
Melihat ayah Xue Lian jatuh bangun Sen Kung Bao terbahak bahak dan berkata,
"Rasakan pak tua,..berani menantang ku, pergilah mampus..!"
"Ha..ha..ha..!"
Seng Kung Bao tertawa gembira, mempermainkan ayah Xue Lian seperti seekor kucing mempermainkan tikus terjepit.
Sementara itu Fei Yang yang terbelenggu gelang lingkaran semesta, dan berada di dalam botol labu ajaib Sen Kung Bao.
Fei Yang yang berulang kali mencoba melepaskan diri tapi selalu gagal.
Dia akhirnya melepaskan pedang.mestika panca warna dari genggaman tangannya.
Lalu dia merapal jurus ketiganya, tebasan pedang tanpa keinginan.
Seketika pedang Mestika Panca Warna melesat mengebor penutup botol labu itu.
Pedang Mestika Panca Warna terus mendesak berusaha untuk keluar dari dalam botol.labu.
Karena pedang itu mencium aura keinginan kuat lawannya di.luar sana.
Jurus ini bila di keluarkan siapapun lawan yang masih memilki keinginan pedang ini pasti akan mengejar dan memusnahkannya.
Sen Kung Bao yang kebetulan di luar sana sedang di penuhi nafsu keinginan nya terhadap Fei Hsia dan Ibu Xue Lian, ditambah dengan nafsu keinginan menghabisi ayah Xue Lian.
Hal ini semakin memacu jurus pedang yang Fei Yang lepaskan untuk berusaha mengincarnya.
Sementara Pedang Mestika Panca Warna sedang berusaha membobol tutup botol labu.
Fei Yang dan Xue Lian, sedang merasakan tekanan pergolakan hebat di dalam tubuh mereka.
Seluruh pembuluh darah di dalam tubuh mereka mendidih hebat, setiap waktu berusaha untuk meledakkan nya.
Xue Lian yang tadinya pingsan, kini sudah bangun duduk bersila dengan wajah pucat.
Dia mengikuti petunjuk Fei Yang berusaha sebisa mungkin bersikap tenang, untuk mengurangi daya tekan di dalam tubuh mereka.
Botol labu inilah yang mejadi penyebab semuanya.
Di dalam botol labu ada pancaran sinar merah, yang berusaha mengontrol aliran darah mereka, terus memberikan tekanan tanpa henti.
Tujuannya adalah ingin meledakkan tubuh mereka, agar
berubah menjadi cairan darah.
Seperti yang pernah di ucapkan oleh Sen Kung Bao sebelumnya.
Untungnya sebelum semua terjadi tutup botol terbuka, gelang yang membelenggu tubuh mereka melonggar.
Memanfaatkan situasi tersebut,. Fei Yang langsung buru-buru melepaskan diri dari belenggu gelang lingkaran semesta.
Setelah itu dia mengendong istri nya yang masih lemah melesat keluar dari dalam botol labu.
Seiring Fei Yang melesat keluar dari dalam botol sambil menggendong Xue Lian.
__ADS_1
Di luar sana Sen Kung Bao yang sedang asyik menertawakan ayah Xue Lian yang seluruh tubuhnya terluka oleh goresan pedang.
Hingga darah bercucuran membasahi baju putihnya.
Tiba tiba Sen Kung Bao terdiam, tidak bisa melanjutkan tawanya lagi.
Dari dahinya yang retak tiba-tiba memancarkan cahaya 5 warna.
Seiring dengan itu, retakan terus menurun kebawah, hingga akhirnya seluruh tubuh Seng Kun Bao memancarkan cahaya lima warna.
Sebelum Seng Kun Bao sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya telah meledak terbelah jadi dua.
Potongan tubuhnya yang terbelah dua terlempar ke kiri dan kekanan, darahnya beterbangan di udara seperti butiran embun halus, memenuhi sekitar tempat kejadian.
Pedang Pat Kwa yang mengurung ayah Xue Lian, kembali menyatu, lalu jatuh tergeletak di atas tanah.
"Krontanggg,..!"
Bersamaan dengan itu Fei Yang juga muncul sambil menggendong tubuh istrinya.
Pedang Mestika Panca Warna langsung melayang masuk kembali, kedalam sarung pedang di pinggang Fei Yang.
Ibu Xue Lian sambil bercucuran air mata langsung berlari cepat menghampiri suaminya.
Dia langsung memapah ayah Xue Lian yang terluka hampir di sekujur tubuhnya.
Xue Lian sendiri setelah terlepas dari belenggu gelang dan tekanan dari botol labu.
Keadaan nya perlahan-lahan mulai pulih. melihat keadaannya mulai membaik, Fei Yang pun menurunkan Xue Lian dari gendongannya dan berkata,
"Cepat,.. sebelum pemilik lembah tiba."
ucap Fei Yang cemas.
Xue Lian mengerti maksud Fei Yang, meski hatinya berat meninggalkan Fei Yang tapi dia tidak punya pilihan lain.
Xue Lian sambil mengangguk dengan sepasang mata berkaca-kaca, dia menyentuh wajah Fei Yang dan berkata,
"Aku menunggumu di luar sana, kamu harus datang menemui ku.."
"Tidak boleh meninggalkan ku,..janji.."
Fei Yang membelai kepala Xue Lian dengan lembut dan berkata,
"Aku janji.. pergilah.."
Sementara itu kemunculan Fei Yang secara tiba-tiba di sana, sambil memondong seorang gadis cantik.
Di mana mereka terlihat begitu akrab dan mesra.
Fei Hsia di sana berdiri bengong menatap kearah mereka berdua.
Dua tiba-tiba merasa hatinya sangat sakit, jantungnya seolah olah sedang di sayat sayat terluka dan berdarah.
Tanpa terasa dua butir air mata melompat keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Kakak Yang,.."
gumamnya dengan bibir gemetar.
"Gadis bodoh,.. lupakan dia.."
"Ayo ikut nenek,..tempat ini harus segera kita tinggalkan,..ayo.."
ucap nenek Yang sambil menarik lengan cucunya, setengah menyeret dia menarik Fei Hsia meninggalkan tempat itu.
Fei Yang sendiri setelah melepaskan kepergian istrinya, dia sempat menoleh kearah Fei Hsia.
Sambil tersenyum pahit, di mana dia merasa sedikit tidak enak hati, melihat keadaan gadis itu, yang terlihat sangat terluka perasaan nya.
Fei Yang berkata kepada nenek Yang,
"Nek,.. kakek Wu masih menunggu di luar sana, segera tinggalkan tempat ini.."
"Sampai jumpa Fei Hsia,..maaf.."
ucap Fei Yang sambil berusaha untuk tersenyum.
Setelah itu tanpa memperdulikan respon gadis tersebut, Fei Yang sudah bergerak mengambil dan menyimpan barang barang pusaka peninggalan Sen Kung Bao kedalam cincinnya.
Baru saja Fei Yang selesai menyimpan barang Sen Kung Bao.
Tiba-tiba terdengar suara dari tengah danau.
"Sen Kung Bao binatang tak berguna, mampus juga sudah sepantasnya.."
"Sudah hidup selama ini, masih juga tergoda oleh nafsu fana, dasar binatang tetap saja binatang.."
ucap suara yang berasal dari bawah danau.
Tak lama kemudian, air danau menyibak ke sekelilingnya.
Dari tengah tengah danau, terlihat melayang keluar sesosok manusia berambut putih sama seperti Fei Yang.
Hanya saja, sosok itu alis dan jenggotnya juga sudah terlihat putih semuanya.
Sosok itu perlahan lahan melayang mendekat kearah Fei Yang.
Dengan ringan dia mendarat di hadapan Fei Yang.
Sambil tersenyum ramah, sosok yang terlihat seperti seorang kakek yang sulit di tebak usianya, dia berkata.
"Anak muda akhirnya kamu tiba juga di sini, selamat datang di lembah kebahagiaan ku.."
"Akhirnya kita bisa berjumpa juga, mana guru mu Wu Ming Lau Jen ? apa dia tidak menyertai mu kemari ?"
"Junior tidak tahu di mana keberadaan Guru Wu Ming, junior datang kemari cuma seorang diri.."
ucap Fei Yang sejujurnya.
Kakek itu mengangguk mengerti dan berkata,
__ADS_1
"Anak muda ketahuilah, guru mu Wu Ming Lau Jen masih terhitung sebagai kakak ku.."