PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Nan Thian menghentikan gerakan nya, dia menatap Wuluzhen.


"Apa yang ingin kamu katakan botak,..?"


"Ta Sia jangan pernah percaya dengan ular muka dua itu.."


"Bangsat botak tutup mulut mu, atau..!"


bentak Lim Ping Chi marah.


Ingin rasanya, dia maju memberikan satu pukulan, agar pangeran itu tidak banyak bicara sembarangan di depan Nan Thian.


Tapi Lim Ping Chi tidak berani bertindak sembarangan, dia takut Nan Thian justru akan termakan oleh ucapan Wuluzhen, bila dia bertindak.


Jadi dia hanya bisa membentak marah tapi tak berani bergerak.


Wuluzhen yang tidak kalah cerdik, dia pun berkata,


"Atau apa, ingin.menbunuh ? atau ingin menguliti ku lakukan saja, siapa takut..?"


Wuluzhen tersenyum mengejek menatap Lim Ping Chi, sekutu nya yang berbalik menjadi musuh.


"Kau..!"


bentak Lim Ping Chi geram sambil menunjuk wajah Wuluzhen dengan jari gemetaran, menahan emosi.


Nan Thian menurunkan tangan Ping Chi kebawah , dan berkata santai.


"Tak perlu marah dan kesal bila tak berbuat."


"Abaikan saja.."


Lim Ping Chi mengangguk patuh, mundur kebelakang.


Melihat Ping Chi mundur tak berdaya, Wuluzhen sambil tersenyum menang kembali berkata,


"Ta Sia percayalah pada kata kata ku, dia pasti akan menipu mu.."


"Keadaan ku adalah contoh terbaik, bagaimana dia dulu mengangkat ku setinggi langit.."


"Tapi di saat terjepit, aku dia korbankan, bila Ta Sia mempercayainya Ta Sia pasti celaka.."


"Lebih baik bebaskan aku, aku adalah pangeran, apapun yang Ta Sia inginkan, aku bisa bantu Ta Sia mendapatkannya semua.."


ucap Wuluzhen mencoba membujuk Nan Thian.


Lim Ping Chi hanya bisa menatap Wuluzhen dengan geram, dadanya sampai bergelombang menahan emosi, yang memenuhi rongga dadanya.


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Ucapan mu patut di pertimbangkan, tapi mengenai penawaran mu aku tidak tertarik sama sekali.."


Lim Ping Chi hatinya sedikit ketar ketir mendengar ucapan Nan Thian.


Dia tidak tahu, apa yang sedang di pikirkan Nan Thian dalam benaknya.


Tapi ucapan Nan Thian yang terakhir, membuat dia tersenyum lebar, mengejek Wuluzhen yang terlihat pias wajahnya.


"Ta Sia kamu dengarkan aku..!"

__ADS_1


ucap Wuluzhen gugup.


"Cukup,..! pergilah temui kakek moyang mu yang penuh dosa itu..!"


bentak Nan Thian sambil mengibaskan tangannya.


Wuluzhen belum sempat berteriak, separuh pinggang keatas sudah berubah menjadi abu


"Siau Se Tie ( Panggilan untuk adik seperguruan termuda ) sekarang giliran mu."


Ucap Nan Thian sambil menepuk pelan pundak Lim Ping Chi.


"Arggghhh..!!"


teriak Lim Ping Chi sambil jatuh terduduk lemas diatas tanah.


"Nan Thian Sexiong, apa yang telah kamu lakukan..!?"


"Kamu.. kamu..keji sekali.."


"Me.. mengapa tidak kau bunuh saja aku sekalian..!?"


teriak Lim Ping Chi sambil menatap kearah Nan Thian dengan penuh dendam..


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Membunuh mu terlalu enak, kamu harus menebus dulu dosa dosa mu.."


"Mempertanggung jawabkan semua dosa yang telah kamu perbuat, hingga ajal mu tiba."


"Keparat kau Nan Thian..! manusia munafik,! manusia terkutuk,..! pantas saja semua wanita menderita bila mengenal mu..!"


Lim Ping Chi terlihat sangat emosi, karena Nan Thian telah musnahkan ilmu silatnya.


Kedepannya dia hanya akan menjadi seorang cacat, yang tidak bisa berlatih ilmu silat lagi.


"Simpan tenaga mu, lebih baik sekarang kamu antar aku pergi temui Xue Xue,..sebelum kamu ku buat makin menderita.."


ucap Nan Thian dengan sikap penuh ancaman.


Lim Ping Chi tadinya masih ingin memakai maki Nan Thian, tapi dia mengurungkan niatnya itu


Otaknya yang cerdik melarangnya, untuk bertindak dengan emosi.


Di dalam hati Lim Ping Chi berpikir, Selama gunung dan hutan hijau masih ada, tak perlu takut tidak ada kayu bakar.


Selama nyawanya masih ada, tidak perlu takut tidak ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Tidak ada otot dia masih punya otak, bila terus memaki Nan Thian, membuatnya kalap.


Dia sendiri yang paling rugi, lebih baik menurutinya, sambil mencari akal meloloskan diri.


Dengan pikiran itu, Lim Ping Chi berpura pura menyerah, dia mengikuti kemauan Nan Thian.


Dengan memaksakan diri menahan rasa nyeri hebat di bagian tulang belakang nya.


Lim Ping Chi dengan langkah terseok-seok, tubuh sedikit membungkuk kedepan sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.


Dia melanjutkan langkahnya menghampiri pintu rahasia.

__ADS_1


Saat tiba di depan pintu rahasia, tanpa ragu Lim Ping Chi masuk kedalam terowongan jalan rahasia di depan nya.


Nan Thian terus mengikutinya dari belakang.


Dengan langkah terseok seok Lim Ping Chi, dengan susah payah menyusuri terowongan panjang itu.


Tidak seperti jalan yang di ambil oleh Nan Thian sebelumnya, di sebuah tingkungan.


Lim Ping Chi menekan tombol rahasia yang tersembunyi di balik obor penerangan.


"Kreekkk..! Kreekkk..! Kreekkk..!"


Sebuah pintu rahasia terbuka, Lim Ping Chi menyelinap masuk kedalam.


Nan Thian mengikutinya dari belakang, tapi begitu Nan Thian masuk kedalam.


Pintu masuk di belakangnya kembali tertutup rapat, suasana di dalam tempat itu menjadi gelap gulita.


Jari tangan sendiri pun tidak terlihat, apalagi bayangan punggung Lim Ping Chi yang berjalan di depan nya.


"Ping Chi apa yang terjadi ? kamu jangan berani macam macam dengan ku..!"


tegur Nan Thian.


Tapi dia tidak mendapatkan jawaban balasan dari Lim Ping Chi, dengan curiga Nan Thian menyalakan api dari sebuah pemantik kuno.


Begitu pemantik api di nyalakan, keadaan di dalam tempat itu langsung terang benderang.


Lim Ping Chi tidak lagi terlihat berada di tempat itu, dia sudah menghilang dari sana.


Ditempat itu Nan Thian hanya melihat seorang wanita berambut putih riap riapan, dia mengenakan baju dan celana berwarna putih, dengan bahan kain kasar, baju ini biasa di gunakan oleh para tahanan.


Wanita itu terlihat sedang bersenandung sendiri, sambil menimang nimang sesuatu di dalam pelukannya.


"Anak ku yang cantik, kamu jangan takut, ayah mu yang kejam itu, tidak menghendaki mu.."


"Biarlah ibu yang menjaga merawat dan menyayangi mu,"


"Kamu tidak perlu takut, ibu akan selalu ada untuk mu.."


"Tidurlah biar ibu bernyanyi untuk mu.."


ucap wanita itu seorang diri.


Nan Thian yang mendengar senandung lagu dari wanita berambut riap riapan itu.


Dia sudah bisa menduga siapa wanita di hadapan nya itu.


Sampai kapan pun dia tidak mungkin akan lupa, dengan senandung lagu, yang sering di nyanyikan oleh Xue Xue untuk menghiburnya.


Melihat keadaan Xue Xue hati Nan Thian serasa sedang di remas-remas.


Hatinya terasa sakit luar biasa, tanpa sadar airmatanya telah jatuh bergulir di wajahnya.


"Xue Xue, maafkan Nan Thian Sexiong, Nan Thian Sexiong sungguh tak berguna.."


"Nan Thian Sexiong tidak bisa menjaga dan melindungi mu dengan baik.."


"Sehingga kamu harus menderita seperti ini.."

__ADS_1


__ADS_2