PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEPUTUSAN ZI ZI, KEMARAHAN LI SUN


__ADS_3

Sambil terbang ke angkasa Kim Kim mengomeli sahabatnya itu,


"Sudah tahu akan jadi begini, mengapa saat itu..."


"Aihh sungguh dungu,..kamu ini pantas di panggil idiot cinta.."


Sambil mengomeli Nan Thian, Kim Kim melesat meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Nan Thian yang pingsan di bawa pergi.


Di dalam pondok kediaman Nan Thian, yang di jadikan sebagai rumah baru pasangan pengantin Zi Zi dan Li Sun.


Beberapa saat setelah Nan Thian berlalu dari sana, tiba tiba terjadi kehebohan di dalam kamar pengantin.


"Brakkk,..!"


pintu jendela kamar hancur berkeping-keping di terjang oleh Zi Zi.


Dia terlihat melesat keluar lewat jendela kamarnya,


Tak lama kemudian, terlihat Zi Zi yang masih dalam balutan pakaian pengantin lengkap, hanya penutup kain kepala merahnya saja, yang tidak lagi terlihat.


Tanpa menghiraukan hujan deras diluar sana, dan panggilan Li Sun di belakangnya.


Dengan air mata bercucuran, Zi Zi melesat menerobos hujan deras, menembus kegelapan malam, dia langsung meninggalkan tempat tersebut.


Saat Li Sun menyusul keluar, Zi Zi sudah menghilang dari sana.


Zi Zi terus berlari cepat meninggalkan Yu Ni Feng, menuruni tebing masuk kedalam hutan Cang Lung Lin.


Sepanjang jalan Zi Zi dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya yang cantik, bercampur dengan air hujan yang menguyur dirinya.


"Kakak Tampan, ayah maafkan aku,.."


"Aku sudah mencobanya sebisa ku, tapi aku tidak bisa.."


"Hikkss.! Hikkss.! Hikkss.!"


"Kakak Sun maaf,..aku tidak bisa.."


"Aku tidak bisa menerima siapapun selain dia.."


"Hanya dia.."


"Hikkss.! Hikkss.! Hikkss.!"


"Aku hanya mencintai dia.."


Sebenarnya dari awal prosesi hingga akhir prosesi pernikahan, di dalam batin Zi Zi mengalami pergolakan hebat.


Airmata tiada hentinya mengalir,


Fei Hsia yang membantu merias muridnya.


Setelah berulang kali mengganti riasan akhirnya dia nyerah.


Sambil menyisir rambut Zi Zi yang halus, Fei Hsia yang berdiri di belakang Zi Zi.


Menatap kearah muridnya lewat cermin di hadapan Zi Zi dengan prihatin,


"Zi Zi guru hanya ingin berkata satu hal pada mu.."

__ADS_1


"Cinta butuh perjuangan dan pengorbanan nak, bila kamu merasa dia pantas.."


"Maka jangan pernah menyerah, apalagi melepaskan nya "


"Apapun resikonya, guru akan selalu berdiri di belakang mu, mendukung semua keputusan mu.."


"Pada dasarnya Budi dendam angkatan sebelumnya, tidak boleh di bebankan ke kalian.."


ucap Fei Hsia sambil menghela nafas sedih.


Zi Zi menatap gurunya penuh terimakasih dan mengangguk pelan.


Dia memegangi tangan gurunya yang ada di bahunya dengan lembut dan berkata,


"Terimakasih guru,.. terimakasih guru mau memahami Zi Zi.."


Hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya, sebelum dia menghapus seluruh airmata nya dan membersihkan seluruh riasan nya.


Lalu dia merias ulang sendiri semuanya, setelah puas menatap dirinya di depan cermin.


Zi Zi pun menutup kepalanya sendiri dengan kain merah.


Dengan wajah sedih dan lesu, dia di antar oleh Fei Hsia menuju ruang acara sembahyang.


Sesaat acara prosesi sembahyang pasangan pengantin di mulai.


Airmata Zi Zi kembali jatuh tak terbendung, saat dia melihat pengantin pria di hadapannya, bukanlah kakak tampan yang dia dambakan selama ini.


Semua ekspresi wajah Zi Zi hingga airmata nya yang selalu membasahi wajahnya.


Tidak ada satupun orang yang menyadarinya, karena seluruh wajahnya tertutup kain merah.


Hingga saat tiba di kamar, di mana penutup di kepalanya di lepaskan oleh Li Sun.


Li Sun yang mengira Zi Zi bersedih karena mulai saat ini, dia akan berpisah dari orang tuanya.


dua sedang berkhawatir dengan masa depannya.


Li Sun pun berkata untuk menghibur Zi Zi,


"Adik Zi Zi kamu tak perlu khawatir, mulai saat ini dan selamanya."


"Akulah yang akan gantikan kedua orang tua mu..merawat menjaga dan menyayangi mu selamanya.."


"Kita juga akan berbakti kepada kedua orang tua mu, kita akan tinggal selamanya di sini.."


"Kita tidak akan berpisah dari mereka, kapan pun kamu ingin kesana, kamu bebas kesana..'


"Aku akan selalu menemani mu kemanapun kamu ingin pergi."


ucap Li Sun mencoba menenangkan Zi Zi.


Zi Zi hanya diam menatap Li Sun dengan perasaan bersalah, sesaat Li Sun selesai berkata,


Zi Zi baru berkata,


"Kakak Sun aku..."


Tapi ucapan nya belum selesai Li Sun sudah menggunakan telunjuknya menutupi mulut Zi Zi dan berkata,


"Tak perlu katakan, aku mengerti.."

__ADS_1


Li Sun tersenyum mesra menatap Zi Zi dengan lembut, lalu dia menarik mendorong pelan kedua bahu Zi Zi dengan lembut.


Hingga mereka berdua berbaring di atas ranjang, Li Sun mengibaskan tangannya kearah api lilin pengantin.


Serangkum angin kuat meniup api Lilin merah besar itu hingga padam.


Saat Li Sun ingin semakin dekat, dia ditahan oleh Zi Zi dengan kuat dan berkata dengan cepat.


"Sun Ke Ke maafkan Zi Zi,.."


"Zi Zi tidak bisa,."


"Zi Zi hanya mencintai Nan Thian ke ke seorang.."


"Maafkan Zi Zi.."


Sehabis berkata, Zi Zi langsung melesat menerjang kearah jendela kamar menghilang dari sana.


Li Sun terlalu kaget dengan ucapan Zi Zi hingga tidak sempat mencegah Zi Zi pergi.


Baru setelah Zi Zi menabrak jendela hingga hancur berkeping-keping, menghilang dari hadapan nya.


Li Sun pun melompat mengejarnya hingga kedepan halaman rumah sambil berteriak,


"Zi Zi tunggu...!!!"


Tapi Zi Zi sudah terlanjur menghilang dari hadapan nya.


Li Sun hanya bisa berdiri mematung di sana di bawah guyuran hujan.


Hatinya terasa pedih hancur, sangat marah tapi tidak tahu mau marah ke siapa.


Dia merasa dirinya di permainkan.


Sesaat kemudian sambil mengertakkan gigi, hingga garis rahangnya mengeras.


Li Sun pun ikut melesat menghilang dari puncak Yu Ni Feng pergi menyusul Zi Zi.


Zi Zi sendiri terus berlari cepat menerobos hutan Cang Lung Lin, tanpa memperdulikan hujan yang mengguyur deras, bagaikan air tumpah dari langit.


Hujan baru berhenti, saat Zi Zi tiba di mulut hutan.


Setelah hujan berhenti, bulan pun mulai muncul dan bersinar menerangi tempat tersebut.


Di bawah penerangan sinar bulan Zi Zi terlihat melesat dengan sangat cepat sebentar muncul sebentar hilang tahu tahu sudah tidak terlihat lagi.


Li Sun saat tiba di mulut hutan, dia sudah tidak melihat ada siapapun di sana.


Selain sinar bulan dan hembusan angin dingin menusuk tulang, tidak ada yang tersisa untuk nya.


Li Sun hanya berdiri mematung di sana bagaikan singa yang terluka.


"Yue Nan Thian,..!"


"Li Meng Zi,..!"


"Kalian munafik,..!"


"Tunggu saja pembalasan ku..!"


"Urusan ini tidak akan selesai..!"

__ADS_1


teriak Li Sun yang merasa di permainkan perasaannya dengan sangat marah.


Sesaat dia lupa dengan ajaran guru gurunya, yang selalu mendengungkan, soal welas asih, cintai semua mahluk hidup, selalu memaafkan sesama, tenangkan pikiran, kendalikan kemarahan dan kebencian.


__ADS_2