PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
RENCANA KIAN LI


__ADS_3

"Baiklah aku setuju,.. tapi kamu harus berikan ini kedalam minuman dan makanan Guru mu."


"Bila tidak 3 hari kemudian bersiaplah menjadi mayat.."


ucap Xu Da sambil melempar sebuah bungkusan kecil kearah Li Mu Bai.


Li Mu Bai menerima bungkusan tersebut, dengan ragu bertanya,


"Apa ini..?"


"Kamu tidak perlu tahu, cukup jalankan saja tugas mu, yang lainnya bukan urusan kamu ."


ucap Xu Da dengan nada dingin..


"Tapi aku sedang dalam masa hukuman, dan urusan makanan guru selama ini tidak pernah di bawah kuasa ku.."


"Itu urusan mu, bila gagal perjanjian batal.."


ucap Xu Da langsung membalikkan tubuhnya kemudian melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.


Kedua kakek hitam putih juga menyusul di belakangnya.


Kini tempat itu hanya tersisa Li Mu Bai, yang berdiri termenung, tidak tahu harus melakukan apa.


Sesaat kemudian Li Mu Bai pun meninggalkan tempat tersebut dengan menaiki pedangnya, kembali ke ruangan tempat dia menjalani hukuman.


Sepanjang menjalankan hukuman yang di pikirkan oleh Li Mu Bai adalah cara untuk menjalankan rencana sesuai pesan Xu Da.


Setelah berpikir cukup lama, Li Mu Bai akhirnya tersenyum dan memejamkan matanya melanjutkan meditasi.


Saat pagi tiba, pintu ruangan hukuman di buka dari luar, seorang murid muda berjalan masuk kedalam ruangan sambil membawa sebuah baki yang di dalamnya berisi sarapan buat Li Mu Bai.


Li Mu Bai membuka matanya dan berkata,


"Panggil Kian Li kemari.."


"Baik guru Couw.."


jawab pelayan itu dengan penuh hormat.


Setelah memberi hormat murid muda itu buru buru keluar dari ruangan pergi mencari Kian Li.


Tak lama kemudian Kian Li sudah terlihat berlutut di hadapan Li Mu Bai dan berkata,


"Maaf apakah guru mencari ku..?"


"Kian Li bungkusan ini bagaimana pun caranya, harus di campurkan kedalam makanan dan minuman guru dalam waktu 3 hari ini, tidak boleh ada kesalahan, apa kamu mengerti..?!"


"Tapi guru dapur bukan wewenang kita, dan bungkusan ini, apa isinya guru .?"


tanya Kian Li menatap curiga kearah bungkusan yang berada di hadapannya itu.


"Itu bukan urusan mu, kamu hanya cukup jalan kan perintah saja bila ingin selamat.."

__ADS_1


ucap Li Mu Bai dingin.


"Tapi guru..."


ucap Kian Li ragu dan takut.


"Baiklah kalau kamu tidak bisa, aku akan andalkan kian Bu saja kamu boleh pergi.."


"Tapi ingat urusan kematian keponakan kakak seperguruan kedua,... akan menjadi tanggungjawab mu padanya.."


ucap Li Mu Bai dengan nada penuh ancaman.


"Ini..ini... Baiklah guru, murid akan berusaha menjalankan nya dengan baik."


ucap Kian Li, tanpa pikir panjang dia langsung menyambar bungkusan kecil itu, dan menyimpannya kedalam saku di dadanya.


Setelah memberi hormat sampai membenturkan dahinya kelantai, Kian Li tanpa banyak bicara langsung mengundurkan diri meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Kian Li pergi Li Mu Bai langsung menyunggingkan senyum licik.


Lalu kembali memejamkan matanya meneruskan meditasi nya.


Kian Li sendiri setelah keluar dari ruangan hukuman, setelah berada di tempat yang agak jauh langsung memaki-maki gurunya sendiri.


Dengan berbagai caci maki, dengan kesal dia sembarangan menendang sebuah batu di dekat kakinya.


Batu itu langsung melesat masuk ke arah semak semak yang berada di sebelah kirinya.


"Aduhhh..!"


"Siapa yang usil ,..!"


teriaknya marah.


"Aku kenapa..!"


teriak Kian Li geram, dia sedang pusing dengan tugas dari gurunya.


Kini ada yang berani menantangnya, meski itu sebenarnya murni kesalahannya.


Tapi dia tidak terima, dia ingin menggunakan momen ini untuk menghajar seseorang melampiaskan kekesalannya.


Orang yang terkena batu nyasar itu, kini berdiri bengong di tempat saat tahu siapa pelakunya.


Tiba-tiba terdengar suara halus dari balik semak,


"Aliong,.. sudahlah ayo kita teruskan lagi, jangan rusak suasana.."


Kian Li sedikit terkejut mendengar ada suara wanita di balik semak.


Dengan mendorongkan kedua tangannya kedepan terbongkarlah semak semak belukar yang menutupi bagian bawah tubuh Aliong dan wanita yang barusan mengeluarkan suara itu


Kini semua terpampang jelas di hadapan Kian Li.

__ADS_1


Sambil tertawa Kian Li menunjuk kewajah Aliong dan wanita cantik berusia 30 an itu.


"Kalian berdua berani melakukan hal begini siang siang bolong di tempat terbuka, kalian sudah tidak takut mati..!?"


"Apa peraturan ke 4 hukum di Xu Dan apa kalian lupa ?!"


"Hei Aliong Mei Niang,... bila urusan ini sampai di ketahui kepala koki paman San.kira kira apa responnya..!?"


ucap Kian Li sambil tertawa dingin..


Mei Niang dan Aliong yang ketakutan langsung menjatuhkan diri nya berlutut di hadapan Kian Li, tanpa memikirkan tubuh mereka yang terbuka belum sempat berpakaian.


Mereka berdua langsung menangis merangkul kaki kiri dan kanan kian Li sambil berkata,


"Kak Kian Li kamu orang besar berjiwa besar, ampunilah kami berdua yang rendah ini.."


"Kami berjanji..ahh tidak kami bersumpah, tidak akan mengulanginya lagi.."


"Kami mohon kak Kian Li,.. ampunilah kami.."


ucap Aliong dan Mei Niang bergantian..


Kian Li sendiri sampai menelan ludahnya sendiri, melihat bahu dada dan punggung Mei Niang yang begitu putih dan mulus.


Apalagi saat melihat sepasang bukitnya yang indah, dengan sepasang pahanya yang mulus menjepit hutan lebatnya yang berbulu halus.


Bila tidak teringat dia sendiri dalam masalah dengan tugas konyol dari gurunya.


Dia pasti akan menyeret Mei Niang, kebalik semak, untuk minta jatah dan melampiaskan nafsu terpendamnya pada wanita tersebut.


Tapi akal sehat Kian Li melarang nya, bila dia melakukan hal itu pada Mei Niang, dia akan kehilangan kesempatan baik ini.


Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.


Dia harus manfaatkan baik'baik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru nya dengan baik, lewat Mei Niang ini.


"Kalian berdua menurut kalian, bagaimana cara agar aku bisa mengampuni kalian.?"


"Selama ini semua makan minum seluruh murid Xu San, tua muda besar kecil, hingga pangkat terendah sampai guru besar."


"Semua bergantung sama paman San, dia telah begitu berjasa, bagaimana aku tega melihatnya di permainkan oleh pasangan tidak bermoral seperti kalian."


ucap Kian Li sambil berpura pura menghela nafas sedih.


"Kurasa hukuman di masukkan ke kerangkeng B*BI dan di tenggelam kan, itu sudah hukuman teringan buat kalian berdua.."


Setelah berucap, sambil pura-pura menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala, Kian Li berjalan hendak berlalu dari sana.


Sok bijak, dan bergaya munafik adalah ilmu nomor satu murid murid Li Mu Bai, sama seperti gurunya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Bagaimana mungkin Kian Li sebagai murid utama tidak menguasai ilmu ini.


Melihat sikap Kian Li kedua pasangan itu saling pandang, kemudian mereka buru-buru maju memegang kaki Kian Li.

__ADS_1


Sambil menangis ketakutan mereka berkata,


"Kakak tolong bantu lah kami."


__ADS_2