Thian.


Nan Thian berhenti sejenak melihat kearah penjual Ping Tang Hu Lu di pinggir jalan.


Dia tanpa sengaja, kembali teringat pada Siau Semei nya, yang biasanya paling suka dengan permen itu.


Biasanya Siau Semei pasti akan menarik tangannya, merengek manja minta di belikan permen itu.


"Anak muda Ping Tang Hu Lu nya masih segar, baru bikin.."


"Mau coba satu, atau bisa beli buat pacar, istri, anak kalau ada.."


ucap penjual itu mencoba mempromosikan barang dagangannya.


"Kakak belilah satu aku mau..!"


teriak Kim Kim penuh semangat.


Suara penjual Ping Tang Hu Lu, dan Kim Kim membuyarkan lamunan kosong Nan Thian.

__ADS_1


Dia di tarik kembali ke dunia nyata, di mana kini dia hanya seorang diri, Siau Semei nya kini hanya tinggal kenangan.


Kenangan yang belum mampu dia lupakan.


Sambil tersenyum sedih, Nan Thian menatap penjual itu dan berkata,


"Berikan dua pada ku.."


"Ini uangnya.."


ucap Nan Thian sambil memberikan beberapa keping uang receh tembaga ke penjual tersebut.


Penjual itu dengan gembira segera memberikan dua buah Ping Tang Hu Lu kepada Nan Thian.


Kim Kim di dalam sana juga menyambut dengan penuh antusias dan tersenyum ceria.


Semua orang akan menyangka, Nan Thian lah yang sedang makan Ping Tang Hu Lu dengan penuh semangat


Hingga main telan tanpa di kunyah, padahal pada kenyataannya, begitu Ping Tang Hu Lu masuk kedalam mulut.


Permen itu langsung hilang di telan oleh Kim Kim, yang berwujud Naga Mas kecil.


Kim Kim siap menanti di dalam rongga mulut Nan Thian, begitu Ping Tang Hu Lu masuk kedalam mulut.


Kim Kim lah yang langsung menghabiskannya.


"Mmmphhh,..enak kak makanan ini enak sekali, aku sangat menyukainya.."


"Kak belilah sepuluh lagi.."


rengek Kim Kim yang merasa kurang puas.


Nan Thian hanya menggelengkan kepalanya menanggapi sikap Kim Kim tapi dia tidak menolaknya.


Nan Thian melambaikan tangannya kearah si penjual Ping Tang Hu Lu.


Memberi kode dia butuh 10 lagi.


Dengan penuh antusias dan wajah sumringah, si penjual itu segera menyiapkan nya, lalu dia antarkan ke Nan Thian.


Saking semangatnya, si penjual tidak melihat ada seorang pengemis yang duduk di atas lantai, dengan kaki di selonjor kan kedepan.


Sehingga Penjual permen itu tersandung oleh kaki pengemis tersebut.


Si penjual permen yang sedang terburu-buru itu, langsung kehilangan keseimbangan.


Dia hampir saja jatuh nyungsep keatas tanah, dan kehilangan 10 batang permen di tangannya.


Bila tubuhnya tidak di sambut oleh Nan Thian, yang bergerak sigap menyangganya.


Baru saja Nan Thian berhasil membantu si penjual itu berdiri dengan benar.


Dari arah belakang penjual itu sudah terdengar suara bentakan.


"Hei bajingan,..! jalan hati hati pakai mata mu..!"


"Jangan asal nendang."

__ADS_1


"Kamu pikir mentang mentang kami pengemis, lalu boleh kamu tendang tendang sesuka hati..!?"


tegur pengemis itu dengan wajah menyeramkan, sambil berjalan menghampiri Nan Thian dan si penjual permen.


__ADS_2