
Setelah menghirup udara segar, hawa murni Fei Yang perlahan-lahan mulai terisi kembali.
Fei Yang melayang keluar dari dalam air kemudian mendarat di bagian landai, beralaskan pasir putih yang halus dan lembut.
Fei Yang dengan hati-hati menurunkan Wei Wen di sana dan berkata,
"Kita akhirnya berhasil keluar juga, hanya saja, aku juga kurang jelas sedang berada di mana kita saat ini.."
"Wen Wen kamu baik baik saja..?"
tanya Fei Yang sambil melihat kearah Wei Wen yang sepasang matanya basah berlinang airmata.
Wei Wen tiba tiba menangis sedih dan memeluk Fei Yang dengan erat.
'Kak mengapa kita harus keluar,?.. aku sebenarnya,.. sungguh berharap,.. kita tidak pernah keluar dari sana.."
ucap Wei Wen sambil menangis tersedu-sedu.
"Ehh kamu kenapa Wen Wen, apa ada yang salah..?"
"Kita bisa keluar dengan selamat, harusnya kamu bergembira,.. ini kok malah sedih ?"
tanya Fei Yang bingung.
Tapi Wei Wen tidak menjawabnya, hanya terus menangis dengan penuh kesedihan.
Fei Yang yang sudah hapal dengan tabiatnya, tidak banyak bertanya lagi.
Fei Yang memilih tidak mendesak Wei Wen, dia hanya membalas memeluk gadis itu dan terus membelai rambut di kepalanya hingga kepunggung nya dengan lembut.
Hingga tangisan gadis itu mereda Fei Yang baru berkata,
"Jelaskan lah pada ku, apa yang menjadi beban pikiran mu ?"
"Biarkan aku berbagi beban pikiran bersama mu.."
ucap Fei Yang sambil menatap Wei Wen dengan lembut.
Wei Wen mengangkat kepalanya menatap Fei Yang dengan sedih dan berkata,
"Di dalam sana, meski harus mati aku tetap tenang, karena kakak akan selalu berada di samping ku.."
"Selain aku kakak sudah tidak ada siapa siapa lagi.."
"Tapi setelah kita keluar dengan selamat, aku benar benar takut.."
"Aku takut kakak akan melupakan janji kakak, melupakan semuanya dan pergi meninggalkan aku.."
"Aku benar-benar takut kak.."
"Mungkin semua ini terjadi karena aku terlalu mencintai kakak, sehingga aku benar-benar tidak siap kehilangan kakak.."
"Aku takut akan kehilangan kakak.."
ucap Wei Wen sambil terus menatap mata Fei Yang.
Seolah-olah ingin mencari jawaban nya di sana.
Fei Yang memegang wajah Wei Wen dengan lembut, lalu dengan lembut dia kembali mendaratkan ciuman nya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu mereka berdua berciuman mesra, Fei Yang akhirnya melepaskan ciumannya.
Dia masih memegangi wajah Wei Wen, menatap mata Wei Wen lekat lekat dan berkata,
"Wen Wen, janji seorang pria sekali keluar 4 kuda pun tidak bisa menariknya kembali.."
"Aku sudah berjanji akan hidup bersama mu sehidup semati, hingga kamu tidak menghendaki ku lagi, atau maut memisahkan kita.."
"Maka itu selamanya tidak akan pernah berubah, aku pasti akan selalu di samping mu ."
"Tidak akan pernah meninggalkan mu, kemanapun aku pergi, kamu pasti akan selalu ku bawa.."
"Aku tahu bila ucapan saja kamu pasti akan sulit mempercayai nya.."
"Begini saja, setelah aku membalaskan dendam senior Meng Yu,.."
"Aku akan menemani mu kembali menemui ayah mu, aku akan meminta ijin darinya agar menikahkan kamu pada ku.."
"Setelah itu aku akan membawa mu menemui kedua orang tua ku di Xi Xia, sekaligus membereskan masalah pertunangan ku dengan Sian Sian.."
"Bagaimana menurut mu ?"
tanya Fei Yang sambil tersenyum lembut.
Wei Wen mengangguk cepat, lalu dia maju merangkul Fei Yang dengan erat, membenamkan wajahnya di dada Fei Yang dan berkata,
"Terimakasih kakak Yang, terimakasih,.. aku sungguh bahagia..'
Lalu dia kembali menangis di dada Fei Yang.
Fei Yang menjadi terkejut dan bingung, melihat respon Wei Wen..
Lalu kenapa dia kembali menangis ?
batin Fei Yang bingung.
"Wen Wen masih ada hal lain kah, yang memberatkan hati mu..?"
tanya Fei Yang sabar.
Wei Wen menggeleng pelan, sambil masih sesunggukkan di sana.
"Lalu kenapa kamu kembali menangis.?"
tanya Fei Yang kebingungan.
Wei Wen kini mengangkat wajahnya menatap Fei Yang sambil tersenyum lebar berkata,
"Dasar bodoh,.. aku menangis karena terharu dan bahagia.."
Fei Yang pun tertawa dan berkata,
"Kamu ini ada ada saja, aku baru tahu kalau ada orang bahagia yang menangis.."
"Dan kamu lah keajaiban itu.."
ucap Fei Yang sambil melanjutkan tawanya.
Tapi saat melihat Wei Wen sedang menatapnya dengan wajah kesal.
__ADS_1
Fei Yang pun buru-buru menahan tawanya dan berkata,
"Kamu pasti sudah lapar, aku pergi tangkap ikan, nanti aku akan bakar ikan untuk mu.."
Mendengar ucapan Fei Yang, Wei Wen pun tersenyum manis tidak jadi marah.
"Pergilah kak, aku akan bantu kumpulkan dahan kering yang ada di sekitar sini.."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Hati hati jangan jauh jauh, tempat ini masih asing, kalau ada yang tidak beres berteriak lah.."
Wei Wen mengangguk cepat dan berkata,
"Kamu juga hati hati, tenaga mu belum pulih.."
Fei Yang mengangguk, lalu dia berlompatan ringan menuju tengah laut.
Sedangkan Wei Wen dengan hati riang, mulai mengumpulkan ranting ranting pohon di sekitar tempat itu.
Tak lama kemudian kedua orang itu sudah terlihat duduk di tepi api unggun membakar ikan, sambil saling suap makan ikan bakar dengan sangat lahap.
Mereka berdua yang sudah begitu lama tidak pernah makan makanan lain, selain buah.
Kini begitu ada ikan bakar, meski hanya di bakar begitu saja tanpa bumbu apapun.
Tetap saja bagi mereka ikan segar di bakar itu, terasa sangat sedap dan nikmat luar biasa.
"Kak apa rencana mu, bagaimana cara kita meninggalkan tempat terpencil ini.?"
"Kenapa sekarang sudah tidak sabaran ingin meninggalkan tempat ini ?"
tanya Fei Yang menggoda kekasih nya.
"Kakak Ihh,.. nyebelin,..serius nih.."
ucap Wei Wen dengan wajah merah padam, menahan malu.
Fei sambil tertawa berkata,
"Nanti aku akan naik ke puncak karang itu, mencoba memanggil Kim Tiaw ku kemari..
"Bila dia datang semua jadi mudah.."
"Bila dia gak datang, ya kita bikin pondok besarkan anak kita di sini, selamanya gak kedunia ramai.."
ucap Fei Yang kembali menggoda Wei Wen yang wajahnya menjadi semakin merah..
Wei Wen segera bangun berdiri dan berkata dengan wajah merah,
"Aku malas meladeni mu,.aku mau mandi saja kesana.."
Lalu sambil tersenyum menggoda dan mengibaskan rambutnya yang terurai.
Wei Wen berlari menuju kolam biru, dia menghilang di balik sebuah batu karang.
Satu persatu pakaiannya dilepaskan diletakkan di atas batu karang tersebut.
Fei Yang yang bermata tajam, saat melihat ada dalam an warna merah tipis yang ikut tergeletak di bagian paling atas tumpukan pakaian.
__ADS_1
Dia langsung menelan ludahnya sendiri, perkakasnya langsung mengeras dan berdiri tegak.