
"Maaf kakak Pai,.. tolong jelaskan pada adik apa yang dimaksud dengan masa depan tidak pasti.."
Tanya Ye Hong Yi mulai menunjukkan kekesalan yang di tahan tahan.
Nan Thian semakin dingin hatinya, dia hanya bisa tertunduk dengan wajah lesu.
Tapi Xue Xue malah memperat pegangan tangannya dan berbisik,
"Apapun putusan mereka, tidak akan merubah perasaan di antara kita..."
Mendengar ucapan kekasihnya Nan Thian mengangguk pelan dan tersenyum pahit.
Pai Wang melirik kearah Yue Feng sejenak, mendapati sahabatnya sedang menunduk.
Akhirnya Pai Wang kembali menatap Ye Hong Yi dan berkata,
"Adik ipar, masa depan tidak pasti adalah kita tidak pernah tahu, dengan berjalannya waktu, mereka semakin dewasa.."
"Semakin banyak kenalan yang mungkin lebih baik dan lebih tepat menurut mereka masing masing..'
"Ikatan perjodohan yang terbukti buru ini akan menyulitkan dan mengekang mereka untuk bisa memilih.."
"Begitulah maksud ku adik ipar.."
"Mohon pengertiannya.."
Ye Hong Yi menjengek dingin dan berkata,
"Apa kakak Pai Yakin saat usia mereka matang lalu menikah, apa setelah itu masa depan jadi pasti.."
"Bahkan kakak Pai sendiri apa yakin masa depan kakak Pai, dan kakak ipar sudah pasti ?"
"Apa kakak Pai yakin Qing Hai Pai punya masa depan pasti ?"
"Mengapa aku malah melihat dari awal hingga akhir, semua hanya karena putra ku sedang tidak sehat.."
"Lalu apa kakak Pai pernah berpikir kenapa dia bisa jadi seperti ini, bahkan kejadiannya di tempat mu pula.."
"Bila putra ku tidak mengalami musibah di tempat mu, akankah kamu akan begitu banyak omong kosong..?"
ucap Ye Hong Yi mulai sengit.
Melihat hal itu, Yue Feng mengangkat wajahnya yang muram, dia menyentuh bahu istrinya dan berkata,
"Istri ku jaga emosi mu, tenangkan hati mu.."
"Masalah ini sebaiknya tidak usah di perpanjang mari kita pulang saja ."
ucap Yue Feng berusaha menangkan istrinya.
Lalu dia memberi hormat kearah Pai Wang dan semuanya, lalu berkata,
"Maafkan istri ku, hatinya sedang gundah,..mohon jangan di masukkan kehati ucapan nya tadi.."
"Sekali lagi maaf, "
ucap Yue Feng sambil menjura menghadap kesemuanya.
Ye Hong Yi semakin marah, melihat sikap suaminya, yang tidak membelanya.
Dia langsung mendengus kesal sambil bangkit berdiri, dia menendang apapun di hadapannya hingga pecah berantakan.
__ADS_1
"Brakkkk,..!"
Brakkkk,..!"
"Putra ku ayo kita pulang ke Xu San,..! ibu muak melihat manusia munafik begini..!"
ucap Ye Hong Yi emosi.
Pai Wang memilih diam tidak berkata apa-apa, dia juga sangat merasa bersalah dan tidak enak.
Hanya saja demi masa depan, dia tidak mungkin memilih seorang pemuda cacat menjadi menantunya.
Bagaimana bila kelak dia mau pensiun, mau di titipkan ke siapa Qing Hai Pai, bila menantunya seorang cacat.
Padahal dia hanya punya seorang putri saja, bila ada anak lainnya,.
Mungkin tidak akan terlalu jadi masalah.
Nan Thian melangkah pelan menghampiri ibunya, dan berkata,
"Ibu,..Ibu tenanglah, jangan seperti ini.."
"Jangan salah paham dengan maksud baik guru.."
"Guru tidaklah bermaksud seperti itu, semua masih bisa di rundingkan.."
"Guru hanya belum siap melepas Xue Xue, yang masih terlalu muda.."
"Thian Er juga masih muda, tunggu beberapa tahun juga bukanlah masalah besar.."
"Lebih baik ibu tenang, mari Thian Er temani ke kamar.."
Di dalam hati dia memuji sikap putranya yang sangat dewasa dan mengerti urusan.
Hong Yi tetaplah Hing Yi dia pada dasarnya sejak gadis pun, sudah seperti ini.
Sangat emosional dan keras kepala, terutama bila sedang emosi.
Siapapun akan sulit mengaturnya, setelah menikah dan punya anak dia memang sedikit berubah.
Tapi saat ini dalam keadaan seperti ini, di mana putera nya di tindas orang.
Tentu saja dia tidak bisa terima, setelah putranya berusaha ikut membujuknya.
Dia bukannya semakin reda, dia malah semakin panas, semakin tersulut emosinya.
"Putra ku, ibu tanya sekali lagi, kamu mau ikut dengan ibu pulang ? atau tetap memilih menunggu disini.?"
"Menunggu hingga orang menendang mu keluar dari sini, seperti seekor anjing tak berguna..!?"
"Bila kamu tidak mau ikut pulang sekarang, selamanya jangan pernah pulang lagi..!"
"Juga jangan panggil aku ibu lagi, anggap saja, ibu sia sia mengandung dan melahirkan mu..!"
"Ibu....."
ucap Nan Thian yang terlihat sangat tertekan dan sedih.
Sebentar dia menoleh kearah gurunya, ibu gurunya, juga ketiga tetua mereka semua hanya bisa menunduk dan menghela nafas sedih tidak berani ikut campur.
Saat Nan Thian menoleh kearah Xue Xue, dia melihat gadis itu sedang menutupi mulutnya, berusaha menahan suara tangisannya.
__ADS_1
Tapi dari sepasang matanya yang basah, dengan airmata bercucuran, jelas dia sedang bersedih karena masalah ini.
Nan Thian tiba tiba teringat dengan kebaikan gadis itu yang selalu menjaganya dengan setia.
Selalu mendukung dan memberinya semangat, selalu ada untuknya selama beberapa waktu ini.
Di mana dia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Nan Thian menjadi berat dan tidak tega berpisah dengan cara seperti dengan gadis tersebut.
Nan Thian menoleh kearah Yue Feng ayahnya, tapi Yue Feng hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda dia juga tidak berdaya.
Yue Feng hanya bisa memberi nya kode, agar menuruti kemauan ibunya saja.
Sambil menghela nafas kecewa, Nan Thian berlutut di depan kedua orang tuanya.
Memberi hormat dengan membenturkan kepalanya di atas lantai tiga kali dan berkata,
"Ibu ayah maafkan Thian Er putra kalian yang tidak berbakti.."
"Thian Er sudah putuskan, satu hari berguru, seumur hidup dia adalah orang tua Thian Er.."
"Apapun ceritanya, kecuali guru tidak menghendaki Thian Er di sini lagi.."
"Bila tidak Thian Er selamanya tidak akan pernah meninggalkan Qing Hai Pai.."
ucap Nan Thian sambil menatap kedua orang tua nya dengan tegas.
"Kau...!"
"Nan Thian,.. benarkah kamu tidak menghendaki ibumu lagi..!?"
tanya Ye Hong Yi sedikit pucat, sambil menunjuk wajah putranya dengan jari telunjuk gemetaran..
airmata mulai mengalir dari sepasang matanya yang indah.
Nan Thian menatap ibunya dengan tegas dan berkata,
"Bukan Nan Thian yang tidak menghendaki Ibu, tapi ibulah yang tidak menghendaki Nan Thian lagi.."
"Thian Er selamanya tetap adalah putra ibu dan ayah, itu adalah kenyataan yang tidak bisa di rubah ."
ucap Nan Thian tegas juga sedih.
Yue Feng maju membelai kepala istrinya dengan lembut dan berbisik pelan.
"Sudahlah istri ku, Thian Er sudah besar, biarkan dia memilih jalan hidupnya."
"Kita tidak perlu memaksanya lagi.."
"Jangan memperumit keadaan, ayo kita pulang saja.."
Ye Hong Yi, yang sangat sedih seolah olah separuh jiwanya di bawa pergi.
Mendengar bisikan lembut dan suaminya yang penuh perhatian dan pengertian.
Dia tidak sanggup menahan diri lagi, dia langsung menubruk kedalam pelukan suaminya menangis pilu disana.
Perlahan-lahan dia mengikuti suaminya yang membimbingnya meninggalkan tempat tersebut.
Nan Thian hanya bisa menatap sedih kepergian kedua orang tua nya.
__ADS_1