PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENCARI PEDANG API


__ADS_3

Fei Yang buru buru membentuk kubah pelindung yang di hiasi Pat Kwa biru merah di 8 penjuru, sebagai pelindung 8 arah mata angin.


Begitu terbentuk, hantaman bola matahari dan rembulan raksasa pun tiba.


Kedua bola cahaya itu menekan dengan dahsyat, kubah pelindung yang di buat oleh Fei Yang.


Kubah pelindung Fei Yang mengalami tekanan berat dari luar, sehingga perlahan-lahan melesak kedalam.


Kubah pelindung mulai retak retak, seperti akan meledak, tidak kuat menahan tekanan dahsyat itu.


Di tempat lain, mahluk itu melihat Fei Yang membuat kubah pelindung menahan serangannya.


Dia tidak menambah serangan bola cahaya, untuk meningkatkan kekuatan tekanan.


Sebaliknya dia malah mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi diudara, sehingga kedua telapak tangannya muncul aliran listrik kebiruan, yang sambar menyambar diudara.


Lalu kedua telapak tangannya itu dia hantamkan keatas tanah, yang langsung menimbulkan aliran listrik yang bergerak cepat, menyambar diatas tanah, lalu terus bergerak menyambar kearah Fei Yang.


Fei Yang yang sedang berusaha meningkatkan kekuatan nya, untuk menahan serangan kedua bola cahaya matahari dan rembulan, sangat kaget saat melihat ada sambaran listrik yang sedang bergerak menyerangnya dari bawah.


Fei Yang menghentakkan sepasang kakinya, tubuhnya dan kubah pelindung nya melesat keudara.


Kini kubah pelindung menutupi tubuh Fei Yang secara total, membentuk sebuah telur cahaya biru merah yang melayang di udara.


Terjadi ledakan dahsyat, ditempat Fei Yang berdiri, sehingga terbentuk sebuah kawah raksasa di sana.


Puncak Khanchenjunga berguncang hebat, sehingga salju dan batu es abadi pada longsor kebawah dalam skala yang sangat besar, di luar kebiasaan.


Rumah rumah penduduk yang terletak di lereng gunung, habis tersapu longsoran es dan salju .


Semua manusia ataupun hewan di sekitar sana kecuali yang bisa terbang, semuanya musnah tak bersisa.


Kondisi ini bahkan di kaki gunung pun ikut merasakan akibatnya, longsoran salju hampir menutupi setengah dari rumah yang berdiri di kaki gunung itu.


Para penduduk mengatakan bahwa dewa yang mendiami puncak gunung mengamuk, sehingga mereka beramai-ramai langsung mengadakan upacara dadakan, untuk mohon maaf pada dewa.


Sedangkan di puncak Gunung Khanchenjunga,.terjadi adu kekuatan yang dahsyat antar mahluk berbulu putih dengan Fei Yang.

__ADS_1


Kini mereka berdua kembali terlibat saling serang di udara, dengan kekuatan benturan dan ledakan dahsyat yang memenuhi sekitar tempat mereka bertempur.


Fei Yang tubuhnya lenyap dalam gulungan badai es dan api, cahaya kebiruan turun dari langit masuk kedalam tubuhnya.


Begitu pula dengan cahaya kemerahan dari arah bawah juga melesat keatas menyatu kedalam tubuh Fei Yang.


Fei Yang sedang mempersiapkan jurus ke 7 bagian terakhir tenaga api dan es penghancur semesta.


Sedangkan di pihak mahluk berbulu putih, dia juga menghimpun kekuatan puncaknya, dengan menyatukan 20 bola matahari dan 20 bola rembulan.


Untuk membentuk dua bola cahaya raksasa' yang 10 kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya yang sudah besar.


Tangan kanan mahluk itu menyandang bola matahari raksasa, sedangkan tangan kirinya menyandang bola rembulan raksasa.


Kedua tangannya yang berada diatas kepala terlihat gemetaran menahan dua bola energi raksasa yang saling berlawanan itu.


Akhirnya sambil berteriak keras, mahluk berbulu putih itu, melemparkan kedua bola raksasa matahari dan rembulan kearah Fei Yang.


Fei Yang pun melakukan hal yang sama dua berkas sinar merah biru mirip meteor dilepaskan untuk menyambut serangan bola matahari dan rembulan yang sedang bergerak kearahnya.


Sinar merah di gunakan untuk menyambut datangnya bola rembulan, sedangkan sinar biru dia gunakan untuk menyambut bola matahari yang tiba.


Baik Fei Yang maupun mahluk itu sama sama terpental oleh efek ledakan dahsyat itu.


Mereka berdua sama-sama terjatuh di atas hamparan salju, di puncak gunung Khanchenjunga.


Fei Yang lebih dulu bangun duduk bersila memulihkan kekuatannya, sambil berusaha memulihkan kekuatannya, Fei Yang menganalisa pusat kekuatan dan kelemahan dari serangan musuh tadi.


Sedangkan mahluk berbulu putih, terlihat kehabisan tenaga dan pingsan di atas hamparan salju.


Fei Yang mampu bertahan karena tubuhnya di lindungi oleh kekuatan api dan es yang berasal dari senjata peninggalan sang Buddha.


Bila tidak di lindungi oleh kekuatan dua senjata itu, niscaya Fei Yang pasti akan mengalami luka luka dalam yang jauh lebih parah dari mahluk itu.


Mahluk itu sendiri hanya pingsan kehabisan tenaga, sebaliknya bila Fei Yang tak terlindungi oleh kekuatan api dan es senjata Buddha.


Dia kemungkin akan mengalami kelumpuhan atau malah akan langsung tewas di tempat.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Fei Yang yang telah pulih kondisinya, dia mulai membuka matanya.


Menatap kearah sekitarnya, dan Fei Yang melihat mahluk berbulu putih masih terkapar di sana belum sadarkan diri.


Fei Yang lalu berdiri dari posisi duduk bersila nya, dia melanjutkan langkahnya menuju pinggir kolam.


Di mana terlihat sekuntum bunga teratai berkelopak hitam tubuh di sana.


Tanpa menghiraukan mahluk berbulu putih itu, Fei Yang kembali melayang ketengah danau, menyambar tangkai bunga teratai iblis, lalu menariknya keluar dari dalam kolam berair jernih.


Fei Yang memperhatikan sejenak keadaan akar tanaman tersebut, lalu dia buru-buru memasukkan nya kedalam cincin penyimpanan nya.


Setelah itu Fei Yang pun melompat kedalam jurang di mana pedang apinya tadi di buang oleh mahluk itu.


Saat tiba di dasar jurang Fei Yang mengeluarkan pedang esnya, untuk membantu mendeteksi keberadaan pedang api miliknya itu.


Akhirnya setelah berkeliling kesana kemari, pedang es pun bergetar hebat di tangan Fei Yang.


Fei Yang pun mulai menggali tempat itu, Fei Yang harus menggali cukup dalam baru menemukan ganggang pedang api miliknya.


Dengan mengerahkan tenaga api semesta Fei Yang berhasil menarik keluar pedang apinya, yang tertimbun dalam bongkahan es tebal.


Sebenarnya pedang api sewaktu jatuh tadi tidak sampai terkubur begitu dalam, Pedang itu hanya terjatuh dalam posisi berdiri menancap diatas tanah, dengan posisi ganggang pedang menghadap keatas.


Tapi berhubung di puncak sana Fei Yang terlibat pertempuran dahsyat dengan mahluk itu.


Sehingga menimbulkan gempa dan longsoran es dan salju dari puncak Khanchenjunga kebawah.


Semakin kebawah gulungan longsoran semakin banyak, akhirnya saat tiba di dasar jurang ini, pedang api pun ikut terkubur, di bawah longsoran es.


Fei Yang tersenyum puas setelah berhasil menemukan kembali senjata pusaka andalannya.


Setelah Fei Yang melakukan penelitian lebih jauh, ternyata tempat ini hanya sebuah tanah datar yang menjorok keluar dari puncak Gunung Khanchenjunga.


Bukan benar benar dasar dari jurang gunung Khanchenjunga.


Fei Yang melompat dari pinggiran tebing itu sambil berteriak keras,

__ADS_1


"Tiaw Siung,...!! kamu di mana....!?"


__ADS_2